Kamis, 21 Agustus 2008

Termasuk Karakter Apa?

Dalam kehidupan di dunia ini, selalu ada saat-saat tertentu dimana kita harus memilih. Ketika kita dihadapkan pada pilihan untuk menentukan jurusan kuliah yang akan kita ambil misalnya. Terkesan sepele, tapi tetap saja itu akan mempengaruhi sebagian dari masa depan kita. Atau pilihan ketika sedang bekerja. Apakah saya memilih untuk bertahan di tempat kerja yang lama, dengan teman-teman yang sudah saya kenal baik dan lingkungan kerja yang sudah nyaman, atau pindah ke perusahaan baru yang memberikan kompensasi lebih dari sisi pendapatan.

Selalu ada pilihan dalam hidup. Dimanapun dan kapanpun, kita selalu dituntut untuk memilih.

Namanya pilihan, kadang kita memilih dengan benar, dan kadang kita salah dalam memilih. Yang jelas, pilihan apapun yang kita ambil selalu membawa kita kepada suatu dampak yang mempengaruhi kehidupan kita. Dan apapun dampaknya, kita tak dapat memutar waktu untuk mengambil pilihan yang berbeda. Sekali memillih, kita harus siap dengan apapun yang menyertai pilihan tersebut.

Memilih memang mengandung risiko. Karenanya, terkadang sulit bagi kita untuk mengambil pilihan. Tapi itulah hidup, penuh dengan risiko. Seperti kalimat bijak yang saya dengar. Orang yang tak pernah mengambil risiko sesungguhnya tidak hidup. Tanpa mengambil risiko, kita akan selalu berada pada titik yang sama seumur hidup kita. Takkan memiliki pengalaman, takkan belajar dari kesalahan, dan takkan bisa kemanapun.

Saya, termasuk orang yang menyukai risiko. Kalau di dunia investasi, profil saya disebut risk taker. Artinya, saya bersedia menanggung risiko yang tinggi demi menikmati return yang tinggi pula. Orang seperti saya ini, amat menggemari investasi di saham ataupun investasi lain yang mampu memberikan return tinggi. Saya tahu risikonya tinggi. Tapi toh, saya tidak terlalu peduli. Demi keuntungan yang saya kejar, saya harus siap dengan risiko itu.

Beda di dunia investasi, beda pula profil saya di dunia perjodohan. Dalam urusan yang satu ini, saya termasuk orang yang sangat amat konservatif. Saya, saking takutnya dengan risiko yang menyangkut asmara ini, nggak pernah berani mengambil risiko walau sekecil apapun. Akhirnya, saya pun sama sekali tidak pernah menjatuhkan pilihan.

Jika kebanyakan orang bisa dengan mudahnya memilih, tidak demikian dengan saya. Kebanyakan orang yang saya kenal, berani menjatuhkan pilihan dengan tempo yang cukup singkat. Well, ketika saya bilang menjatuhkan pilihan, itu bisa berarti dua hal.

Pertama, adalah ketika Anda mengenal seseorang, merasa sreg dengannya, dan kemudian berkomitmen dengan orang itu untuk mejalani proses pendekatan yang disebut pacaran. Banyak orang yang dengan mudah menjatuhkan pilihan dengan situasi seperti ini. Tokh ini bukan komitmen yang akan dibawa mati. Ini tokh hanya komitmen yang dapat dengan enaknya dilanggar karena tak pernah dalam sejarah kita sebuah komitmen pendekatan yang disebut pacaran perlu untuk disahkan secara hukum, apalagi agama. Nah, untuk orang-orang yang berani mengambil risiko menentukan jodoh melalui pacaran ini saya masukkan dalam kategori profil risiko moderat.

Yang kedua, adalah ketika Anda mengenal seseorang, merasa sreg dengannya, dan kemudian berkomitmen dengan orang itu untuk menjadi satu dalam ikatan yang disebut pernikahan. Saya menemukan banyak juga orang yang bisa dengan beraninya memilih untuk menjatuhkan pilihan kepada seseorang, dan kemudian menikahinya, tanpa melalui proses pacaran. Keputusan ini mereka ambil hanya dalam hitungan bulan sebelum pernikahan digelar. Orang-orang inilah yang saya kategorikan sebagai orang dengan profil risiko agresif.

Sedangkan saya, dengan profil konservatif, sama sekali nggak pernah berani menjatuhkan pilihan dalam format apapun. Terlalu banyak pertimbangan yang saya ambil, dan terlalu banyak 'tapi' yang ada di benak saya.

Kata orang, saya nggak bisa memilih karena memang pilihan yang tepat belum tersedia bagi saya. Tapi sebagian orang lainnya menuding saya sebagai orang yang terlalu banyak menuntut ini itu sehingga tak berani mengambil risiko. Saya tahu bahwa tanpa keberanian mengambil risiko saya takkan beranjak kemanapun seumur hidup saya. Saya tahu itu, tapi saya memang tidak berani. Saya masih belum berani.

Bagaimanapun, tak pernah ada urutan baik atau buruk dalam karakter atau profil seperti ini. Orang dengan karakter agresif tidak mesti lebih baik daripada orang dengan karakter moderat. Dan orang pada karakter moderat pun tidak selalu lebih baik dibandingkan orang yang konservatif. Ibarat hendak mencapai sejumlah profit tertentu, orang dengan karakter agresif tidak selalu pada akhirnya bisa mencapai profit tersebut lebih dahulu. Ingat, selalu ada potensi untuk jatuh dan rugi. Bisa jadi orang dengan karakter konservatif, yang lebih selektif dalam menjatuhkan pilihan, mampu mencapai profit tersebut lebih dulu.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Untungnya manusia itu punya daya adaptasi yang begitu tinggi dibandingkan dengan makhluk hidup yang lainnya, so kenapa ragu dalam mengambil pilihan tentang jodoh pi? kan bisa diadaptasikan dalam waktu yang relatif cukup lah... "seumur hidup" hehehehe..

Gufy, gak sempet login