Rabu, 27 Februari 2008

Pria, mampukah belajar mencintai?

Ini sebenarnya adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh para pria. Jadi, kalau Anda memang merasa seorang pria, bantu saya menjawab pertanyaan ini yah...

Ada kalimat yang mengatakan bahwa pada dasarnya pria itu hanya bisa jatuh cinta. Ia tidak bisa belajar mencintai. Bagaimanapun kerasnya usaha dari orang-orang di sekitarnya, pria tidak akan mampu belajar mencintai. Dari sini, muncullah saran bagi para wanita untuk tidak terobsesi pada seorang pria, dan lebih baik menerima saja pria lain yang memang telah dengan sendirinya jatuh cinta padanya.

Soalnya, kalau wanita itu terus-menerus menunggu si pria, bisa jadi memang pada akhirnya si pria "mengalah" dan memilih wanita itu. Tapi, katanya sih, mereka tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya, sebab si pria sebenarnya deep down inside masih mencintai wanita lain.

Sebaliknya, ketika seorang wanita "mengalah" dengan memilih pria lain yang mengejar-ngejarnya walau sebenarnya ia mencintai pria lain, mereka akan tetap mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya, sebab si wanita akan dengan mudah belajar mencintai si pria yang dipilihnya. Ia juga akan mampu melupakan pria lain yang sebelumnya ia cintai.

So complex and absurd yah?
Serba nggak jelas dan memusingkan.
A stupid feeling which comes from the lack of common sense - that's my definition of love.

Selasa, 26 Februari 2008

Siapa yang sebenarnya memilih?

Kata orang, jadi cewek itu enak. Dalam banyak hal, mereka dapat lebih banyak kemudahan. Kaum ini cenderung dianggap sebagai kaum yang lebih ”lemah” dan membutuhkan banyak perlindungan dari kaum yang satunya lagi. Dalam urusan cinta pun, kaum ini berhak untuk memilih. Dari sekian cowok yang datang mendekat, ia berhak untuk memilih satu di antaranya. Sementara si cowok, dia harus menanggung resiko untuk ditolak oleh cewek.

Walaupun, dilatarbelakangi kondisi inilah, akhirnya sebagian cowok memutuskan untuk mengurangi resiko penolakan dengan membuka cabang di beberapa tempat. Jadi, sama si cewek A dia pedekate, sama cewek B dia pedekate juga, sama cewek C juga nggak ketinggalan. Masih mending kalo cowok itu baru buka 3 cabang. Tak urung low, ada cowok yang merasa perlu membuka cabang di puluhan tempat. Mang kebangetan ya cowok zaman sekarang! Kalau menurut saya sih ini ciri-ciri cowok nggak percaya diri. Kok bisa dia nggak percaya diri? Ya iyalah! Kalau dia cukup percaya diri, harusnya dia cukup mengejar satu cewek aja karena dia yakin bahwa cewek itu pasti akan menerima penembakan darinya. Karena dia nggak percaya diri, makanya dia memilih untuk mengejar beberapa cewek, mengeluarkan lebih banyak biaya, dan membuang lebih banyak waktu, hanya demi memperbesar kemungkinan satu di antara sekian cewek tersebut mau menerima penembakannya.

Well, menurut saya sih kondisi seperti itu - berapapun jumlah cabang yang dibuka - masih cukup bisa diterima. Soalnya kan statusnya masih pedekate. Lain halnya kalo cowok itu udah menembak salah satu cewek yang di-pedekate-in olehnya, dan si cewek menerima “peluru” yang ditembakkan si cowok. Kalo kejadiannya gini, si cowok terpaksa harus meninggalkan cewek-cewek lain yang udah setengah jalan dia pedekate-in. That's the rule, baby! Satu cewek buat satu cowok.

Balik ke enaknya cewek karena bisa memilih, saya kok kurang setuju ya dengan kalimat itu. Menurut saya, yang sebenarnya memilih itu justru si cowok. Dia yang memilih di antara sekian cewek yang ia kenal, yang mana aja yang mau dia pedekate. Trus, dari sekian cewek yang ia pedekate, yang mana yang mau dia tembak. Walaupun, setelah proses ini terlewati, si cewek lah yang melakukan sebuah pilihan, apakah ia menerima atau menolak. Tapi pada kenyataannya, membandingkan antara 3 kali pilihan yang dimiliki cowok dengan hanya satu kali kesempatan memilih yang dimiliki cewek, maka saya punya pendapat bahwa yang sebenarnya melakukan pilihan adalah si cowok.

Karena itulah, saya merasa jauh lebih menyenangkan jika saya berada dalam posisi seorang cowok. Tapi apa daya, karena saya sudah terlahir sebagai seorang cewek, saya memutuskan untuk mengambil alih privillege yang dimiliki oleh cowok, tanpa harus menanggalkan identitas saya sebagai cewek. Anda bisa menangkap maksud saya?

Betul! Saya menjadi cewek yang mengambil langkah aktif dengan melakukan penyaringan atas cowok-cowok yang saya kenal, melakukan pedekate kepada cowok-cowok yang tersaring, dan melakukan penembakan kepada satu orang cowok yang terpilih. Looks so agressive, right?

Itulah yang saya lakukan! Well, lebih tepatnya sih itulah yang selama ini ingin saya lakukan. Soalnya, sekalipun sudah melakukan penyaringan dan memilih cowok yang layak untuk di-pedekate-in, hingga sekarang saya belum pernah mencoba langkah ketiga dengan menembak seorang cowok.


Karena itulah, saya merasa cukup terkesan dengan cewek-cewek yang berani memperjuangkan cowok yang mereka anggap their Mr. Right dan menembak cowok tersebut. YOU GO GIRL!


Gw dan DVD Porno

Pernah nih ya…
Lagi jalan-jalan ke ITC Kuningan, saya tergoda untuk membeli DVD. Bajakan tentunya.
Melihat tumpukan CD yang buannnyak banget dan nggak jelas itu, saya langsung ngambil inisiatif dengan bertanya kepada mbak penjual DVD-nya.
“Yang film romance sebelah mana ya mbak?”
Si mbak melihat ke arah saya dengan tatapan menyelidik. Tajam, dan membuat saya heran.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya dan menyodorkan satu rak CD.
Ia cuma berkata, “Ini film romance semuanya. Tapi nggak bisa dites ya...”.
Saya pun hanya diam saja. Langsung menerima tumpukan yang ia sodorkan.

Melihat-lihat tumpukan itu, bingunglah saya. Kok nggak ada ya film yang saya kenal. Gambarnya pun aneh-aneh semua. Mana nggak ada judul yang familiar pula. Beberapa detik berselang, barulah saya paham...”Oalah mbak. Bukan romance ini maksud saya. Saya nyarinya romantic commedy, bukan beginian”, kata saya sambil mengembalikan tumpukan yang sebelumnya ia sodorkan.

Dan si mbak pun tersipu malu. Sambil senyum-senyum, ia menerima tumpukan yang saya sodorkan, dan menunjuk ke arah tumpukan lain. Setelah itu ia pun berbisik-bisik sama mbak penjual DVD lainnya sambil cekikikan dan sesekali melihat ke arah saya.

Saya sih cuek aja, melanjutkan pencarian saya di tumpukan yang baru itu.

Setelahnya, sewaktu sudah sampai di rumah, barulah saya mikir, ”Busyet! Gw kan udah pake kerudung gini, gila juga si mbak itu ngira gw nyari film porno”, dan dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan retorik kepada diri sendiri, ”Apa muka gw muka mesum ya?”



Senin, 25 Februari 2008

Namaku Palupi

Nama lengkapku Palupi Anggraeni.
Bagaimana menurut kalian? Baguskah namaku?
Ada beberapa orang yang bilang namaku unik.
Ada juga yang bilang namaku nggak pasaran.
Tapi lebih banyak yang mengolok-olokku dengan memanfaatkan namaku ini.
Beginilah ceritanya…

Ketika SD, teman-temanku paling sering memanggilku dengan sebutan Palu, atau Upil.
Sungguh menyebalkan! Guru olahragaku pun, tak kalah isengnya, memanggilku dengan sebutan Pelupa. Kendati menyebalkan dan sering membuatku marah, tak ada yang bisa kulakukan. Kadang-kadang temanku kubalas dengan merubah namanya juga menjadi julukan yang lain yang jelek. Misalnya, temanku bernama Wawan kupanggil jadi Bakwan. Temanku Riska kupanggil jadi Iris-iris. Temanku Melani kupanggil jadi Comel. Tapi, sepertinya nggak ada nama lain yang kalau diledekin jadi sejelek namaku.

Sampai-sampai, suatu hari ketika masih SD, aku mengajukan protes kepada ibuku.
”Kenapa sih Bu aku dikasih nama Palupi? Jelek banget!”
”Lho? Memangnya kenapa dengan namamu?”
”Semua temanku ngejekin aku, gara-gara nama itu”
”Dipanggil Upil, Palu, belum lagi Pelupa”
”Kok bisa-bisanya aku dikasih nama jelek begitu?”

Dan Ibu pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
”Nama kamu itu bagus kok. Ada artinya. Tapi artinya apa, ibu lupa”.
”Yang ngasih nama kamu itu tuh kakek”

Aku pun tidak mau terima begitu saja jawaban dari ibu.
”Tapi apa nggak mikir sih, kalau anak dikasih nama Palupi, banyak banget ejekan yang bisa dibikin. Kan kasian”
Ibu memandangku, terdiam sejenak, dan berkata.
”Iya juga ya...Waaah, dulu sih ibu nggak kepikiran begitu ya”
”Waktu kakek ngasih nama itu, ibu pikir kedengarannya bagus, jadi ibu iyakan saja”

Aku tambah marah mendengar jawaban Ibu. Bahkan, dulu aku merasa namaku adalah nama terjelek seantero jagat raya. Tapi aku pun tahu, aku tak berdaya merubah namaku.

Sekian lama berselang, semakin banyak orang yang kukenal. Dan ejekan atas namaku pun makin lama makin menghilang. Lebih banyak justru yang memuji namaku. Biasanya justru pujian-pujian ini datang dari orang-orang bule. Bahkan, seorang CEO, bosku ketika masih di perusahaan yang dulu - saking terkagum-kagumnya begitu tahu bahwa nama Palupi itu memiliki arti yang bagus - berniat menggunakan nama itu untuk anak anjing miliknya yang akan segera lahir. Well, mungkin sekilas itu lebih tepat sebagai hinaan bagi namaku. Tapi aku punya pendapat berbeda. Soalnya, CEO-ku itu memang tidak memiliki anak, dan anjing peliharaannya baginya sudah seperti anak kandungnya sendiri. So, aku sendiri nggak mau ambil pusing apakah itu merupakan sanjungan atau hinaan atas namaku.

Namaku Palupi, apa kalian tahu artinya? Dalam bahasa Sansekerta Palupi berarti teladan.

Setelah mengetahui arti namaku, aku jadi berubah pikiran. Menurutku, nama itu terlalu bagus, dan sama sekali tidak pantas diberikan padaku. Bagaimana tidak, hal yang pantas diteladani dari diriku menurutku hanyalah kedisiplinanku untuk tidur tepat waktu dan tidur cukup. Setiap hari, minimal aku harus tidur selama 7 jam, dan tak boleh kurang. Maksimal? Di waktu weekend, aku bisa tidur dari malam hari hingga sore keesokan harunya. Itulah bentuk disiplinku atas waktu tidur.

Sebagian teman memandang berbeda atas kedisiplinanku itu, mereka malah memanggilku kebo alias tukang molor. Sebagian lain yang cukup baik hati memanggilku dengan sebutan Sleeping Beauty.

Selain kedisiplinan atas waktu tidur itu, entahlah...kurasa tak ada hal lain yang bisa diteladani. Tapi memang Palupi adalah namaku.

Menikah di Usia 29 Tahun

Iseng-iseng berhadiah, suatu hari di tahun lalu, kuiyakan saja permintaan temanku yang mau melihat garis tanganku. Apalagi sih tujuannya kalau bukan untuk diramal. Pada awalnya, terjadi pertentangan di dalam batin saya. Maklumlah, katanya mempercayai ramalan menyebabkan orang muslim seperti saya ini bisa tidak diterima amalan ibadahnya selama 40 hari 40 malam. Tapi apa daya, rupanya keingintahuan dan keisengan saya mengalahkan bujukan malaikat baik hati yang mengatakan “Udah, nggak usah, nggak ada gunanya juga…”.

Walhasil, dengan meniatkan di dalam hati bahwa apa yang saya lakukan ini semata-mata hanya keisengan belaka, dan sama sekali tidak bermaksud untuk mendahului ketetapan yang telah digariskan, saya memutuskan untuk menyodorkan tangan saya. Dan teman saya itu, tanpa perlu dikomando, langsung meramalkan hal paling penting, paling misterius, dan paling ingin saya ketahui…JODOH.

Setelah melihat dan mengamati telapak tangan saya, ia berkata begini…
“Kamu itu, sebenarnya nggak punya masalah dalam mendapatkan cowok”. Muka saya pun berbinar karena gembira mendengar kata-katanya.
“Sayangnya, kamu terlalu pemilih”. Binar di muka saya meredup. Mulut saya mulai manyun. Tapi kepala saya tanpa disadari mengangguk-ngangguk.
“Jangan pilih-pilih dong Pik”. Mulut saya tambah manyun dapat ceramah di tengah jam kantor gitu.

Tapi teman saya sih nggak peduli. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari telapak tangan saya. Kemudian, sambil merendahkan mukanya, barangkali berusaha untuk melihat lebih jelas, ia berkata...
“Kamu akan menikah ketika usia kamu 29 tahun”.
”APPPPPAAAAAA????!!!!!”
Teman saya kaget setengah mampus. Kaget mendengar teriakan saya, dan kaget karena melihat saya tiba-tiba saja sudah dalam posisi berdiri. Ia langsung menciut di kursinya.
”Maksud kamu, aku baru bisa menikah pas umurku 29????!!!!!!”
”Jadi aku nggak bisa menikah tahun depan?”
Semua ini saya ucapkan dengan suara sopran saya, dan ia pun semakin menciut.

Akhirnya, untuk meredam saya yang menjadi sangat temperamental, teman saya bilang begini “Yah, itu kan berdasarkan garis tangan lo saat ini, Pik”.
Kemudian disambung lagi olehnya, “Semua tindakan yang lo lakuin, akan mempengaruhi goresan di tangan lo. Jadi, kalo lo berusaha bener-bener untuk mencari jodoh, bisa jadi sebelum usia 29 lo udah bisa menikah”

Mendengar itu, saya pun terdiam. Meresapi setiap kata di dalamnya. Sungguh kalimat yang bijaksana. Bukan bijaksana karena content-nya, tapi karena dengan kata-kata itu, saya yang tadinya marah jadi nggak marah lagi.

Sampai saat ini, saya nggak pernah, nggak mau, dan nggak akan mau mempercayai ramalan yang sudah dikatakan teman saya itu, bahwa saya baru akan menikah di usia 29 tahun. Saya masih optimis bahwa saya akan menikah tahun ini.


Bagaimanapun, teman saya telah menyadarkan saya bahwa jodoh harus dicari. Ia harus dikejar. Bukan hanya dengan doa, tapi juga dengan usaha.


Kamis, 21 Februari 2008

Jadi Jomblo itu...

Bisa bebas menikmati waktu malam tanpa diganggu telepon nggak penting.
Kecuali, dalam kondisi jadi jomblo yang diincar banyak cowok kayak gw (Huehhehehe). Walaupun jomblo, tetep ada aja tuh yang nelpon untuk ngobrol hal-hal nggak penting. Belum lagi gangguan sms-sms standar yang isinya : "udah makan belom?", "udah bobo ya?", atau "lagi ngapain?"

Selalu bingung kalo dapet undangan acara kawinan temen atau saudara.
Kalo udah dapet undangan gini, biasanya langsung mikir siapa temen yang bisa diajak barengan. Syukur-syukur kalo temen lain mang ada yang jomblo juga. Kalo ga ada kan repot. Belum lagi di acara kawinannya, ga bakalan afdol kalo si jomblo belum dilontarkan pertanyaan "Kapan nyusul nih?". BeteBeteBete!

Lebih hemat.
Soalnya kan nggak perlu sibuk nge-date, n nggak perlu tiap hari ketemuan sama pacar. Otomatis bisa mengurangi frekuensi nongkrong n jajan di luar, plus mengurangi juga ongkos transport dan ongkos pulsa.

Suka jadi mellow kalo lagi nonton film-film romance.
Pas liat adegan sayang2an, atau adegan yang intinya tentang pengorbanan cinta seseorang kepada cewek atau cowok yang dicintainya, trus di ending pada hidup bahagia, yang ada jadi bikin mupeng. Kadang-kadang malah bikin sedih n bikin gw mikir "Kapan ya gw kayak gitu?"

Bebas bobo siang sepanjang hari n sepanjang malam pas weekend.
Kalo punya pacar, pastinya kudu ketemuan dong. Secara pas hari kerja kan pulangnya udah malem, udah capek. Mau ga mau kesempatan ketemu cuma pas weekend. Enaknya jadi jomblo, weekend bebas dimanfaatkan untuk kegiatan apapun. Mau jungkir balik di kasur, mau ngumpet di balik selimut, mau tidur kayak kalong. Terserah!

Pas pengen sharing hal penting, susah!
Jadi pernah nih, gw mau cerita satu hal yang hebooooooohhhhh banget. Kudu diceritain saat itu juga. Giliran nelpon temen, yang pertama nggak diangkat-angkat. Yang kedua diangkat, tapi langsung bilang "Sori ya, gw lagi online ma cowok gw. Ntar gw telpon balik yah!". Yang ketiga, ngangkat, tapi bilang "Sori, gw lagi online ma yang tadi lu telpon". Ternyata pas itu, gw lupa kalo sudah terjadi kanibalisme antara sesama temen gw. Jadi, si orang kedua dan ketiga ini baru aja pacaran. Yang keempat, telponnya ga aktif. Yang kelima, lagi online juga ma cowoknya. Yang keenam, akhirnya diangkat.......oleh nyokap. Opsi terakhir, namun selalu siap mendengar apapun kapanpun. Hhhhuaaaaaaaa!!!

Begitulah...
Suka duka jadi jomblo.

Mestinya sih list-nya masih panjang.

Ada yang mau nambahin?



Oportunis Sejati

Ada seorang kawan, yang bahkan sebelum saya mengenalnya, sudah mengabdikan diri sepenuhnya bagi dunia jurnalistik. Ketika ia kuliah, ia aktif di Pers Kampus. Ia relakan waktu kuliahnya, waktu mainnya, bahkan waktu istirahatnya untuk dunia ini. Tak peduli nilai-nilainya "kemelut", yang penting "nilai" jurnalistiknya cum-laude. Setelah lulus pun, pekerjaan pertama yang diincarnya adalah menjadi reporter di sebuah mingguan "serius" di Jakarta.

Padahal, kalau menghitung nilai secara materi, penghasilan yang ia dapatkan tentu hanya pas-pasan untuk hidup di Jakarta. Ya, kawan saya ini seorang jurnalis sejati. Jurnalis yang tidak mengharapkan amplop sogokan yang mungkin justru diincar oleh jurnalis-jurnalis lainnya. Toh ia tetap bergeming dengan kondisi ini. Ia terus bernafas dengan berita, makan dengan berita, dan tidur dengan berita. Sepenuh hidupnya ia dermakan bagi dunia yang sangat ia cintai ini.

