Selasa, 20 Mei 2008

Persistensi

Persistensi. Menurut saya itulah jurus yang digunakan oleh tim Thomas Cina dan Korea ketika bertarung di babak final perebutan piala Thomas yang lalu. Tanpa bermaksud mendiskreditkan tim Thomas Indonesia yang keok dengan skor 3-0 melawan Korea, saya benar-benar merasa terinspirasi menyaksikan perjuangan yang ditampilkan oleh Cina dan Korea.

Kata persistensi sedikit berbeda arti dengan konsistensi. Konsistens berarti mampu melakukan hal yang sama secara terus-menerus. Kurang lebih, kata ini bisa disamakan dengan stabil. Adapun persisten, berarti mampu mempertahankan ke-konsistensi-an yang ada. Jadi, persistensi lebih dapat didefinisikan sebagai berdaya tahan tinggi. Sedikiiiiiitt sekali perbedaan arti di antara kedua kata ini. Tapi hasil yang ditimbulkan bisa jadi jauuuuuhhh berbeda.

Kembali ke pertarungan sengit Korea-Cina ketika memperebutkan piala Thomas. Salah satu set pada pertarungan tunggal putra bahkan-saking sengitnya-hanya dapat dimenangkan dengan angka 28-26. Sekedar informasi (bagi yang tidak memahami skor permainan bulutangkis), sebuah set sebenarnya sudah layak dimenangkan dengan angka 21. Namun, jika sebelum mencapai angka 21, terjadi kedudukan imbang 20-20, maka set baru dapat dimenangkan jika telah dicapai angka 22. Jika sebelum mencapai angka 22 terjadi skor imbang kembali 21-21, maka set dapat dimenangkan jika dicapai angka 23. Demikian seterusnya. Intinya, jika angka imbang dicapai, maka permainan hanya dapat dimenangkan jika seorang pemain meraih 2 angka berturut-turut. Kalau angka diraih secara bergantian antara pemain yang satu dan yang lainnya, maka permainan harus terus dilanjutkan.

Karenanya, dapat dibayangkan bagaimana serunya permainan yang saya tonton ketika itu. Masing-masing pemain bergantian mencetak angka dan tak satupun pemain yang menurunkan persistensi yang mereka miliki. Baik Korea maupun Cina, sangat berambisi untuk merebut set pertama itu. Setelah begitu besarnya usaha yang mereka keluarkan, energi yang mereka habiskan, tak layak jika set itu dibuang begitu saja. Maka, angka pun diraih susul-menyusul tanpa seorang pemain pun yang hendak menyerah.

Bagi saya, persistensi yang ditunjukkan oleh kedua pemain sangat menakjubkan. Dan inilah yang seharusnya kita contoh. Ketika kita dihadapkan pada situasi dimana apa yang kita tuju ternyata sangat sulit untuk diraih, kadang-kadang kita lebih memilih untuk menurunkan/ merubah target kita ketimbang mempertahankan persistensi yang kita miliki dan terus berjuang.

Seperti yang dilakukan oleh pemain Cina dan Korea ketika itu. Mereka sudah begitu dekat dengan angka 21 ketika berada di angka 20, tapi ternyata kemenangan harus tertunda ke angka 22. Ketika mereka sudah di angka 22, lagi-lagi kemenangan harus tertunda ke angka 24, dan ini terjadi berulang-ulang hingga angka 28.

Karena itu, ketika kita telah begitu dekat dengan kesukesan, dan ternyata kesuksesan itu harus tertunda untuk ke sekian kalinya, yang seharusnya kita lakukan adalah terus berusaha dan tak pernah menyerah. Karena hanya dengan persistensi-lah akhirnya kesuksesan tersebut mampu kita capai.

7 komentar:

  1. wah laporan langsung dari lapangan bandungnya ternyata dilihat bukan dari sudut lapangan sebelah kiri..
    hehehehe...

    kalo gitu gw jg persisten aaahhhh...

    BalasHapus
  2. cerita bagus..... dan contoh bagus. Thank's for the idea

    BalasHapus
  3. coba saya simpulkan, konsisten adalah sikap seseorang untuk mempertahankan pendirian nya sementara persisten adalah sikap untuk seseorang untuk terus maju mempertahankan atau mewujudkan pendirian nya itu, benar bukan?

    BalasHapus
  4. analisa yg simple dan contoh yg simple sehingga membuat pembaca yg mau 'simple'nya saja menjadi paham, good job,, :)
    makasi,, :)

    BalasHapus
  5. kereeeeeeeeeeeeeen kaka tq :)

    BalasHapus