Kamis, 29 Mei 2008

Mengomentari Iklan



Teman-teman, sudah pernahkah kamu melihat iklan ini?

Iklan yang cukup menarik bukan?

Tapi, kali ini saya tidak akan memuji kreativitas dari si pembuat iklan, yang sudah berulang kali dibahas di koran-koran dan forum diskusi lainnya.

Yang mau saya komentari adalah konteks dari iklan tersebut.

Kalau dipikir-pikir, baik kita menjawab pilihan yang manapun, pilihan 1 dan pilihan 2, sebenarnya maksud kita tetap saja sama. Setujukah kalian?

Coba pikirkan, kalau kita menjawab pertanyaan tersebut dengan pilihan 1, maka kalimatnya akan menjadi “Tentu benar bahwa siapa yang gonta-ganti pacar belum tentu gonta-ganti bini”.

Sementara, kalau kita menjawab dengan pilihan 2, maka kalimatnya akan menjadi “Belum tentu siapa yang gonta-ganti pacar gonta-ganti bini”.

Intinya, dari dua pilihan itu, sebenarnya maksudnya tetap saja sama. Menariknya, hal ini justru dijadikan ajang bagi perusahaan rokok ini untuk menarik minat orang-orang yang melihat iklan tersebut. Semua orang bisa menentukan pilihan mereka melalui website atau melalui sms, yang ujung-ujungnya menghasilkan duit bagi perusahaan.

Saya, walaupun tidak mungkin mau memberikan pilihan melalui website ataupun melalui sms (saya orang yang sangat amat pelit dalam hal pemborosan waktu dan uang), tetap saja ikut terperdaya. Soalnya, saya sampai bela-belain membahas iklan ini di blog saya. Itu kan artinya promosi yang dilakukan oleh si perusahaan ini sukses besar, karena saya sudah ikut menyebarluaskan (mempromosikan) iklan mereka dengan cuma-cuma.

Tapi kali ini saya nggak merasa rugi atau terbodohi. Menurut saya, mereka memang berhak mendapatkan promosi dari saya. Iklan mereka kali ini, FANTASTIS!

Si Banci Mike



Dunia ini memang penuh dengan tipe-tipe manusia yang beraneka ragam. Ada orang yang banci foto; senang berpose di depan kamera, ada yang banci tampil; senangnya tampil di muka umum dan diperhatikan oleh banyak orang, ada yang banci dandan; di hampir setiap kesempatan selalu ngaca untuk memastikan bedak dan make up-nya masih sempurna, dan masih banyak lagi banci-banci lainnya.

Nah, kali ini saya hendak mengomentari salah satu jenis banci yang saya tahu, yakni banci mike. Sebagaimana namanya, orang yang banci mike sangat amat senang bersentuhan dan berdekatan dengan benda bernama mike. Mungkin, dalam benak mereka, ketika memegang mike mereka sudah menjadi seorang penyanyi profesional (ketika mereka menyanyi dengan suara ala kadarnya), seorang orator ulung (ketika mereka berbicara di depan-hanya-satu orang audiens), seorang presenter kawakan (ketika mereka mendapatkan kesempatan untuk menjadi moderator), dan sebagainya.

Teman saya, ada beberapa yang termasuk dalam tipe banci mike ini. Salah satunya adalah teman kuliah saya. Teman kuliah saya ini, termasuk dalam banci mike dengan dunia khayal dimana ia adalah seorang orator ulung. Terbukti dari beberapa kali diskusi kelas digelar, ia sangat senang mengajukan dirinya untuk melakukan presentasi.

Di kelas saya dulu, karena kelasnya diisi oleh 100% kaum pekerja, maka demi alasan efisiensi waktu dan tenaga, pembentukan kelompok di semua mata kuliah disamakan. Dengan demikian, ketika anggota kelompok tersebut telah meluangkan waktunya untuk bertemu dan berdiskusi, mereka langsung dapat membahas semua tugas mata kuliah. Biasanya, karena kelompoknya diisi oleh orang-orang yang sama, maka tanggung jawab atas sebuah tugas biasanya digilir, sehingga masing-masing anggota kelompok mendapat tanggung jawab akan sebuah tugas. Jika di mata kuliah manajemen pemasaran, misalnya tanggung jawab sudah dilimpahkan kepada Amir, maka di tugas mata kuliah Manajemen Akuntansi tanggung jawab akan dilimpahkan ke Badu. Demikian pula seterusnya untuk mata kuliah-mata kuliah yang lain. Dan biasanya lagi, orang yang telah ditunjuk untuk bertanggung jawab atas tugas sebuah mata kuliah akan bertugas untuk mempresentasikan tugas tersebut mewakili kelompoknya, ke depan kelas.