Kini, empat tahun kemudian, ia tetap bertahan di dunia itu. Mungkin kata "bertahan" tidak tepat untuk menggambarkan hidup yang dijalani oleh kawan saya ini. Saya yakin ia sangat menikmati setiap detik, setiap jam, setiap hari, dan setiap saat yang ia habiskan di dunianya. Karena itulah ia tidak bertahan, ia bersuka cita!

Idealis! Itulah kata yang menurut saya tepat untuk menggambarkan teman saya. Dan saya benar-benar kagum padanya. Orang yang mencintai suatu dunia, terobsesi dengannya, tersihir dengan "kebenaran" yang dimilikinya, dan bersedia mengabdikan hidupnya demi hal itu, kendati ia sadar ada dunia lain di luar sana yang mampu memberinya lebih banyak hal.

Sedangkan saya? Dulu saya pernah bercita-cita untuk membaktikan ilmu dan sebagian hidup yang saya miliki bagi anak-anak jalanan. Dulu saya mencintai dunia itu. Dunia yang memberikan banyak ruang untuk saya senantiasa bersyukur. Dunia yang selalu memandang saya sebagai manusia apa adanya. Dunia yang tidak pernah menuntut kesempurnaan ataupun sandiwara palsu. Saya, pernah bercita-cita untuk tidak menjadi manusia yang mengejar dunia yang tak pernah memberikan rasa puas kepada semua yang mencintainya.

Ya! Dulu saya idealis.

Tapi kini....

Saya oportunis sejati!

Senin, 18 Februari 2008

Romantika (3)

Seorang kawan pernah memforward sebuah email tentang 4 orang yang akan kita temui dalam hidup. Beginilah isinya...

Orang pertama adalah kamu, Kedua adalah orang yang sangat kamu cintai, Ketiga adalah orang yang sangat mencintai kamu, Keempat adalah orang yang dengan siapa kamu menghabiskan sisa hidupmu. Dalam hidup, pertama kamu akan bertemu dengan orang yang sangat kamu cintai dan belajar bagaimana rasanya cinta itu. Karena kamu sudah tau rasanya cinta, kamu dapat menemukan orang yang sangat mencintaimu. Setelah kamu mengalami bagaimana rasanya mencintai dan dicintai, kamu akan tahu apa yang paling kamu inginkan. Kemudian kamu akan mencari orang yang cocok denganmu, yang dengan siapa kamu bisa menghabiskan sisa hidupmu. Sedihnya, dalam kenyataan hidup, ketiga orang ini biasanya bukan orang yang sama. Orang yang sangat kamu cintai tidak mencintaimu. Orang yang sangat mencintaimu, bukan orang yang sangat kamu cintai. Dan orang yang dengan siapa kamu menghabiskan sisa hidupmu, bukan orang yang sangat kamu cintai dan bukan orang yang sangat mencintaimu. Dia hanyalah orang yang kamu temukan di waktu dan di tempat yang tepat.

Membaca tulisan itu, saya jadi menyadari bahwa jauh lebih rasional bagi seseorang - khususnya seorang wanita - untuk menjalani hidup dimana dia dicintai sepenuhnya, kendati orang yang mencintainya itu mungkin bukanlah orang yang selama ini ia impikan untuk menjadi pasangannya. Walau mungkin akan terasa sangat berat pada awalnya, namun saya yakin ia akan jauh lebih bahagia dibandingkan orang lain yang memaksakan dirinya untuk menjalani hidup bersama orang yang selalu ia dambakan, namun ia tak pernah mendapatkan cinta orang tersebut.

Bagaimana dengan Anda?

Jalan Layang Mengerikan

Pernah nggak merasakan naik jet coaster?
Apa? Nggak pernah?

Hehe...Saya juga nggak pernah. Paling banter sih saya pernah naik halilintar di taman hiburan Dunia Fantasi.

Ngerasain ga pas lagi di atas, pas keretanya mau jatuh ke bawah, adrenalin kita meningkat? Normalnya sih adrenalin semua orang bakal meningkat ya...makanya ada rasa excitement tiap naik wahana-wahana di Dufan. Kalo ada orang yang bilangnya ”Nggak berasa apa-apa tuh! Biasa aja!”, atau lebih ekstrim lagi, misalnya ”Gw malah ketiduran di atas saking bosennya”, tandanya tu orang bego.

Lho, kenapa bego? Bukannya kita harusnya kagum ada orang yang berani kayak gitu?

Ya bego lah! Gimana nggak bego sih orang yang mau bayar, mau capek-capek ngantri, demi naik wahana yang bagi dia nggak ada greget apa-apanya. Makanya, at least, kalo ditanya ”Gimana rasanya? Seru ga?”, jawab aja ”Ya...lumayanlah”. Intinya sih supaya kita nggak jadi orang bego, tapi juga biar kita nggak keliatan kayak orang penakut. Karena, orang penakut bakal jawab ”Waduh...serem banget. Gw nggak mau lagi ah seumur-umur!”

Tapi, saya sudah melantur cukup jauh. Sebenarnya, dari tadi tuh saya mau cerita tentang sebuah jalan layang yang berdiri membelah angkasa Jakarta, penghubung tol Tomang dari arah Grogol. Tau nggak?

Kalo temen2 merhatiin dengan seksama, jalan layang ini adalah jalan layang tertinggi di antara jalan layang lainnya di deket2 situ. Jadi, kalo nggak salah liat ya, di situ tuh ada 4 jalan layang. Pertama, yang menghubungkan tol Slipi ke arah tol Tomang. Kedua, yang menghubungkan tol Tomang ke arah tol Slipi. Ketiga, yang menghubungkan tol Tomang ke arah tol Taman Anggrek, dan terakhir, yang menghubungkan tol Taman Anggrek ke arah tol Tomang.






Saya selalu naik jalan layang itu, tepatnya yang menghubungkan tol Taman Anggrek ke arah tol Tomang. Dan seperti yang saya bilang tadi, jalan layang ini adalah yang tertinggi. Jadi, pas ada di atas, yang menanggung resiko jatuh paling menyakitkan (kalo ternyata masih hidup setelah jatuh), ya orang-orang yang ada di jalan layang ini. Menakutkannya, hampir tiap hari saya naik jalan layang ini, padahal tau ndiri kondisi Jakarta akhir-akhir ini. Hujan terus nggak brenti-brenti. Belum lagi, jauh lebih menakutkan pas saya lagi ada di posisi atas, tau-tau petir bergemuruh dan kilat menyambar. Huaaaaaaa!!!! Serem banget! Ditambah lagi, pas kondisi lagi ujan gini, semua mobil akan berjalan pelan-pelan, dan yang ada jalanan jadi macet. Apeslah kalo ternyata macetnya pas nyampe di atas jalan layangnya. DuhDuhDuh!

Biasanya, kalo udah dalam posisi seperti ini, yang saya lakukan hanya pasrah, dan menatap ke depan. Saya sama sekali nggak mau menengok ke samping, apalagi belagu pake dadah-dadahan sama orang yang lagi nyupir mobil yang nyangkut di jalan layang sebelah. Di samping norak, pastinya aktivitas ini menakutkan. Dan biasanya juga, dalam kondisi terjepit begini, fantasi saya mulai berkelana. Weits!! Jangan mikir fantasi yang macem-macem ya! Yang saya bayangkan adalah gimana seandainya tiba-tiba ada retakan di jalan layang tersebut karena beban berat yang dibawa oleh banyak mobil yang secara bersama-sama ”nyangkut” di atasnya. Jadi, walaupun harusnya jalan layang ini udah didesain untuk menyangga beban dimana seluruh permukaannya-dari ujung ke ujung-ditutupi mobil, tapi karena pas bikin cor-an beton semennya kurang banyak, akhirnya jalan ini retak juga. Atau, bisa jadi sama sekali nggak ada moral hazard dalam pembangunan jalan layang ini, cuma karena terpengaruh gempa tektonik yang sempat terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu, ada beton penyangga yang bergeser, dan sebenernya nggak akan menjadi masalah apa-apa jika mobil yang melintas di atasnya nggak berhenti lama-lama seperti yang saya alami tadi pagi. Trus, yang ada, akhirnya retakan jalan layang ini mulai bertambah sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia patah dan menjatuhkan mobil-mobil yang sedang disangganya ke bawah karena udah nggak kuat lagi menahan beban berat setiap hari.

Bukannya paranoid berlebihan low ya...soalnya mang pernah ada kejadian truk terguling dari atas jalan layang ini. Entah karena jalanan licin, entah karena muatannya keberatan, atau karena supirnya nggak waspada, yang jelas jalan layang ini pernah menelan korban. Dan katanya, bukan cuma sekali aja kecelakaan seperti ini terjadi. Sebelum-sebelumnya juga udah pernah, walaupun saya sendiri nggak tau berita persisnya.

Dan kalo ternyata beneran ada kejadian seperti truk itu lagi - nggak seperti wahana di Dufan yang dilengkapi pengaman (walaupun dulu saya pernah nonton berita tentang wahana Dufan Halilintar yang menelan korban jiwa karena ada alat yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga keretanya jatuh), ataupun seperti saya yang melintasi tali di atas ketinggian pas outbond - wahana jalan layang ini sama sekali nggak punya pengamanan apa-apa. Kalo mobil oleng trus jatuh ke bawah karena tiba-tiba gaya sentrifugal yang harusnya membuat mobil tetap bisa menempel di jalan itu nggak bekerja sesuai hukum fisika, takkan ada – misalnya - jaring yang nahan tu mobil biar nggak menghantam aspal jalan di bawahnya.

Untunglah, setelah pengalaman menyeramkan yang saya rasakan dengan jalan layang ini tadi pagi, saya masih bisa menulis posting ini. Berarti, saya masih hidup dan dalam kondisi sehat walafiat. Tapi, saya sendiri sih pengennya nggak usah lewat jalan itu lagi. Biar nggak usah ngerasain adrenalin saya loncat-loncat nggak karuan lagi. Biar aja saya dikatain penakut, yang penting saya nggak mau lewat
sana lagi.

