Kamis, 11 September 2008

Aqso dan Madina

Saya yakin nggak banyak di antara teman-teman saya yang pernah nonton sinetron yang saat ini lagi ditayangin di RCTI "Aqso dan Madina". Saya sendiri sih kalo pas bisa pulang cepet suka nyempetin nonton. Pengen tahu aja mau dibawa kemana arah hidup 4 tokoh sentral di sinetron itu oleh si penulis skrip.

Cerita Aqso dan Madina memang cerita klasik bin standar. Ada kakak beradik yang namanya Pasha dan Aqso, keduanya cowok. Si Pasha diperanin sama Winky dan si Aqso diperanin sama Dude. Trus, ada lagi kakak beradik cewek yang namanya Safira dan Madina. Safira diperanin sama Carissa Putri, kalo si Madina diperanin sama Marshanda.

Intinya, dalam cerita ini, Pasha dan Safira mencinta dan kemudian menikah. Hingga akhirnya kemudian Pasha tertimpa kecelakaan (entah apa, soalnya saya pas nggak nonton episode ini) dan meninggal. Tinggallah si Safira merana seorang diri. Di sisi lain, Aqso dan Madina juga saling memendam cinta. Dan sebagaimana layaknya sebuah sinetron, dimunculkanlah sebuah polemik ketika Safira ternyata mengharap Aqso menjadi pendamping hidupnya menggantikan Pasha yang telah meninggal. Pasalnya, Safira nggak mengetahui bahwa Aqso dan Madina sebenarnya saling menyayangi. Di sinilah si Madina kemudian 'berbesar hati' melepaskan Aqso yang ia cinta dengan memintanya menikahi Safira. Kendati Aqso menolak keras karena hatinya sebenarnya hanya untuk Madina seorang, namun kemudian ia akhirnya menyetujui permintaan Madina untuk menikah dengan Safira.

Hal yang menarik untuk dikomentari bagi saya adalah, apa yang di sinetron ini disebut sebagai 'ketulusan cinta'. Madina, melepaskan Aqso untuk menikah dengan Safira, karena ia ingin Safira-kakaknya yang tengah dirundung kesedihan-bisa kembali bahagia. Kendati Madina mencintai Aqso, namun ia memilih untuk menyuruh Aqso-yang mencintai dirinya-untuk menikah dengan Safira.

Buat saya sih ini cuma sekedar sinetron biasa dengan tema cinta biasa yang dikemas dengan balutan penutup kepala, setting bulan Ramadhan, dan kata-kata penghias seperti "Assalamualaikum, Alhamdulillah, Subhanallah, Insya Allah, dan lainnya".

Jika sinetron ini hendak mengangkat 'ketulusan cinta' kepada Allah, maka yang saya tangkap hanyalah 'ketulusan cinta' kepada kekasih yang terhempas karena rasa cinta kepada saudara sendiri.

Jika hendak mengangkat ketulusan cinta kepada Allah, menurut saya tema yang tepat untuk digambarkan adalah ketika seseorang tidak mencintai orang lain, namun ia memilih untuk menikah dengannya karena ketakwaannya pada Sang Khalik, i'll call that "cinta pada Allah".

Jika seseorang mencintai orang lain, namun karena ia tahu bahwa ia tak boleh menikah dengannya karena perbedaan keyakinan mereka, dan kemudian meninggalkannya, that's "cinta pada Allah".

Jika seseorang mencintai orang lain, dan demikian pula sebaliknya, namun kemudian ada orang lain yang masuk ke tengah mereka mencintai salah seorang dari keduanya, dan akhirnya orang yang saling mencintai ini melepaskan orang yang dicintainya agar bisa menikah dengan orang lain itu, that's called "stupidity".

Apakah saya termasuk kaum skeptis? Mungkin saja.
Buat saya, dalam kasus sinetron ini, apa yang saya sebut sebagai "stupidity" bisa saja diartikan sebagai "cinta pada Allah" hanya jika orang lain yang mendadak masuk ke dalam kisah cinta dua insan tersebut adalah orang yang berpenyakit keras hingga hampir mati, orang yang sangat ingin melanjutkan keturunan untuk berjihad di jalan Allah sebelum ia meninggal. Demi mewujudkan keinginan yang mulia tersebut, dua insan yang saling mencinta ini memutuskan untuk melepaskan cinta mereka agar salah satunya bisa menikah dengan orang yang berpenyakit tadi.

Tapi jika orang yang masuk ke dalam kisah cinta ini seorang janda kembang yang masih cantik, yang sehat sentosa, yang tak kurang suatu apa, menurut saya takkan ada yang namanya mengorbankan cinta pada kekasih demi cinta pada Allah. Yang ada adalah apa yang saya sebut "stupidity". Apa yang seharusnya dilakukan oleh Madina adalah mengatakan pada Safira "i loved him, sista. Can't you see it? Just leave us alone or i'll slap you"

Nah, ini ucapan saya kalo denger sondtrack sinetron ini dinyanyikan Marshanda tiap akhir sinetron.

Sedihku sakitku kuterima-
Kurela kupasrah jalani-
Ini suratan aku dicoba ("jelas-jelas dia sendiri yang milih untuk menderita, kurang ajar malah nuduh suratan takdir!")-
Demi rahmatMu kumemohon-
Ya Allah ridhoi ketulusan hati-
Ya Allah beri aku kesabaran-
Ya Allah aku sungguh berkorban ("yang minta lu berkorban siape? Kagak ada kan?")-
Demi rahmatMu Ya Allah.

1 komentar:

Gufy ajah mengatakan...

Hahahaha, kasian sekali marshanda, lagunya dikritik abis...

tp biarpun begitu, ternyata lo tonton juga, begitu juga dengan berjuta ibu-ibu dan para pencinta sinetron. untung gw bukan yang termasuk, secara gw gak punya tipi.. hehehehe