Jumat, 01 Agustus 2008

Tipe Ibu Rumah Tangga atau Wanita Karir?

Kebanyakan orang yang mengenal saya, cenderung mengatakan bahwa saya adalah tipe wanita karir, tipe wanita yang akan mendahulukan kepentingan pekerjaan daripada keluarga. Saya tak pernah membantah jika ada yang mengatakan seperti itu. Bagi saya, tak perlu memusingkan penilaian orang lain tentang diri kita. Bikin stres dan nggak berguna. Cukup saya yang tahu bagaimana sebenarnya saya dan apa yang sebenarnya saya inginkan.

Tapi, menurut saya, seorang wanita dapat dikategorikan bertipe wanita karir atau bertipe wanita keibuan, ketika ia dihadapkan pada situasi seperti ini ...

Alkisah hiduplah seorang wanita bekerja yang hidup dengan anaknya yang masih berusia setahun dan seorang nenek (ibu dari si wanita). Suami wanita ini bekerja di luar kota dan hanya pulang pada libur-libur panjang. Sehari-harinya, si anak akan dirawat oleh neneknya yang juga tinggal di rumah yang sama dengan wanita ini, sementara si wanita pergi bekerja. Sebenarnya, penghasilan dari si suami jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan menabung untuk pendidikan anak di masa mendatang. Namun, si wanita merasa dengan bekerja ia memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dan mengembangkan kemampuan diri. Tokh sang suami tak pernah melarangnya untuk bekerja, dan si anak pun terurus dengan baik di tangan neneknya.

Masalah mulai muncul ketika kemudian si nenek memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan tak lagi tinggal bersama dengan anaknya ini. Pasalnya, selama ini si wanita ini telah terbiasa bergantung pada pertolongan si nenek untuk merawat anaknya. Hingga berakibat si wanita tak jua bisa mengurus anaknya sendiri. Memberi makan, memandikan, hingga menidurkannya merupakan masalah tersendiri bagi wanita ini.
Wanita ini pun bertanya kepada seorang kenalannya, apa yang harus ia lakukan? Untuk berhenti bekerja, sungguh ia merasa tak sanggup. Ia tak bisa membayangkan bahwa dirinya akan menjadi ibu rumah tangga yang selama 24 jam mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah. Solusi satu-satunya hanyalah mencari pengasuh yang akan merawat anaknya.

Sejujurnya, wanita ini tak tega untuk menitipkan anaknya di tangan seorang pengasuh. Seseorang yang baru beberapa minggu atau bahkan baru beberapa hari ia kenal. Seseorang yang ia tak tahu bagaimana akan bersikap kepada anaknya. Wanita ini banyak mendengar cerita-cerita tentang pengasuh yang kerap mencubiti anak majikannya, bahkan memukul ketika si anak bersikap nakal. Atau pengasuh yang ketika si anak nggak mau diberi makan tidak pernah berusaha untuk membujuknya makan, hingga kemudian si anak jatuh sakit atau dalam tempo panjang kecerdasannya tidak maksimal. Atau pengasuh yang nggak pernah mengajak bicara anak yang diasuhnya, hingga kemudian si anak pun sedikit mendapat rangsangan dan akhirnya terlambat belajar berbicara. Atau pengasuh yang selama majikannya pergi menyewakan bayi yang diasuhnya untuk diajak mengemis demi mendapat belas kasihan lebih dari orang-orang. Atau pengasuh yang lari membawa kabur si anak untuk dijual ke negeri seberang. Intinya, banyak cerita yang ia dengar yang membuatnya kuatir untuk menyerahkan anak ke tangan seorang pengasuh.

Nah, jika teman-teman ada di posisi wanita ini, keputusan apakah yang akan teman-teman ambil?
Tetap bekerja, dengan berusaha sedapat mungkin mendapatkan pengasuh yang kredibilitasnya telah teruji. Ia setidaknya berasal dari yayasan yang cukup ternama, dan telah memiliki pengalaman bekerja sebagai baby sitter selama setidaknya 3 tahun. Nggak masalah harus membayar si pengasuh dengan bayaran jutaan, yang penting ia bisa bekerja tanpa perlu merasa was-was.

Berhenti bekerja. Bagaimanapun profesionalnya si pengasuh, sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ia memang bisa diandalkan, wanita ini tak kan pernah rela membiarkan anaknya diasuh oleh orang lain. Membuktikan keprofesionalan si pengasuh tentunya tak hanya dapat dilakukan dalam tempo mingguan atau bulanan. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Tokh masih akan ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan kembali.

Well, jika teman-teman memilih jawaban (a), atau mungkin jawaban (b), saya yakin teman-teman pasti sudah mengetahui kesimpulan apa yang akan saya berikan.

Saya memang sengaja membuat kasus yang benar-benar ekstrim. Dan dalam kasus ekstrim seperti di atas, saya tentu akan memilih jawaban (b). Saya pasti mementingkan anak saya.

Saya memang nggak pernah menyalahkan wanita yang memilih jawaban (a). Semua itu bergantung pada pola pikir, kebiasaan, hingga lingkungan tempat ia dibesarkan. Saya banyak mendapati teman saya yang sangat amat anti untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Baginya, tak boleh ada istilah seorang wanita menengadahkan tangan untuk meminta uang dari si suami. Ia dibesarkan dengan pola pikir bahwa seorang wanita harus mampu mandiri, agar sang suami tak memiliki kesempatan untuk mengatur atau bersifat otoriter atas uang yang ia hasilkan. Kepada teman-teman ini, saya berusaha memahami mereka.

Tapi yang tidak saya pahami adalah ketika seorang ibu, rela membiarkan anaknya untuk diasuh oleh seorang pembantu yang usianya masih belasan tahun dan baru ia kenal. Parahnya, pengasuh ini ia dapat hanya berdasarkan referensi dari seorang satpam di kantor tempat ia bekerja. Pengasuh ini adalah tetangga satu kampung dari si satpam yang sebelumnya tak pernah punya pengalaman mengasuh anak. Saya tak bisa memahami bagaimana mungkin ibu itu bersedia mengambil risiko menitipkan anak satu-satunya ke tangan pengasuh. Tanpa pernah mengamati bagaimana cara si pengasuh bersikap kepada anaknya, si ibu langsung saja menitipkan anaknya.

Tetapi, lagi-lagi saya berpikir. Dan karenanya saya berusaha melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda. Barangkali, ia memang tidak punya pilihan lain. Mungkin himpitan kondisi ekonomi menyebabkan ia tak mungkin mencari solusi lainnya. Jika ia tidak bekerja, mungkin penghasilan sang suami takkan mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Dan jika ia berhenti bekerja untuk sementara, belum tentu ia akan bisa memperoleh pekerjaan lagi nantinya. Perusahaan biasanya lebih memilih untuk menerima pegawai yang belum berkeluarga.

Hmmmhh..memang benar hidup itu bisa jadi sangat berat. Well, tapi itulah esensi hidup. Berjuang dan terus berjuang.

0 komentar: