Waduh, judulnya kok kayak lagu banget ya...
Jadi gini nih, judul itu sebenarnya terinspirasi oleh perkataan Aidil Akbar, si financial planner ganteng yang sering nongol di tipi lantaran punya acara yang namanya Perfect Num8ers. Di acara ini, Aidil Akbar ngomentarin tentang krisis yang sedang melanda AS dan juga pasar modal Indonesia.
Ceritanya, si Aidil ini kecewa banget sama ketidakdewasaan para investor bursa di Indonesia yang ikut-ikutan ambil aksi jual. Padahal, kalo kata dia nih, di Indonesia mah sebenarnya nggak ada masalah apa-apa. Cuma orang2nya aja yang latah ikutan panik dan ikutan jual saham kayak orang2 di Dow Jones Amrik sono.
Nah, saya sendiri membedakan para pemain di bursa ke dalam tiga spesies. Spesies pertama adalah orang-orang yang memang niat untuk berinvestasi saham secara jangka panjang. Jadi, mereka inilah orang-orang yang akan dipuji sama Warren Buffet. Pasalnya, bapak tua Buffet ini selalu menyarankan orang yang mau membeli saham untuk mengecek fundamental perusahaan yang sahamnya akan dibeli. "Memiliki saham itu ibarat memiliki perusahaan", begitulah nasihat yang selalu dikatakannya. Kalo kita mau memiliki perusahaan, kita kan pasti kudu ngecek orang-orang yang duduk di manajemennya, visi yang dimilikinya, kondisi kesehatannya, aksi-aksi yang akan dilakukannya, dan lain-lain sebelum akhirnya memutuskan layak dibelikah perusahaan ini? Kalo beli perusahaan kan nggak mungkin dong kita cuma beli seminggu terus kita jual lagi? Pasti kita beli, kita pantau, kita kasih saran untuk pengembangan perusahaan itu (melalui RUPS), dan sebagainya. Karena itulah seorang investor selayaknya memiliki saham sebuah perusahaan dalam jangka panjang.
Spesies kedua adalah orang yang saya sebut bermental spekulan. Mereka masuk pasar, kemudian langsung pergi nggak lama kemudian. Istilah kerennya mah hit and run. Orang-orang ini hanya berorientasi untuk mengejar keuntungan dalam jangka pendek. Jadi, nggak perlu nganalisa kondisi fundamental dalem-dalem. Soalnya kan mereka nggak bakalan megang saham sebuah perusahaan dalam jangka lama. Nah, spesies kedua ini terbagi lagi jadi bermacam-macam sub spesies. Ada yang saking mental spekulannya kenceng banget, melakukan jual beli saham hanya dalam hitungan menit. Ada yang hitungan jam. Ada juga yang hitungan hari, minggu, hingga bulan. Orang-orang ini, jika salah mengambil langkah, misalnya membeli saham yang kemudian harganya turun, akan lebih memilih untuk menjual saham itu dalam kondisi rugi (cut loss) ketimbang menahan sahamnya dalam jangka waktu lama hingga harganya kembali naik dan ia mendapat untung.
Spesies ketiga adalah orang yang nggak masuk dalam dua jenis di atas. Dia sebenernya berorientasi untuk mengejar keuntungan dalam jangka menengah (jangka bulanan hingga 1 tahunan). Tapi, sayangnya dia males melakukan analisa fundamental terhadap perusahaan yang dia beli. Orang-orang ini biasanya akan memilih untuk menahan sahamnya jika saham yang ia miliki harganya merosot. Pasalnya, mereka memang nggak bermental spekulan. Tapi, kemudian pas harga merosot makin tajam, orang-orang ini jadi jiper dan jantungan. Akhirnya, dijuallah saham yang dimilikinya dalam kondisi sudah merosot tajam. Jadi, mereka inilah tumbal-tumbal keganasan bursa. Habis, nggak punya pendirian sih!
Nah, masuk ke dalam tipe pemain bursa seperti apakah saya? Jelas saya bukan investor sejati. Soalnya, saya nggak pernah melakukan analisa secara mendalam atas saham yang saya beli. Tapi, saya juga nggak pernah dan nggak mau melakukan aksi jual beli hanya dalam hitungan jam ataupun hari. Jadi, harusnya saya dimasukkan dalam kategori spesies ketiga. Namun karena hingga detik ini saya tetap bergeming dan tidak melakukan aksi jual atas portofolio saham yang saya miliki kendati sudah menanggung kerugian cukup banyak, dengan bangga saya bisa menyebut diri saya investor yang artinya saya termasuk spesies pertama. Soal Anda setuju atau nggak sama saya, itu urusan belakangan.
Krisis mungkin akan terulang lagi. Tapi, yang namanya badai, walau sekencang apapun, pasti akan berakhir juga (kecuali dunia kiamat). Sama seperti badai, anjloknya bursa juga pasti akan berakhir. Cepat atau lambat bursa akan berbalik arah. Karena saya meyakini hal itu, maka saya masih mempertahankan portofolio saham saya "nyangkut", dan terus membeli saham baru.
Cuma dua hal yang saya pegang. Tutup kuping dan tetap membeli. Nggak perlu ikut-ikutan latah ngejual saham dan ikutan ngerugi. Kalo kita mengkategorikan profil risiko kita sebagai risk taker, ada badai kayak gini mah nyantai aja. Yang namanya risk taker kan-seharusnya nih-jangankan badai, topan pun akan dia lalui!
Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya risk taker gadungan? Orang-orang yang berani bermain di saham dengan catatan market terus naik(kondisi bullish). Jika ya, berarti kita harusnya mengatakan pada diri kita kalimat ini, "I'm not a risk taker, I'm just a profit taker", right?...
Rabu, 08 Oktober 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
wah kalo yg beginian, gw no comment deh...
bukan bidangnya...
gw mah cuma tau gmn caranya bikin tempe ama terasi.. hehehe
Poskan Komentar