Kamis, 27 Maret 2008

Saya Semasa Sekolah

Saya, merupakan lulusan abadi dari sekolah negeri. Sejak masuk SD di kota Biak, provinsi Irian Jaya (sekarang Papua), saya disekolahkan ke sekolah negeri. Karena lokasinya yang di ujung berung, jumlah siswa yang tidak terlalu banyak, ditambah koneksi, saya boleh masuk SD walaupun usia saya baru 5 tahun ketika itu. Terus, ketika penerimaan raport catur wulan 1, saya ranking 1. Akhirnya, saya ditawari sama kepala sekolah untuk langsung loncat kelas saja. Penyebabnya bukan karena saya pintar, tapi karena saya sudah bisa baca tulis dengan lancar. Sayang seribu sayang, ibu saya tercinta tidak setuju dengan rekomendasi ini. Katanya, kasihan kalau anaknya kecil sendiri di kelas. Soalnya, di Irian itu, pada umumnya anak-anak baru masuk SD kelas 1 di usia 7 atau 8 tahun. Bayangkan kalau di usia 5 tahun saya sudah duduk di kelas 2 SD.

Kemudian, saya pindah ke Jakarta. Lagi-lagi saya masuk ke SD Negeri, namanya SDN 03 Pagi Jakarta Utara. Terus, karena pindah rumah, akhirnya sekolah saya ikut dipindahkan ke SDN Karang Tengah 6 Ciledug. Beranjak SMP, saya sempat masuk ke SMPN 1 Ciledug sebelum akhirnya ayah saya dipindahkan ke Lubuksikaping (Sumbar). Akhirnya, masuklah saya ke SMPN 1 Lubuksikaping selama 2 tahun 2 bulan, dan diakhiri di SMPN 1 Banda Aceh selama 8 bulan. Ketika SMA, lagi-lagi saya masuk ke SMUN 1 Pekalongan, hingga akhirnya saya masuk ke sebuah PTN untuk kuliah.

Kalau melihat perjalanan sekolah saya, nampak bahwa orang tua saya, dan juga saya, sangat State Minded Oriented, hahaha...(mentang2 bokap PNS). Padahal, bisa jadi penyebabnya karena orang tua saya nggak punya cukup banyak uang untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah swasta. Toh, di zaman saya dulu, belum zamannya lah orang tua pake tinggi-tinggian gengsi melalui sekolah swasta. Lagipula, karena saya lebih banyak bersekolah di kota-kota kecil, jarang banget ada sekolah swasta yang bagus di kota-kota itu. Paling-paling sekolah swasta terkenal yang saya tahu ketika bersekolah di Jakarta zaman dulu cuma Budi Luhur atau Tarakanita. Itupun, kalau sekarang kayaknya bukan tergolong sekolah swasta mahal deh.

Tapi, jangan salah juga ya...sekolah-sekolah yang saya masuki itu, walaupun notabene sekolah negeri, tetap saja sekolah dengan kualitas terbaik di kota asalnya. Terhitung sejak SMP, sekolah yang saya masuki adalah sekolah favorit.

Ada cerita lucu nih pas saya mau masuk SMP di Lubuksikaping. Ketika itu, ayah saya dapat SK untuk penempatan di Lubuksikaping. Saya sih seneng-seneng aja ikut pindah. Cuma, saya sempet pesen sama ayah saya begini...

Saya : Py (singkatan dari Bappy – Bapaknya Upy), ntar aku di Lubuksikaping, sekolahnya di sekolah negeri yang paling jelek aja ya...
Bappy : Oooo...kamu pasti mau masuk ke sekolah jelek biar bisa ranking terus ya...?
Saya : Iya. Jadi, aku nggak perlu belajar tapi ranking 1 terus.
Kalo sekolahnya bagus, nanti temen-temenku pada pinter-pinter. Aku susah dong kalo mau ranking.
Bappy : Oke bos! Ntar kita pilih sekolah negeri paling jelek!
Saya : (Cengengesan. Seneng banget punya orang tua pengertian)

Pas nyampe di Lubuksikaping, dari Bandara Tabing (Padang) kita dijemput dan diantar sampai rumah. Di jalan, supirnya ngomong gini...

Supir : Pak, ini di sebelah kiri sekolah yang nanti dimasuki anak-anak.
Bappy : Oooo...Dek, ini nanti sekolahmu!
Saya : (melihat ke samping) Waaaahhh...sekolah paling jelek kok gedungnya bagus ya?
Oom, apa bener ini sekolah terjelek di sini?
Supir : Nggg.....
Bappy : (memotong si supir) Iya, ini sekolah yang pas buat kamu
Saya : Wah, ternyata di daerah kecil itu sekolahnya bagus-bagus ya? Sekolah terjeleknya aja gede banget gini. Gimana sekolah terbagus ya? SMP ku di Ciledug yang SMP favorit aja gedungnya jelek.
Bappy : (tidak berkomentar)

Pas istirahat hari pertama di SMPN 1 Lubuksikaping
Saya : (masih penasaran sama terlalu bagusnya gedung sekolah yang katanya sekolah terjelek di kota) Eh, ada berapa SMP sih di sini?
Teman : Ada berapa ya? SMP 1, SMP Muhamadiyah, SMP Alifiyah, trus ada SMP Air Bangis.
Saya : Sekolah yang paling bagus yang mana? SMP Air Bangis ya?
Teman : Ya enggak lah! SMP paling bagus ya SMP 1!
Saya : Ah, masak sih?
Teman : Iya, bener! SMP Air Bangis kan baru aja berdiri. Baru sebulan kali!
Saya : (diam seribu bahasa...langsung nyadar kalau sudah dibohongi sama Bappy)

Pas ketemu Bappy di rumah sorenya
Saya : Bappy! Katanya sekolahku itu sekolah terjelek! Boong! Kata temenku itu sekolah terbagus malah!

Bappy : Lho? Bener! Kamu kan mintanya sekolah negeri terjelek!Ya sekolahmu itu kan sekolah negeri satu-satunya di sini! Ya berarti sekolah negeri paling bagus, sekaligus paling jelek dong...
Saya : Iiiiiihhhh....! Kenapa aku nggak dimasukin ke SMP Air Bangis aja? atau SMP Muhamadiyah?
Bappy : Lho? Itu kan bukan sekolah negeri. Lagian, masak iya kamu minta sekolah di sekolah paling jelek Bapak turutin! Sekolah itu harus pilih yang paling bagus dong! Enak aja maunya nggak belajar dapet ranking. Mau jadi apa kamu?
Saya : (diam sambil bersungut-sungut)

Walhasil, gagallah keinginan saya untuk selalu bersekolah di sekolah terjelek. Semenjak masuk SMPN 1 Lubuksikaping, selanjutnya saya selalu dimasukkan ke sekolah-sekolah favorit di kota tersebut. Bahkan, lebih parah lagi, saya selalu dimasukkan ke lokal plus (kelas unggulan di sekolah tersebut). Lokal plus ini isinya anak-anak yang hobinya belajar. Yang kalo tiap kali guru mengajukan pertanyaan, mereka selalu berebutan mengacungkan tangan untuk menjawab. Akhirnya, pas cawu 1 di SMPN 1 Lubuksikaping, saya yang biasanya ranking 1 di SD harus tersungkur di urutan ke 12. Hehehe... Mang jagoan kandang doang nih! Barulah, pas cawu 2, saya terpaksa belajar, demi gengsi dan demi harga diri saya yang nggak mau kalah dari orang lain. Dan barulah saya bisa dapet ranking setelah itu.

Sungguh pelajaran berharga. Kelak, kalau anak saya meminta pada saya untuk disekolahkan ke sekolah paling jelek, saya sudah tahu jawaban apa yang akan saya berikan padanya, hahaha....


Senin, 24 Maret 2008

Sekolah Swasta, Antara Pilihan, Gengsi, dan Kualitas

Banyak kontradiksi seputar apakah seorang anak sebaiknya disekolahkan ke sekolah negeri, atau ke sekolah swasta seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang tua modern akhir-akhir ini. Sekolah swasta yang saya masuk di sini tuh sekolah-sekolah elit low ya! Yang bayaran SPPnya sebulan aja paling nggak udah nyampe nominal dengan nol berjumlah enam buah (baca: jutaan). Soalnya, ada juga kan, sekolah swasta, tapi bayarannya murah, dan kualitasnya masih di bawah sekolah-sekolah negeri.