Akan tetapi, karena ada salah satu anggota kelompok yang ternyata banci mike, maka kewajiban mempresentasikan tugas yang seharusnya dimiliki oleh rekan kelompoknya, dengan senang hati akan ia ambil. Kalau perlu, jika si teman ternyata ingin mempresentasikan tugas tersebut sendiri, si banci mike ini akan mengusulkan agar mereka bergantian membawakan presentasi tersebut. Nah, pada kenyataannya, hal ini tidak pernah terjadi. Ketika seorang banci mike mengusulkan agar dia yang membawakan presentasi, maka biasanya si pengemban tanggung jawab dengan senang hati akan memberikannya. Akhirnya, si banci mike akan terus-menerus membawakan presentasi mewakili kelompoknya. Dampaknya, para audiens akan merasakan kemuakan yang luar biasa karena melihat orang yang sama melakukan presentasi setiap saat.

Pernah, suatu hari, salah seorang dosen kami mengusulkan agar seluruh anggota kelompok bergiliran membawakan presentasi. Dalam kondisi seperti ini, yang terjadi akhirnya adalah mike yang cuma ada satu, didominasi oleh si banci mike. Hal yang lucu adalah ketika ada teman lain bergiliran untuk menjawab pertanyaan yang diajukan, alih-alih memberikan mike tersebut, si banci mike ini justru menjawab pertanyaan yang merupakan bagian teman kelompoknya. Kemudian, ketika temannya harus melengkapi jawaban yang diberikan oleh si banci mike, belum selesai hingga ujung kalimat, si banci mike telah merebut kembali mike yang dipegang oleh temannya. Lantas, ketika temannya yang lain lagi hendak memberikan tambahan, mike tersebut tetap dipegang di tangan si banci mike, sehingga si anggota kelompok yang akan memberikan tambahan pendapat harus berbicara dengan suara lantang. Saya yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala saja.

Teman saya lainnya yang juga banci mike adalah teman kantor saya. Ia, banci mike ketika sedang menyanyi. Saat menyanyi di tempat karaoke, tak sekalipun teman saya ini mengalihkan mike yang ia pegang agar teman karaokenya yang lain bisa mendapat giliran untuk menyanyi. Pun ketika lagu yang dimainkan sebenarnya adalah lagu yang diminta oleh orang lain, mike yang dipegangnya pun tak urung ia lepaskan. Untung saja, teman saya yang banci mike ini suaranya memang bagus. Coba kalau suaranya fals, bisa-bisa mike yang menempel di tangannya itu saya lepas secara paksa.

Selain menunjukkan keegoisan atas sebuah benda bernama mike, orang yang banci mike ketika berkaraoke bersama sangat amat merugikan teman-teman lainnya. Sebab, pembayaran untuk biaya karaoke biasanya tidak akan dihitung berdasarkan jumlah lagu yang dinyanyikan oleh setiap orang, melainkan dibagi rata untuk setiap jumlah orang yang ikut berkaraoke. Jadi, wajarlah kalau orang yang banci mike ini dihindari oleh teman-temannya yang hendak berkaraoke.

Demikianlah, cerita saya tentang dua orang teman saya yang saya sebut banci mike. Kalau Anda merasa sulit berpisah dengan mike yang Anda pegang, hati-hati! Mungkin Anda termasuk golongan banci mike ini. Atau, kalau Anda merasa teman saya, mungkin Andalah yang sedang saya ceritakan di blog ini.


Catatan : mike yang dimaksud dalam cerita ini adalah mikrofon.

Senin, 26 Mei 2008

Politik Berlandaskan Etika Kejujuran

Kemarin, lagi-lagi saya dapat sebuah kalimat bijak dari seseorang. Kebetulan, kali ini orang tersebut menyandang predikat sebagai Menteri Keuangan Indonesia. Yup! Nama orang itu adalah Ibu Sri Mulyani. Semua orang-hampir semuanya-pasti pernah mendengar nama si ‘wanita super’ ini. Saya sebut demikian, karena di mata saya dia termasuk salah seorang wanita yang luar biasa. Pintar, tegas, dan enerjik.

Ia kemarin diwawancarai oleh Desi Anwar, seorang penyiar Metro TV terkait adanya kenaikan harga BBM. Ketika itu, Desi Anwar tengah menanyakan tentang beberapa pendapat dari mantan menteri keuangan Indonesia yang beranggapan bahwa kebijakan yang diambil oleh Pemerintah dengan menaikkan harga BBM adalah keputusan yang salah. Menurut beberapa mantan menteri itu, sebenarnya masih ada alternatif kebijakan lain yang lebih baik yang dapat ditempuh oleh Pemerintah. Menanggapi pertanyaan itu, beginilah kalimat yang diucapkan oleh si wanita super ini…


“Saya sejujurnya tidak mengerti bagaimana para bekas menteri tersebut bisa mengatakan hal demikian. Para bekas menteri itu, pastinya memiliki kompetensi yang layak. Kami belajar ilmu yang sama, dihadapkan pada data yang sama, namun memiliki keputusan yang berbeda. Saya rasa, perbedaan seperti itu seharusnya disebabkan karena strategi politik yang berbeda. Bagaimanapun, strategi politik itu seharusnya tetap berlandaskan etika kejujuran. Dengan itu, apapun strategi politik dapat dibenarkan. Namun tidak demikian halnya jika strategi politik hanya bertujuan untuk memenangkan hati rakyat, dengan membohongi rakyat”.

Wah, panjang ya? Saya sih nggak mungkin menuliskan kalimatnya dengan sempurna. Tapi kira-kira, begitulah yang saya tangkap kemarin. Dan kalimat yang hendak saya garisbawahi adalah “Politik berlandaskan etika kejujuran”.

Saya, selama ini sangat tidak menyukai politik karena intrik-intrik di dalamnya menurut saya kotor dan memusingkan. Saya baru tahu bahwa ada politik yang berlandaskan etika kejujuran. Entah apakah itu hanya sebatas kalimat yang tak mungkin diwujudkan, atau mungkin kalimat itu memang benar adanya, saya masih tidak tahu. Tapi buat saya, kalimat itu begitu kuat dan membekas di benak saya, hingga saya putuskan untuk menulisnya di blog ini. Barangkali, jika para elit politik mampu berpolitik dengan berlandaskan etika kejujuran, negeri ini akan menjadi seperti yang selama ini saya impikan. GEMAH RIPAH LOH JINAWI (baca: subur makmur berlimpah ruah).


Teori Relativitas



Dulu saya sempat berpikir bahwa dunia ini sangat amat tidak adil. Sampai kini pun saya masih kerap memiliki pikiran seperti itu. Tapi, akhir-akhir ini, saya menemukan salah satu keadilan yang amat bijak di dunia ini. Keadilan itu saya temukan dalam teori relativitas.

Teori relativitas yang saya maksudkan dalam hal ini bukan e = mc2 sebagaimana yang ditemukan oleh si jenius Albert Einstein. Saya sebut relativitas karena di dalamnya melibatkan ketidakabsolutan dari seorang manusia. Contoh gampangnya, pernahkah kamu (cewek) berbeda pendapat dengan seorang kawan ketika ada seorang pria melintas? Misalnya saja menurut pendapat kamu cowok itu keren banget, sementara teman kamu justru berpendapat bahwa cowok itu standar aja. Kalian bisa berbeda pendapat karena masing-masing memiliki kriteria yang berbeda, dan inilah yang saya artikan sebagai ketidakabsolutan atau relativitas seorang manusia.

Contoh lain, ketika kamu menilai bahwa si A sangat beruntung karena mendapatkan seorang suami seganteng Brad Pitt misalnya, teman kamu justru berpendapat bahwa A sebenarnya jauh dari beruntung karena sering ditinggal pergi sama suaminya yang luar biasa sibuk plus harus sering merasa was-was karena suaminya yang ganteng itu bisa dengan gampangnya selingkuh dengan wanita-wanita lain yang menggilainya. Bisa dilihat kan? Sesuatu yang kita anggap sempurna di mata kita pada kenyataannya tidak pernah sempurna. Orang lain, ketika melihat dari sudut pandang yang berbeda akan mampu melihatnya. Hal ini tidak selalu berarti bahwa orang lain yang mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda tersebut lebih bijak. Karena, terbukti bahwa ketika memandang hal lain yang berbeda, misalnya kehidupan si B, mungkin orang lain itu memandang kehidupan B sempurna padahal kenyataanya tidak demikian, sementara kita ternyata bisa melihat bahwa kehidupan B tidak sempurna melalui sudut pandang kita.

Nah, hal yang menarik ini jadi tambah menarik kalau kita coba aplikasikan dalam idealisme memilih seorang calon suami/istri. Hal yang sering kita dengar adalah setiap manusia menghendaki pasangannya kelak haruslah baik, tampan, pintar, dan sejuta hal-hal baik lainnya. Tapi, orang tidak pernah/jarang merinci sebaik apakah pendamping itu seharusnya, setampan apakah, atau sepintar apakah. Jarang juga yang mendaftar kriteria-kriteria tersebut dan membuat prioritas darinya.

Misalnya, ketika saya menemukan bahwa seorang pria yang ternyata saya anggap ideal itu telah saya temukan, orang lain bisa jadi sedang mencibir saya dan merasa iba karena suami saya itu misalnya hanya seorang pekerja kasar dengan penghasilan ala kadarnya. Tapi, karena prioritas saya dalam memilih suami adalah orang yang baik, pintar, dan tampan, maka saya merasa saya telah mendapatkan seseorang yang ideal. Teman saya, mencibir dan merasa iba pada saya dikarenakan idealisme yang ia miliki menuntut seorang suami harus punya pekerjaan yang mapan dan berpenghasilan besar, sementara pintar ataupun tampan hanya kriteria kecil yang bisa diabaikannya. Saya, di sisi sebaliknya, ketika melihat bahwa calon suaminya ternyata pendek, botak, dan sudah tua, merasa iba pada teman saya. Walaupun ternyata si pria itu sudah mapan, tetap saja bagi saya teman saya telah membuat keputusan yang salah. Padahal, sebenarnya teman saya itu merasa ia sangat beruntung karena telah menemukan seseorang yang selalu ia cari-cari selama ini.

Itulah, selera yang berbeda-beda yang dimiliki oleh setiap manusia ini menjadikan dunia ini adil. Orang yang botak, tua, gendut, namun berduit bisa jadi terlihat sangat menarik di mata seorang wanita. Sementara wanita lain melihat seorang buruh bangunan sangat menarik karena ia sangat tampan dan baik hati.

Oh ya, jangan menyalahartikan perbedaan kriteria ini dengan kematrean seorang cewek/cowok ya. Matre, bisa diistilahkan kepada seorang cewek/cowok ketika ia memilih seorang yang berduit dengan menentang nuraninya yang mengatakan orang itu sebenarnya tidak menarik. Apa yang saya coba ceritakan sangat jauh dari kematrean ini. Faktor selera, menjadikan seseorang bisa memilih orang yang botak, gendut, tua dengan segenap hatinya, tanpa mempedulikan isi kantongnya.

Dengan demikian, seorang yang luar biasa jelek, luar biasa miskin, luar biasa gendut, misalnya, tetap dapat menemukan seseorang yang mencintainya dengan sepenuh hati. Misalnya, karena seorang wanita/pria jauh lebih mementingkan kebaikan hati dari pasangannya, tanpa mempedulikan hal-hal yang sifatnya fisik dan materialistis. Si wanita/pria itu, ketika mendapatkan pasangannya luar biasa jelek, luar biasa miskin, luar biasa gendut, namun memiliki hati yang baik, bisa jadi merasa sangat beruntung karena bisa menemukan pasangan yang baik hati di zaman penuh kebohongan dan kemunafikan ini.

Well, itu sih cuma contoh ekstrim yang saya buat dari sisi menemukan pasangan hidup. Saya yakin, teori relativitas ini akan tetap berlaku dalam hal-hal yang jauh lebih besar daripada pasangan hidup, misalnya, ketika kita merasa tidak beruntung karena mendapatkan keluarga yang kurang mampu, lingkungan penuh narkoba, atau hal-hal lainnya yang kerap menjadikan kita merasa manusia paling tak beruntung di dunia.

Intinya, ketidakabsolutan/relativitas seorang manusia lah yang pada dasarnya menjadikan dunia ini adil. Ketika kita memandang seorang manusia sangat beruntung, sebenarnya kita hanya melihat dari satu sudut pandang. Orang lain, bisa saja memandang manusia yang kita pikir beruntung itu justru dengan perasaan iba, karena ia melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Jadi, apa yang hendak saya sampaikan adalah, dunia ini sebenarnya adil dengan caranya yang unik dan bijak. Jadi, tidak bisa tidak, jalani hidup ini dengan hati yang senantiasa bersyukur, dan kamu akan menemukan bahwa dunia sangat adil padamu.


Masih Pentingkah Jodoh?

