Rabu, 23 April 2008

Ketidakadilan di Lampu Merah

Kalau bertemu dengan seorang pengemis di lampu merah suatu jalan, seringkali saya tergugah, merasa kasihan, dan memberikan uang di kantong saya. Kadang 500, kadang 1000, kadang 5000, pernah juga 50,000. Saya nggak pernah mikir pantaskah si pengemis mendapatkan uang itu. Pokoknya, saya pengen aja ngasih.

Berbeda halnya jika saya didatangi seorang pengamen. Biasanya, baru sebentar si pengamen genjreng-genjreng, saya sudah langsung meyodorkan uang. Maksudnya, supaya si pengamen cepat berlalu dari sisi saya. Saya tidak cukup iba, tapi saya memberikan uang saya.

Lain lagi halnya jika saya bertemu dengan pedagang asongan. Kadangkala saya melihat penjual koran yang hingga pukul 11 korannya masih saja banyak. Atau melihat tukang yang menjual tahu dan kacang dalam plastik yang hingga malam hari tahunya masih berjejer-jejer penuh. Melihat mereka, tentu saja saya juga iba. Tapi kalau melihat pedagang-pedagang ini, saya biasanya bergeming dan tidak membeli dagangan mereka. Soalnya, koran di rumah sudah banyak. Kalau saya beli tahu juga sering nggak saya makan. Akhirnya, saya cuma mengangkat tangan sambil menganggukkan kepala dan sedikit tersenyum, yang berarti ”Tidak, terima kasih”.

Padahal, kalau saya pikir, apa yang saya lakukan merupakan suatu bentuk ketidakadilan terhadap orang-orang itu. Bayangkan saja, seorang pengemis yang hanya meminta-minta, kadangkala tanpa cacat apapun yang melekat pada dirinya, saya berikan uang 1000 perak. Padahal, si pengemis sama sekali nggak mengeluarkan biaya apapun. Keuntungan bersih yang ia terima langsung sebesar 1000 perak.

Untuk seorang pengamen, ia juga bisa dibilang hanya mengeluarkan sedikit modal untuk membeli ukulele, atau mungkin tak perlu uang jika ia hanya berbekal botol aqua yang diisi dengan beras sebagai alat musiknya. Selain itu, sebenarnya tak ada yang perlu ia keluarkan. Untuk pengamen seperti ini, biasanya uang yang saya keluarkan bervariasi antara 500 hingga 1000 perak. Dengan asumsi bahwa si pengamen tidak memiliki ukulele dan menyewa alat musik tersebut dari temannya, maka keuntungan bersih yang didapat oleh si pengamen adalah 400 hingga 900 perak untuk setiap mobil yang bersedia memberikan uang.

Untuk seorang penjual tahu, jika saya membeli tahunya seharga 1000 perak, sebenarnya ia hanya mendapatkan untung sebesar 200-300 perak. Sungguh keuntungan yang tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatkan oleh si pengemis dan si pengamen.

Padahal, saya lebih mudah memberikan uang kepada pengemis dan pengamen daripada membeli dagangan si penjual tahu. Jadi, si pedagang asongan, yang sebenarnya berusaha lebih keras, lebih gigih, dengan modal yang harus dikeluarkan lebih besar, mendapatkan keuntungan dengan jumlah lebih kecil dan didapatkan dengan lebih sulit.

Pernah saya membeli beberapa plastik tahu dari seorang pedagang tahu karena iba, dan setelah itu si pedagang pun pergi menuju mobil berikutnya. Kemudian, tak lama datanglah pedagang tahu yang lain. Saya pun iba padanya. Tapi saya nggak mungkin membeli lagi. Saya nggak mungkin membeli semua dagangan mereka untuk sekedar menentramkan batin saya yang merasa iba. Karena, tahu yang saya beli akan bertumpuk tak termakan dan jadi mubazir. Lagipula, melakukan hal ini pun tidak akan menyelesaikan masalah. Entah ada berapa banyak tukang tahu dan tukang-tukang lainnya di setiap lampu merah yang saya lewati. Karena itu saya bertahan dan memilih untuk berlalu ketika lampu hijau menyala.

Jujur saya sedih, tapi lebih dari itu saya merasa ini hal yang dilematis. Apakah saya harus ikut memejamkan mata untuk pengemis yang meminta-minta kepada saya? Juga kepada pengamen yang bergenjreng-genjreng di sisi saya? Agar si pengemis, pengamen, dan pedagang asongan mendapatkan uang yang setara, haruskah saya melakukan ini?

Prinsip keadilan bagi saya adalah hasil yang kita terima sebanding dengan usaha yang kita keluarkan. Tak adil jika seorang pengemis dan pengamen mendapatkan uang lebih mudah dan lebih banyak dibandingkan pedagang asongan.

Jadi mengapa tetap ada orang yang memilih untuk menjadi pedagang asongan ketimbang menjadi pengemis atau pengamen? Saya pikir itulah kehebatan dari si pedagang asongan. Dia tahu bahwa Tuhan tidak mengharamkan kita untuk meminta-minta, tapi Tuhan membenci itu. Ia tahu bahwa sekalipun uang yang ia hasilkan lebih sedikit dan usaha yang ia keluarkan lebih besar, tapi ia punya tempat yang lebih terhormat, bukan hanya di masyarakat tapi juga di mata Tuhan. Ia bukan peminta-minta. Ia tidak menghasilkan uang berdasarkan belas kasihan orang lain. Ia mendapatkan uang untuk dagangan yang berhasil ia jual. Pembeli mendapatkan sesuatu, dan demikian pula dirinya.