Iya, jika memutuskan untuk pergi ke sekolah swasta dengan tipe seperti yang saya jelaskan di atas, sudah pasti biaya yang dikeluarkan bakal jauh lebih besar dibandingkan sekolah negeri. Tapi, kata kebanyakan orang sih, kualitasnya bakal sebanding sama harganya. Artinya, kualitas sekolah swasta juga akan lebih bagus dibandingkan kualitas yang didapatkan kalau bersekolah ke sekolah negeri. Belum lagi gengsi yang mengikutinya. Pasti dong, sekolah di sekolah swasta sekaligus menunjukkan kalau orang tua dari anak yang disekolahkan berada pada level middle-up. Makin prestisius sekolahnya, makin mahal bayarannya, makin tinggi gengsinya.

Udah bukan rahasia lagi kan, kalau di acara-acara arisan ibu-ibu, atau pertemuan keluarga, atau acara-acara lainnya, pertanyaan yang jamak dilontarkan kepada seseorang yang sudah memiliki anak usia sekolah adalah, “Sekolahnya kelas berapa? Sekolah di mana?”. Nah, jawaban dari orang yang ditanya, biasanya akan diikuti dengan intonasi dan volume suara yang sesuai dengan jawabannya. Misalnya, kalau jawabannya “Di SD 05 Pagi Bekasi”, biasanya sih kalimat ini akan disampaikan dengan suara lirih dan intonasi yang lemah. Tapi, lain halnya kalau jawabannya “Di Sekolah Bina Bangsa. Itu low, yang gedungnya kelihatan dari Tol Tomang”, pasti kalimat ini disampaikan dengan suara yang mantap dan bersemangat. Kalau perlu kali pake teriak, biar semua yang datang arisan pada denger.

Terlepas dari masalah gengsi yang mengikutinya, saya harus akui bahwa di tengah zaman globalisasi dan zaman persaingan yang luar biasa ketat seperti sekarang ini, pendidikan pasti memegang peranan penting terhadap tumbuh kembang anak. Apakah kelak seorang anak akan menjadi anak cemerlang yang mampu berkompetisi, sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang ia terima semasa ia sekolah. Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk memilih sekolah yang berkualitas bagus bagi putra-putrinya.

Nah, yang menjadi pertanyaan bagi saya, dan hingga kini belum bisa saya jawab...adalah apakah kelak anak saya akan saya masukkan ke sekolah negeri atau sekolah swasta? Saya pengen anak saya dapat pendidikan yang terbaik, tapi saya nggak mau anak saya tumbuh di lingkungan yang serba mewah, sehingga dia nggak mengenal orang yang serba kekurangan. Pasalnya, banyak teman saya yang mengeluhkan anaknya sekarang tumbuh jadi anak yang matre. Misalnya, gini nih…(inspired by true story).

Anak : Pah, Pah…Liburan besok kita jalan-jalan ke mana?
Papa : Kita jalan-jalan ke rumah nenek aja di Pekalongan
Anak : Haaaaa..?! Iiiiih Papa! Masak kita cuma ke rumah nenek?
Papa : Ya nggak kenapa-napa dong. Nanti kamu Papa ajak ke laut, terus kita bisa naik kapal, bisa mancing-mancing. Atau kamu Papa ajak ke kebun teh., ada sungainya loh. Dulu waktu kecil Papa sering mandi di sungai itu.
Anak : Iiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhh....nggak mau nggak mau!

Aku nggak mau ke Pekalongan! Aku mau ke luar negeri!
Masak si Dion temenku itu mau pergi ke Singapura. Trus si Andy bakal diajak Papanya main ski di Swiss. Belum lagi si Hana, dia mau ke Afrika, Pah!
Papa : (speechless)

Trus, ada lagi situasi lain...(still inspired by true story).
Anak : Pah, aku nggak mau ah dijemput pake mobil kita. Mobil kita nggak keren!
Papa : Lho? Memangnya kenapa dengan mobil kita? Mobil kita kan masih bagus, masih baru juga.*
Anak : Tapi mobil kita nggak keren, Pah! Aku maunya pake mobil yang kayak dipake sama si Bobby itu loh...**
Papa : (speechless lagi)
(Keterangan; * = Ford Everest, ** = BMW)

Tapi, mungkin juga ada orang tua yang nggak keberatan dengan kematrean yang dimiliki si anak. Contohnya gini nih...
Anak : Mah, nanti siang aku mau dijemput, mobilnya aku yang pilih ya Mah…?
Mama : Boleh, kamu nanti siang mau dijemput pake mobil apa Nak?
Pake Jaguar mama, pake Lexus Papa, pake BMW, pake Mercy, atau mau pake Ford aja?
Anak : Kemarin aku udah pake BMW, jadi nanti aku mau dijemput pake Jaguar aja deh…
Mama : Oke Sayang!

Nah, saya nggak mau anak saya kelak tumbuh jadi anak yang seperti itu. Saya mau dia mengerti bahwa hidup sederhana itu jauh lebih baik. Bahwa banyak orang yang bahkan nggak bisa sekolah. Banyak orang yang susah makan. Banyak anak seusia dia yang harus mengemis agar bisa makan. Banyak yang harus mengamen agar bisa sekolah. Bahwa mencari uang itu tidak mudah, dan bahwa dia harus selalu mensyukuri apa yang ia miliki serta harus gemar memberi kepada orang yang kekurangan.

Kata beberapa orang, untuk menumbuhkan sifat kedermawanan dan membuang jauh-jauh sifat matre, sebenarnya tidak dipengaruhi oleh di mana si anak bersekolah. Artinya, bisa jadi anaknya sekolah di sekolah negeri, tapi tetep aja dia tumbuh jadi anak yang matre, yang selalu menuntut dari ortunya, dan yang nggak peka sama keadaan sekitar. Katanya sih, penentu dari tumbuh kembangnya anak adalah didikan orang tua. Maksudnya, kalaupun si anak sekolah di sekolah elit, tapi orang tuanya selalu mengajarkan dia untuk tetap rendah hati, dan gemar memberi kepada orang lain, maka bisa jadi si anak akan tumbuh menjadi orang dengan kualitas kepribadian yang luar biasa. Nah, pertanyaannya adalah, apakah orang tua dari si anak bisa menjadi panutan dan pendidik bagi si anak untuk hidup sederhana dan selalu bersyukur? Tentu itu tergantung dari masing-masing orang tua.

Trus kata orang juga, sekolah negeri zaman sekarang banyak juga kok yang kualitasnya udah bagus. Ada bahasa Inggrisnya dan masih ditambah sama satu bahasa asing lainnya. Belum lagi banyak sekolah-sekolah negeri yang dijadikan sekolah percontohan (sekolah plus), dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris. Jadi, kata sebagian orang ini, nggak perlu kuatir untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri.

Menjawab pertanyaan apakah seorang anak sebaiknya bersekolah di sekolah negeri atau sekolah swasta, penentu jawabannya adalah si orang tua. Yang pasti, pilihlah sekolah berdasarkan kualitasnya, bukan berdasarkan gengsi yang mengikuti sekolah itu. Saya sendiri masih belum bisa menentukan apakah akan meilih sekolah negeri atau sekolah swasta untuk anak saya kelak. Tokh urusan ini sama sekali belum mendesak bagi saya yang bahkan belum tahu siapa orang yang akan saya nikahi.

Kisah Inspiratif

Kali ini saya mau bercerita tentang orang-orang di sekeliling saya yang sangat luar biasa. Ada beberpa orang yang bagi saya, perjalanan hidupnya sangat menginspirasi karena keluarbiasaannya. Luar biasa karena perjalanan hidup mereka penuh lika-liku dan penuh tantangan, tapi mereka mampu mengatasi itu semua. Sebagian saya kenal ketika mereka telah mencapai kesuksesan, dan sebagian saya kenal ketika mereka masih berjuang untuk sukses.

Sebut saja Anu, seorang teman yang saya kenal ketika ia telah menyelesaikan pendidikan S2 nya dan bekerja di tempat yang sama dengan saya. Siapa sangka bahwa teman saya ini, berasal dari keluarga super besar dengan jumlah saudara hingga 12 orang. Semenjak ia SMP, orang tuanya sudah memberitahu dirinya dan saudara-saudaranya yang lain bahwa takkan ada biaya untuk melanjutkan kuliah. Dengan menyampaikan hal ini, sama sekali bukan berarti orang tua teman saya hendak memupuskan harapan anak-anaknya. Ini mereka lakukan agar anak-anak mereka dapat mengambil ancang-ancang untuk mencari penghasilan dan membiayai kuliahnya sendiri.

Dan itulah yang dilakukan oleh teman saya. Ia bekerja part time sambil kuliah di sebuah universitas ternama. Sekalipun demikian, karena keterbatasan dana teman saya hanya mampu mengambil kuliah hingga D3. Selepas kuliah, ia memutuskan untuk bekerja daripada kuliah ke jenjang S1. Untunglah, teman saya ini dikaruniai otak yang cukup encer. Tak tanggung-tanggung, dengan berbekal selembar ijazah diploma yang dimilikinya, ia memilih pekerjaan yang sanggup memberikan penghasilan yang besar.

Akhirnya, demi pekerjaan bergaji gede ini, teman saya memutuskan untuk hijrah ke negeri nun jauh selama 3 tahun. Gaji yang ia dapatkan pun sebagian harus ia kirimkan untuk biaya hidup orang tua dan saudara-saudaranya. Pun, masih ada yang sanggup ia tabung untuk dirinya. Akhirnya, sekembalinya ke Indonesia, dengan memanfaatkan uang tabungan yang ia miliki, teman saya ini melanjutkan kuliah ke jenjang S1 dan dilanjutkan ke jenjang S2.

Kini, teman saya itu bekerja di sebuah perusahaan swasta, di samping mencari penghasilan tambahan dengan menjadi dosen tidak tetap maupun mengisi training-training di berbagai tempat. Penghasilannya sekarang? Jangan ditanya...! Tapi, lebih dari itu semua, hal yang paling saya kagumi dari teman saya ini adalah semangatnya untuk selalu hidup hemat. Kendati sudah sukses dan punya penghasilan melimpah, teman saya ini tak pernah ragu untuk tampil sederhana.

Teman saya selanjutnya, sebut saja Eng. Sudah saya kenal semenjak kami bersama-sama duduk di bangku kuliah. Ia berasal dari broken home family. Ayah dan ibunya bercerai, dan masing-masing kemudian menikah lagi. Karena kondisi inilah, Eng harus bisa hidup mandiri. Ayahnya lebih banyak mengurusi anak-anak dari pernikahan barunya, sementara Ibunya tak kuasa untuk merubah pendirian suami barunya yang lebih memprioritaskan anak-anak kandungnya ketimbang anak tirinya.

Semenjak SD hingga SMA, ia selalu mengandalkan beasiswa dari para orang tua murid. Teman saya ini memang luar biasa cerdas. Ketika kuliah, di samping mendapatkan beasiswa dari persatuan orang tua mahasiswa (ditujukan bagi mahasiswa yang tidak mampu), ia juga mendapatkan beasiswa prestasi dari sebuah perusahaan besar. Dengan modal uang beasiswa tersebut, ia membayar kos yang ia tinggali, biaya makan, hingga biaya-biaya lainnya.

Kini, teman saya ini sudah bekerja di perusahaan besar. Jabatannya pun nggak tanggung-tanggung. Untuk usia semuda itu, karir yang ia miliki terbilang sangat sukses. Ia pun menjadi tulang punggung keluarganya, memberi nafkah bulanan bagi ibunya, dan membiayai kuliah dan sekolah adik-adiknya. Harapannya hanyalah bahwa adik-adiknya tak perlu merasakan kesusahan yang ia alami. Ia bahkan rela untuk menunda menikah hanya agar ibu dan adik-adiknya tidak akan kehilangan penghasilan yang selama ini ia berikan. Sungguh mulia bukan?

Mungkin bagi sebagian orang, cerita ini hanya cerita biasa. Tapi bagi saya, cerita tentang mereka ini luar biasa. Terutama karena saya, hingga sekarang merasa belum menjadi siapa-siapa dan belum mampu memberikan apa-apa bagi orang tua saya tercinta.

Selasa, 18 Maret 2008

He's Just NOT That Into You

Dari dulu sebenernya pengen banget cerita tentang hal ini. Seru aja kayaknya. Apalagi sih kalau bukan tentang masalah cinta. Uhuy! Paling demen dah kalo ngomong soal beginian. Kalian juga suka kan? Hayo ngaku! Kata temen2 gw, walaupun mereka nggak pernah "berani" ngasih komen, tapi posting2 gw tentang asmara adalah favorit mereka. Jadi, mengikuti selera pasar, gw mau nambahin satu lagi posting tentang cintaaaaaa...

Pemahaman saya tentang hal ini, sebenarnya sudah saya dapatkan cukup lama. Ada kali empat tahun yang lalu. Waktu itu, saya lagi liat acara Oprah Winfrey Show. Kalo di Metro TV diputer tiap jam 10 pagi. Waktu itu, judul acaranya apa saya lupa. Tapi intinya membahas tentang tabiat-tabiat cowok terkait ke-buaya-an mereka dan gimana caranya seorang cewek mengetahui keseriusan seorang cowok terhadap mereka.

Tema kali itu, diinspirasi oleh terbitnya sebuah buku yang judulnya "He's just not that into you". Intinya gini nih...
It is sad but true, we women do tend to sometimes overcompensate when it comes to relationships, at times making excuses for men who really aren't worth our time and effort.
Kalimat ini bener banget nih. Contohnya saya. Karena udah cinta mati ama seseorang, saya cenderung mencari-cari pembelaan atas sikap dia yang menyebalkan, yang nggak pedulian, pokoknya yang nggak banget. Padahal, sebenarnya cowok itu sama sekali nggak pantas untuk saya bela.

For ages women have come together to analyze the puzzling behavior of men. Nah, saya akan sedikit kasih bocoran nih biar para cewek nggak pusing-pusing amat dengan sikap cowok. Yang jelas, ini sih berdasarkan buku ini yaaa...(bukan berdasarkan pengalaman pribadi low ya...catet!).

Misalnya, kalau seorang cowok, selama ini di telepon dia selalu mengatakan kepada si cewek bahwa cewek itu adalah wanita yang luar biasa, yang dia impikan, dan dia inginkan untuk mengisi hidupnya. Sound's wonderful, right? Cewek dan cowok itu kemudian beberapa kali nge-date. Sayangnya, setiap kali si cewek mengajak si cowok untuk datang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya, si cowok selalu punya seribu satu alasan untuk menolak. Ia nggak pernah mau diajak untuk bertemu dengan keluarga si cewek. We'll (women) probably gonna think that maybe this is too fast for him. Padahal, sebenarnya jawaban yang benar adalah he's just not that into you. Seseorang yang berpikir untuk serius dan benar-benar mencintai Anda, malah akan sangat bersemangat dan tak sabar untuk mengenal Anda lebih jauh melalui keluarga Anda.

Atau pernah ada kasus seorang cewek yang udah berulang kali ngedate bareng seorang cowok. Tapi, ketika mereka akhirnya secara tak sengaja bertemu dengan teman-teman si cowok, si cowok terkesan menjaga jarak dan tak bersikap semesra biasanya. We'll (women) probably gonna think that he's not ready enough to publish this relationship to his friends. Padahal, sebenarnya jawaban yang benar adalah he's just not that into you. Seseorang yang mencintai Anda tak akan pernah menunda untuk memperkenalkan Anda dan mempublikasikan hubungan dengan Anda ke teman-temannya atau bahkan ke seluruh penjuru dunia. Ia justru akan sangat bangga bisa mendapatkan Anda. Jadi, kenapa dia harus menyembunyikan hubungannya dengan Anda?

Misalnya lagi nih, ada seorang cowok yang hanya datang pada momen-momen tertentu saja kepada si cewek. Misalnya, dia cukup aktif bertelepon ria dengan si cewek setiap weekend. Tapi, tiap hari kerja dia tak pernah menelepon si cewek. Bahkan, kalau si cewek menelepon si cowok pada saat hari kerja (misalnya pas jam makan siang, atau pas malam hari), teleponnya nggak pernah diangkat. Baru pas weekend kemudian, si cowok menelepon kembali si cewek dan mengatakan "Maaf, aku sibuk banget". We'll probably gonna think it's true that he's busy. But the truth is, he's just not that into you. Seorang cowok yang mencintai seorang cewek, nggak akan tahan untuk tidak mendengar kabar tentang Anda barang seharipun, dan sama sekali tidak akan menunda untuk membalas sms atau bahkan telepon dari Anda. Ia pasti akan langsung menelepon balik Anda untuk menanyakan ada apa.