Kamis, 14 Februari 2008

Ditolak? Ga Masalah! (3)

Ada lagi nih...menyambung posting sebelumnya. Contoh situasi lain dari cowok yang nekat ngajak kenalan seorang cewek, tapi dengan jurus ngajak kenalan yang bertele-tele. Skenario yang ini butuh kemampuan akting dan wawasan yang luas, karenanya kebanyakan cowok biasanya gagal melakukan ini. Soalnya, kalo si cowok jago akting tapi wawasannya sempit, ia akan nampak seperti orang bloon, dan so pasti nggak ada cewek yang suka ma cowok bloon. Sebaliknya, kalo si cowok punya wawasan luas tapi nggak jago akting, ia akan nampak sangat menyebalkan karena sudah mengganggu si cewek.

Misalnya nih, situasinya lagi di toko buku. Seorang cowok ngeliat seorang cewek lagi ngeliat-liat buku.
Cow: (berjalan mendekati cewek dan berdiri nggak jauh dari tu cewek)
“Wah, ini buku yang udah lama gw cari. Akhirnya ketemu juga!”
Cew: (melirik cowok itu dan melihat bahwa buku yang sedang dibicarakan oleh cowok itu sama dengan yang buku yang dipegangnya. Tapi kemudian buang muka dan melanjutkan liat-liat buku)
Cow: Buku ini kira-kira bagus nggak ya?
(Kali ini muka si cowok mulai melihat ke si cewek. Berusaha nunjukin kalo dia lagi ngajak bicara si cewek)
Cew: (Menjawab dengan ogah-ogahan)
Ga tau juga sih. Tapi, kayaknya lumayan deh.
Cow: Oo...kalo menurut kamu lumayan, aku beli deh.
Cew: Hmmm
Cow: Kamu lagi nyari buku apa?
Cew: Buku apa aja. Pokoknya enak untuk dibaca.
Cow: Udah baca buku ini belum?
(Nunjukin sebuah buku yang ada di dekat situ)
Aku udah baca. Bagus banget. Ceritanya tentang.....
(Mulailah si cowok bercerita. Dan supaya mampu menjelaskan isi sebuah buku dengan menarik, seorang cowok perlu memiliki teknik akting yang baik supaya bisa mendramatisasi sebuah kisah. Selain itu ia juga perlu wawasan yang luas supaya langsung nyambung dengan apapun jenis buku yang kira-kira disukai seorang cewek. Kalo si cewek lagi ada di area buku-buku politik, si cowok kudu bisa nyambung. Di area buku fiksi, si cowok kudu nyambung juga. Atau di area buku masak? Si cowok tetep kudu nyambung).

Dari sini, bisa ada dua kemungkinan nih...

Kemungkinan pertama:
Cew: (Sebelum si cowok mulai bercerita ngalor ngidul, ia akan langsung meng-cut).
Sori, gw lagi buru-buru, mau dijemput sama cowok gw.
(Langsung ngasih alarm kalo dia udah ada yang punya. Padahal kenyataannya belum tentu. Bisa jadi itu cuma alasan biar si cowok pergi)

Dan, cinta si cowok langsung hancur berkeping-keping sebelum sempat terajut. Kasian ya?

Kemungkinan kedua:
Cow: (Mengakhiri basa-basinya, ia mulai mengeluarkan taktik selanjutnya)
Kalo mau, kamu boleh kok minjem bukuku. Mau?
Kalo si cewek ternyata menjawab mau, walaupun mungkin karena dia tipe cewek yang nggak bisa nolak, si cowok akan mengeluarkan kata-kata seperti ini.
Cow: Oh iya belum kenalan, aku Rudi
Cew: Susi
(Attention! Nama yang disebutin ma cewek ini belum tentu bener nama doi low ya! Tergantung seberapa terganggunya tu cewek sama basa-basi cowok itu, dan juga tergantung pada seberapa menariknya cowok itu di mata si cewek)
Tapi, biasanya si cowok nggak akan ambil pusing meragukan nama yang diberikan cewek itu dan memilih untuk melanjutkan aksi selanjutnya.
Cow: Ngg, boleh minta nomor hape kamu ga?
Kalau nama yang disebutin si cewek bukan nama sesungguhnya, ditanya hal seperti ini ia pasti akan merasa sangat terganggu. Dan biasanya, ia akan segera mengambil langkah seribu.
Cew: Eh, sori, gw harus cepet-cepet. Tadi bareng temen soalnya. Sori yaaa. Dagh!

Dan terpakulah si cowok ditinggal pergi begitu saja oleh si cewek.

Tapi, bisa juga kejadiannya si cewek ternyata responsif dan menjawab...
Cew: Ngg, boleh deh. Nomorku 081112131415. Tapi sori ya, hape gw lowbat.

Kalo cewek mpe ngomong gini, kemungkinan tu nomor boongan gede banget. Tujuannya, supaya si cowok nggak miskol n nggak ketauan kalo nomor si cewek tu nomor boong.

Sebaliknya, kalo cewek nggak keberatan dimiskol, berarti tu nomor beneran punya dia, dan artinya, si cowok udah berhasil dengan strategi ngajak kenalannya. HORRREEEE!!!

Nah, seperti apa aksi yang akan anda pilih? Straight to the point dengan berkata jujur dan apa adanya bahwa anda tertarik padanya (baca: Ditolak? Ga Masalah! (2) )? Atau yang bertele-tele seperti contoh di atas? Semuanya tergantung anda.

Namun, bisa saya pastikan, jika saya adalah cewek yang berusaha diajak kenalan sama cowok di toko buku itu, sebelum pembicaraan berlarut-larut, saya sudah akan mengeluarkan seribu satu alasan untuk menjauh dari cowok pengganggu itu.

Ditolak? Ga Masalah! (2)

Masih inget posting gw yang judulnya ”Ditolak? Ga Masalah!”? Di situ gw sangat menganjurkan semua cowok yang masih lajang untuk berani mengambil resiko kalo mereka tiba-tiba menemukan seorang cewek impian mereka. Berikut adalah contoh situasi dimana seorang cowok berani ditolak.

“Halo, nama saya Rudi. Saya dari tadi duduk di sana memperhatikan kamu. Sejujurnya, entah gimana, saya merasa kamu adalah cewek yang selama ini saya cari. Feeling itu datang begitu tiba-tiba ketika saya melihat kamu tadi”.
“Sebenarnya, saya merasa tindakan saya ini gila. Tapi, kalau kamu tidak keberatan, boleh saya meminta nomor telepon kamu? Kalau kamu curiga, kamu bisa lihat kartu pelajar saya. Saya bukan orang jahat, saya cuma tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertemu kembali dengan kamu.”

Kayak filem banget ya kejadiannya? Menurut gw, kalo seorang cowok berani mengatakan hal seperti itu, dia punya kesempatan 50% untuk mendapatkan nomor telepon cewek yang dia kejar. Asal dia terlihat baik, asal mukanya nggak jelek2 amat, n asal penampilannya cukup oke (nggak jorok dan bau badan), si cewek pasti akan memberikan nomor teleponnya padanya. Basicly, all women are romantic...atau mungkin lebih tepat, all women likes to be flattered.

Jadi, kira-kira respon si cewek akan seperti ini…
”Emang kenapa kamu pengen punya nomor telepon aku?”
”Biar aku bisa nelpon kamu”
”Emang ngapain kamu pengen nelpon aku?”
”Soalnya kamu itu cewek impian saya”
”Kedengarannya sih gombal, tapi saya memang benar-benar terpana ketika melihat kamu. Kamu, cewek yang sering saya bayangkan untuk menjadi pacar saya”.

Huehhheehehe...
Dangdut banget ya?
Kalau ada yang ngomong gitu, yakin deh semua cewek di dunia pasti klepek-klepek. Tapi... klepek-klepeknya bisa dua maksud nih. Bisa klepek-klepek nggak kuat karena si cowok so sweet n bikin si cewek merona saking senengnya. Atau...klepek-klepek nggak kuat pengen nonjok cowok itu.

Rabu, 13 Februari 2008

Apel ala Anak SD Jakarta

"Pik, ntar malem gw apel ya ke tempat lu..."
Seorang cowok dengan gempitanya berteriak ke targetnya dari jendela lantai atas ke arah targetnya yang sudah sampai di pintu gerbang sekolah.

Dengan bingung, si target menengok ke teman yang berjalan di sebelahnya
"Itu si Ade kan?"
"Iyah"
"Ngomong apa dia tadi?"
"Katanya dia mau apel ke rumah kamu"
"Apel?"
(red: baca apelnya seperti baca katapel ya)
"Apel" jawab si teman.

Masih bingung juga. Soalnya, satu-satunya definisi apel yang diketahui oleh anak ini cuma satu.
“Apel tu buah bukan?”
Si teman melihat sekilas ke arah si cewek. Memberi tatapan bego amat sih nih anak, dan menjawab “Tau’ ah”.

Si cewek tetep bingung, tapi karena ga mungkin lagi nanya lebih lanjut, ia memutuskan untuk mengiyakan saja. Soalnya cewek ini selalu diajarin sama ortunya untuk tidak diam kalau ada orang lain yang bertanya kepadanya.

”Iyaaaaaaa” teriak si cewek sama cowok itu.

Si cowok cuma nyengir aja dari jendela mendengar jawaban si cewek.

* * *

Malamnya, si cowok menepati janjinya dengan datang ke rumah si cewek.
Datangnya pake gaya anak SD pada umumnya. Teriak dulu dari depan pager mpe orang yang dimaksud keluar dan mengizinkan dia masuk.
“Pa-luuuu-pi…..Pa-luuuu-pi” teriak si cowok. Teriaknya pake irama gitu loh.

Nggak ada reaksi dari dalam rumah. Si cowok kembali berteriak.
“Pa-luuuu-pi…..Pa-luuuu-pi”

Hening sesaat, lalu...
”Deek!!! Temen kamu!!!” ada suara dari dalam rumah.
”Iyaaaa” balas suara lainnya.

Karena sudah mendengar reaksi dari dalam rumah, si cowok berhenti teriak dan mulai bersiap-siap menunggu target keluar rumah.

”Hai Ade”, si cewek udah nongol di pintu rumah, lengkap dengan piama tidurnya.
Si cowok lagi-lagi cuma nyengir.
“Mau apa ke sini?” si cewek nanya, kali ini udah mendekati pager rumah.
“Nggg…ga kenapa-napa kok”
”Oooh, kirain ada apa”

Hening. Si cowok mematung, berdiri dengan posisi siap bak sedang upacara, masih di depan pintu pager rumah si cewek.

Si cewek mulai bingung kenapa cowok ini nggak ngomong-ngomong sesuatu. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya, ”Kamu rumahnya di mana sih?”

Si cowok sumringah mendengar si cewek mulai menunjukkan perhatian pada dirinya.
”Di situ...” kata si cowok sambil menunjuk ke suatu arah.
”Oooh”

Lagi-lagi hening.

Masih hening.

Masih hening juga.

Tetep masih hening juga.

”Nggg...kamu lagi ngapain?” kali ini si cowok yang berusaha memecahkan keheningan, sambil berusaha juga untuk menunjukkan perhatiannya.
”Nggak lagi ngapa-ngapain tuh”
”Ooooh...”

Kembali hening. Kali ini jauuuuuuh lebih lama dari sebelumnya.

”Kamu bukannya lagi belajar?” tanya si cowok, kembali berusaha menunjukkan perhatiannya.
”Nggak tuh”
”Ooooh...”

Hening lagi. Jauuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih lama kali ini. Sampai akhirnya...

”Ya udah deh, aku mau pulang ya” si cowok akhirnya memutuskan untuk menyudahi kunjungannya malam itu setelah sepuluh menit berlalu.
“Iya deh”
“Mpe ketemu di sekolah ya”
“Iya”
”Dadah”
”Dadah”

* * *

Di sekolah, hari Senin, seisi kelas heboh begitu si cewek datang ke dalam kelas.
Di bangku belakang nampak si cowok menatap si cewek sambil mengeluarkan cengiran termanis yang sanggup dia keluarkan. Si cewek, karena nggak enak hati dapet ringisan super yang baru pertama kalinya ia lihat, akhirnya terpaksa membalas senyum.

Duduk di bangkunya, tiba-tiba si cewek didatangi si teman yang biasa pulang bersamanya.
”Pik, kamu udah jadian ya?”
”Ha? Jadian?” tanya si cewek.
Hening untuk sesaat. Si teman masih menunggu jawaban.
”Jadian itu apa sih?’

GUBRAK! Si teman kaget lagi-lagi dapet respon bego.

Setelah menggeleng2kan kepalanya ala orang India, si teman mulai menjelaskan. Njelasinnya tipikal anak SD, ”Jadian tu artinya pacaran...”
”He? Pacaran?”
”Ah, enggak mau ah! Kata mama, nggak boleh main pacar-pacaran. Masih kecil!”, si cewek ngomong sambil monyong2in mulutnya.
”Tapi kan kamu kemarin diapelin si itu kan?” si teman bertanya lagi sambil menunjuk cowok yang masih aja nyengir2 kuda ke arah mereka.
”Ha? Diapelin?”
Kembali bingung mendengar kata yang sempat didengarnya dua hari lalu.
”Apel tu apa? Apel itu kan buah? Nggak ngerti deh aku, dari kemarin kamu ngomongin apeeeeel terus” si cewek mulai bete.
“Iiiiiiihhh! Kamuuuu! (red: ngomong kamunya pake irama ya)”
“Diapelin tu sama kayak dipacarin tauuuuuu”
”Kamu pacaran kan kemarin sama Ade?” tanya si teman.
”Nggak tuh” jawab si cewek.
”Ah, masak enggak?” si teman nanya lagi soalnya ga percaya.
”Enggak kok. Bennnnner”
”Tapi tadi kata si Ade kamu sekarang udah jadi pacarnya”, si teman berusaha mengklarifikasi.
”Iiiiiiiiiiiiiih...enggak kok” si cewek mulai naik pitam sekarang.
”Kemarin dia cuma main ke rumahku”

”Naaah kan...” sekarang si teman mulai menunjukkan ekspresi paham.
”Tuh kaaaaaan, dia ke rumah kamu kan malem minggu”
”Iya, Sabtu malem si Ade emang main”
”Ya ituuuuuuuuu...berarti kamu sekarang udah pacaran sama Ade”
“Haaaaaaaaaa? Kok gitu? Iiiiiiiiiiiiiih…nggak mau ah!”
“Ya pokoknya kamu udah pacaran sama Ade!” si temen ikutan ngeyel.
“Enggak. Pokoknya enggak!”
“Tapi kan dia dateng ke rumah kamu pas malam minggu”
”Iya?”
”Malam minggu itu kan waktunya orang pacaran”
”Trus?”
”Berarti kemarin itu kalian pacaran” kata si teman dengan tampang puas, dan memutuskan untuk menyudahi pembicaraan.

Tinggallah si cewek termangu. Masih tetap bingung.



Setting:
Cerita ini terjadi pas kelas 2 SD. Jangan salahkan si cewek karena begitu bloon. Dia baru seminggu mulai menginjakkan kaki di Jakarta setelah sebelumnya bersekolah di Papua semenjak TK. Standar kedewasaan anak SD di Jakarta jauh melebihi standar kedewasaan anak SD di Papua. Dan setelah itu, si cewek akhirnya mulai mengenal dunia baru.


Selasa, 12 Februari 2008

Romantika (2)

Kakak ku tercinta, suatu hari pernah berkata "Menurut Adek, cinta seperti apa yang paling menyakitkan di dunia ini?".

Pertanyaan ini ia lontarkan setelah sebelumnya aku mengeluarkan semua uneg-uneg ku tentang cowok nggak jelas nomor wahid itu. Bahasan tentang cowok ini sebenarnya sudah sangat layak membuat kakak ku bosan. Dan sebenarnya, sudah berkali-kali juga dia memintaku untuk melupakan cowok ini.

Menjawab pertanyaannya, dengan lugas kukatakan, "Cinta tak berbalas".

Gimana? Setuju kan? Menurut teman2, apalagi cinta yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang yang nggak pernah mau membalas perasaan kita. Dan menurutku, cinta seperti yang ku miliki kepada cowok nggak jelas itu layak dikategorikan sebagai cinta tragis atau cinta paling menyakitkan.

Namun dengan enteng, kakak ku menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kamu salah. Cinta paling menyakitkan adalah cinta ketika kamu sangat mencintai seseorang, dan ia juga sebaliknya sangat mencintai kamu, tapi kalian nggak bisa bersatu karena adanya jurang perbedaan".

Mendengar kata-katanya, aku terpaku - dan tanpa bantahan, aku langsung sepakat dengan kakak.

Cinta tak berbalasku, hanya sepersekian dari sakit yang dirasakan oleh orang-orang yang menemukan cinta tak bisa bersatu. Cinta tak berbalasku, tak layak untuk ditangisi.

Senin, 11 Februari 2008

Pakuan oh Pakuan

Tau kereta hibah kan?
Itu low...kereta buangan dari Jepang yang dihibahkan ke Pemerintah Indonesia karena udah ga layak pakai menurut standar Jepang tapi layak dijadikan kereta jarak dekat kelas eksekutif menurut standar Indonesia (segitu banget ya nelangsanya kita...?!?).

Tapi, gw sendiri sih ga peduli kalo tu kereta bekas buangan Jepang, secara bagi gw ndiri mang tu kereta masih sangat nyaman kok untuk ditumpangi.

Nah, hari minggu kemarin gw naik kereta ini, nama kerennya sih kereta Pakuan. Tiketnya sekarang 13.000, udah naik lebih dari 100 persen dibandingin harga 4 tahun lalu pas jaman gw masih kuliah di Bogor.

Kereta ini biasanya dipake untuk tujuan jarak dekat, misalnya Jakarta-Bogor, Jakarta-Depok, atau Jakarta-Bekasi. Biasanya yang paling demen naik kereta ini tu kalangan pekerja yang kantornya di Jakarta, tapi rumahnya di luar kota (Bogor, Depok, atau Bekasi).

Waktu kuliah dulu itu, kalo gw udah nenteng tas punggung siap2 mau balik ke Jakarta dari Bogor, temen2 kuliah gw suka bilang gini "Iiihh, kok kamu naiknya Pakuan sih? Kan maaahal...?"
Ketauan banget ya anak kuliahan tu pada kere-kere banget. Soalnya, kebanyakan anak-anak kuliah memang cukup puas dengan naik KRL (kereta listrik) yang harga tiketnya cuma 1000-an.

Kalo gw ndiri sih sebenernya juga termasuk golongan anak kuliahan yang kere.
Naik Pakuan kan bela2in aja, biar bisa ngecengin orang2 kantoran yang ganteng, huehehehe...

Pas gw naik kereta ini minggu lalu, ya awalnya biasa2 aja...nyaman, lega, aman, n ga berisik. Secara kalo naik KRL tu ya, udah seringannya ga dapet tempat duduk, rawan pencopetan, ee...masih keganggu juga sama tukang2 jualan n pengemis2 yang ganti2an ngider ga brenti2.

Tapi, ternyata pas kemarin naik Pakuan, lagi enak2nya merem dan menyelonjorkan kaki, tiba2 aja muncul kericuhan.
"DUAAKKKK! DUEEKKKK! DUOOKKKK! PRANG! PRANG!"
Ternyata kereta yang lagi gw tumpangi diserang gerombolan anak2 usia tanggung. Mereka rame2 nimpukin kereta pake batu.

Dan akhirnya, kaca yang berkali-kali terkena lemparan batu pun pecah. Seorang bapak terluka kena pecahan kaca, sementara kaca di dekat tempat duduk gw juga pecah, tapi untungnya ga ada yang kena.