Sungguh luar biasa si pedagang asongan. Saya hanya bisa berdoa agar semua usaha yang ia lakukan akan berbuah suatu saat nanti. Tapi mungkin saya terlalu naif. Mungkin si pedagang asongan memilih menjadi pedagang karena ia tahu bahwa ia tidak cukup renta. Pun karena ia bukan seorang perempuan yang bisa menyamar menjadi ibu-ibu dengan membawa bayi dalam gendongannya. Atau juga karena ia tidak memiliki cacat apapun. Ia menjadi pedagang asongan karena ia tidak mungkin menjadi pengemis. Karena takkan ada orang yang iba padanya jika menjadi pengemis.

Entah apa penyebab si pedagang asongan memilih untuk berjualan dan tidak mengemis. Hanya dirinya yang tahu. Tapi ketidakadilan di lampu merah memang terjadi.

Pentingkah Rekonstruksi Kasus Urip?

Semalam saya melihat berita tentang rekonstruksi kejadian (dugaan) penyuapan yang dialami oleh Jaksa Urip. Dan seperti biasa, melihat tayangan itu, otak saya muter, mikir, hingga akhirnya keluarlah pernyataan “Ngapain gituan aja kok direkonstruksi?”.

Pasalnya, tayangan yang saya lihat semalam itu menunjukkan gambar di mana si Urip bertemu dengan si penyuap. Berdasarkan berita, rekonstruksi dilakukan di 13 spot. Ada yang di café, ada yang di dalam mobil, ada yang di telepon, dan lain-lain. Bingunglah saya. Sepenting apa sih? Kok Cuma obrolan antara Urip dan si penyuap aja perlu direkonstruksi? Langsung dari tempat kejadian pula! Saya sih bingung. Dan saya memang beneran bingung.

Berdasarkan pemahaman saya, rekonstruksi itu kan terdiri dari dua kata “re” dan “konstruksi”. Konstruksi itu, kurang lebih artinya membangun. Jadi, kalo kita kenalan sama orang, dan orang itu menyebutkan kerjanya di bidang konstruksi, biasanya orang itu kerjanya jadi developer yang kerjanya membangun-bangun gedung. Padahal, berdasarkan artinya, seorang ibu rumah tangga bisa juga loh disebut bekerja di bidang konstruksi. Lha wong kerjanya kan mbangunin suami dan anak-anaknya tiap pagi. Ya toh?!

Nah, ketika kata ”konstruksi’ ini ditempelkan dengan ”re”, berubahlah artinya menjadi membangun kembali. Kalimat 'merekonstruksi Aceh pasca sunami' berarti membangun kembali Aceh. Dalam tayangan yang saya saksikan semalam, rekonstruksi bisa diartikan sebagai membangun kembali alias mereka ulang kejadian yang telah terjadi sebelumnya agar pihak lain mendapatkan pandangan yang jelas dan pasti tentang kejadian tersebut. Ini sih definisi versi saya pribadi low ya. Kurang dan lebihnya tolong dimaklumi.

Kembali ke kebingungan saya. Hal yang saya bingungkan adalah, kenapa kejadian nggak penting seperti obrolan via telepon, obrolan di kafe, obrolan di dalam mobil perlu direkonstruksi? Bukankah dengan mencatat pengakuan Urip di kantor polisi aja sudah cukup? Bukankah rekonstruksi seperti ini justru menyebabkan inefisiensi waktu dan biaya?

Dalam benak saya, kejadian-kejadian yang penting untuk direkonstruksi ulang itu misalnya pembunuhan. Pihak lain, dalam hal ini kepolisian, perlu mendapatkan pemahaman yang pasti tentang kejadian pembunuhan tersebut. Masuk akalkah pengakuan yang diberikan oleh tersangka, adakah hal-hal yang disembunyikan oleh tersangka dalam pengakuannya, dan sebagainya. Rekonstruksi kejadian pembunuhan yang dilakukan, akan mempermudah para polisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tapi untuk kasus (dugaan) penyuapan seperti kasus Urip, apakah memang perlu juga untuk direkonstruksi? Demikian kebingungan yang saya bingungkan. Setujukah Anda bahwa rekonstruksi Urip itu nggak penting? Ataukah memang sebenarnya penting, cuma aja saya belum bisa melihat letak kepentingannya? Jika ada teman-teman yang bisa memberikan pencerahan, ditunggu komennya yak!

Senin, 21 April 2008

Naik PESAWAT

Sharing sedikit ah tentang pengalaman saya naik pesawat kemarin.

Kemarin ketika saya pergi ke Yogya, saya naik pesawat dengan maskapai yang bukan Garuda. Well, memang sih, di atas kertas, nggak ada pengaruhnya antara naik Garuda atau naik maskapai lainnya. Sama-sama beresiko. Dan ini sudah dibuktikan dengan penetapan rating maskapai penerbangan Indonesia dalam hal keselamatan transportasi udara. Garuda ternyata menduduki peringkat yang setara (baca: tidak lebih baik) dibanding maskapai yang saya naiki kemarin. Tapi, entah mengapa, tetap aja harga tiket si burung biru ini tetap nangkring di posisi termahal. Plus, maskapai ini tetap menjadi favorit bagi sebagian kalangan (berduit) sebagai pilihan maskapai untuk penerbangan yang mereka lakukan.

