Yang namanya titel, memang di jaman sekarang nggak bisa dipungkiri sudah jadi bagian dalam "menghakimi" kepintaran atau kesenioran seseorang. Sering kita temukan banyak orang yang mendapatkan kesempatan lebih karena titel yang disandangnya.
Tapi, saya baru menemukan kenyataan bahwa hal sebaliknya juga bisa berlaku. Maksud saya, kepintaran atau kesenioran seseorang atas suatu bidang membuatnya "dihakimi" telah memiliki titel tertentu.
Hal aneh ini beberapa kali terjadi pada ayah saya. Ayah saya sudah cukup tua (kasihan soalnya kalo saya bilang bener-bener tua), dan sudah berpuluh tahun bekerja di suatu instansi pemerintahan. Karena tuanya dan lamanya bekerja (mungkin juga karena kepintarannya), ayah saya yang sebenarnya hanya bertitel SH (Sarjana Hukum) jadi sering banget memiliki titel baru di belakang namanya.
Paling sering terjadi adalah pas menerima undangan pernikahan. Nama ayah saya biasanya akan jadi bertambah panjang. Atau, pas ikutan suatu assessment, di sertifikat assessment tersebut nama ayah saya akan tertera dengan titel barunya, entah itu MBA, MSc, MM, dan bahkan pernah disebut PhD.
Nah, yang lebih parahnya adalah kalau ayah saya diundang untuk jadi pembicara di suatu seminar. Tiba-tiba saja pas dipanggil untuk memberikan presentasi, titel ayah saya jadi nambah. Kalau udah kayak gini paling-paling ayah saya cuma senyum-senyum sendiri. Mungkin pihak panitia memang terkecoh karena senioritas ayah saya, atau mungkin juga mereka sengaja mencantumkan gelar tambahan supaya para peserta seminar lebih respek dan mau mendengarkan isi presentasi.
Padahal, ayah saya sama sekali nggak pernah berusaha menambah-nambahi titel di belakang namanya. Bahkan, ia sendiri pun nggak pernah merasa "kurang" dibandingkan teman-teman selevelnya yang memang umumnya bertitel ganda. Bagi ayah saya, titel tak berarti banyak jika kualitas kerja yang ditunjukkan oleh orang yang bertitel itu nol besar. Di sisi lain, ia pun lebih mempercayai bahwa kualitas seseorang jauh lebih dipengaruhi oleh kesungguhannya dalam belajar-entah melalui pengalaman hidupnya, pengalaman orang lain, buku-buku, dan media lainnya.
Saya memang nggak bisa membantah. Tokh kendati saya punya titel lebih tinggi dari ayah saya, nggak bisa dipungkiri ayah saya jauh lebih banyak tahu daripada saya. Sampai-sampai, pas kemarin ayah saya menunjukkan sertifikat yang didapatnya setelah mengikuti pelatihan yang mencantumkan nama ayah saya dan diakhiri dengan SH., MBA., saya berucap begini,
"Senioritas kadang membuat orang lain berprasangka bahwa kita memiliki gelar tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki. Dan sebaliknya, yunioritas membuat orang lain meragukan gelar tertentu yang sebenarnya memang kita miliki".
Rabu, 15 Oktober 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Kalo gw sebenernya pengen punya titel banyak, tapi ada satu titel yang sampai sekarang gw bersyukur belum menyandangnya, yaitu Alm...hehehe..
Kan gak lucu kalo titel gw Prof. Dr. Ing. Alm. Gufy, STP., MM, MBA, MSc. tapi nulis komentar di blog lo.. hehehe
Poskan Komentar