Memasuki bulan Ramadhan, sebagai umat muslim saya ikut menjalankan ibadah puasa selama 30 hari. Di hari saya menuliskan posting ini, puasa baru berjalan 2 hari. Dan apa yang cukup mengherankan saya adalah, perut saya yang biasanya selalu berteriak-teriak seperti ayam jago di pagi hari begitu mencium bau indomie yang dibikin oleh Pak Misjo-koki andalan dari pantry kantor saya, kali ini tenang seperti naga yang sedang berhibernasi (tidur musim dingin).
Saya, biasanya nggak pernah tahan untuk nggak memakan indomie bikinan Pak Misjo setiap pagi saya datang ke kantor. Walaupun kadangkala di rumah saya sudah sarapan dengan menu komplit, tak urung di kantor perut saya tetap minta untuk disumpal lagi dengan si kriting-kriting yang enak (dan membuat otak bodoh) itu.
Setelah saya sempat bertanya-tanya, kok bisa-bisanya mekanisme tubuh kita menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi, akhirnya saya menemukan jawabannya.
Pada prinsipnya, mekanisme tubuh kita selalu dikontrol oleh otak kita. Jadi, walaupun saya sebenarnya sudah sarapan, namun karena saya menginginkan makan indomie lagi, maka otak saya akan mengirimkan pesan kepada perut saya untuk berteriak-teriak seolah-olah saya lapar.
Kisah ekstrimnya, seperti sebuah film perang yang saya lihat. Seorang tentara di sebuah medan perang, ditugaskan untuk melindungi seorang pengirim sandi. Sebagai tentara yang sangat loyal dan berdedikasi, ia pun berusaha melindungi pengirim sandi tersebut dengan nyawanya. Hingga, ia tak merasakan sama sekali ketika tubuhnya menjadi sarang tembakan peluru musuh. Ia tetap membawa si pengirim sandi ke tempat aman, dengan cara menggendongnya di atas pundaknya. Hingga kemudian, setelah sampai di tempat aman dan si pengirim sandi ini telah terlindung, tentara tersebut baru menyadari bahwa ia hampir saja mati dan secara logika seharusnya ia takkan sanggup untuk menggendong si pengirim sandi dari medan perang menuju tempat aman. Hal yang luar biasa ini pun dibiarkan mengambang begitu saja tanpa penjelasan agar menimbulkan kesan heroik pada diri si tentara.
Intinya, saya mau bilang bahwa dengan perintah dari otak, tubuh kita bisa mengabaikan rasa sakit yang sangat hebatnya, apalagi hanya sekedar mengabaikan rasa lapar. Bukan begitu?
Nah, lebih lanjut, saya mikir lagi, tapi kenapa ya pas dulu masih zaman SMP, saya sering merasa perut saya lapeeeeeeeer banget. Hingga akhirnya puasa yang saya jalani adalah puasa vampir. Tidur di siang hari, dan bangun ketika tiba waktu maghrib pas matahari mulai tenggelam. Setelah direnungkan, akhirnya saya menyadari apa yang dinamakan ikhlas. Dulu, ketika SMP, saya merasa bahwa puasa adalah sebuah kewajiban. Saya menjalaninya karena saya tahu bahwa saya wajib melakukannya. Tak lebih dari itu. Namun, sekarang saya mulai bisa menjalani puasa dengan keikhlasan, sehingga walaupun seharusnya saya lapar, perut saya tetap adem ayem aja nggak berkoar-koar minta dilempar, hehe...
Kisah lain serupa juga pernah saya alami dulu. Ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah bingung pas melihat teman saya yang memakai jilbab. Apa nggak gerah ya pake penutup kepala seperti itu? Pas saya tanya ke dia, ia menjawab ”tidak”. Ketika itu, saya nggak percaya sama perkataan dia. Secara logika, harusnya dia kepanasan dong karena rambutnya harus dikuwel-kuwel dan dimasukin ke penutup kepala seperti itu.
Tapi, lama berselang saya baru menyadari bahwa ia nggak merasakan panas, karena hatinya memang sudah meniatkan untuk menutup kepalanya dengan jilbab itu. Ketika hati kita sudah meniatkan diri kita untuk melakukan sesuatu dengan ikhlas, maka otak kita akan meresponnya dengan mengirimkan pesan kepada seluruh tubuh kita untuk merasakan kenyamanan atas sesuatu yang kita lakukan itu. Sehingga, walaupun menurut logika kenyamanan tersebut takkan mungkin kita dapatkan kalau melakukan suatu hal (misalnya memakai jilbab atau tidak makan dan minum apapun dari pagi hingga sore hari), namun ternyata itulah yang terjadi.
Masalahnya, kadangkala sulit bagi seseorang untuk mengatur keikhlasan itu. Saya pun termasuk dalam kumpulan orang-orang yang seperti ini. Well, saya memang masih harus banyak belajar tentang manajemen ikhlas. Satu harapan saya, mudah-mudahan aja saya nggak salah menilai bahwa diri saya sudah bisa ikhlas untuk menjalani puasa. Pembuktiannya, dengan melihat selama 28 hari ke depan, apakah naga di perut saya akan bangun dari hibernasinya ketika mencium bau indomie bikinan Pak Misjo, hehe...
Selasa, 02 September 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Tapi kalau dipikir-pikir pi, surat yang namanya Al-Ikhlas, di dalemnya malah gak ada kata-kata ikhlas. Tetapi isinya tentang meng-Esakan Tuhan. Tanya Ken Apa?
Poskan Komentar