Saya, karena kemarin harus merogoh kocek pribadi untuk perjalanan saya ke Yogya, memilih untuk tidak menaiki maskapai burung biru ini. Alasan satu-satunya hanyalah demi efisiensi dan ekonomisasi pundi uang saya.

Kesan pertama ternyata cukup menggoda. Pesawat boarding tepat waktu. Kemudian, saya pun duduk di bangku saya. Pesawat pun tak lama mulai bergerak untuk lepas landas. Perlahan tapi pasti, pesawat mulai melaju dengan kencang. Saya mulai melihat-lihat ke arah jendela, sambil bersiap-siap menerima tekanan udara yang akan mendera telinga saya.
Tapi tiba-tiba, pesawat mengerem mendadak. CIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTT. Begitu kira-kira bunyinya. Seperti bunyi mobil yang sedang melaju kencang dan tiba-tiba mengerem sampai habis. Entah mengapa si pilot melakukan ini. Sepertinya sih nggak ada masalah di landasan.

Selesai mengerem, pesawat dalam keadaan hidup tetap berdiam di tempatnya. DEKEDEK-KEDEK-KEDEK-KEDEK. Kali ini, badan pesawat bergoyang kencang. Kalau Anda pernah merasakan naik bajaj, dan si bajaj berhenti di lampu merah, kira-kira seperti itulah apa yang saya rasakan kemarin. Si pesawat tidak bergerak, tapi seluruh badan pesawat bergetar kencang.

Untunglah, tak seberapa lama, pesawat mulai bergerak kembali. Kali ini rupanya tak ada lagi pengereman mendadak. Roda pesawat mulai disembunyikan, dan pesawat mulai menukik hendak mengudara. Saya mulai bernafas lega, hingga akhirnya...NIT NIT-NIT NIT. Tiba-tiba terdengar bunyi sebuah sms. Entah bunyi itu bersumber dari penumpang yang mana, tapi yang jelas jantung saya mulai berdebar kencang. Dalam hati saya berdoa, sekaligus memaki-maki penumpang yang sebegitu teledornya lupa mematikan handphone-nya, dan mengancam keselamatan penumpang seisi pesawat.

Well, mungkin memang begitulah resiko naik penerbangan yang bukan Garuda. Bukan karena standar keselamatan yang lebih baik, tapi lebih karena kurangnya standar pemahaman dan tingkat edukasi dari penumpang non-Garuda terhadap hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam pesawat. Yah, itulah mungkin penyebabnya kenapa si burung biru tetap menjadi maskapai termahal. Kalau Anda nggak mau punya pengalaman seperti yang saya rasakan kemarin, ya gampang aja, jangan naik maskapai selain Garuda J

Buah Simalakama Memiliki Blog

Memiliki sebuah blog itu ibarat memakan buah simalakama. Walaupun saya sendiri nggak tau wujud dan rasa buah ini-tapi karena si buah adalah buah yang sering dikambinghitamkan dalam peribahasa-dalam kesempatan ini saya akan ikut-ikutan menggunakan nama buah ini.

Peribahasa lain, memiliki sebuah blog ibarat menggunakan pedang bermata dua. Salah-salah, bukannya berguna untuk mencapai tujuan kita (meng-KO musuh), malah menggorok leher sendiri.

Atau peribahasa lain yang saya ciptakan sendiri, memiliki sebuah blog ibarat bernyanyi dengan telinga pake headphone. Kita menyangka suara yang keluar dari kerongkongan kita semerdu suara yang keluar dari headphone dan sedang kita dengarkan, padahal semua orang di sekeliling kita udah menuduh kita sedang melakukan pencemaran suara dan merusak karya seni.

Daripada saya melanjutkan membuat peribahasa yang makin nggak nyambung dengan cerita yang akan saya sampaikan, lebih baik saya mulai saja cerita saya. Yuuuugh….

Pada awal memiliki blog, maksud saya adalah untuk menampung curahan hati. Dalam benak saya ini akan menjadi buku harian digital. Masalahnya, karena blog dapat diakses oleh publik tanpa terkecuali, maka hal ini menjadi problematika tersendiri.

Saya pernah memposting sebuah cerita yang isinya memaki-maki seorang teman saya yang ketika itu sangat amat membuat saya kehilangan kesabaran. Keesokan harinya, posting ini langsung saya hapus karena kuatir akan terbaca sama teman yang sedang saya omongin. Bukannya kuatir dia akan benar-benar jadi musuh saya setelah membaca blog itu. Saya cuma nggak mau dia jadi ge-er dan besar kepala karena cerita tentang dia nampang di blog saya.

Demikian juga yang terjadi akhir-akhir ini. Dengan 60% posting blog saya yang bercerita tentang kehidupan cinta saya atau kehidupan orang-orang yang terkait dengan saya dan kadang di dalamnya terselip cerita tentang saya, maka saya sangat amat menghindari alamat blog saya ini jatuh ke tangan pihak-pihak yang tidak saya kehendaki.

Pihak pertama adalah cowok yang sudah bertahun-tahun menjadi hantu dalam hidup saya tanpa saya pernah menghantui hari-harinya. Demi mempertahankan harga diri dan gengsi saya yang akan tercoreng begitu dia tahu saya terobsesi pada dirinya, saya memilih untuk merahasiakan perihal blog saya ini.

Pihak kedua adalah bos saya dan dedengkot-dedengkot bos saya. Penyebabnya, beberapa posting di dalam blog saya secara eksplisit mencibir si bos. Karena itu, sangat amat nggak bijaksana untuk menyebarluaskan perihal blog saya ini. Alih-alih memuji bagusnya isi blog saya atau memuji kreativitas yang saya miliki, si bos pasti akan mengomeli saya karena memanfaatkan waktu kantor untuk aktivitas pribadi, dan mungkin yang terparah, ia akan mencabut akses internet di meja saya (Hiiiiii…serrreemmm).

Pihak ketiga adalah cowok-cowok yang sempat atau sedang mendekati saya. Alasannya sederhana. Jika mereka sangat mengharapkan saya sementara saya nggak punya rasa sama sekali sama mereka, saya nggak mau posting-posting tentang kehidupan cinta saya akan menyakiti hati mereka (karena bagaimanapun, menyakitkan ketika seseorang yang sangat kita harapkan ternyata sangat amat mengharapkan orang lain dan sama sekali menutup mata terhadap kita).

Atau, jika cowok itu mengharapkan saya sementara di sisi lain saya sedikit memiliki rasa kepada cowok itu, saya nggak mau menanggung resiko si cowok kabur karena jiper (baca: minder) begitu mengetahui bahwa saya pernah sangat amat memuja seorang cowok lain. Padahal, bisa jadi cowok ini ternyata berpotensi untuk saya sukai pada akhirnya kalau dia mau sedikit lebih berusaha.

Karena alasan-alasan seperti itulah, alamat blog ini saya rahasiakan pada sebagian orang yang saya kenal. Jadi, untuk cowok-cowok yang bertanya alamat blog saya dan saya menolak menjawabnya, itu berarti Anda termasuk salah satu di antara pihak-pihak yang saya sebutkan di atas. Nah, kalau memang Anda segitu keras kepalanya untuk mencari tahu alamat blog saya dan pada akhirnya berhasil menemukan dan membaca blog saya, maka (alternatif) hasilnya adalah…

Merasa tersakiti, karena tahu bahwa saya (pernah/masih) sangat amat terobsesi terhadap cowok lain yang bukan dia. Saya nggak pernah mau menyakiti orang, apalagi orang yang menyayangi saya, karena itu saya menghindari terjadinya hal ini.

Merasa minder, karena tahu bahwa saya akan sangat sulit “ditaklukkan”, dan memilih untuk mundur teratur. Saya juga akan menghindari terjadinya hal ini. Pasalnya, kalau ternyata saya punya sedikit rasa sama cowok itu, maka dalam hal ini saya akan dirugikan.

Merasa tertantang, karena bagi sebagian cowok, semakin sulit seorang cewek ditaklukkan, maka semakin penasaran lah si cowok untuk mendapatkan cewek itu. Hal ini juga saya hindari, karena saya nggak mau cowok itu jadi semangat ngejar-ngejar saya karena terobsesi mau menaklukkan saya. Saya mau seseorang menyukai saya karena dia memang benar-benar mengharapkan saya, dan bukan bernafsu menaklukkan saya.

Merasa gembira, karena menemukan sebuah peluang untuk menggaet seorang cewek manis yang masih jomblo. Untuk alternatif ini, saya rasa hanya cowok-cowok yang cukup gila atau sudah gila yang akan sampai pada hasil seperti ini.

Disclaimer : Tulisan ini bermaksud untuk menohok seseorang, yang saya yakin tidak akan tertohok karena dia kan cukup/sudah gila.

Huehehehhe…


Senin, 14 April 2008

Mencari Jodoh

Yang namanya jodoh itu memang misteri.

Awalnya saya pikir menemukan jodoh itu ibarat mencari 1 jarum dalam tumpukan jerami. Susah kan nemunya?
Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, ternyata perumpamaan itu kurang tepat. Mencari jodoh itu lebih tepat diibaratkan mencari 1 jarum dalam laci tukang jahit. Tukang jahit pasti punya banyak jarum jahit. Ada yang udah karatan, ada yang masih baru, ada yang udah pernah dipakai, ada yang masih bagus tapi rusak, dan sebagainya. Tukang jahit nggak akan punya jarum jahit hingga jutaan, karena dia bukan hendak jualan jarum. Tapi jarumnya cukup banyak, dan kita tetap perlu selektif memilih jarum yang tepat untuk kita pakai.

Bingung? Saya akan gunakan contoh matematika seperti ini.

Jika kita mengasumsikan jodoh kita berkebangsaan sama dengan kita-dimana penduduk Indonesia saat ini berjumlah 230 juta-maka perbandingannya adalah 1:230 juta.

Karena saya bukan merupakan golongan lesbian, angka ini harus kita kurangi dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjenis kelamin wanita. Kita anggaplah 1:115 juta.

Karena saya bukan termasuk golongan pedofil, angka ini juga harus kita kurangi dengan anak-anak, bayi, dan balita. Anggaplah sekarang probabilitasnya menjadi 1:60 juta.

Angka ini juga harus saya kurangi dengan cowok-cowok yang sudah cukup usia, tapi umurnya masih di bawah saya. Well, saya memang bukan penikmat lalapan, jadi daun muda bukan favorit saya. Kini angkanya turun menjadi 1:30 juta.

Lantas, walaupun bukan penikmat daun muda, saya juga nggak mau jodoh saya sudah terlalu tua. Well, I don’t have Daddy Syndrome Complex Disorder. Jadi, kita harus mengeluarkan orang-orang dengan usia di atas 35 tahun. Anggaplah angka ini turun menjadi 1:15 juta.

Jangan lupa juga untuk menguranginya dengan orang-orang yang punya kelainan mental, bekas narapidana, masih menjadi narapidana, cowok-cowok brengsek, cowok-cowok buaya darat, cowok-cowok nggak ganteng, cowok-cowok metroseksual kebanyakan gaya, cowok-cowok nggak punya masa depan bagus, cowok-cowok yang hobinya dugem, cowok-cowok yang suka ngedrugs, cowok-cowok yang sering seks bebas, cowok-cowok yang hobi minum, cowok-cowok yang nggak punya motivasi, dan cowok-cowok yang tulalit. Probabilitasnya sekarang…menjadi 1:100.

Anda bisa lihat kan? Ketika kita menjadi selektif dalam mencari jodoh, pilihan menjadi sangat terbatas, sehingga menyulitkan kita untuk memilih satu yang tepat. Walaupun, jika kita tidak terlalu bersikap selektif, sebenarnya akan tersedia pilihan sebanyak 15 juta orang. Tapi tetap saja pilihan yang banyak ini menyulitkan kita untuk mendapatkan satu orang yang memang jodoh kita.

Jadi, mau bersikap selektif atau tidak, jodoh memang sulit ditemukan. Makanya, ujung-ujungnya banyak orang bilang kalo jodoh itu ketetapan Tuhan. Biarkan Dia yang mengatur kapan dan dimana kita akan bertemu dengan jodoh kita itu.

Kamis, 10 April 2008

Nada Tunggu Nggilani

Ada kisah cukup gila yang perlu saya ceritakan nih...

Saya kan pernah cerita tentang maraknya sms berlangganan yang memungut tarif mahal luar biasa itu (baca: SMS Berlangganan - Pembodohan untuk Orang yang Mau Dibodohi). Nah, saya baru tahu kalau ternyata mereka membuat sebuah cara ampuh agar orang mau berlangganan sms mereka.

Bagaimanakah caranya? Begini nih...

Saya itu, termasuk tipe orang yang nggak pernah mau masang nada tunggu, ring tone dan sejenisnya di hape saya. Pasalnya, untuk melakukan itu kan saya harus mengirim sms tho? Berhubung saya nggak mau pulsa saya berkurang untuk hal nggak penting seperti ini, plus saya sendiri mang nggak suka dengan keribetan-keribetan sejenis ini, saya lebih memilih untuk membiarkan nada tunggu saya berbunyi "tuuut...tuut...tuut...".

Tapi, rupanya para provider sms berlangganan ini cukup cerdik. Mereka memakai strategi baru untuk menggaet konsumen seperti saya. Alih-alih memasang iklan atau memberikan tarif promosi, mereka memberikan nada tunggu gratis pada saya.

Sepertinya strategi ini sudah umum dilakukan ya?

Eits! tunggu dulu! Nada tunggu yang mereka berikan, jangan Anda pikir adalah nada tunggu lagu yang biasa kita dengar sehari-hari. Nada tunggu yang saya dapat gratis ini adalah nada tunggu yang-naudzubillah-sangat amat malu-maluin. Nada tunggu saya adalah lagu dangdut yang sangat amat nggak asyik banget untuk didengarkan.

Walhasil, semua teman yang menelepon saya langsung mengeluarkan komentar yang cukup beragam, seperti:
"Pik, nada tunggu lo enggak banget deh!", atau
"Gw baru tau kalo selera musik lo serendah itu Pik!", atau
"HUAAHAHAHAAAA....Pik, Pik, lo udah gila ya pasang nada tunggu kayak gitu!", atau
"Plis deh Pik...ganti nada tunggu lo, kalo nggak gw nggak bakal lagi deh nelpon lo", atau
"Eh, tu lagu apaan Pik? Ada gitu ya pencipta lagu yang cukup edan untuk bikin lagu kayak gitu?".

Intinya, nada tunggu saya itu sangat nggak bergaya saya banget. Dan saya cukup sadar bahwa ini adalah strategi marketing yang dibikin sama si provider sms berlangganan. Pasalnya, kalau saya mau merubah lagu, atau menghentikan nada tunggu yang saya dapat tanpa saya minta ini, mau nggak mau saya harus mengirimkan sms dan mengetik "UNREG", atau "GANTI". Yang jelas, seperti apapun sms saya, semuanya memakan biaya.

Walhasil, sampai sekarang saya tetap nggak tergugah untuk mengganti nada tunggu saya. Ya iyalah, saya nggak rela dong membayar dan memberikan keuntungan pada provider brengsek itu. Lagipula, tokh nggak ada jaminan bahwa setelah ini mereka nggak akan memberikan nada tunggu gratis dengan lagu lain yang sama menjijikkannya. Ya tho? Lebih baik tetap bertahan dengan nada tunggu dangdut nggak jelas ini. Atau mungkin Anda mau tau seberapa menjijikkannya nada tunggu saya? U have to call me then :) Saya tunggu lho... hihihihihhi

Rabu, 09 April 2008

My Boss Kacang!

You know another kacang (tolong di-Inggriskan) thing about my boss?

Baru saja ia memberiku sebuah tugas. Dia menyuruhku untuk menghadiri sesi dimana pada sesi tersebut seorang agen penjual asuransi dari perusahaan kompetitor kami diundang untuk memberikan presentasi tentang produk yang dijualnya. Tujuannya, supaya kami dapat mempelajari caranya meng-approach dan mempresentasikan produk tersebut kepada kami, dan kami dapat memplagiat caranya itu (jika caranya dianggap cukup layak untuk diplagiat).

The kacang thing is, dia menyuruhku untuk mencatat EVERY SINGLE WORDS dari si agen tersebut. Catat! EVERY SINGLE WORDS!

Padahal, jelas-jelas supaya maksud kami yang tersembunyi ini tidak diketahui oleh si agen, saya kudu bisa bersandiwara sebagai seorang calon pembeli. Dengan kata lain, nggak mungkin lah pada sesi itu saya megang-megang catatan, dan menulis semua kata-kata yang ia ucapkan.

Kalaupun saya memegang recorder, tetap aja bagi saya ini tugas yang menggelikan. Masak setiap kata yang diucapkan sama si agen harus saya catat? Wong ketika saya masih fresh graduated dan jadi wartawan pemula, setelah mewawancara orang saya cuma disuruh bikin report aja. Yang namanya report itu, adalah garis besar apa yang diomongin oleh si narasumber. Itupun, saya nggak melakukannya dengan diam-diam dong. Recordernya saya taro di atas meja pas saya ngobrol sama si narasumber. Ketika ada hal-hal kurang jelas yang diucapkan oleh si narasumber, saya bisa memintanya untuk mengulang apa yang dia ucapkan. Lha kalo besok, mana bisa dong saya minta si agen mengulang kalimatnya kalo ada pengucapan yang nggak jelas!

Jadi, berdasarkan pengalaman saya tersebut, pekerjaan ini menurut saya menggelikan.
Dan sekali lagi, i have to say that HE IS KACANG!

Minggu, 06 April 2008

Ketika Cinta "Dibeli"...

Kemarin saya sempat bertelepon ria dengan seorang kawan. Sejauh ini, setahu saya dia sedang jomblo. Tapi kemarin saya baru tahu kalau dia sudah kembali merubah status. Yang membuat saya tertarik untuk menceritakan tentang kawan saya itu di blog ini, adalah karena kisah cintanya yang cukup unik. Begini ceritanya...

Kawan saya, adalah seorang cowok bertipe setia. Dia sudah 2 kali gagal menjalin hubungan. Hubungan itupun berakhir dengan cara yang cukup menyakitkan. Si cewek menduakan cinta dari kawan saya. Dan itu terjadi dua kali dalam dua hubungan yang ia jalani.

Sebenarnya, setelah dua kali gagal membina hubungan, kawan saya ini sedikit enggan untuk membina hubungan khusus dengan cewek yang baru. Ia memilih untuk lebih banyak memberikan perhatiannya bagi keluarganya, dan menghabiskan waktu bersama mereka.

Hingga akhirnya ada seorang cewek yang dengan tulus memberinya perhatian. Jika dulu ia menjadi pihak yang lebih banyak memberi, maka kini dia adalah orang yang selalu diberi. Cewek ini rajin menelepon teman saya untuk menanyakan kabar ketika mereka berjauhan. Cewek ini membuatkan makan untuk kawan saya. Teman saya ini diizinkan untuk tinggal di rumah kosong yang dimiliki oleh keluarga si cewek tanpa harus membayar. Keluarga si cewek juga sangat suportif dan tak kalah memberikan perhatian bagi kawan saya ini. Pokoknya banyak perhatian-perhatian yang dirasakan oleh teman saya tidak pernah ia dapatkan dari cewek-cewek dan keluarga cewek-cewek sebelumnya. Bahkan, saking baiknya si cewek dan keluarganya, saya justru berpikir bahwa perhatian-perhatian itu sebenarnya ditujukan untuk ”membeli” cinta kawan saya ini.

Ketika saya menanyakan bagaimana perasaannya pada cewek ini beberapa bulan yang lalu, ia mengatakan bahwa ia tak memiliki perasaan apapun. Ia tak sayang, dan bahkan ia masih sering memikirkan mantan ceweknya yang dulu. Saya hanya menasihatinya untuk tidak memberikan harapan semu pada seseorang. Daripada orang itu sudah mengeluarkan banyak waktu dan banyak usaha dan akhirnya teman saya harus mengecewakannya, lebih baik bersikap tegas dan tidak memupuk harapan dari cewek itu.

Karena itu saya cukup kaget ketika kemarin melalui telepon ia mengatakan bahwa ia sudah jadian dengan cewek itu.

Gw pikir, apalagi sih yang harus gw cari? Gw memang nggak fall in love sama dia, tapi gw juga nggak akan mungkin menyakiti dia. Lagian, gw sering berpikir, apakah ini adalah balasan atas apa yang udah gw alami selama ini. Dulu gw begitu sayang sama cewek gw. Apapun gw lakukan untuk dia. Tapi dia kemudian mengkhianati gw. Sekarang, ada cewek yang seolah-olah menggantikan posisi gw dulu. Dia ngasih apapun buat gw. Walaupun gw nggak bener-bener cinta sama dia, gw nggak akan pernah menyakiti dia seperti yang dulu udah pernah dilakukan oleh mantan gw terhadap gw.
Lagian Pi, lo mesti inget, banyak yang sering bilang supaya kita lebih baik memilih untuk menghabiskan hidup kita bersama seseorang yang mencintai kita, dan bukan dengan orang yang kita cintai. Itulah yang gw pegang saat ini.

Well, i can’t argue him. Every person can decide what he thinks best. Mungkin kata-kata kawan saya benar adanya. Entahlah, jika saya ada di posisi yang sama seperti dirinya, apakah saya juga akan berbuat yang sama? Saya nggak tahu, karena biasanya, ketika saya nggak menyukai seseorang, saya akan menolak kebaikan-kebaikan yang ia berikan. Saya nggak mau merasa “berhutang”. Lebih-lebih, saya nggak mau menyakiti perasaan seseorang yang sudah begitu menyayangi saya. Saya pikir, menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak kita sayang berarti membohongi dirinya dan diri sendiri. Dan bagaimanapun, membohongi seseorang yang sangat menyayangi kita pasti akan sangat menyakitkan baginya.

Tapi mungkin saya salah. Mungkin sudah waktunya saya mencoba untuk menyayangi orang yang memang menyayangi saya. Alih-alih terus mengejar seseorang yang saya sayang tapi nggak pernah balas menyayangi saya.

Selasa, 01 April 2008

Siap Menikah Ketika ...

Tadi malam, sebuah sms masuk ke hape saya. Isinya bermaksud mengundang saya ke sebuah pernikahan. Undangan diakhiri dengan menyebutkan nama si pengirim dan pasangannya.

Setelah berpikir selama 5 menit, barulah saya ingat siapa si pengirim sms itu. Seseorang yang 2 tahun lalu pernah dicomblangkan terhadap saya. Ketika itu, usia saya masih 23 tahun. Seorang teman yang baru saja menikah lah yang berinisiatif memperkenalkan saya. Padahal, ketika itu saya sendiri baru saja mulai mengenal teman saya yang baru menikah itu. Tapi, karena desakan darinya, dan karena keinginan terpendam yang saya miliki untuk menikah, saya setuju untuk diperkenalkan dengan teman dari teman saya itu.

Perkenalan diawali dengan saling mengirimkan CV. Haha…kayak mau ngelamar kerjaan ya? Tapi isinya memang sedikit berbeda. Disamping menuliskan biodata, orang itu juga menuliskan alasan di balik keinginannya untuk berkenalan dengan saya. Bahwa ia hendak menikah, dan karena alasan-alasan lainnya yang berkenaan dengan agama. Ia juga menyebutkan bahwa jika semua proses lancar, maka orang tuanya akan datang untuk melamar saya di akhir tahun, dan pernikahan akan bisa dilaksanakan pada awal tahun 2007.

Membaca CV yang ia kirimkan, saya tahu bahwa orang ini sangat serius dengan keinginannya. Saya sendiri memang ingin menikah, tapi ketika itu saya nggak tau apa cara seperti ini yang saya inginkan untuk berkenalan dengan calon suami saya. Bahkan saya mulai meragukan sebesar apa keinginan saya untuk benar-benar mengakhiri masa lajang dan hidup berumah tangga.

Dengan menguatkan hati, saya putuskan untuk melanjutkan proses perkenalan ini. Setelah bertemu, perasaan saya...biasa-biasa saja. Saya nggak merasakan perasaan-perasaan yang seharusnya saya pikir akan saya rasakan. Yang ada justru perasaan nggak nyaman, canggung, dan risih. Saya benar-benar merasa tidak menjadi diri saya.

Saya pun tau bahwa orang di hadapan saya juga merasakan perasaan yang sama. Tapi hebatnya, setelah itu, alih-alih menghilang tanpa jejak, ia meminta saya untuk memperkenalkan dirinya dengan keluarga saya. Saya sih nggak keberatan. Tokh hampir semua teman saya – cewek maupun cowok – sering saya ajak ke rumah dan berkenalan dengan keluarga saya.

Proses seperti ini berlangsung cukup lama, hingga akhirnya saya mendapatkan kesimpulan bahwa berapa lamanya pun saya dan orang ini berusaha untuk dekat, jauh di dalam kami tetap seperti dua orang asing.

Akhirnya, setelah mendiskusikan hal ini, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan proses pendekatan yang sudah berlangsung setengah jalan dan memutuskan untuk berteman biasa.

Satu setengah tahun berlalu tanpa kontak, hingga akhirnya ia mengirimkan sms yang saya terima semalam. Ia akan menikah. Mengetahui itu, saya tidak sedih. Saya malah merasa bersyukur bahwa keinginannya yang sejak dulu sudah begitu kuat, sesaat lagi bisa terwujud.

Orang ini, adalah orang yang menyadarkan saya bahwa saya ingin menghabiskan hidup saya bersama seseorang yang saya cintai. Dan dari dia juga, saya tau bahwa cinta bukan sesuatu yang muncul secara instan. Waktu perkenalan yang saya jalani selama hampir 2 bulan bersama orang itu membuktikan bahwa perasaan yang disebut cinta itu tak bisa datang dengan tiba-tiba. Hal lainnya yang saya ketahui dari kejadian ini adalah, menikah bukan hal yang main-main. Selama ini saya bilang mau menikah, tapi ketika seseorang datang, saya berubah pikiran.


Mungkin benar apa kata orang, siap menikah bukan ketika bibir kita mengucapkan siap, tapi ketika hati kita menyetujui, dan otak kita memrintahkan seluruh tubuh kita untuk melakukannya.

Jadi pegawai upahan...

Kalau ada orang yang mengajukan pertanyaan “Enak ga kerjaan yang sekarang?”, saya pasti akan bingung menjawabnya. Bukan kenapa-kenapa. Saya memang nggak ngerti bagaimana suatu pekerjaan dapat dikatakan enak, dan kapan dapat dikatakan nggak enak.

Misalnya aja pekerjaan saya yang dulu. Enak karena saya bisa dapet uang banyak. Bos juga cukup kooperatif, nggak masalah liat bawahannya nyantai asal target pekerjaan tercapai. Nggak enaknya, tiap hari - bahkan sabtu dan minggu - waktu luang saya harus terpakai untuk meeting dengan klien, dan sebagainya.

Atau kita ambil contoh kerjaan saya yang sekarang. Enak karena job desk yang saya kerjakan cukup mengasyikkan dan temen-temen saya pada heboh-heboh. Tapi nggak enak karena lokasi kerjanya jauh dan gaji yang diterima tiap bulan ya segitu-gitu aja. Belum lagi kalo udah ditambah masalah sama bos.

Seperti yang udah pernah saya ceritakan (baca: sandal jepit), bos saya ini rada-rada complicated. Kadang-kadang, dia jadi bos yang perhatian, gembira dan verry supportive. Tapi kadang-kadang juga – dan ini lebih sering – dia cemberut, bad mood, dan getahnya nempel ke bawahannya. Dalam seminggu terakhir, udah beberapa kali saya dimarahin dia. Sebenernya, saya nggak akan terlalu peduli kalau dimarahinnya pas jam kantor. Saya akan anggap itu resiko kerja. Tapi yang ada, bos saya ini paling hobi untuk menggelar meeting, memberikan kerjaan, dan mendiskusikan pekerjaan pada sore hari, mendekati jam pulang kantor.

Pernah waktu dulu, udah jam 5 kurang 5 menit. Kantor aman tentram sentosa karena bos sedang keluar untuk meeting. Saya sendiri udah mulai beres-beres dan siap pulang teng-go. Ternyata, si bos tiba-tiba datang dan menyuruh semua orang untuk meeting. Ini udah jam 5 loh! Jam 5! Kalau Anda nggak ngeh, mungkin perlu saya ulang sekali lagi. Udah jam 5! Dan jam 5 itu udah waktunya pulang setau saya. Dan, catet ya...kejadian seperti ini nggak cuma terjadi sekali. Sepanjang saya di kerjaan saya yang sekarang, udah 2 kali bos mengajak meeting, dan 1 kali membahas tugas, di teng-go time.

Tapi apa daya, sebagai pegawai upahan, saya harus nurut sama permintaan bos. Demikian juga teman-teman sekantor saya yang lain. Terpaksalah kami semua meeting, yang diakhiri pada jam 7 malam! Ckckck....

Mungkin temen-temen menganggap saya terlalu berlebihan. Disuruh pulang malem aja kok segitunya. Well, kenyataannya memang saya merasa keberatan. Untuk lembur, saya nggak dibayar ekstra. Padahal, kalau saya masuk kantor terlambat 1 menit aja uang transport saya dipotong sampai nol. Jadi wajar dong kalau saya nggak mau rugi! Tokh perusahaan juga nggak mau rugi sama saya.

Selain itu, alasan lainnya kenapa saya paling males pulang malam adalah karena rumah saya terhitung cukup jauh dari kantor, dan saya berangkat dan pulang dengan bis umum. Jadi, kalau saya pulang kantor tidak sesuai jadwal saya yang biasa, maka bis langganan saya tentu saja sudah akan pergi, dan saya terpaksa harus naik bis umum yang notabene lebih beresiko karena statusnya (bis umum) dan karena udah larut.

Hal lain yang menyebabkan saya paling males lembur adalah karena menurut saya dengan load pekerjaan di kantor saya, lembur merupakan wujud inefisiensi kerja. Ya iyalah, wong dikerjain di jam kantor aja semua tugas saya selesai tepat waktu, dan saya masih bisa nulis blog. Kenapa saya masih harus disuruh pulang malem? (hehe...ini pembenaran atas hidden activity gw nulis blog)

Lebih lagi, meeting yang diadakan sama bos saya di teng-go time ini nggak membahas hal yang krusial dan sangat mendesak. Yang dibahas ya hal-hal biasa yang menurut saya justru akan jauh lebih efektif jika disampaikan keesokan hari dan bukan malam-malam seperti itu.

Nah, itu baru meeting. Bayangkan kekesalan saya kalau jam 5 sore, ketika saya udah mau pulang, bos saya dengan seenaknya memanggil saya dan membahas tugas yang sedang saya kerjakan. Belum lagi, saat itu karena terjadi miskomunikasi atas tugas yang harus saya buat, si bos memarahi saya. Gimana nggak sebel? Udah dipaksa pulang malem, dimarahi pula! Apalagi, saya merasa ketidaktepatan tugas yang saya buat adalah karena dia yang salah memberikan perintah, bukan kesalahan saya. Jadi, pas malam itu, saya pulang malam dengan menahan marah, dan gondok yang berjejer.

Well, that’s just a little bad part of my current job. Yang jelas, I know that being an employee is sucks. Harus siap dapet omelan padahal bukan kita yang salah, harus siap pulang malam padahal kita udah bekerja efisien, dan banyak keharusan lainnya.


Jadi, kenapa nggak keluar aja? Perhaps someday lah…saya mau berhenti jadi pegawai upahan dan banting setir jadi wiraswastawan aja…atau mungkin jadi ibu rumah tangga. Sounds nice kan?