Atau, kalo ada seorang cowok yang sudah berpacaran sangat lama dengan seorang cewek. Si cewek udah ngebet banget pengen nikah. Si cowok pun udah tahu dengan keinginan si cewek. Tapi, tiap kali si cewek berusaha menyindir si cowok, si cowok pasti akan pura-pura nggak nyadar, atau mengeluarkan sejuta alasan bahwa mereka belum siap secara materi dan sebagainya. We'll probably gonna think that he's afraid of marriage. He's not ready for it. Padahal, sebenarnya....(tau sendiri kan?). Seorang cowok nggak akan membiarkan seorang cewek yang dicintainya menunggu begitu lama. Mencintai seseorang berarti bersedia berkorban demi memenuhi keinginannya. Ia tak akan tahan untuk tidak menghabiskan hidupnya bersama dengan si wanita.

Atau, nah ini seru nih...Kalau ada seorang wanita super (super cantik, super pinter, super sukses dalam karir, dan sebagainya) menjalin hubungan dengan seorang cowok yang levelnya lebih rendah darinya. Si cewek sih sebenarnya nggak merasa memiliki masalah dengan hal itu. Dari si cowok pun nggak pernah melontarkan komplain apapun. Tapi, hubungan mereka kayaknya mentok sebatas hubungan pertemanan nggak jelas. Dibilang pacaran enggak, tapi kok ya dibilang temenan biasa juga enggak. We'll probably gonna think that maybe he's intimidated by me. Padahal, jangan salah, he's just not that into you. Seorang cowok, walau segimana merasa inferiornya di dekat si cewek, tetap nggak akan mau menggantung seorang cewek dan nggak akan mau menunda kesempatan untuk berhubungan ke tahap yang lebih serius dengan si cewek.

Selain itu, masih banyak lo excuse2 yang dimiliki seorang cewek terhadap tabiat seorang cowok yang nggak jelas. Misalnya, "He's afraid to get hurt again", "Maybe he doesn't want to ruin the friendship", "He just got out of a relationship", "Did I move too fast?", "He needs more space", atau "He needs time". Kalau kalian masih sering berpikir seperti ini, well you're wasting your time. Men are not complicated, although they'd like you to think they are. And there are no mixed messages.

Terakhir, mengutip kalimat yang ditulis seorang teman saya di blognya (klik blogroll yang tulisannya boeddy)...
Ibarat nya gw itu sekarang lagi pesan makanan utama ya, tapi makanan utama gw ga datang-datang, akhirnya gw ditawarin makanan pembuka yang banyak macamnya. Karena gw lapar, ya terpaksa makanan-makanan itu gw makan. Sayangnya, mereka cuma gw cicipin doang, ga ada yang gw abisin. Karena ya itu, gw nungguin makanan utama gw datang…yang entah kapan datangnya…

So... just get over a man who can't never get a clear move. Komunikasikan apa yang Anda inginkan. Jika mereka tak berubah, tinggalkan. You just knew that he's just not that into you. Jangan mau jadi makanan pembuka buat cowok! Dan pesan ini, berlaku untuk seluruh wanita - termasuk saya tentunya, hahaha....

Curhat nggak jelas

Saya sedang gundah
Saya duduk di depan laptop, tapi pikiran saya melayang jauh dari pekerjaan
Untung boss sedang pergi
Nggak perlu bersandiwara untuk pura-pura produktif

Saya sedang bosan
Saya jenuh dengan rutinitas yang saya jalani
Untung tinggal satu hari lagi
Kamis bisa males-malesan sambil nyari suasana baru

Saya sedang males
Saya saat ini tidak suka dengan semua di sekitar saya
Untung di rumah ada keponakan tercinta
Semua kebetean lenyap kalau di dekatnya

Saya sedang bete
Saya pengen bisa cerita sama seseorang
Sayang saya tidak beruntung kali ini
Tak apa, tokh saya sudah biasa sendiri

45 menit menjelang jam pulang. Horreee!

Senin, 17 Maret 2008

Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar

Sadarkah Anda bahwa selama ini kita banyak mempergunakan kata-kata yang tidak tepat dalam berbahasa Indonesia sehari-hari? Kesalahan ini, bukan hanya dilakukan oleh kaum non-intelektual. Maaf atas penggunaan bahasa saya yang terlalu gamblang. Mungkin akan lebih baik untuk menyebutnya ‘kaum yang tidak perlu menggunakan kaidah bahasa yang baik dan benar’, misalnya anak-anak kecil, orang-orang dewasa yang pekerjaannya di sektor informal, orang-orang dewasa yang tidak mengenyam pendidikan yang cukup, dan sebagainya.

Saya akui, memang berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sangat sulit dilakukan. Padahal, dengan profesi saya sebagai seorang trainer, saya seharusnya mampu dengan sempurna menggunakan bahasa ini. Bahkan, saya rasa banyak juga orang-orang lain yang mengenyam pendidikan jauh lebih tinggi dari saya, dan bekerja di sektor yang jauh lebih menuntut formalitas dari saya, merasa kesulitan untuk berbahasa Indonesia dengan sempurna.

Karena itulah, sering kita temukan banyak kaum intelektual yang kemudian menggunakan dua bahasa dalam percakapan sehari-hari mereka. Bahasa Indonesia, dicampur dengan bahasa Inggris. Saya pun, walaupun tak berani menyebut diri saya sebagai bagian dari kaum intelektual, seringkali menggunakan gaya bahasa campur seperti ini. Padahal, sebenarnya, kalau mau berusaha lebih keras, sebenarnya saya bisa kok mencari padanan kata dari bahasa Inggris yang saya pakai. Misalnya, saya sering sekali menggunakan kata ‘return’, nah…daripada menggunakan kata ini dan harus meng-italic-kan penulisannya, saya seharusnya memilih menggunakan kata ‘imbal hasil’. Atau, seharusnya saya menggunakan kata ‘kinerja’ alih-alih ‘performance’. Dan, masih banyak lagi kata-kata lainnya.

Namun, ada juga kata-kata dalam bahasa Indonesia yang seringkali salah tempat. Misalnya, kalau saya sedang memberikan training, daftar hadir untuk para peserta selalu diistilahkan sebagai ‘absensi’. Padahal, tujuan dari daftar hadir adalah untuk mengecek kehadiran dari peserta, bukan kealpaan atau ketidakhadiran dari peserta. Karena itulah, kata yang tepat untuk digunakan adalah ‘presensi’.

Kesalahan-kesalahan seperti ini, menurut saya sangat wajar terjadi. Kenapa? Karena kita menggunakan bahasa yang sering kita dengar. Kalau banyak orang menggunakan kata tertentu, maka kita akan menyerap kata itu dan mempergunakannya dalam kosa kata kita sehari-hari. Padahal, belum tentu kata yang kerap dipergunakan tersebut adalah kata yang benar.

Untunglah ada orang seperti Bapak J. S. Badudu. Pengamat, pengkritisi, sekaligus praktisi bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya sungguh merasa heran dengan adanya makhluk hidup seperti beliau. Bagaimana mungkin di tengah-tengah lautan manusia yang menggunakan bahasa Indonesia dengan berantakan, ada seseorang yang tak terpengaruh dan ikut-ikutan menggunakan bahasa yang berantakan tersebut. Dia justru dapat menjadikan dirinya sebgai panutan bagi penggunaan bahasa Indonesia yang benar. Sayangnya, saya belum pernah sekalipun mendengar beliau berbicara secara langsung. Saya hanya beberapa kali menemukan kolomnya di majalah atau artikel di koran yang isinya selalu memberikan ’pencerahan’ atas bahasa Indonesia. Saya harap sih kalau mendengar beliau berbicara secara langsung, bahasa yang ia pergunakan juga adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kan nggak lucu kalau ia mengeluarkan kritik-kritik atas penggunaan bahasa Indonesia, padahal sendirinya tetap saja menggunakan bahasa yang ’berantakan’.

Saya sendiri sangat ingin mampu berbahasa Indonesia dengan sempurna. Tokh saya orang Indonesia. Bukan masalah karena pekerjaan saya menuntut saya untuk berbahasa Indonesia dengan sempurna. Bukan juga karena jenjang pendidikan yang telah saya jalani menjadikan saya sebagai orang yang harus berbahasa dengan baik. Lebih karena saya adalah bagian dari penerus bangsa. Bagian dari pemuda dan pemudi Indonesia yang - dulunya - pernah berikrar untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan. Bahasa Indonesia.

Minggu, 16 Maret 2008

Maju Sidang

Sabtu, 15 Maret 2008

"Hah? Deadline daftar ujian sidang tanggal 17?"

Lemaslah saya demi mendengar kepastian tanggal pendaftaran sidang melalui telepon yang disampaikan oleh seorang staf akademik di kampus saya.

Tesis sudah selesai berbulan-bulan yang lalu. Tapi entah mengapa, dosen pembimbing saya lebih suka bersantai-santai ria dan tak kunjung memberikan persetujuan untuk saya maju ke ruang sidang.

Saya pun pasrah. Harapan untuk bisa wisuda bulan April kandas sudah. Satu target ternyata harus berantakan di tengah jalan, walaupun saya merasa itu bukan kesalahan saya, karena saya sudah berusaha maksimal. Tokh masih akan ada wisuda bulan Juni, demikian saya membesarkan hati.

Minggu, 16 April 2008

"Palupi, anda mau maju ujian kapan targetnya? Senin sudah bisa saya acc. Saya berikan ke MM Yogya".

Demikian sms yang tiba-tiba datang bak petir di siang hari bolong yang cerah tanpa hujan dan tanpa mendung. Dosen pembimbing saya, tiba-tiba bertanya target saya, satu hari sebelum tanggal penutupan pendaftaran ujian sidang.


Senin, 17 April 2008

Saya sekarang di kampus, berusaha mengejar penutupan pendaftaran untuk maju ujian sidang. Hari ini saya bela-belain untuk mengambil cuti dari kantor. Kayaknya sih sepadan. Untuk urusan sidang, yang ngedapetin persetujuan untuk menempuhnya aja butuh waktu berbulan-bulan, cuti satu hari sih nggak masalah. Saya nggak mau ambil resiko untuk mendaftar malam-malam sepulang bekerja. Setelah semua yang saya lalui, jangan sampai saya gagal maju sidang hanya karena urusan ketebelece nggak penting.

Ternyata, Allah sangat sayang pada saya. Satu target yang saya pikir harus kandas, ternyata dikabulkan oleh-Nya. Hmmm...masih ada satu target saya yang lain.
Entahlah...mungkinkah Ia akan mengabulkannya sesuai apa yang saya minta? Ah, saya tak berani berharap banyak untuk permintaan yang satu ini.

Kamis, 13 Maret 2008

“Dia hanya sekedar ibu rumah tangga biasa saja”

Paling sebel kalo denger kalimat sejenis ini. Pertama, karena itu adalah bentuk pemborosan dan ketidakefisienan penggunaan kata. Lihat aja, udah pake kata ’hanya’, pake lagi ’sekedar’, eh masih juga ditambahin kata ’saja’. Itu kan pemborosan tho?

Kedua, karena kalimat itu di telinga saya, terkesan (dan mungkin memang sengaja bermaksud) meremehkan profesi ibu rumah tangga. Padahal, di mata saya, profesi ibu rumah tangga itu profesi termulia sepanjang sejarah peradaban manusia. Belum lagi, menurut saya, ini juga adalah profesi yang nggak mungkin sukses dilakukan oleh semua orang. Soalnya, profesi ini menuntut kesabaran yang luar biasa, kegigihan dan daya juang yang sangat tinggi, dan pengorbanan yang harus dilakukan dengan segenap jiwa.

Saya pernah ngerasain jadi ibu rumah tangga gadungan. Saya sebut gadungan karena pada prinsipnya saya nggak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga apapun kecuali mengasuh ponakan saya yang usianya saat itu belum genap 1 tahun. Padahal saya cuma ditinggal selama 3 jam. Bayangkan..hanya selama 3 jam! Trus juga, semua perlengkapan untuk baby-sitting telah tersedia, misalnya makanan dan perlengkapan lainnya. Tapi capeknya....Naudzubillah! Ngalahin saya kalo kerja kantoran selama seminggu penuh!

Pas waktunya ngasih makan, saya harus kejar-kejaran sama ponakan saya yang merangkak ke sana ke mari. Pas mau disuapin, ponakan saya pake acara ngatupin mulutnya rapet-rapet sambil membuang mukanya. Trus, pas akhirnya saya berhasil menyuapkan makan dengan ngasih pancingan ”E e...ada pesawat”, nggak lama dia muntah. Saya harus melap bekas muntahannya lagi.
Trus, habis selesai ngasih makan, waktunya keponakan saya untuk main-main. Di sini saya harus ekstra hati-hati ngejagainnya. Soalnya, umur segitu kan dia sangat antusias kalo ngeliat benda-benda asing. Maunya semua dimasukin mulut, soalnya semua dikira makanan. Belum lagi hobinya manjat. Setinggi apapun, asal ada pijakannya, pasti berusaha dia naikin. Nggak bisa mikir apa kalo jatuh bisa bikin gegar otak?
Trus, nggak lama kemudian, keponakan saya pup. Walaupun pakai popok, tetep dong popoknya harus diganti dan tu bayi kudu dicebokin. Padahal masih untung tuh saya nggak perlu nyuci celana bekas ee’nya, soalnya udah pake popok. Kalo zaman dulu, pas popok belum diciptakan, yang namanya ibu rumah tangga kan kudu nyebokin dan langsung nyuci celananya anaknya tho...? Udah bau, jorok, e..bayinya nggak mau diem. Di kamar mandi pas dicebokin, dia maunya naik ke atas ember. Pokoknya nggak mau diem barang semenit pun.
Aduh...capeknya! Ketika akhirnya orang rumah lain pulang, rasanya legaaaa banget. Puji syukur saya panjatkan berulang-ulang karena ’penderitaan’ saya akan segera berakhir.

Nah kan, nggak gampang tho untuk jadi ibu rumah tangga. Melelahkan. Itu baru ngurus anak. Belum lagi tugas lain yang menyertainya. Memastikan rumah selalu bersih, memastikan makanan tersedia untuk anggota keluarga lainnya, menjaga hubungan baik dengan tetangga sekitar rumah, memastikan rekening listrik, telepon, air, dan sebagainya terbayar tepat waktu, dan baaaaaanyak lainnya. Capek kan? Belum lagi kalo anaknya nggak cuma satu. Ada yang kudu diantar dan dijemput dari sekolahnya, trus kudu mbantu mengerjakan PR, dan mbantuin belajar. Ckckck...banyak banget kan.

Makanya, menurut saya ketika seseorang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, berarti orang itu harus sudah siap untuk menjalani profesi terberat di dunia. Dan rasa-rasanya, sangat tidak pantas untuk menyebut profesi ini dengan kata-kata ’sekedar’ ataupun ’hanya’.

Saya, juga pernah nonton acara Oprah Winfrey Show yang mengisahkan seorang ibu yang melahirkan 6 anak kembar. Dan... ia mengasuh ke-6 anaknya itu SENDIRI! Gila! SENDIRI loh...Luar biasa kan? Dia juga menyusui ke-6 bayinya itu dengan ASI eksklusif sampai usia 6 bulan! Tiap hari, hingga 6 bulan, dia harus memompa susunya hingga terkumpul 70 botol! Itu benar-benar keajaiban dunia kalau menurut saya. Belum lagi, dia sama sekali nggak dibantu oleh baby-sitter karena nggak ada biaya. Satu-satunya yang menolong dia hanyalah sang suami, yang notabene kudu dan wajib bertanggung jawab karena ikut berkontribusi terhadap lahirnya 6 bayi itu secara bersamaan ke dunia.

So, bagi semua yang menjalani profesi ibu rumah tangga, banggalah dengan pilihan yang telah Anda buat. Jangan pernah menyebut apa yang Anda jalani dengan kata ’hanya’. Hindari kalimat ”Saya cuma ibu rumah tangga”. Anda telah melakukan pekerjaan yang mulia dan luar biasa, dan Anda harus bangga dengan apa yang Anda jalani.

Rabu, 05 Maret 2008

Sohib-Qu...

Saya punya seorang sohib lawan jenis. Secara obyektif, saya akan bilang kalau dia layak masuk dalam kategori cowok yang sering dinyanyiin Andra and The Backbone, dan ditiru sama Gita Gutawa. SEMPURNA. Gimana enggak, dia baik hati abis, pinter, sayang banget sama keluarganya dan ponakan-ponakannya (ini ciri-ciri nantinya dia akan sayang banget sama istri n anak-anaknya), udah nyelesein S2, rajin nabung, rajin ibadah, dan suka ngingetin saya untuk sholat malem. Belum lagi, dia jago masak, rendah hati, humoris, dan selalu bikin orang yang di deketnya gembira. Sounds perfect, right?

