Selasa, 24 Juni 2008

Etika Terkait Perbedaan Gender

Beberapa waktu lalu, saya sempat bertelepon ria dengan seorang teman lama saya yang berjenis kelamin pria. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan pulang kantor dengan menggunakan kereta. Pada awalnya, percakapan berlangsung seperti biasa dengan membahas mengenai kabar masing-masing. Hingga akhirnya lama-kelamaan percakapan bergeser membahas tentang etika kehidupan terkait gender.

Saya sengaja menuliskan percakapan tersebut karena-jujur-saya cukup terkejut dengan persepsi yang ia miliki terkait perbedaan gender. Sejauh ini, walaupun saya termasuk dalam kaum perempuan, dan saya memang nggak pernah menuntut untuk diperlakukan istimewa karena jenis kelamin saya, tak urung saya agak-agak tersindir dengan kalimat yang dilontarkan oleh teman saya itu.

Beginilah kira-kira cuplikan percakapan ketika itu.

Saya : Kamu di kereta?
Dia : Iya
Saya : Kamu duduk atau berdiri?
Dia : Duduk
Saya : Keretanya penuh nggak?
Dia : Nnnggg...lumayan
Saya : Ada yang berdiri?
Dia : Ada
Saya : Berdirinya di deket kamu?
Dia : Iya
Saya : Cewek atau cowok?
Dia : Cewek
Saya : Kok kamu nggak ngasih tempat duduk kamu sih?
Dia : Enggaklah. Kalau yang berdiri itu sudah tua, mau bapak-bapak atau ibu-ibu, aku pasti ngasih tempat duduk. Atau kalau yang berdiri itu ibu hamil, aku pasti kasih. Tapi kalau masih muda sih nggak usah lah ya.
Saya : Lho kok gitu? Memangnya kamu nggak berpikir bahwa cewek itu lebih layak mendapatkan tempat duduk dibandingkan kamu?
Dia : Pik, sekarang ini cewek-cewek banyak bilang emansipasi. Kalau alasannya capek, nggak cuma dia yang capek. Aku juga capek! Jadi menurutku, kalau cewek memang mau bekerja, dia harus siap dengan konsekuensi seperti ini. Harus siap berdiri di kendaraan umum, harus siap nggak dikasih tempat duduk, dan macam-macam lainnya.
Saya : (terpekur)
Dia : Trus, aku juga nggak setuju tuh sama omongan yang bilang kalo istri bekerja, penghasilannya untuk dirinya. Sementara kalau suami bekerja, penghasilannya ya juga untuk istrinya. Wah...aku nggak setuju banget tuh! Aku pernah bilang ke cewek yang waktu itu ngomong gitu ke aku, "Kalau aku punya istri, dan prinsipnya dia seperti itu, aku akan bilang sama istriku 'Mendingan kamu nggak usah kerja!'"
Saya : (tetap terpekur)
Dia : Ya iya dong Pik, ngapain juga aku ngizinin istriku kerja dari pagi sampai malam. Ampe akhirnya di rumah harus pake pembantu dan pake baby sitter. Padahal, hasilnya dia bekerja cuma untuk dia belanja aja. Wah, kalau aku sih nggak terima kayak gitu.
Saya : (tambah terpekur)
Dia : Makanya, kalau memang cewek ngomong emansipasi, mereka harusnya bisa mikir. Jangan cuma mau enaknya semua.
Saya : (memutuskan untuk diam, soalnya lagi males berdebat. Capek baru pulang kantor)

Nah, begitulah kira-kira cuplikan percakapan saya dengan teman saya. Melalui posting ini, sebenarnya saya pengen tau pendapat teman-teman. Apa bener kalo hari gini udah nggak zamannya lagi menjunjung etika dengan mendahulukan cewek untuk duduk di kendaraan umum?

Minggu, 22 Juni 2008

Etika Mengirimkan SMS

Kali ini saya mau mengomentari tentang kebiasaan kebanyakan orang (termasuk saya) yang hobi berkirim sms. Coba pikirkan, dalam sehari, seberapa sering Anda mengirimkan dan membalas sms? Apakah Anda lebih suka mengirimkan sms daripada menelepon?

Memang, hari gini, sms dan menelepon sama murahnya. Dulu, orang lebih suka mengirimkan sms demi alasan pengiritan. Pasalnya, ongkos nelpon berkali-kali lipat lebih mahal dibandingkan ongkos sms. Tapi, kalau sekarang, saya pikir alasan itu sudah nggak jaman lagi. Nelpon udah murah banget, bahkan sering gratis. Sms pun demikian, jadi makin murah dan makin banyak gratisannya. Namun, tetap ada saat-saat di mana seseorang lebih memilih untuk ber-sms ria daripada bertelepon ria.