Kereta sih tetap melaju aja, cuek bebek karena dia kan benda mati. Bukan urusan dia lah kalo ada yang nimpukin dia. Pokoknya maju teruussss!

Herannya, kok ya ga ada petugas yang notabene makhluk hidup, dateng nengok kerusakan yang mungkin terjadi. Sampai kereta nyampe di stasiun Gambir pun nggak ada satupun petugas yang nengok. Akhirnya bapak yang mukanya kena pecahan kaca pun kembali duduk dan hanya me-lap darah yang keluar dari wajahnya dengan tisyu dibasahi. Untung lukanya nggak parah. Kalo nggak kan bisa infeksi tuh!

Yang jadi pertanyaan gw, apa insiden penimpukan ini hanya dilakukan ke Pakuan aja dan nggak ke KRL? Soalnya kalo KRL ditimpukin kayak gitu, pasti banyak banget dong yang kena. Secara penumpang KRL kan biasanya banyak yang berdiri gelantungan atau duduk di atap kereta. Trus KRL-nya ndiri jendelanya udah pada ilang. Kalo ada batu nyasar, nggak kebayang deh benjolnya kepala. Mending kalo cuma benjol, kalo mpe gegar otak gimana dong?

Trus, yang jadi pertanyaan gw lagi, kalo KRL nggak pernah ditimpukin, dan anak2 bengal itu cuma ngincer kereta eksekutif, apa itu wujud kekesalan mereka akan ketimpangan ekonomi yang terjadi di negara kita? Atau itu sebenernya cuma penyaluran rasa iseng belaka?

Hmmmmhhh...

Untuk temen2, kalo naik kereta pakuan, berikut ada beberapa tips:
1. lebih baik pilih tempat duduk di deket pintu, di sini pembatas kepala kita dengan sisi luar kereta adalah besi dan bukan kaca.
2. kalo memang kita nggak bisa milih tempat duduk, jangan lupa menutup kerai (penutup kaca dari bahan plastik). Ini berguna untuk menghalangi batu masuk ke dalam kereta dan mengurangi pecahan kaca yang mungkin dapat melukai kita.
3. kalo mang kita nggak bisa milih tempat duduk, dan ternyata kerai penutup kaca nya udah ilang, jangan lupa lindungi kepala temen2 dengan...



...helm

Hihhhihihhi

Romantika

Dalam pasang surut kehidupan, dalam naik turunnya emosi dan perasaan, sering aku ingin berhenti memperjuangkan dirinya dan memilih untuk berserah atas pilihan sang Takdir.

Di saat itulah, pernah kutanyakan satu hal pada dirinya.
"Buat kamu, apakah menikah harus dengan orang yang kamu cintai?"
Pertanyaan sederhana, tapi membutuhkan perenungan yang dalam untuk menjawabnya.

Hal yang terlintas di benakku, jika ia mengatakan bahwa menikah baginya dapat dilakukan tanpa cinta, maka aku akan berhenti mengharapkannya dan menerima seseorang yang lain.

Setelah terdiam selama 5 detik, akhirnya ia membuka suara dan berucap...
"Tidak"

Ku terkejut mendengar jawabannya - terdiam tanpa suara, ketika beberapa detik kemudian ia memecah keheningan dengan berkata...
"Buatku, menikah itu...harus dengan orang yang saaaangattt aku cintai".

Blog to be in Action

Ternyata…mempublikasikan blog tu bukan perkara mudah ya…Walaupun pada awal mula bikin blog niatnya lebih untuk penyaluran hasrat terpendam dan ungkapan hati, lama-lama ternyata kita juga menuntut adanya pengakuan dari sekitar kita.

Hehe..ngomong beginian jadi inget teori piramida-nya Maslow (bener Maslow yah namanya?). Kata si Maslow (atau siapa lah namanya), tiap individu memiliki tingkatan2 yang mereka ingin capai dalam hidupnya. Di tingkatan paling bawah, ada physical need - kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Di tingkatan atasnya, mulai ada education need – kebutuhan akan pendidikan. Di tingkatan atasnya lagi, ada affection need – kebutuhan akan kasih sayang, dan perhatian dari orang2 di sekitarnya, dan sejenisnya. Nah, di atasnya lagi, ada recognition need – alias kebutuhan akan pengakuan, rasa dianggap, atau apalah demi mempertahankan gengsi. Setiap manusia, ketika udah merasa tercukupi kebutuhannya akan piramida di level bawah, akan mulai berusaha mencapai kebutuhan di level atasnya, demikian seterusnya. Begitulah kata si Pak Maslow.

Btw, berhubung ingatan gw akan pelajaran buruk banget, tolong koreksi kalo ada yang salah ya…maklum, namanya juga mahasiswa ALIT (Asal Lulus IP Tiga).

Nah, critanya, gw sekarang udah mulai menginjak ke level paling atas dalam piramida tersebut. Ceritanya gw udah mulai butuh pengakuan nih…Padahal pembaca blog gw baru segelintir orang (tepatnya baru dua orang yang udah gw kasih tau kalo gw punya blog).

Akhirnya, mulailah gw publikasikan blog gw ini…tapi pikir2 malu juga ya kalo akhirnya kebaca sama si cowok nggak jelas itu…secara dari lima posting yang gw bikin, dua di antaranya bener2 ngomongin dia abiz.

Tapi, karena kebutuhan gw akan pengakuan udah mulai bikin gw kebelet, akhirnya tadi gw sebarkan juga alamat blog gw di milis ke temen2 kuliah S1 gw.

Btw, supaya pembaca pada tau betapa tidak populernya blog gw ini, gw akan cantumkan hasil searching gw melalui
www.google.com.

Kalo ngetik kata blog, akan terlihat ada 2.280.000.000 (baca: dua milyar dua ratus delapan puluh juta) results, trus kalo ngetik kata blog upi, akan ada 474.000 results. Kalo ngetik blog crita upi, akan ada 721 results, tapi…kalo ngetik blog critacritayux, akan ada…

0 (nol) results!

Poor upi…

Minggu, 10 Februari 2008

Pelanggaran Prinsip (1) - Dudu Merdu

Ada beberapa hal yang biasanya nggak pernah mau gw lakuin, dan tidak melakukan hal-hal tersebut sudah menjadi bagian dari prinsip hidup gw. Salah satu di antara prinsip gw itu adalah, sama sekali tidak memberikan uang kepada pengamen yang menyanyi dengan buruk dalam bis kota. Gw amat sangat anti melakukan hal ini.

Untuk pengamen yang memang menyanyi dengan irama yang sesuai, tidak perlu merdu, maka gw sama sekali nggak akan merasa keberatan untuk memberikan sebagian uang yang ada di dompet untuk pengamen itu. Tapi, hal ini akan jauh berbeda jika pengamen yang gw temui itu menyanyi dengan syair yang asal (mending kalo syair karangannya masih lumayan bagus, ini nih boro-boro banget!), titian nada yang buruk, dan dengan sepersepuluh jiwa (kalo nyanyi dengan sepenuh jiwa, walaupun fals kan harus kita hargai ya toh?). Bagi gw, ini sama dengan polusi suara. Sama halnya dengan polusi udara yang mencemari oksigen yang kita hirup, polusi suara mencemari segala suara yang masuk ke dalam telinga kita.

Dan bagi gw, dengan memberikan uang kita kepada pengamen itu, berarti kita telah menunjukkan apresiasi kita kepada nyanyian dia, yang selanjutnya akan menjadi pemacu bagi pengamen itu untuk terus menyanyi dan menyanyi. Yang ada kan kita sendiri yang rugi bo’!

Nah, tadi pagi gw punya pengalaman dengan pengamen jenis fals ini.


Btw, ada satu pertanyaan yang nggak pernah bisa terjawab oleh gw selama ini, kenapa si Iwan, seniman jalanan itu namanya Iwan Fals? Jelas-jelas nyanyiannya jauh dari nada fals. Sama juga dengan Doel Sumbang, yang bagi gw lagu-lagunya nggak pernah sumbang. Kalo dalam pemberian nama seorang penyanyi, termasuk seorang pengamen jalanan, berlaku azas berkebalikan, maka si pengamen yang suaranya sangat hancur itu, akan saya beri julukan Dudu Merdu, atau bisa juga Bagas Iramapas.

Sayangnya, nggak bakalan deh ada orang yang repot-repot mau memberi julukan kepada setiap pengamen bersuara hancur yang hanya ia temui sesekali dalam perjalanannya naik bis.

Well, back to pengamen yang gw temui tadi pagi. Pengamen ini, menyanyi dengan sangat hancurnya, sangat buruknya, sampai gw sendiri pengen banget ngomong ke dia untuk mencoba berpuisi aja alih-alih menyanyi. Pagi itu adalah kali kedua gw bertemu dengan si pengamen. Anehnya, hari itu gw tiba-tiba memberikan uang receh yang ada di dompet gw, sementara penumpang-penumpang yang lain sama sekali nggak bersedia memberika uang sama sekali, hingga plastik bekas permen relaxa yang dia pake untuk mengumpulkan receh tetap kosong melompong. Sampai ke bangku paling belakang, bisa gw dengar bahwa recehan yang ada di kantong plastik miliknya hanya recehan yang berasal dari gw.

Ketidakkonsistenan tindakan gw pagi itu, sebenarnya bukannya tanpa alasan yang logis. Beberapa minggu sebelumnya, pada pertemuan gw yang pertama dengan si pengamen itu, gw ogah banget ngasih receh ke pengamen yang bersuara lebih buruk dari burung betet itu. Dan ternyata, seisi bis pun sepakat dengan gw untuk tidak memberikan receh sama sekali kepada si pengamen. Hari itu, si pengamen tidak berhasil menggugah rasa iba penumpang bis. Akhirnya, dengan segenap kemarahan yang memuncak, setelah mengedarkan kantong plastiknya hingga bangku paling belakang, ia kembali ke deretan depan bis dan mulai membuka suara.


Bapak-bapak, ibu-ibu, dan kakak-kakak sekalian, bagi saya, tidak apa-apa jika bapak ibu tidak memberikan sepeser dari uang yang bapak ibu miliki. Saya akan tetap memberikan ilmu yang saya miliki. (Kemudian ia mulai mengutip ayat-ayat dalam Quran dan hadis-hadis yang sepengetahuan saya tidak begitu pas dengan aslinya). Ingatlah, bahwa kehancuran itu sudah dekat. Karena orang-orang di dunia sudah sangat bejat! Sangat korup! Sangat kafir! Bahkan orang-orang yang berjilbab, semuanya bejat. Jilbab apa itu? Kepala ditutupi, tapi sebenarnya mereka tak lebih dari pelacur! Pelacur, pelacur, dan pelacur! Pakai jilbab tapi sombong, pakai jilbab tapi tidak membantu saudaranya yang membutuhkan! Mereka tetap tak akan mencium wangi surga!

Dan masih panjang lagi rentetan makian yang ia keluarkan, sebelum akhirnya si pengamen turun dari bis. Nampak bahwa para penumpang bis sedikit merasa terganggu dengan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh si pengamen. Namun, toh tak ada yang bereaksi. Gw sendiri, bukan sekedar merasa terganggu dengan ucapan si pengamen. Gw justru merasa terintimidasi. Bahkan, di tengah rentetan makian si pengamen, gw sebenarnya pengen langsung turun dari bis, sebab yang ada di pikiran gw adalah, jangan-jangan si pengamen ini adalah anggota teroris sesuatu, yang di dalam tas punggungnya berisi bom yang siap ia ledakkan jika para penumpang tidak ia anggap cukup bermoral dengan bersedia memberikan uang receh pada dirinya.

Untunglah, ternyata keparno-an gw tidak terbukti, dan si pengamen turun tanpa meledakkan apapun dalam bis, kecuali mungkin sedikit meninggalkan ledakan kekesalan para penumpang.

Karena itulah, pada pertemuan kali kedua gw dengan si pengamen, gw lebih memilih untuk menghindari konfrontasi demi menyelamatkan telinga gw dari rentetan makian yang mungkin timbul. Dengan memberinya beberapa keping recehan di dalam dompet gw, pengamen itupun turun dari bis tanpa mengeluarkan jurus ceramahnya. Walaupun gw tahu, saat itu, hanya gwlah satu-satunya penumpang yang memberikan recehan, dan penumpang lainnya lebih memilih untuk nggak peduli.

Entah karena mereka sudah cukup kebal dengan maki-makian dalam bis kota, entah karena mereka tak mengetahui pedasnya makian yang bisa si pengamen keluarkan dari mulut sumbangnya, atau entah karena mereka memilih untuk tetap konsisten dengan hanya memberikan recehan kepada pengamen yang tidak mengeluarkan polusi suara melalui nyanyiannya. Yang jelas, gw udah melanggar prinsip nggak penting yang udah gw buat sendiri. Dan pengamen itu, si Dudu Merdu itu, dialah penyebab pelanggaran gw atas prinsip gw!

Kamis, 07 Februari 2008

Jodie Foster

Memanfaatkan libur tahun baru imlek kemarin, gw bertandang ke mall dengan tujuan akbar memburu DVD (bajakan tentunya). Setelah sibuk mengaduk-aduk tumpukan DVD yang dijual, dan setelah merepotkan mba' penjualnya dengan berkali-kali meminta ngetesin setiap DVD yang gw mau, terbelilah 12 DVD dengan kualitas gambar yang setara dengan DVD ori.

Buat tips nih ya..kalo mau nyari DVD bajakan dengan gambar n teks yang oke punya, pertama kali ngetes pas mau beli, lihat ke bagian menu dulu. Kalo background gambar di menu tersebut bergerak-gerak, berarti tu DVD dibajak dari DVD ori, n biasanya gambar n subtitle di dalamnya juga udah bagus punya.

Kebanyakan orang yang ngetes DVD, biasanya kan buat ngeliat gambarnya udah bagus atau belum. Orang ini biasanya cenderung nyuruh mba' penjualnya untuk next2 terus, soalnya dia pengen ngecek jangan2 ada bagian yang rusak n ga bisa ditonton.

Nah, kalo gw, yang gw cari tu di samping gambarnya harus bagus, teksnya juga kudu udah bener. Emang sih, untuk mendapatkan DVD dengan kualitas seperti ini, ga jarang gw kudu nunggu mpe berbulan2. Bukannya kenapa2, dengan kemampuan listening ala kadarnya seperti yang gw miliki, menonton DVD tanpa subtitle atau dengan subtitle yang berantakan justru bikin kepala pusyeng. Boro-boro ngerti apa yang diomongin lakonnya, ngerti jalan ceritanya aja belum tentu. Yang ada malah tu fim biasanya ga bakalan gw tonton mpe kelar, soalnya ceritanya jadi ga bisa gw nikmatin dengan sepenuh hati. Padahal, bagi gw, nonton film tanpa penghayatan tu ibarat makan telur setengah mateng tanpa garam. Rasanya hambar n cenderung bikin eneg.

Makanya gw lebih baik terlambat nonton film n jadi orang dongo kalo temen2 gw udah mulai ngediskusiin sebuah film yang lagi diputer di bioskop, daripada gw nonton cepet2 pake DVD bajakan yang gambarnya masih amburadul. Hanya dalam situasi2 khusus -misalnya ada film yang mang gw tunggu2 banget, atau pas pengen nonton dengan suasana beda, atau pas ada temen nraktir- barulah gw nonton di bioskop. Selebihnya, DVD bajakan adalah pilihan terbaik.

Nah, habis beli DVD, begitu nyampe rumah, langsung deh gw setel tu film. Film pertama, judulnya Wedding Gaze, cukup menghibur, tapi rada-rada ga realistis, so dari skala bintang atu mpe lima, film ini gw kasih 3 bintang.

Film kedua, yang diperanin ama Jodie Foster, judulnya The Brave One, baru gw bilang ciamik abiz! Jalan ceritanya sih ga spesial2 banget, tapi entah kenapa, demen aja ngeliatin Jodie Foster meranin cewek super tough yang mau balas dendam ke orang2 jahat yang udah ngebunuh tunangannya.

Kalo diinget2, Jodie Foster ini kayaknya mang langganan meranin tokoh cewek2 tangguh ya, tapi bukan super hero. Liat aja waktu doi main Panic Room (bener ga sih judulnya ini?), dia kan jadi ibu yang mati2an negelindungin anaknya yang lagi sakit pas rumahnya didatengin maling. Di sini dia akhirnya bisa nyelamatin anaknya, plus ngebekuk maling2 itu.

Film lainnya, Flight Plan, doi jadi ibu beranak satu yang hendak dikambinghitamkan sebagai pelaku peledakan pesawat. Tapi dengan kerennya dia akhirnya tau ada pihak yang niat "ngerjain" dia, n dengan jagonya dia berhasil mengalahkan komplotan itu. Sumpah ni film keren gila!

Kayaknya doi mang cocok banget ya untuk peran2 sebagai cewek tangguh di dunia nyata begituan. Imejnya tuh udah nyambung banget. Malah jadi aneh kalo nginget dia pernah juga main di film2 drama abiz kayak Anna and The King. Eh..bener kan yang main film ini dia bareng Chow Yun Fat?

Intinya, Jodie Foster..you rock gilaaaaa!!!!





Selasa, 05 Februari 2008

Ditolak? Ga Masalah!

Biasanya, kalo gw ketemu cowok yang mpe usianya menginjak seperempat dasawarsa belum punya gandengan alias seseorang yang disebut pacar, hal yang pertama terlintas di benak gw adalah, orang ini pasti takut ditolak!

Haha…sebagai cewek, mungkin kita bisa merasa lebih santai karena ga perlu menghadapi kekhawatiran serupa. Sebagai cewek, kita ga perlu repot kudu berusaha ngedeketin cowok yang kita taksir, karena biasanya toh mereka lah yang bakal nyamperin kita (ini berlaku dalam situasi dimana si cewek cukup enak dipandang, didengar, dan disentuh…uups!).

Kebanyakan cowok yang tetap menjomblo sampai usianya yang berkepala dua dan berekor lima ini, biasanya sangat amat lamban dalam bergerak, dan lebih memilih untuk tidak mengambil resiko. Dan tentunya, cowok-cowok seperti inilah yang bagi gw sangat menyebalkan.

Lho? Kenapa jadi lo yang harus bingung? Ya iyalah, soalnya, gw menganggap bahwa alasan di balik kejombloan gw selama ini adalah karena cowok yang takut ditolak itu (jadi ketauan deh kalo gw juga jomblo).

Kejombloan gw, bukan karena gw nggak laku, atau terlalu pemilih, atau gw pembenci pria, dan alasan2 lainnya. Gw, jomblo karena cowok yang gw taksir selama belasan tahun tak kunjung menembak gw. Auch!!

Well, kalo lo mau nasehatin gw dengan kata2, “jangan diam aja, kasih sinyal2 dong biar dia berani mendekat!”. Well, I did it! Bahkan, udah ga keitung lagi how many action I’ve done to show that I care. Dan, gw pun yakin seyakin-yakinnya bahwa cowok ini bukan tipe cowok bebal yang nggak nyadar kalo ada cewek manis yang mengharapkannya. Hanya saja, entah mengapa, sejelas apapun sinyal yang udah gw berikan, tu cowok tetep nggak juga mau maju.

Yaahh, itu sih artinya dia ga suka kali ma lo! Hmmm…analisa ini pun udah ada di benak gw dari dulu, tapi sayangnya, gw cukup narsis untuk membantah hal ini. I'm definitely sure kalo tu cowok tertarik ma gw.

Ahh, lo geer aja kali! Darimana lo bisa yakin kalo tu cowok suka ma lo? Ya karena tu cowok mang pernah bilang ke gw. Dia pernah ngomong suka ke gw, tapi dia ga nembak gw. Karena, habis itu ya hubungan kita berdua tetep gitu-gitu aja, adem ayem n ga jelas juntrungannya.

Nah, saking betenya gw ama tipe-tipe cowok lamban seperti ini, gw iseng-iseng bikin survei kecil2an sama beberapa temen cowok gw. Dan hasilnya, gw dapet kesimpulan bahwa kebanyakan cowok sangat amat takut terhadap penolakan, dan karena itulah mereka lebih memilih untuk nggak ngambil resiko sama sekali.

Penolakan yang mereka takut di sini tidak hanya sekedar penolakan ketika seorang cowok menembak seorang cewek low ya. Penolakan di sini bisa terjadi juga ketika seorang cowok berusaha untuk mengajak seorang cewek berkenalan dengannya, ketika seorang cowok berusaha mengajak seorang cewek yang dikenalnya untuk dating bareng, dan aksi-aksi sejenis lainnya.

Jadi, ketika seorang cowok melihat seorang cewek yang sesuai dengan kriterianya di jalanan misalnya, istilahnya sih girl of their dream lah...mereka bukannya nyamperin tu cewek n bertanya dengan sopan ke cewek itu apakah ia keberatan untuk berkenalan dengannya, tapi lebih memilih untuk melupakan saja cewek impian mereka itu.

Hiiihhh!! Payah bener kan? Mpe gemes gw jadinya! But that’s reality, baby! Dan fakta berikutnya adalah, seorang cowok yang punya latar belakang akademis lebih baik, status sosial yang lebih baik, dan sebagainya, akan lebih reluctant dengan resiko-resiko penolakan seperti di atas. Ia akan lebih memilih mencari safest way to get a girl, even the girl couldn’t be the girl of his dream, daripada berdarah-berdarah mengejar seorang cewek impiannya.

Sebaliknya, seorang cowok yang cenderung ga punya status sosial oke, akan cenderung lebih agresif, dan akan lebih fine-fine aja untuk mengambil resiko ditolak cewek. Yang ada di pikiran mereka kira2 nothing to lose lah.

Nah, akibatnya, kondisi yang sering kita jumpai sekarang adalah, banyak cewek super cantik, super smart…pokoknya super girl deh, jalan ma cowok yang biasaaaa banget. N kalo ada cowok keren yang liat pas mereka jalan bareng, biasanya keluar komentar, “Kok mau ya tu cewek ama cowok itu? Beruntung banget tu cowok!”. Padahal, dia nggak nyadar kalo keberuntungan cowok biasa banget itu sebenarnya karena kebegoan dia, kelambanan dia, dan ketakutan dia akan penolakan.

So, guys, mengakhiri curhatan gw kali ini, please…be more aggressive lah…jangan anteng-anteng aja duduk manis kalo lo liat cewek impian lo melintas di hadapan lo…Banyak cara kok untuk bisa ngajak kenalan seorang cewek dengan anggun. Gw pribadi, lebih suka jika seorang cowok mengajak berkenalan dengan cara se-obvious mungkin daripada mendengarkan dia berbasa-basi sebelum akhirnya mengajak berkenalan. Untuk cowok yang melakukan aksi terakhir ini, kemungkinan besar dia akan mendapat penolakan dari gw, kecuali kalo gw iba baget sama tu cowok, atau dia mang cakep banget sampai rasanya sayang untuk melewatkan makhluk se-oke dia. Tapi, selain itu, doi pasti gw tolak mentah2.

Renungan

Baru-baru ini, gw mengirimkan imel ke beberapa temen seangkatan gw. Isinya tentang curhatan gw pas lagi bete n males ma kondisi. Dibikin di kantor secara dadakan n tak terencana, n so pasti dengan memanfaatkan fasilitas kantor.
Isinya begini nih...

Hay Teman-temanku. ...

Ga' terasa yah udah tahun 2008 sekarang,
berarti udah 4 tahun qt ninggalin kampus n meninggalkan status mahasiswa.
(Gw ga bermaksud menyindir teman2 yg baru aja lulus thn 2005 ke depan low ya...)
Pernah mikir nggak apa yang udah qt capai dalam 4 tahun ini?
Gw sering banget ngelakuin ini, n yang ada jadinya gw suka pusyeng sendiri!
Hehe...soalnya, kalo mikir pencapaian, ntar yang ada gw suka ngebandingin diri gw dengan pencapaian orang2 d sekitar gw.
And u know what?
dunia ini penuh dengan orang2 yang luar biasa, yg udah bisa meraih banyak hal yang bagi gw masih sebatas angan dan impian.
Ce'ile...
Jadinya, gw sering merasa nggak puas n sebel ndiri

Tapi, lagi2 gw mikir...tiap orang pasti punya hidup yang harus mereka jalani
N tugas qt adalah mengoptimalkan waktu yang qt miliki n kesempatan yg qt punya.
Kalo ada orang yang sangat sukses dengan karirnya,
mungkin memang dia dikasih banyak kesempatan untuk
membaktikan ilmu n kemampuan yang dimilikinya,
trus dia dapet banyak duit untuk didermakan ke orang-orang kurang mampu.
Kalo ada orang yang terlihat sangat bahagia dengan keluarganya,
mungkin memang dia dikasih kesempatan untuk
mencintai suami/istrinya dan mendidik anak-anaknya untuk jadi orang yang lebih luar biasa.
Dan...
Kalo ada orang yang merasa belum meraih pencapaian apapun dalam hidupnya,
mungkin memang dia dikasih kesempatan untuk terus belajar dan berusaha,
agar dia menjadi orang yang kuat dan pandai mensyukuri hidup,
juga agar dia dapat menceritakan kepada orang-orang lain makna perjuangan yang sesungguhnya.

So fren, kalo kalian suka berpikir seperti gw,
Suka merenung dan suka pusyeng ndiri karena filosofi hidup yang begitu keruh dan absurd,
yakinlah bahwa semua hal di dunia merupakan sebuah rahasia,
Dan yakinlah bahwa rahasia itu pasti indah.

Sukses untuk semua kawan2ku tersayang!

Btw, resolusi paling akbar, paling utama, n paling penting bagi gw tahun ini adalah menikah.
But still, soulmate is the most mysterious, craziest, and foolest thing exist on earth.
Soalnya mpe sekarang gw tetep nggak tau bagaimana harus memulai sebuah hubungan yang serius.
Apakah gw harus terus menggunakan hati dan mendewakan cinta?
Mungkinkah gw menggunakan rasionalitas dan mengabaikan rasa?
Ataukah gw harus memejamkan mata dan menerima orang pertama yang melangkah menuju gw?

Haha..just a retoric question
Don't need to answer it my friends.
Let me find the answer myself
Just live your life and live every single day happily

Mellow banget yah?

Banyak banget temen yang komen n nanya apa yang terjadi dengan gw. Soalnya, dalam kondisi normal gw ga mungkin nulis imel2 sentimentil gitu.

Padahal, sebenernya imel itu gw kirim dengan maksud untuk "menohok" seseorang. Orang ini, adalah tipe orang yang sangat tidak sensitif, plintat-plintut, dan sama sekali nggak pernah jelas sikapnya.

Emang sih, secara sepintas tu imel ga ada tulisan yang aneh-aneh, tapi kalo diamati lebih teliti, sebenernya ada tulisan yang disamarin dengan font yang dibikin sewarna ma warna background tulisan.

Dari hampir 40-an temen yang dikirimin imel ini, hanya ada dua yang berhasil membaca tulisan tersamar ini. Dan salah satunya....adalah orang yang mau gw "tohok" tadi.

Padahal tu orang bukan tipe teliti apalagi cermat. Boro-boro banget! Satu-satunya alasan dia berhasil membaca tulisan tersirat itu, karena imel tsb gw kirimkan ke alamat imel kantornya, n ternyata imel kantornya ga mengakomodir untuk memperlihatkan tulisan berwarna-warni!!!

Welehweleh...Jadilah tulisan yang dengan niatnya gw samarin, nongol di imel dia dengan santainya. Padahal, gw ga bener2 niat untuk mempublikasikan curahan hati gw yang itu, apalagi ampe dibaca ma dia.

Kalo kata orang jadul kan "nasi sudah menjadi bubur", yang artinya mau digimana-gimanain jg udah nggak ngaruh. Tu tulisan udah dibaca ma orangnya, n tu orang udah me-reply imel gw, n gw....udah terlanjur malu, hihi...

Posting Perdana

Wooooowwwww!!!

Ternyata...membuat blog itu mudah.


Setelah berulang kali disuruh temen2 untuk bikin blog sendiri, dan setelah berulang kali pula gw tolak dengan alasan males pusyeng, akhirnya jadi juga blog ini.

Well, sebenernya, pada awalnya gw mau bikin blog dengan memanfaatkan situs blogger yang lain. Udah nyempetin ke ATM pas makan siang, trus udah transfer Rp.110,000 karena bikin blognya ternyata ga gratis, trus udah dikirimin konfirmasi aktivasi, trus udah nyoba bikin tampilan n posting dengan petunjuk yang ada, eehh...ternyata susyah!

Mang dasar orang low-tech! Ya beginilah adanya.
Udah dikasih petunjuk pake bahasa manusia, tetep aja ga bisa.

Akhirnya, setelah browsing melalui situs andalan tercinta
www.Google.com, dan menemukan petunjuk praktis membuat blog yang dicontohkan lewat www.blogger.com ini, jadilah blog pertama gw hanya dalam waktu 5 menit saja!

Waahhhh...senangnya!

Tau gitu, gw ga perlu pake ngeluarin duit segala tho...
Tapi gapapa, ntar blog yang udah dibayar itu juga bakal gw selesein kok.
Kalo ga kan sayang bou'!

Hopefully, blog ini bisa buat ajang curahan hati yang selama ini sering dipendem n cuma ditumpahkan di diary aja

Moga2 juga blog ini nikmat untuk dibaca, dihayati, diserapi, dan diamalkan.
Aamin!