Pernah dengar nggak sebuah teori yang mengatakan bahwa ketika kita menikah dengan seseorang, berarti kita telah menemukan jodoh kita. Teori ini lebih lanjut mengatakan bahwa ketika pernikahan berakhir dan terjadi perceraian, maka itu berarti jodoh pasangan tersebut berakhir, dan selanjutnya mereka mungkin akan berjodoh dengan orang yang lain lagi.

Saya kok jadi bingung ya dengan teori itu? Apa iya yang namanya jodoh itu hanya bisa dibuktikan benar adanya ketika lembaga perkawinan telah terjadi? Sehingga ketika lembaga perkawinan berakhir, dapat ditarik kesimpulan bahwa jodoh kedua orang yang tadinya menikah juga berakhir? Lha kalau setelah cerai, trus nggak berapa lama kedua orang tadi rujuk kembali, apa berarti mereka kembali berjodoh setelah sebelumnya sempat tidak berjodoh?

Benar-benar teori yang aneh. Bagi saya teori itu kedengarannya lebih seperti pembenaran atas terjadinya perceraian. Dan dalam hal ini, jodohlah yang menjadi kambing hitamnya. Jadi, orang yang bercerai, ketika ditanya kenapa bisa bercerai, dengan entengnya tinggal menjawab “Yah...mungkin memang sudah nggak jodoh”.

Saya sendiri hingga sekarang merasa masalah jodoh tetap merupakan misteri terbesar abad ini (lebay J). Tentu saja saya juga nggak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Yang saya tahu hanyalah bahwa ketika komitmen dalam ikatan pernikahan telah dibuat, maka kedua orang yang telah berkomitmen itu harus menjaga kesetiaan dan hidup bersama-sama hingga akhir hayat. Tak peduli apakah sebenarnya kedua orang itu berjodoh atau tidak, ketika komitmen telah dibuat seharusnya perceraian tidak pernah terjadi.

Nah, kalau demikian adanya, masih pentingkah yang namanya jodoh itu?

Selasa, 20 Mei 2008

Pelajaran Bahasa Indonesia

Setelah dipikir-pikir, akhirnya saya berani menyimpulkan bahwa saya adalah orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap bahasa. Tapi jangan ditarik kesimpulan bahwa kemampuan linguistik saya bagus ya...

Menurut saya, memiliki kepekaan tinggi atas bahasa tidak menjadikan saya orang yang memiliki kemampuan linguistik bagus sehingga dengan mudahnya mampu menguasai bahasa asing. Hal ini terbukti dengan tenses bahasa inggris saya yang tetap amburadul hingga sekarang, dan menyerahnya saya untuk mempelajari bahasa jepang ketika baru masuk ke Basic 3 di sebuah kursus.

Saya menyimpulkan bahwa saya memiliki kepekaan yang tinggi atas bahasa karena saya bisa mengingat dengan baik pelajaran bahasa yang dulu diberikan oleh guru saya ketika SMP dan SMA dulu. Padahal, itu kan sudah berlalu 10-14 tahun yang lalu. Selain itu, saya baru tersadar bahwa saya kerap kali mendapatkan nilai 9 di rapor saya untuk pelajaran ini, dan bahkan pernah terjadi saya adalah satu dari dua orang di seluruh kelas, yang diberikan angka 9 untuk pelajaran bahasa Indonesia waktu SMP.

Saya menceritakan hal ini, karena akhir-akhir ini saya merasa cukup terganggu dengan ulah bos saya. Dia, acapkali mengirimkan email dengan menuliskan kata 'jadwal' sebagai 'jadual'. Pikiran saya pun akhirnya melayang ke pelajaran bahasa Indonesia yang saya dapatkan ketika SMP dulu. Saya ingat bahwa di pelajaran dulu, penulisan yang benar adalah 'jadwal' dan bukan 'jadual'. Tapi, di sisi lain, penulisan yang benar adalah 'kuitansi' dan bukan 'kwitansi'. Saya masih mengingat pelajaran itu, dan karenanya, saya yakin bos saya menuliskan kata tersebut dengan tidak tepat.

Selain itu, saya juga ingat bahwa kata-kata berakhiran 'f' yang ditambahi akhiran 'itas', semisal 'aktif' ketika ditambahi akhiran 'itas', bukan menjadi 'aktifitas' tetapi 'aktivitas'. Saya ingat bahwa itulah penulisan yang diajarkan oleh guru SMA saya. Jadi, huruf 'f' akan melebur dan berganti dengan huruf 'v'. Demikian pula dengan kata 'sportif'. Penulisan yang benar seharusnya adalah 'sportivitas' alih-alih 'sportifitas'.

Namun, peleburan seperti ini tidak terjadi secara konsisten. Terbukti dari banyaknya kata yang ketika ditambahi imbuhan, tak satupun hurufnya yang melebur. Misalnya, kata 'apoteker'. Dari kata tersebut, maka kita mengetahui bahwa kata yang benar adalah 'apotek' dan bukan 'apotik'. Atau dari kata 'praktikum' kita mengetahui bahwa kata dasar yang benar adalah 'praktik' dan buka 'praktek'.

Itulah beberapa pelajaran bahasa Indonesia saya semasa SMP dan SMU yang masih saya ingat hingga sekarang. Tapi, terus terang saya sendiri merasa bingung dengan bahasa Indonesia ini. Pasalnya, sekalipun saya mengingat dengan pasti pelajaran yang saya dapat dulu, tak urung saya kerap menemukan kata 'sportifitas' di media cetak tekemuka di negeri kita. Akhirnya saya pun bingung, apakah etika penulisan kata tersebut memang telah berubah? Ataukah ingatan saya yang ternyata sudah usang? Mungkin ada pembaca yang ingat pelajaran bahasa Indonesia di SMP atau SMA dulu bisa membantu saya?


Persistensi

Persistensi. Menurut saya itulah jurus yang digunakan oleh tim Thomas Cina dan Korea ketika bertarung di babak final perebutan piala Thomas yang lalu. Tanpa bermaksud mendiskreditkan tim Thomas Indonesia yang keok dengan skor 3-0 melawan Korea, saya benar-benar merasa terinspirasi menyaksikan perjuangan yang ditampilkan oleh Cina dan Korea.

Kata persistensi sedikit berbeda arti dengan konsistensi. Konsistens berarti mampu melakukan hal yang sama secara terus-menerus. Kurang lebih, kata ini bisa disamakan dengan stabil. Adapun persisten, berarti mampu mempertahankan ke-konsistensi-an yang ada. Jadi, persistensi lebih dapat didefinisikan sebagai berdaya tahan tinggi. Sedikiiiiiitt sekali perbedaan arti di antara kedua kata ini. Tapi hasil yang ditimbulkan bisa jadi jauuuuuhhh berbeda.

Kembali ke pertarungan sengit Korea-Cina ketika memperebutkan piala Thomas. Salah satu set pada pertarungan tunggal putra bahkan-saking sengitnya-hanya dapat dimenangkan dengan angka 28-26. Sekedar informasi (bagi yang tidak memahami skor permainan bulutangkis), sebuah set sebenarnya sudah layak dimenangkan dengan angka 21. Namun, jika sebelum mencapai angka 21, terjadi kedudukan imbang 20-20, maka set baru dapat dimenangkan jika telah dicapai angka 22. Jika sebelum mencapai angka 22 terjadi skor imbang kembali 21-21, maka set dapat dimenangkan jika dicapai angka 23. Demikian seterusnya. Intinya, jika angka imbang dicapai, maka permainan hanya dapat dimenangkan jika seorang pemain meraih 2 angka berturut-turut. Kalau angka diraih secara bergantian antara pemain yang satu dan yang lainnya, maka permainan harus terus dilanjutkan.

Karenanya, dapat dibayangkan bagaimana serunya permainan yang saya tonton ketika itu. Masing-masing pemain bergantian mencetak angka dan tak satupun pemain yang menurunkan persistensi yang mereka miliki. Baik Korea maupun Cina, sangat berambisi untuk merebut set pertama itu. Setelah begitu besarnya usaha yang mereka keluarkan, energi yang mereka habiskan, tak layak jika set itu dibuang begitu saja. Maka, angka pun diraih susul-menyusul tanpa seorang pemain pun yang hendak menyerah.

Bagi saya, persistensi yang ditunjukkan oleh kedua pemain sangat menakjubkan. Dan inilah yang seharusnya kita contoh. Ketika kita dihadapkan pada situasi dimana apa yang kita tuju ternyata sangat sulit untuk diraih, kadang-kadang kita lebih memilih untuk menurunkan/ merubah target kita ketimbang mempertahankan persistensi yang kita miliki dan terus berjuang.

Seperti yang dilakukan oleh pemain Cina dan Korea ketika itu. Mereka sudah begitu dekat dengan angka 21 ketika berada di angka 20, tapi ternyata kemenangan harus tertunda ke angka 22. Ketika mereka sudah di angka 22, lagi-lagi kemenangan harus tertunda ke angka 24, dan ini terjadi berulang-ulang hingga angka 28.

Karena itu, ketika kita telah begitu dekat dengan kesukesan, dan ternyata kesuksesan itu harus tertunda untuk ke sekian kalinya, yang seharusnya kita lakukan adalah terus berusaha dan tak pernah menyerah. Karena hanya dengan persistensi-lah akhirnya kesuksesan tersebut mampu kita capai.

Rabu, 07 Mei 2008

Diskriminasi Gender di Negara Maju (versi upi)

Sebenarnya, yang namanya diskriminasi gender itu bukan cuma menu (baca: terjadi) di negara-negara miskin dan berkembang yang selama ini digembar-gemborkan. Biasanya, untuk mengambil contoh kasus bagaimana seharusnya perbedaan gender disikapi, para aktivis sering kali mencontohkan negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan lainnya. Nah, saya punya opini yang berbeda soal ini. Menurut saya, negara-negara maju itu justru telah melakukan diskriminasi gender secara mengakar. Begini nih ceritanya…

Pernah kan mengisi formulir-entah jenis apapun-dalam bahasa Inggris? Biasanya, ketika ada pertanyaan tentang nama depan, terdapat 4 pilihan yang bisa di-centang. Pilihan-pilihan itu adalah ’Mr’, ’Mrs’, ’Ms’, dan ’Miss’. Pilihan ’Mr’ digunakan jika orang yang mengisi form tersebut berjenis kelamin pria. Sementara tiga pilihan sisanya diperuntukkan bagi orang dengan jenis kelamin wanita. ’Mrs’ digunakan untuk wanita yang sudah menikah, ’Miss’ untuk wanita yang belum menikah, dan ’Ms’ untuk wanita dengan status yang diragukan. Maksudnya, si wanita tersebut tidak diketahui apakah belum menikah, sudah menikah, atau mungkin sudah janda. Di sisi lain, ’Ms’ juga dapat dipakai untuk wanita yang hendak merahasiakan statusnya. Jadi, si wanita ini dengan satu atau lain alasan keberatan jika statusnya diketahui.

Kalau ditilik-tilik, wanita yang kira-kira keberatan statusnya diketahui, mungkin sedang dalam salah satu situasi seperti di bawah ini:
Wanita ini sudah tua banget tapi belum menikah, jadi dia ogah kalo disebut perawan tua.
Wanita ini masih muda, dan udah menikah. Tapi karena dia lagi ngecengin seseorang (baca: ngelaba), dia nggak mau statusnya diketahui.
Wanita ini keberatan kalau statusnya disebarluaskan ke banyak pihak. Bukan masalah udah tua dan udah menikah, masih muda dan belum menikah. Dia cuma nggak mau aja statusnya disebarluaskan melalui selembar kertas.

Nah, kembali ke topik semula. Menurut saya, adanya 3 pilihan status bagi wanita dan hanya 1 pilihan (baca: tanpa pilihan) bagi pria menunjukkan diskriminasi gender. Ini berarti, bagi orang-orang bule, status seorang wanita itu perlu diketahui dengan jelas dan gamblang, apakah sudah menikah atau belum menikah. Sementara, untuk pria, nggak penting dia udah menikah atau belum, ini nggak jadi persoalan bagi orang-orang bule itu. Ini kan diskriminasi, ya toh?!

Saya sendiri nggak ngerti, apa sih gunanya mengetahui apakah seorang wanita sudah menikah atau belum? Keperawanan? Well, di Indonesia bisa jadi alasannya itu. Tapi ini kan di Amerika dan negara-negara lain di mana keperawanan sama sekali tidak bisa ditunjukkan dari status menikah atau belum menikah. Jadi kenapa ya?

Catatan :

Cerita ini cuma luapan uneg-uneg yang ada di benak saya. Sebenarnya sih saya justru pengen tahu filosofi apa sih yang ada di balik ’diskriminasi’ ini. Yah, anggaplah, pada cerita kali ini saya nggak mau berpikir sempit dan picik. Bukankah katanya selalu ada hikmah di balik apapun?

Minggu, 04 Mei 2008

Aturan Nggak Penting bin Nggak Dewasa di Kantor Saya

Tercatat mulai tanggal 2 Mei 2008 lalu, akses atas seluruh personal email account di kantor saya diblok. Pemberitahuan ini sudah disampaikan dari jauh-jauh hari sebelum tanggal pengeblokan biar para karyawan nggak kaget atau biar karyawan bisa nyiapin mental karena nggak bisa lagi berlama-lama nongkrongin e-mail.

Sebenernya, aturan ini nggak terlalu menimbulkan masalah sih bagi saya. Namanya juga kebijakan perusahaan. Suka-suka mereka dong mau bikin aturan. Kan saya cuma pegawai yang dapat gaji bulanan dan kudu nurut sama aturan perusahaan. Tapi, tetep aja saya agak-agak ngedumel dalam hati. Soalnya, gara-gara aturan nggak penting gini saya jadi susah ngapusin email sampah yang tiap hari selalu menuhin inbox saya. Kalau saya baru buka inbox tiap weekend di rumah, pasti inbox saya udah hampir ngeluber saking penuhnya dengan email sampah itu.

Tapi kok aturan ini rada-rada aneh dan menggelikan ya bagi saya. Soalnya, aturan itu membuat akses internet ke website email (personal email account) tidak terbatas pada Yahoo!, Google, Hotmail, AOL, dll terblok atau non aktif. Tapi, akses ke account-account pribadi lain seperti akses untuk ngeblog seperti yang saya lakukan saat ini, atau akses ke Friendster dan Facebook yang jelas-jelas jauuuuuuhh lebih nggak keliatan ada manfaatnya bagi perusahaan tetap diperbolehkan.

Daripada memblok email pribadi, bukankah seharusnya mereka berpikir untuk memblok situs-situs seperti Friendster dan Facebook itu (asal jangan ngeblok blog saya aja)? Email pribadi kadang-kadang masih bisa dipakai untuk kepentingan perusahaan. Misalnya aja pas saya harus ngirim file kerjaan dengan memori di atas 1G. Email di kantor saya nggak memungkinkan saya untuk melakukan ini. Jadi, saya akhirnya menggunakan email pribadi saya untuk kepentingan kantor. Tapi kalau Friendster atau Facebook? Apa Kira-kira ada manfaatnya untuk urusan kantor? (Kalau saya jawab sih ada. Gunanya, supaya para pegawai di tengah-tengah ngerjain kerjaan kantor yang acapkali membuat stres bisa istirahat sejenak dengan ngeliat profil teman-teman barunya di Friendster/ Facebook dan setelah itu kembali bekerja dengan energi dan semangat yang tinggi, hehe…).

Sayang perusahaan saya belum jadi perusahaan terbuka. Padahal, kalau beneran bikin IPO (Peluncuran Saham Perdana), saya mau banget beli sahamnya. Walaupun, potongan investor seperti saya, paling banter cuma bakal beli satu ampe sepuluh lot. Biarin! Yang penting kan titelnya pemegang saham! Huehehehe…Terus, pas kapan-kapan ada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), saya bakal hadir dan ngasih usulan supaya nggak perlu mengeluarkan aturan nggak penting seperti penutupan akses ke account pribadi. Nggak penting dan nggak dewasa!!

Pegawai-pegawai seperti saya ini kan udah bukan anak kecil yang perlu diatur-atur dengan aturan-aturan yang membatasi seperti ini. Kalo ibarat anak SD, mungkin play station-nya perlu diumpetin dan dikunci di lemari sama emak biar anaknya nggak keasyikan main terus. Tapi kalau anaknya udah makin gede, baisanya kan mereka udah mulai nyadar sama kewajiban mereka untuk belajar supaya bisa naik kelas. Dengan sendirinya mereka juga akan merasa malu kalau tinggal kelas sementara teman-temannya yang lain semuanya naik kelas. Jadi, walaupun play stationnya ada di hadapannya, si anak nggak bakal main ampe lupa waktu. Paling-paling dia cuma main play station barang satu dua jam. Selebihnya, si anak bakal belajar. Atau, kalau dia udah ngerasa pintar, anak yang dewasa bakal memilih untuk tidur dan beristirahat supaya pas ujian bisa berkonsentrasi penuh.

Jadi, kesimpulannya, walaupun saya nggak begitu merasa terganggu dengan aturan penutupan akses ke account email pribadi ini, saya tetap merasa aturan ini nggak penting, konyol, dan nggak dewasa. Tapi, dipikir-pikir, mungkin saya sebaiknya diam dan merasa bersyukur. Soalnya, kalau orang-orang New York (yang bikin aturan ini) pada nggak konyol, akses ke blog saya pasti juga bakal diblok, dan saya nggak mungkin lagi dong mosting-mosting cerita kayak gini pas jam kantor!