Well, almost!
Secara obyektif, saya juga harus bilang kalau lagunya Andra and The Backbone tuh majas hiperbola banget. Ya iyalah! Mana ada orang sempurna di dunia ini? Seperti kata seorang guru SMA saya, “Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan”, demikian juga yang berlaku sama sohib saya ini. Doi…hmmm…agak-agak kurang tinggi, atau bahasa lugasnya, doi pendek.

But frankly speaking, I’ll score him 90 (from 100). Tinggi badan, bukan masalah berat berdasarkan kacamata saya. Dan ternyata, keluarga saya pun memiliki penilaian yang sama terhadap sohib saya ini. Mulailah mereka mempertanyakan, kenapa saya dan sohib saya ini nggak bisa berteman lebih dekat (baca: pacaran).

Aksi ekstrim muncul dari kakak saya yang tertua. Dia malah sudah menyarankan supaya sohib saya ini langsung dilamar saja. Tokh kami berdua sudah saling mengenal cukup lama. Kakak ipar saya punya pemikiran yang berbeda, ia meminta saya untuk menyusun strategi demi menggaet sohib saya ini. ”Kamu pura-pura aja nggak bisa ngolah data untuk tesis kamu, trus minta tolong dia ngerjain”. Seperti yang saya bilang, sohib saya ini luar biasa baik hati, tak segan menolong, dan juga pintar. Ia pasti akan dengan senang hati mengerjakan tesis untuk saya. Tapi, saya bukan orang yang suka bersandiwara. Menurut saya, kalau saya memang benar-benar suka sama sahabat saya itu, saya akan mengatakan kepadanya perasaan saya dengan lugas. Bagi saya, itu lebih baik daripada mengarang-ngarang alasan supaya bisa lebih sering berdekatan dengannya.

Jadi, alih-alih menuruti nasihat kakak ipar saya dan mengikuti strategi yang ia berikan, saya malah menceritakan dukungan yang diberikan oleh semua anggota keluarga saya untuk berhubungan lebih dalam dengan sohib saya itu.

Dan ia pun tertawa terbahak-bahak. Bener-bener ketawa nggak brenti-brenti. Padahal, sebelum cerita, saya udah bilang ke sohib saya itu ”Lo nggak boleh ketawa dan nggak boleh ge-er ya kalo gw cerita ini. Janji!“. Dan teman saya itu mengiyakan ”Iya, gw janji!“.

Tapi nyatanya, belum sampai cerita saya selesai, sohib saya itu sudah tertawa ngakak. Tertawa, dan terus tertawa. Kata dia, ”Sori Pik, gw nggak bisa nggak ge-er denger cerita lo“, dan tawanya pun berlanjut ”Huahhahhahaha...“.

Sialan!

Untuk sohib saya tersayang, Happy Birthday yak!
Jangan ge-er lagi baca posting ini! Dasar narsis!

Selasa, 04 Maret 2008

Careful to what you wish for

Pernah mendengar kalimat “Careful to what you wish for”?
Jika teman-teman menonton film Home Alone 1, kalo nggak salah sih ada kalimat ini pas adegan si Kevin (McCaulay Culkin) berharap supaya seluruh keluarganya hilang. Trus, ibunya si Kevin bilang “Kevin! Careful to what you wish for!”. Di film itu, hal yang terjadi selanjutnya adalah si Kevin tertinggal sendirian di dalam rumah sementara seluruh keluarganya pergi berlibur ke luar negeri saat Natal.

Well, teman-teman bisa bilang “Itu kan cuma di film”. Saya juga berpikir begitu dulu, hingga akhir-akhir ini saya disadarkan bahwa banyak hal yang sangat amat tidak saya inginkan justru terjadi pada hidup saya.

Misalnya, dulu banget, waktu saya masih kuliah, saya selalu bertekad untuk tidak akan bekerja di Jakarta. Saya nggak suka Jakarta. Kota ini terlalu sibuk, terlalu bising, terlalu semrawut, dan terlalu melelahkan bagi saya. Bahkan, semasa saya kuliah di Bogor dan orang tua saya bertempat tinggal di Jakarta, saya jarang sekali pulang ke Jakarta. Saya tidak pernah merasa nyaman hidup di Jakarta.

Tapi, lihatlah saya kini. Bagian dari sekian juta penduduk Jakarta yang mencari nafkah setiap hari di kota ini. Setiap hari pergi dan pulang naik bis, serta harus pasrah dengan kemacetan yang selalu ada di mana-mana. Saya tetap nggak suka Jakarta sebenarnya, tapi saya sudah mulai terbiasa dengan ritme Jakarta, dan mungkin saya malah menjadi penganut hedonisme yang kental ditawarkan kota ini.

Dulu, saya juga ingat kalau saya pernah mengatakan pada ibu saya bahwa saya nggak akan mau menikah dengan cowok yang tingginya lebih pendek atau sama dengan saya. Bukannya kenapa-kenapa. Ibu saya, tergolong wanita dengan tinggi badan menjulang untuk ukuran wanita zaman dulu. Bahkan waktu kecilnya, ibu sering dipanggil Gulliver. Itu lo, manusia yang nyasar ke negeri liliput. Salah satu cerita karya Jonathan Swift.

Nah, ibu saya itu menikah dengan ayah saya, yang untuk ukuran pria zaman dulu tergolong di bawah rata-rata (sorry Dad!). Well, tinggi mereka berdua sih tidak berselisih jauh sebenarnya. Ibu 164 cm, dan ayah 161 cm. Tapi, kalo udah harus jalan berdua, misalnya ke acara nikahan orang, ibu kan pasti pake selop dong, yang notabene selalu ber-hak. Yang ada jadilah ibu terlihat jauh lebih tinggi dari ayah. Sepertinya sih mereka berdua nggak punya masalah dengan hal ini. Mereka berdua cuek-cuek aja dan nggak peduli. Misalnya, ayah nggak pernah tuh meminta ibu pergi dengan sepatu teplek aja karena kuatir mereka berdua njomplang tingginya. Tapi saya, anaknya, merasa bahwa hal seperti ini sebenarnya bisa dihindari. So, saya mengatakan pada ibu saya bahwa saya nggak akan mau menikah dengan cowok yang pendek ketika saya masih kecil dulu.

Sekarang, usia saya hampir 25 tahun. Saya memang belum menikah, tapi entah bagaimana, pria yang berada di sekitar saya (baca: have a special attraction to me) seluruhnya tidak bisa dikatakan tinggi. Well, nggak semuanya sih lebih pendek dari saya. Ada beberapa yang memang lebih pendek, ada beberapa yang tingginya sama dengan saya, dan ada beberapa yang sedikit lebih tinggi dari saya. Tapi tokh, beberapa yang lebih tinggi sedikit dari saya ini selisih tingginya sangat amat tidak signifikan dengan tinggi saya. So, saya masih mengkategorikan cowok-cowok itu pendek. Soalnya, kakak-kakak saya, yang semuanya berjenis kelamin pria, termasuk dalam kategori tinggi. Jadi, wajar dong kalau saya pengen calon suami saya juga tinggi.

Namun apa daya, nyari cowok yang memang benar-benar pas dan bisa kita cintai dengan sepenuh hati aja susah, apalagi ditambah-tambahin syarat memiliki tinggi badan minimal sekian. Akhirnya saya pun pasrah dengan keadaan ini, bahkan sekarang pun saya sama sekali tidak memasukkan syarat tinggi badan dalam cowok ideal saya.

Kalau memikirkan tentang kebetulan-kebetulan ini, saya kok jadi ingat dengan ”Law of Attraction” dari The Secret. Di buku itu, penulisnya mengatakan kalau kita harus memikirkan hal-hal baik yang kita inginkan terjadi pada diri kita. Nanti, alam akan dengan sendirinya mewujudkan hal itu bagi kita. Sebaliknya, kita juga sama sekali nggak boleh memikirkan tentang hal-hal negatif yang ingin kita hindari. Karena memikirkan hal negatif itu akan membuat alam juga mewujudkan hal itu bagi kita. Jadi, dalam kondisi ini, alam itu nggak punya kemampuan berpikir. Mereka nggak bisa memahami bahwa ada permohonan yang menginginkan terjadinya sesuatu, dan ada juga permohonan yang tidak menginginkan terjadinya sesuatu. Yang alam pahami hanyalah mewujudkan terjadinya sesuatu itu, tanpa peduli apakah itu yang diinginkan atau tidak diinginkan.

Jadi, kalau saya tidak mau menikah dengan cowok pendek, harusnya saya berpikir dan berkonsentrasi untuk menikah dengan cowok tinggi. Kalau saya tidak mau tinggal di Jakarta, saya seharusnya berpikir untuk tinggal di Pekalongan (atau kota lainnya yang saya ingin tinggali).

Nah, fenomena ”Careful to what you wish for” ini bukan cuma menimpa saya lho. Banyak juga teman saya yang pernah amat sangat membenci sebuah profesi semasa ia kecil, menjalani profesi itu ketika ia dewasa. Ada teman yang nggak mau menjadi pegawai negeri, tapi sekarang dia menjadi pegawai negeri. Ada teman yang benar-benar merasa profesi ibu rumah tangga sebagai profesi yang nggak banget karena cuma bisa minta duit sama suami, dan itulah yang ia jalani dengan sepenuh hatinya sekarang. Atau di cerita “Laskar Pelangi”, tokohnya paling menghindari pekerjaan sebagai tukang pos. Katanya, “Saya mau jadi apa saja, asalkan jangan tukang pos”. Well, profesi itulah yang sempat ia jalani akhirnya. Dan, novel itu kan based on true story tho…jadi mang bener-bener kejadian.

Saya memang bukan “penganut” The Secret. Saya bahkan cenderung masuk dalam kelompok yang skeptis dan apriori terhadap The Secret. Menurut saya, kok ya nggak masuk akal banget kalau hal-hal yang kita inginkan bisa kita capai dengan sedemikian mudahnya di dunia ini. Jadi, apa gunanya dong usaha, kerja keras, dan perjuangan?

Tapi, ilham yang saya tulis kali ini, saya pikir nggak ada salahnya untuk kita terapkan. Tokh nggak ada ruginya mencoba untuk selalu berpikir positif. Nggak ada ruginya juga untuk selalu mengubah keinginan akan apapun yang tidak kita inginkan menjadi apapun yang kita inginkan. Mulai detik ini, saya memutuskan untuk berhati-hati atas apa yang saya inginkan. So friends, careful to what you wish for!

Senin, 03 Maret 2008

sandal jepit

Saya baru aja baca blog yang isinya ngomentarin tentang sandal jepit. Jadi keinget deh sama obrolan saya tadi pagi sama si bos tentang sandal jepit. Gini nih ceritanya…

Bos: Upi, sini
Gw: (masuk ke dalam ruangan si bos)
Bos: Upi, menurut kamu, bagaimana seharusnya sikap seorang trainer itu?
Gw: Trainer itu pak, harus mampu mendeliver materi dengan baik. Yang ia sampaikan juga harus aplikatif dan tidak sekedar teori.
Bos: Trus, apa lagi?

Gw: Ia juga harus bisa memotivasi peserta training
Bos: Trus apa lagi?
Gw: Apa lagi Pak? Nggg..trainer itu juga harus bisa menjadi role model bagi peserta training
Bos: Role model atas apa?
Gw: Atas apa saja Pak.
Bos: Atas apa? (Ini khas bos saya. Kalau tidak puas dengan jawaban kita, ia akan mengulang kembali pertanyaan yang sama. Dan kita, nggak boleh menjawab dengan jawaban yang sama)
Gw: Atas semua hal yang berkaitan dengan training yang ia sampaikan
Bos: Misalnya, kalau seorang trainer meminta peserta untuk datang tepat waktu, Berarti dia sendiri juga tidak boleh datang terlambat. Begitu?
Gw: Betul Pak.
Bos: Kalau begitu, menurut kamu bagaimana kalau ada seorang WS (ini sebutan untuk sales force di kantor saya) yang makan di cabang?
Gw: Pas jam kantor atau setelah jam kantor Pak?
Bos: Saat jam kantor
Gw: Wah, nggak boleh tuh Pak. Itu kan di cabang, banyak nasabah yang datang.
Bos: (Diam sejenak...mikir)
Tadi kamu bilang trainer harus menjadi role model atas semua hal. Atas apa saja coba kamu sebutkan..
Gw: (Menghela napas...mikir dalam hati, ”Orang ini mau ngomong apa sih sebenarnya?”)
Ya semua Pak. Sikap dan tingkah laku. Tutur kata (diplomatis banget nggak sih jawaban gw..?). Grooming juga.
Bos: Grooming?
Gw: Iya Pak
Bos: Kalau begitu, menurut kamu pantaskah seorang trainer memakai sandal jepit ketika berada di kantor?
Gw: ....
(Memilih untuk diam. Soalnya saya menganggap itu adalah pertanyaan retorik. Plus berusaha ngumpetin kaki yang beralaskan sendal jepit ke bawah meja).
Bos: Lain kali jangan pakai sandal jepit. Nggak enak dilihatnya
Gw: Baik Pak!

So...What do you think about my boss?
a. tegas
b. plintat-plintut
c. muter ngalor ngidul
d. nggak penting banget
e. semua jawaban benar kecuali pilihan a

Pria Pengangkut Sampah

Pernah melintasi truk sampah?
Kalau nggak, pernahkah kamu melintasi bak sampah?
Baunya menusuk bukan?
Benar-benar berbau busuk dan sangat mengganggu

Biasanya, setiap kali saya melewati sebuah truk sampah,
Saya akan menutup hidung dengan sapu tangan
Dan berlalu secepat saya mampu

Hingga pagi ini, saya berjalan keluar rumah
Melintasi jalan yang biasa saya lalui
Melewati sebuah truk pengangkut sampah
Dengan sampah yang menggunung memenuhi baknya yang terbuka
Menandakan mereka sudah mulai berkerja
Ketika saya masih terlelap dalam pekat

Secara refleks saya langsung mengambil sapu tangan di saku
Hendak menutup hidung demi menangkal bau itu masuk ke penciuman saya

Tapi tidak pagi tadi
Ketika seorang dari mereka memperhatikan saya

Seorang pria paruh baya yang berdiri di atas truk sampah itu
Hanya bersenjatakan sarung tangan dan sepatu bot dari karet, ia menyusun sampah di dalam truknya
Tanpa mengenakan masker, jelas terlihat raut wajahnya
Raut wajah yang tak peduli
Tanpa sedikitpun mengernyitkan kening
Atau sedikit berusaha menutup hidung mereka

Mungkin mereka sudah sangat terbiasa dengan bau yang menusuk itu
Atau mungkin mereka sadar bahwa masker tak kan mampu menahan bau itu masuk ke hidung mereka

Pria itu menatap saya
Saya pun menatap dirinya
Tiba-tiba terbersit rasa iba
Itulah yang menyebabkan saya tak jadi menutupi hidung saya

Mungkin saya kuatir membuat mereka tersinggung
Mungkin karena saya tidak mau terlihat angkuh
Ketika saya merasa keberatan menghirup bau menusuk itu untuk sesaat
Sementara mereka terpaksa menciumnya setiap saat

Tapi saya tetap berlalu
Saya memang iba
Tapi tak tahu harus berbuat apa

Hari gini, yang penting kasih sayang

Eh eh eh...saya mau cerita nih...
Saya kan punya temen nih ya.. lebih tepatnya sih disebut rekan kerja.
Orang ini, usianya udah lumayan matang lah (baca: tua), tapi doi belum menikah juga hingga usianya yang udah berkepala 3 ini. Ujung belakangnya sih sampai sekarang belum berhasil saya ketahui. Tapi, kira-kira nggak mungkin banget ujungnya 0, 1, 2, atau 3. Pasti lebih dari itu!

Nah, teman sekantor saya ini, profesinya juga sama dengan saya. Profesi yang mengharuskan kita untuk bercuap-cuap di depan forum, di dalam sebuah kelas. Dan...teman saya ini, di setiap kelas yang ia masuki, tidak pernah lupa untuk memperkenalkan dirinya sebagai single and available guy. Hihihi..

Emang sih, nggak ada yang akan menyalahkan dia karena menyebutkan fakta yang mang benar adanya. Dia memang masih single, dan setau saya sih masih available. Mukanya juga...yah...lumayan lah (baca: ga bikin eneg alias good looking). Belum lagi, dia juga tergolong dalam tipe cowok romantis. Soalnya yah, doi pernah cerita ke saya kalo dulu (banget) pernah ngirimin 25 tangkai mawar putih untuk ceweknya yang berulang tahun yang ke-25. Apa nggak klepek-klepek tu cewek? Ditambah, setiap kali mengajar, teman saya ini selalu habis-habisan mengeluarkan seluruh karisma yang ia miliki. Makanya, ga heran juga sih kalo setiap dia habis mengisi sesi, tak jarang ada peserta yang menitipkan salam, atau mendekatinya dengan tujuan menebar pesona pas-pasan yang mereka punya.

