Selasa, 24 Juni 2008

Etika Terkait Perbedaan Gender

Beberapa waktu lalu, saya sempat bertelepon ria dengan seorang teman lama saya yang berjenis kelamin pria. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan pulang kantor dengan menggunakan kereta. Pada awalnya, percakapan berlangsung seperti biasa dengan membahas mengenai kabar masing-masing. Hingga akhirnya lama-kelamaan percakapan bergeser membahas tentang etika kehidupan terkait gender.

Saya sengaja menuliskan percakapan tersebut karena-jujur-saya cukup terkejut dengan persepsi yang ia miliki terkait perbedaan gender. Sejauh ini, walaupun saya termasuk dalam kaum perempuan, dan saya memang nggak pernah menuntut untuk diperlakukan istimewa karena jenis kelamin saya, tak urung saya agak-agak tersindir dengan kalimat yang dilontarkan oleh teman saya itu.

Beginilah kira-kira cuplikan percakapan ketika itu.

Saya : Kamu di kereta?
Dia : Iya
Saya : Kamu duduk atau berdiri?
Dia : Duduk
Saya : Keretanya penuh nggak?
Dia : Nnnggg...lumayan
Saya : Ada yang berdiri?
Dia : Ada
Saya : Berdirinya di deket kamu?
Dia : Iya
Saya : Cewek atau cowok?
Dia : Cewek
Saya : Kok kamu nggak ngasih tempat duduk kamu sih?
Dia : Enggaklah. Kalau yang berdiri itu sudah tua, mau bapak-bapak atau ibu-ibu, aku pasti ngasih tempat duduk. Atau kalau yang berdiri itu ibu hamil, aku pasti kasih. Tapi kalau masih muda sih nggak usah lah ya.
Saya : Lho kok gitu? Memangnya kamu nggak berpikir bahwa cewek itu lebih layak mendapatkan tempat duduk dibandingkan kamu?
Dia : Pik, sekarang ini cewek-cewek banyak bilang emansipasi. Kalau alasannya capek, nggak cuma dia yang capek. Aku juga capek! Jadi menurutku, kalau cewek memang mau bekerja, dia harus siap dengan konsekuensi seperti ini. Harus siap berdiri di kendaraan umum, harus siap nggak dikasih tempat duduk, dan macam-macam lainnya.
Saya : (terpekur)
Dia : Trus, aku juga nggak setuju tuh sama omongan yang bilang kalo istri bekerja, penghasilannya untuk dirinya. Sementara kalau suami bekerja, penghasilannya ya juga untuk istrinya. Wah...aku nggak setuju banget tuh! Aku pernah bilang ke cewek yang waktu itu ngomong gitu ke aku, "Kalau aku punya istri, dan prinsipnya dia seperti itu, aku akan bilang sama istriku 'Mendingan kamu nggak usah kerja!'"
Saya : (tetap terpekur)
Dia : Ya iya dong Pik, ngapain juga aku ngizinin istriku kerja dari pagi sampai malam. Ampe akhirnya di rumah harus pake pembantu dan pake baby sitter. Padahal, hasilnya dia bekerja cuma untuk dia belanja aja. Wah, kalau aku sih nggak terima kayak gitu.
Saya : (tambah terpekur)
Dia : Makanya, kalau memang cewek ngomong emansipasi, mereka harusnya bisa mikir. Jangan cuma mau enaknya semua.
Saya : (memutuskan untuk diam, soalnya lagi males berdebat. Capek baru pulang kantor)

Nah, begitulah kira-kira cuplikan percakapan saya dengan teman saya. Melalui posting ini, sebenarnya saya pengen tau pendapat teman-teman. Apa bener kalo hari gini udah nggak zamannya lagi menjunjung etika dengan mendahulukan cewek untuk duduk di kendaraan umum?

0 komentar: