Melanjutkan cerita sebelumnya (baca: Tipe Ibu Rumah Tangga atau Wanita Karir?), saya menemukan hal yang cukup menarik. Seorang wanita yang dibesarkan di keluarga dimana si ibu bekerja, dapat tumbuh menjadi dua tipe wanita yang sangat berbeda.
Sebelumnya saya pernah menceritakan seorang teman saya yang dibesarkan di keluarga dimana si ibu adalah seorang wanita karir. Ia dididik bahwa seorang wanita harus mampu hidup mandiri tanpa dukungan finansial suaminya. Ia diajarkan bahwa tak boleh ada dalam kamus hidupnya, seorang wanita menengadahkan tangan kepada suaminya untuk meminta uang. Ia diberitahu bahwa dengan mampu mengasilkan uang sendiri, sang suami takkan berani melecehkan dan bersikap semena-mena kepada sang istri. Hingga akhirnya, ia kini berusia 27 tahun...itulah prinsip yang ia pegang dalam hidupnya. Ia harus menjadi wanita karir, dan itulah yang ia jalani sekarang.
Namun, di sisi lain, saya pun memiliki teman yang dibesarkan dengan pola pikir yang sama. Sang ibu adalah tipikal wanita karir yang cukup sukses. Bahkan, di keluarganya, penghasilan si ibu mampu melampaui penghasilan si ayah. Dalam pengamatan saya, teman saya ini sangat amat berlebih dari sisi finansial (saya melihatnya dari gaya hidup yang ia jalani...kebiasaan jajan dan belanja). Saya pikir, ia pun kelak akan mengikuti jejak sang ibu dengan menjadi wanita karir.
Ternyata saya salah. Beberapa tahun kemudian ketika lulus kuliah, ia memutuskan untuk mencari penghasilan dengan membuat kerajinan tangan dan menjualnya. Namun, ini pun tak bertahan lama. Hanya berselang beberapa bulan, datanglah sebuah undangan ke alamat tempat tinggal saya. Ternyata ia memutuskan untuk menikah. Dan setelah menikah, ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Heran dengan pilihan yang ia jalani, karena tak pernah menduga bahwa anak ini akan menjadi ibu rumah tangga, iseng-iseng saya bertanya, "Kok kamu nggak mau kerja?". Sebab, di satu sisi saya cukup tahu gambaran penghasilan yang dimiliki oleh si suami, dan jelas bahwa nilai yang dihasilkannya belum akan mencukupi jika kebutuhan hidup keluarga terus meningkat dengan adanya anak dan pengeluaran lainnya. Dan saya cukup terenyuh dengan apa yang ia ucapkan. "Gue nggak kerja karena gue nggak mau anak-anak gue nanti, tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari orang tuanya. Gue dulu sering ngerasa sepi ketika nyokap gue kerja dari pagi mpe malam. Dan pas itu, gue suka berpikir bahwa dia nggak sayang sama gue. Sejak itu gue udah bertekad bahwa gue nggak akan mau menjadi wanita karir. Gue pengen anak-anak gue tumbuh dengan perasaan bahwa orang tua mereka selalu menemani mereka."
Ternyata, proses yang sama bisa membawa hasil yang berbeda. Entah bagaimana caranya, saya tak tahu. Barangkali bibit yang dimiliki ternyata berbeda, sehingga kendati proses penanamannya sama, buah yang dihasilkan juga berbeda. Atau mungkin bibitnya sama dan proses penanamannya pun sama, hanya saja bibit yang satu tumbuh dengan penyinaran cukup dari lingkungannya, sementara bibit yang lain tumbuh dengan penyinaran kurang. Atau, bisa jadi tak ada yang berbeda pada bibitnya, pada proses penanaman, atau pada lingkungan yang menyokong pertumbuhannya. Hanya Tuhan memang sengaja menjadikan mereka berbeda. Entahlah.
Jumat, 01 Agustus 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar