Senin, 10 November 2008

Malam Renungan (1)

Zaman penjajahan alias masa ospek pas SMA dulu, saya mendapatkan satu kalimat yang membekas cukup dalam. Jadi, dalam masa ospek itu ada saat perenungan. Inti dari acara itu adalah membuat anak-anak ingusan yang berencana akan mengenyam masa-masa indah SMA bisa mengintrospeksi dirinya masing-masing. Momennya malam buta, jam 23 mpe pagi. Paginya juga masih buta, bukan pagi pas ayam udah mulai berkokok.

Nah, di acara itu, kakak-kakak kelas saya tuh bikin puisi-puisi perenungan, lagu yang mendayu-dayu, dan suara-suara lain yang bikin suasana malam makin mencekat. Tentu saja di dalamnya nggak termasuk berpantun atau bersiul ya, soalnya efeknya pasti jauh berbeda.
Mata saya dan teman-teman semuanya ditutup rapat-rapat. Walaupun, dengan lihainya saya selalu mengintip dari celah di bawah kain penutup mata itu. Dan hasilnya sebenarnya juga nggak banyak sih, lha wong hari masih gelap gulita, paling-paling cuma diterangi beberapa lampu senter atau petromaks paling banter. Jadi, walaupun berhasil ngintip tetep aja nggak ada yang keliatan. Tapi, setidaknya saya tahu bahwa kami dibariskan di tengah lapangan, sebelum akhirnya disuruh duduk lesehan di atas rumput yang mulai lembap karena basahnya embun.

Seperti biasa, selang beberapa saat setelah acara perenungan dimulai, ketika puisi mulai dibacakan dengan penuh penghayatan, terdengarlah perlahan sayup-sayup suara isak yang ditahan. Namun, tak lama, isak itu tak tertahankan lagi. Teman-teman pun mulai menangis terang-terangan. Kakak-kakak kelas pun makin semangat aja ngomporin adik-adiknya supaya menangis lebih keras. "Hayo! Keluarkan saja! Keluarkan semuanya!", gitu deh cara mereka memacu kami supaya nangis lebih kenceng. Akhirnya tangisan pun berganti jeritan. Lomba jerit-menjerit pun dimulai, hingga akhirnya ada yang pingsan. Busyet! Ada yang pingsan, padahal saya sendiri sedikitpun nggak mengeluarkan air mata. Walhasil saya jadi nggak enak ati, soalnya di antara anak-anak yang duduk ngelesot di lapangan, sebelah kiri kanan saya udah nangis, depan juga nangis, belakang apalagi. Masak saya doang yang diem aja. Bingunglah saya, apa yang salah ya? Perasaan saya udah berusaha meresapi suasana dalam-dalam, mendengarkan puisi yang dibacakan dengan sepenuh hati, eh tetep aja nggak terharu. Berhubung nggak enak karena nggak solider, saya cari siasat biar bisa pura-pura sesenggukan, tapi ternyata nggak berhasil juga.

Mungkin karena heran ada anak yang diem aja nggak mengeluarkan isak tangis ataupun air mata, akhirnya ada seorang kakak kelas yang mendekati saya. Setelah mengeluarkan kalimat-kalimat panjang yang sudah saya lupakan, akhirnya dikeluarkanlah olehnya sebuah kalimat bijak untuk saya, "Lebih baik menjadi sebuah lilin di tengah kegelapan desa, daripada menjadi sebuah lampu di tengah terangnya kota".

Waduh, kalimatnya bagus banget! Saya sampai langsung berasa jatuh cinta sama kakak kelas itu, walaupun-setelah dia berlalu dan saya berhasil mengintip-terpaksa saya batalkan karena ternyata si kakak kelas bukan tipe saya (hehe). Tapi tetep aja, kalimat itu membekas cukup dalam dan selalu saya ingat. Bagi saya, sungguh mulia dan luar biasa orang-orang yang dengan sengaja memilih untuk membuat dirinya lebih berarti bagi orang lain. Memilih untuk menjadi "kecil" seperti lilin agar lebih berarti, daripada "besar" seperti lampu tanpa arti.

Hingga akhirnya, baru-baru ini saya terpaksa meragukan kebenaran kalimat itu....
(bersambung)

1 komentar:

Gufy ajah mengatakan...

Wah, kalo renungan kayak gitu, gw malah inget waktu SMA dulu... yang lain pada sesenggukan, eh gw malah tidur saking capeknya abis diplonco siang harinya.. untung gw dibangunin waktu lampunya udah dinyalain lagi... hahahaha...

Tapi beda banget sama sekarang, waktu gw ama tim training bikin acara renungan kayak gitu buat siswa2 SMA yang baru lulus, suasananya bener2 serasa mistis banget, bulu kuduk jadi berdiri, trus beberapa lama kemudian banyak yang kayak orang kesurupan, terutama yang cewek2.. nangis meraung-raung dan menggelepar..

Herannya gak cuma satu orang, tapi berjamaah.. waktu gw mau nolongin, kata temen yang lain gak usah, ini lagi klimaksnya, anti klimaksnya sebentar lagi.. dan bener juga, setelah itu yang ada cuma suara sesenggukan pelan, lalu akhirnya tenang...