Minggu, 05 Oktober 2008

Hati-Hati di Jalan

Libur lebaran kemarin saya habiskan dengan menikmati sepinya Jakarta, keliling-keliling sesuka hati saya. Delapan kali saya harus melintasi tol dalam kota menuju bandara, dan dua kali melintasi tol menuju Bogor. Dalam perjalanan selama delapan kali dan dua kali itu, tentu saja tak terhitung banyaknya gardu tol yang saya lewati.

Setiap kali saya berhenti di gardu tol untuk mengambil tiket atau membayar uang tol, tak lupa saya selalu mengucapkan terima kasih. Dan seperti biasa, tak ada balasan jawaban dari petugas di gardu tersebut.


Saya sendiri nggak pernah merasakan keberatan atas keadaan ini.

Pertama, memang pelayanan yang ramah terhadap pelanggan saya yakin tidak begitu ditekankan untuk sebuah perusahaan jasa publik bernama Jasa Marga. Toh jasa yang mereka tawarkan merupakan jasa yang mau nggak mau, suka nggak suka, pasti dimanfaatkan oleh masyarakat. Tanpa si petugas menebarkan senyum manis atau mengumbar kata terima kasih, jasa yang mereka jual pasti akan dibeli oleh pelanggan.

Kedua, saya selalu memaklumi kondisi ini karena saya membayangkan bahwa saya juga akan bersikap sama jika saya ada di posisi mereka. Bayangkan, harus duduk di dalam ‘kotak’ kecil di tengah jalan tol, pas siang bolong, untuk memberikan selembar tiket ataupun uang kembalian kepada setiap mobil yang lewat.


Padahal, jika satu mobil membutuhkan waktu untuk ‘dilayani’ selama 6 detik (untuk mengambil uang, menyerahkan tiket, dan menyerahkan uang kembalian), maka dalam 1 menit dia harus ‘melayani’ 10 mobil, yang berarti 600 mobil dalam satu jam! Nggak mungkin banget saya bisa terus menerus menebarkan senyum atau mengucapkan terima kasih pada 600 mobil yang lewat tanpa henti seperti itu. Bisa dower bibir saya!

Nah, karena itulah saya memaklumi ketika petugas tol itu biasanya bertampang masam, suntuk, dan tanpa gairah hidup tercermin di mukanya. Ya iyalah, soalnya kan mereka harus melakukan pekerjaan rutin dan membosankan seperti itu.

Tapi, pada liburan kemarin saya mendapatkan pengalaman baru ketika saya melintasi tol dalam kota menuju Bandara Soekarno Hatta. Hari itu matahari panas menyengat. Saya pergi bersama bapak, ibu, kakak ipar, serta keponakan saya. Tol sudah mulai ramai karena para pemudik sudah kembali memadati Jakarta. Sebelum memasuki tol, saya menepi di sebuah gardu untuk menyerahkan uang sepuluh ribuan. Tarif tol tertera seharga Rp. 5500,-. Tak sampai dua detik, si petugas pun segera menyerahkan tiket yang diselipkan uang kembalian sebesar Rp. 4500,-. Saya pun mulai menginjak pedal gas sambil berucap “Terima kasih”.

Tanpa saya sangka, si petugas mulai melebarkan mulutnya, tersenyum, dan berkata “Hati-hati di jalan”. Saya kaget. Seumur-umur saya melintasi gardu tol, seingat saya, tak pernah sekalipun saya lupa mengucapkan terima kasih. Tapi baru kali itulah saya mendapatkan jawaban atas apa yang saya ucapkan. Kendati lirih dan perlahan, tapi kalimat yang diucapkan oleh petugas itu sangat berkesan bagi saya.

Sayang ketika itu mobil sudah bergerak melaju. Jika tidak, saya pasti akan berkata balik kepada si petugas, ”Terima kasih Pak. Semoga sukses menyertai Anda selalu”.

0 komentar: