Jika melihat adegan di film-film, kadang ada adegan pas si aktor dihadapkan pada sebuah pilihan. Dan biasanya dalam situasi tersebut ada aktor lain yang lebih dituakan yang bilang gini, "Just follow your heart", alias "Ikuti aja kata hati kamu". Kemudian, si aktor pun mengambil keputusan, yang biasanya (selalu) benar. Akhirnya, cerita pun berakhir bahagia.
Nah, saya punya teman yang sangat amat mengikuti kata hatinya. Di setiap pilihan yang harus ia ambil, ia akan selalu mengikuti kata hatinya. Ia pernah bercerita bahwa dulu, ia pernah dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Ketika itu, ia harus memilih, apakah akan bekerja pada sebuah perusahaan asing di luar negeri dengan gaji yang sangat besar, atau bekerja di perusahaan lokal di pulau Sumatra dengan gaji yang standar. Orang tua teman saya itu, katanya bahkan sudah menggelar syukuran kecil-kecilan karena sangat bangga dengan prestasi anaknya yang bisa diterima bekerja di luar negeri.
Namun, teman saya ini terpaksa memupuskan harapan orang tuanya. Ia memilih untuk bekerja di perusahaan lokal di Sumatra. Alasannya adalah, kata hatinya mengatakan untuk tidak pergi ke luar negeri.
Mendengar ceritanya itu, saya pun bertanya...
Saya : Jadi, setiap kali mengambil keputusan, lo selalu mengikuti kata hati lo?
Dia : Yup
Saya : Pernah nggak lo menyesali keputusan yang lo ambil itu?
Dia : Nggak lah, buat gue, keputusan yang gue ambil berdasarkan kata hati gue pasti keputusan yang terbaik
Saya : Masak sih kata hati lo nggak pernah salah?
Dia : Gue nggak tahu itu salah atau benar. Yang jelas, gue yakin kata hati gue pasti menuntun gue ke arah yang terbaik. Mungkin aja secara rasional orang melihat keputusan gue itu salah, tapi gue yakin ke depannya gue akan mendapatkan hikmahnya, dan orang pada akhirnya akan mampu melihat bahwa keputusan yang gue ambil itu benar.
Saya : ooow...(terpekur)
Saya cukup terperangah mendengar ceritanya itu. Saya, selama ini selalu memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan rasional yang saya miliki. Saya nggak pernah merasakan dituntun oleh kata hati saya. Entah apakah saya yang memang tak pernah mau mendengarkan dengan seksama ketika kata hati saya berteriak-teriak untuk memberitahu saya, ataukah memang saya yang tak punya kata hati. Kerap saya berdoa ketika saya dihadapkan pada suatu pilihan yang pelik, memohon untuk diarahkan pada jalan yang terbaik. Akan tetapi, tetap saja pada akhirnya saya memilih berdasarkan apa yang menurut saya terbaik bagi saya...dan sepertinya itu selalu dengan pertimbangan rasional (saya nggak tahu apakah mungkin Tuhan telah mempengaruhi cara otak saya bepikir, sehingga keputusan yang saya ambil tetap berdasarkan pada kehendak Tuhan).
Saya memang nggak pernah menyesali keputusan apapun yang pernah saya ambil. Tokh secara rasional saya sudah memikirkannya matang-matang. Jadi, saya sudah siap dengan implikasi terburuk dari keputusan tersebut. Tapi, lagi-lagi saya berpikir, bagaimana jika keputusan-keputusan yang saya anggap benar secara rasional itu menuntun saya ke kehidupan yang bukan kehidupan terbaik yang bisa saya jalani.
Kata orang, kata hati tak pernah berbohong. Kata hati tak pernah menyesatkan. Pun kata hati takkan berdusta. Masalahnya, bagi saya, sulit rasanya untuk membedakan mana bisikan yang berasal dari kata hati ataupun bisikan yang merupakan hasrat...Kadang kala, keinginan yang begitu menggebu dari diri kita membuat kita mengambil keputusan berdasarkan apa yang kita inginkan. Dan ketika itu, kita merasa bahwa kita telah mengambil keputusan berdasarkan kata hati, padahal sebenarnya itu adalah hasrat kita.
Namun teman saya cukup yakin dengan kata hatinya,
Dia : Dan karena gue selalu mengikuti kata hati gue, maka gue nggak pernah mundur untuk memperjuangkan cewek ini. Gue tahu dia adalah jodoh yang gue cari.
Saya : Tapi kalo cewek ini nggak pernah membalas perhatian lo gimana? Trus kalo dia udah punya cowok lain gimana?
Dia : Gue akan terus mengejar dia.
Saya : Jangan-jangan lo ngejar dia karena lo emang udah terlanjur suka sama dia. Jadi, hasrat lo yang bikin lo nafsu untuk mendapatkan dia, bukan kata hati lo...tapi lo salah mengira bahwa itu adalah kata hati.
Dia : Ngg...nggak tahu deh ya? Gue memang suka sama cewek ini. Jadi mungkin aja apa yang lo bilang bener. Tapi, kayaknya sih keyakinan gue ini bersumber dari kata hati gue.
Saya : Gimana kalo cewek itu akhirnya memilih untuk menikah dengan orang lain?
Dia : Kalo dia menikah dengan orang lain? Ngg...(jeda sejenak)...Maka pada saat itulah gue tahu bahwa kata hati gue salah untuk pertama kalinya.
1 komentar:
"Kata Hati"
Kok mirip judul blog gw pi?
Jangan-jangan di dalemnya ada pesen buat gw...hehehe..
Tp biasanya kalo aku coba ngomong ke arah yg satu itu, biasanya kamu terdiam. Kata orang sih diam tanda setuju, gak tau kalo katamu, diam tanda ragu kah? atau tanda-tanda yang lainnya?
Btw kalo berbicara dari hati ke hati itu bagaimana ya?
"Hati itu bukan lever, juga bukan jantung, tapi sebuah organ imajiner, yang entah ada di kepala atau di dada. dan karena imajiner, hatipun bisa berbicara"
Poskan Komentar