Minggu, 08 Juni 2008

Pentingkah Untuk Selalu Sempurna?

Posting saya kali ini masih ada kaitannya dengan posting sebelumnya. Setelah mengalami kejadian yang nggak mengenakkan di kantor (baca: Saya Bukan Tukang Ngadu), saya malah jadi dapat pencerahan yang sangat berharga bagi hidup saya.

Setiap manusia, pada umumnya ingin selalu terlihat baik. Kalau perlu, kita ingin untuk dilihat sebagai sosok yang sempurna. Karena itulah, manusia cenderung menggunakan topeng untuk menutupi realita dirinya. Frase “Be yourself” memang sering kita dengar di mana-mana. Kata orang, nggak perlu takut untuk menjadi diri sendiri. Tapi ternyata, setelah mengalami kejadian kemarin, saya jadi menyadari bahwa frase itu ternyata tidak mudah untuk diterapkan.

Saya akan mencontohkan kejadian yang sering kita alami, atau biasa ada di sekeliling kita. Begini nih…
Bayangkan jika kita dihadapkan pada posisi terpojok karena dipanggil oleh bos yang saat itu tampangnya bener-bener sepet. Karena terjadi suatu masalah, Bos berusaha mencari pangkal penyebab dari masalah yang muncul tersebut. Karena itulah ia memanggil kita ke ruangannya dan mengajukan pertanyaan ”Apa benar kamu melakukan hal itu?”. Sebenarnya toh itu pertanyaan biasa. Tapi karena diajukan dengan sorot mata tajam, muka yang menuduh, dan parahnya lagi, diajukan oleh seorang bos, maka pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang terkesan menghakimi. Dan dampaknya, alih-alih mengakui kenyataan yang ada dan berkata jujur bahwa kita memang benar melakukan hal itu, kita cenderung mencari penyelesaian yang kita kira paling mudah, padahal sebenarnya sama sekali tidak. Kita (sebagian orang) akan cenderung berbohong dengan harapan masalah ini akan segera menguap dan terlupakan, ketimbang berkata jujur dan mendapat semprotan bos saat itu.

Mungkin saja, keputusan yang diambil oleh orang yang berbohong itu adalah keputusan yang tepat. Misalnya saja setelah kita berbohong-karena akhirnya tidak berhasil menemukan pangkal masalah-bos akhirnya menilai bahwa ketimbang tambah pusing dengan masalah yang sebenarnya tidak terlalu krusial ini, lebih baik melupakannya saja. Walaupun, dalam hati sebenarnya si bos masih merasa masalah ini belum selesai, tapi ia memilih untuk mengesampingkannya saja.

Tapi, dalam banyak kasus, menghindari tanggung jawab dengan berbohong itu sebenarnya lebih sering jadi menimbulkan masalah baru. Misalnya, ketika kebohongan itu terungkap, kita jadi terkena dua kali masalah. Selain harus mengakui kesalahan yang memang telah kita perbuat, kita pun jadi dipandang sebagai manusia yang tak dapat dipercaya. Dan dampak lanjutan dari dicap sebagai orang yang tak dapat dipercaya pun masih akan terus ada, bahkan melekat terus di pundak kita.

Nah, ketika saya merenungkan tentang masalah ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa kebohongan-kebohongan itu pada umumnya dilakukan karena kita tidak mau terlihat tidak sempurna. Konyol kan? Padahal, semua orang yang waras sudah pasti tahu bahwa tak ada satupun manusia yang sempurna, jadi kenapa harus takut untuk terlihat tak sempurna?

Saya sendiri pun bukan orang yang luput dari kekonyolan ini. Dulu, ketika awal saya mulai bekerja sebagai trainer di kantor saya yang sekarang, dan ada peserta training yang menanyakan ”Sudah berapa lama bekerja?”, saya akan menjawab ”Kurang lebih setahun”. Saya nggak bohong, karena ketika itu saya baru bekerja sekitar 3 bulan, dan saya menganggap 3 bulan itu bisa disamakan dengan kurang lebih setahun. Tapi, poinnya bukan itu. Saya, memilih untuk menjawab ”kurang lebih setahun”, daripada ”tiga bulan” karena saya ingin terlihat sempurna di mata para peserta. Ketika saya menjawab ”tiga bulan”, saya berasumsi bahwa peserta akan melihat saya sebagai trainer yang masih hijau dan belum mampu untuk mengajar di depan kelas. Buntutnya, saya nggak mau mereka jadi meng-underestimate diri saya.

Pangkal dari kebohongan ini, sebenarnya adalah karena saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup ketika itu. Saya memang merasa sebagai trainer baru yang belum memiliki self esteem yang cukup ketika itu. Saya butuh dukungan dari pihak luar-dalam hal ini peserta-untuk membantu mengangkat self esteem saya.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menemukan self esteem saya. Ketika saya merasa mampu mengajar sebaik rekan-rekan saya yang telah menjadi trainer lebih lama dari saya, saya menjadi tidak ragu lagi untuk berkata jujur. Ketika ada peserta training di kelas yang berbeda menanyakan pertanyaan yang sama, saya menjawab ”5 bulan”. Karena, memang ketika itu saya baru bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja selama 5 bulan. Ketika itu, saya sudah menemukan kepercayaan diri saya, sehingga saya merasa tak perlu untuk menyembunyikan siapa diri saya. Saya tak perlu merasa enggan untuk menyebutkan bahwa saya adalah seorang trainer baru ketika itu. Karena, ketika itu saya menganggap diri saya telah memiliki pengetahuan yang memadai selayaknya trainer-trainer lain yang telah berkerja belasan tahun.

Nah, untuk menjadi seseorang yang tak ragu untuk mengakui kekurangan, mengakui kesalahan, atau intinya tak ragu untuk terlihat tidak sempurna, jelas membutuhkan proses. Ada yang hingga berpuluh-puluh tahun hidup di dunia, tetap saja merasa tak percaya diri dengan dirinya dan memilih untuk berkata bohong setiap saat agar selalu terlihat sempurna. Padahal, menjadi seseorang yang mampu berkata ”Saya adalah orang yang tidak sempurna”, justru menunjukkan kedewasaan diri dan kemauan untuk memperbaiki diri. Dengan menyadari bahwa diri kita tidak sempurna, kita akan berupaya untuk memperbaiki ketidaksempurnaan itu.

Di lain pihak, ketika kita selalu memilih untuk menyembunyikan kesalahan dan kekurangan kita, sebenarnya kita sudah menjebak diri kita untuk hidup dalam bayang-bayang semu kesempurnaan. Ketika kita tak pernah mengakui kesalahan dan kekurangan kita, maka kita akan selalu menganggap diri kita benar, dan akhirnya kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat atau kekurangan yang kita miliki.

Seorang anak, biasanya memiliki emosi yang masih labil. Mereka belum banyak ditempa oleh pengalaman hidup, dan masih dalam proses pencarian jati diri. Karenanya, seringkali terjadi seorang anak berbohong dalam upaya agar tidak diejek oleh temannya. Misalnya, ketika ada anak yang diejek oleh temannya, ”Ih, ih..kamu orang miskin ya...kasihan deh kamu, nggak punya sepeda baru kayak kita-kita”. Si anak akan cenderung berbohong dengan mengatakan ”Enggak kok. Papaku udah ngebeliin kok, cuma masih di rumah aja, belum pernah aku pakai”.

Padahal, ayah dari anak ini mungkin sama sekali nggak pernah berniat atau pernah membelikan sepeda untuk anaknya. Si anak memilih untuk berbohong karena ia belum memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan, ”Iya, aku memang miskin, Papaku nggak bisa mbeliin aku sepeda. Tapi nggak papa kok. Aku udah senang bisa melihat kalian main sepeda, yang penting aku masih bisa sekolah dan dapat ranking, nggak kayak kamu”. Hanya anak-anak yang sudah punya kepercayaan diri luar biasa yang bisa mengatakan kalimat seperti itu. Dan jika ada anak yang sanggup berkata seperti itu, kita harus belajar banyak darinya.

Tapi yang jelas, saya menganggap bahwa seseorang yang sudah cukup berumur seperti saya (saya sudah seperempat abad hidup di dunia), dan bahkan orang-orang lain yang sudah lebih berumur dari saya, tak selayaknya lagi berbohong/ menutupi kekurangan/ tak mengakui kesalahan hanya karena ingin terlihat sempurna. Sadarilah bahwa kesempurnaan itu tak pernah ada pada seorang manusia. Sekeras apapun kita mencoba untuk jadi sempurna, kita tak kan pernah bisa sempurna. Jadi, kenapa harus takut untuk terlihat tak sempurna?


1 komentar:

Herlina Tanujaya mengatakan...

Menyambung tulisanmu tentang tukang ngadu, terus terang gw salut sama lo yang ga terpancing menyalahkan orang lain dan ngotot membenarkan diri di depan bos.
Memang masing-masing orang punya kematangan sendiri-sendiri, belum tentu tambah tua artinya banyak belajar tentang insight-insight kehidupan ini. Jadi, biarkanlah kalau ada orang yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya, kita ga perlu memperpanjang masalah. Gw rasa apa yang kau perbuat sungguh sangat mulia dan bijaksana :)
Btw, hebat juga ya kita bisa sehati di postingan kali ini..