Saya sendiri, pernah dititipi salam oleh peserta perempuan yang kepincut sama teman saya ini. Awalnya sih cewek ini pake acara malu-malu gitu. Ga mau ngaku kalo dia suka sama temen saya ini. Tapi, lama-lama, mengakulah dia. Trus, si cewek ini menitipkan nomor handphone-nya kepada saya, dengan harapan teman saya ini akan penasaran dan mengontak dirinya.

Tapi, rupanya cewek ini udah nggak tahan menahan perasaan yang bergelora dalam dirinya. Atau mungkin juga dia sadar bahwa tindakan pasif seperti itu nggak akan membuahkan hasil apapun. Akhirnya cewek ini tak tinggal diam. Beberapa hari setelah saya menyampaikan salam kepada teman cowok saya ini, si cewek yang udah kepincut setengah mati ini langsung ambil langkah berani dengan meng-sms langsung ke teman saya. Sayang, modusnya pake basa-basi dan nggak straight to the point, tidak seperti strategi pedekate favorit saya.

Si cewek, pura-pura bertanya tentang suatu masalah berkaitan dengan pekerjaannya, dan meminta saran dari rekan cowok saya ini. Tentu saja, sebagai seorang trainer, sudah sepantasnyalah teman saya ini membalas sms itu dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Selanjutnya, seperti strategi pedekate pada umumnya, si cewek mengucapkan terima kasih dan setelah itu mulai menggali teman cowok saya lebih dalam dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya lebih pribadi.

Hingga sekarang, setelah 2 minggu lebih berlalu sejak si cewek pertama kali meng-sms teman saya ini, komunikasi di antara mereka masih terus berjalan. Komunikasinya sih masih sebatas komunikasi basa-basi nggak penting ala anak-anak ABG kalo pedekate.

Saya sendiri, udah mencoba menyadarkan teman saya ini untuk melakukan langkah selanjutnya, yakni ketemuan. Tokh, dari sini kan dia bisa menyimpulkan is it worth to spend so much money and so many 'chit chat' to this girl.

Bukannya kenapa-napa, rekan saya ini sama sekali nggak inget gimana rupa si cewek. Entah cakep entah jelek, temen saya ini tetep seneng-seneng aja bersms-an ria dengan seseorang yang mengidolakan dirinya. Untung aja orang yang mengidolakan dirinya ini bener-bener cewek. Kalo setengah cewek gimana? Apa nggak gatel-gatel ndiri? Atau jangan-jangan...seperti kata anak muda zaman sekarang...hari gini sih nggak masalah deh ma jenis kelamin...yang penting kan kasih sayang!


Sms Berlangganan - Pembodohan untuk Orang yang Mau Dibodohi

Kemarin, hampir sepanjang weekend gw melototin gambar bergerak-gerak di tipi. Yang ada kok malah gw jadi mikir. Habisnya, sepanjang gw nonton, iklan yang mucul dipenuhi dengan iklan sms berlangganan.

Tau kan sms berlangganan? Tu lo, sms yang lagi marak-maraknya di kalangan anak ABG n orang-orang kurang kerjaan. Buat berlangganan, kita harus registrasi dulu. Untuk proses registrasi ini, nggak cukup sekali kirim sms low, ga jarang kita perlu sampai 3 hingga 4 kali mengirimkan sms baru proses registrasi selesai. Setelah itu, barulah kita mulai dikirimi sms yang kita minta. Misalnya, kalau kita menginginkan berlangganan sms ramalan, maka setiap harinya kita akan dikirimi sms yang isinya tentang peruntungan kita pada hari itu. Begitu seterusnya, sampai kita memutuskan untuk mengakhirinya dengan melakukan proses unregistrasi.

Padahal yah, udah banyak banget low berita di koran yang mengeluhkan tentang sms berlangganan ini. Ada yang merasa tidak pernah melakukan registrasi, tapi setiap hari dikirimin sms. Ada juga yang udah bosen trus melakukan unregistrasi, tapi nggak pernah sukses. Walhasil, setiap hari orang ini terus-menerus dikirimin sms.

Harusnya sih nggak akan jadi masalah kalau kita cuma sekedar dikirimin sms. Sayangnya, setiap kita mendapatkan sms ini, pulsa di handphone kita langsung terpotong. Nggak tanggung-tanggung pula! 2000 perak per sms yang terkirim! Ada juga yang matok sampai 2500 perak! Gila yah? Padahal, sms hari gini kan banyak yang udah ngasih gratisan, atau semahal-mahalnya 500 perak lah (kalo ng-sms ke luar negeri). Ini nih, kita dibebankan sampai 400%-nya. Benar-benar pemerasan!

Karena nggak kuat dengan biaya yang super duper guedde ini, banyak orang yang akhirnya terpaksa ganti nomor karena proses unregistrasi selalu nggak pernah berhasil menghentikan kiriman sms. Habisnya, kalo ga gitu, mereka kudu rela hape mereka yang baru aja diisi pulsa kemarin, tiba-tiba aja ludes semua pulsanya.

Tapi, yang mau gw ceritain sebenarnya bukan tentang mahalnya sms registrasi seperti ini. Yang mau gw komentarin sebenarnya adalah banyaknya sms berlangganan yang isinya tentang ramal-meramal. Dihitung-hitung, sedikitnya ada 7 iklan berbeda yang intinya memancing masyarakat untuk mengetahui ramalan nasibnya. Medianya bermacam-macam. Ada yang pake tanggal lahir : Ketik REG (spasi) Tanggal Lahir. Ada juga yang pake nama: Ketik REG (spasi) nama. Ada lagi yang pake tanggal jadian, ini tentunya untuk mengetahui apakah tanggal jadian kita tu bagus atau nggak, apakah hubungan kita bakal langgeng atau nggak, dan sebagainya. Caranya, ketik REG (spasi) Tanggal Jadian. Ada juga yang meramal dengan media zodiak kita. Caranya, ketik REG (spasi) zodiac. Pokoknya banyak banget deh!

Padahal, kalo diperhatiin, sebenarnya yang ngadain tu sms ya operatornya itu-itu juga. Coba aja lihat, kemana kita disuruh ngirim tu sms. Kalo nggak 9877 ya paling 9090. Trus trus, hebohnya lagi, peramal-peramal kondang ikutan diminta (baca: dibayar) untuk mempromosikan sms berlangganan ini. Catet aja, ada Dedy Corbuzier, bilangnya sih, ”Sms untuk anda, langsung dari handphone saya low”. Eh, salah, itu sih kalimat yang diucapin buat sms selebritis yah? Kalo si Deddy, bilangnya gini ”Saya akan meramal peruntungan Anda, khusus untuk Anda”. Yah, kira-kira gitu deh. Trus, selain Deddy, ada lagi peramal yang cukup kondang, namanya Ferry siapaaaaa gitu. Trus, ada lagi, mukanya sering nongol di tipi, tapi saya nggak tau namanya. Waduh! Pokoknya seabreg-abreg peramal yang ikut mengiklankan sms berlangganan ini.

Yang bikin saya bingung, kok bisa-bisanya ada orang yang terperdaya dengan sms berlangganan seperti ini. Harusnya kan mereka bisa mikir dong, masak sih tanggal lahir, yang notabene sifatnya nggak eksklusif (banyak banget bow orang yang punya tanggal lahir sama di dunia ini), dipake untuk meramal. Dan begonya, mereka kudu bayar mahal pula untuk dikibulin begini.

Belum lagi kalo mereka bener-bener percaya bahwa para peramal kondang itu mau repot-repot nongkrongin hape yang dia punya, dan membalas setiap sms yang mereka kirimkan. Ckckck...naif banget!

Mending kalo orang ngeliat ramalannya dari majalah, dari koran, atau dari internet. Ga perlu bayar mahal kan untuk dikibulin. Cukup beli majalah, isinya bisa dibaca, ramalan bintangnya buat iseng-iseng diintip juga. Atau buka aja langsung website yang menyediakan ramalan seperti ini. Nggak perlu keluar duit toh? Lha ini, untuk dikibulin aja masak kita kudu ngeluarin biaya pulsa mpe puluhan ribu. Get real dong!!!!!