Berdasarkan analisis ala kadarnya yang saya lakukan, saya menyimpulkan bahwa alasan-alasan ketika seseorang memilih untuk mengirimkan sms dibandingkan menelepon adalah:

Hanya ingin menyampaikan pesan pendek/ melakukan konfirmasi.
Ketika kita hanya sekedar ingin menyampaikan pesan singkat, yang tidak membutuhkan balasan jawaban, kita akan cenderung mengirimkan sms ketimbang menelepon.
Misalnya, saya mau mengabarkan ke orang tua saya bahwa saya sudah sampai di tempat tujuan, maka saya tinggal mengirim sms dengan menulis “Udah nyampe nih”, dan biasanya ortu saya akan menjawab “Oke. Berdoa selalu”. Setelah itu, sms tidak perlu dilanjutkan kembali.
Atau, kondisi lainnya, saya mau memastikan janji yang sebelumnya sudah saya bikin dengan teman saya, maka untuk mengkonfirmasi saya biasanya akan mengirimkan sms “Nanti jadi kan jam 7?”, dan biasanya teman saya akan menjawab “Jadi”, setelah itu sms tidak perlu dilanjutkan kembali.

Memiliki keraguan untuk menelepon.
Ini biasanya terjadi pada seseorang yang takut untuk mengalami penolakan jika menelepon.
Misalnya, seorang cowok yang sedang pedekate ke cewek. Dia ragu-ragu untuk menelepon si cewek, kuatir kalo cewek itu lagi sibuk atau lagi punya acara sendiri, sehingga kalo nelpon pada saat yang nggak tepat kuatirnya malah si cewek jadi pundung alias bete. Biasanya, alternatif termudah yang akan diambil oleh si cowok adalah mengirimkan sms pertanyaan seperti “Hai, lagi ngapain?”, atau “How are you doing?”. Dengan begini, si cowok nggak perlu menelan resiko kena omel si cewek yang bete digangguin. Worst case dalam trik seperti ini adalah, sms-nya nggak dijawab-jawab. Tapi, itu masih lebih baik daripada kalo si cowok nelpon, si cewek menjawab “Hei! Bisa nggak sih kamu nggak ganggu saya?!”. Pasti pedih banget kan kalo digituin? Nah, makanya, sms menjadi jalan yang banyak dipilih oleh orang yang ragu untuk menelepon.

Kuatir jadi bertele-tele
Ini adalah kasus yang biasanya sering kita alami dengan orang yang dituakan, misalnya aja bos, pakde, senior, atau orang-orang lain yang kita tidak terlalu nyaman untuk berkomunikasi dengannya.
Misalnya, saya harus melaporkan suatu hal kepada bos saya. Sebenarnya, akan jauh lebih efektif dan menghemat waktu jika saya menelepon bos saya ketimbang mengirimkan sms kepadanya. Namun, jika saya menelepon, saya mengambil risiko untuk jadi mengobrol panjang lebar dengan bos saya. Padahal, mengobrol panjang lebar dengan bos adalah sesuatu yang saya hindari. Dengan mengobrol, maka bos saya jadi punya kesempatan untuk mengungkit hal lain yang enggan saya ungkit, memberikan saya tambahan tugas yang tidak saya inginkan, atau mengajak saya mengobrolkan hal yang bagi saya membosankan. Konsekuensinya, karena dia adalah orang yang dituakan (dia bos saya) dan sekaligus orang yang kita tidak terlalu nyaman berdekatan dengannya, kita jadi sulit untuk mengeluarkan uneg-uneg kita. Misalnya, dengan bos, kita nggak mungkin bilang “Saya males deh pak ngomongin hal ini. Kita ganti obrolan aja deh!”. Coba, kalo saya sampai ngomong seperti itu kepada bos saya yang gila hormat itu, bisa-bisa besoknya saya langsung dapet SP alias surat peringatan. Akhirnya, untuk menghindari hal ini, kita jadi cenderung mengirimkan sms demi menghindari bertele-telenya pembicaraan.

Mau bertanya hal yang jawabannya berupa angka atau sesuatu yang sulit diingat.
Misalnya saya mau bertanya nomor hape seorang kawan, maka yang akan saya lakukan adalah memintanya melalui sms. Dengan demikian, teman yang saya tanya cukup mengirimkan business card. Hal ini jauh lebih efektif ketimbang menelepon teman tersebut dan menunggunya memencet-mencet hape sebelum menyebutkan nomor yang kita inginkan. Plus, dengan menelepon, setelah diberitahu nomor melalui ucapan teman kita, kita masih harus melakukan konfirmasi ulang. Kuatirnya, nomor yang kita catat berbeda dengan nomor yang disebutkan oleh kawan kita tadi. Jadi, alasan efisiensi menyebabkan kita lebih suka mengirimkan sms jika jawaban yang kita kehendaki berupa angka atau sesuatu yang sulit untuk diingat.

Nah, itu kira-kira alasan kenapa seseorang memilih untuk mengirimkan sms ketimbang menelepon. Selain alasan-alasan itu, menurut saya seseorang sebaiknya menelepon ketimbang mengirimkan sms. Karena itulah, wajar jika saya merasa terganggu dengan orang-orang yang nggak mengikuti pakem umum ini dalam mengirimkan sms.

Misalnya, saya sebel banget kalau ada sms yang menanyakan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban singkat, namun kemudian kembali bertanya dengan pertanyaan lainnya, dan berulang-ulang.
Teman : Tolong sms-in nomornya Mba Dwi dong...
Saya : (mengirimkan business card)
Teman : Mba Dwi itu orang HRD kan?
Saya : (mulai bete, karena seharusnya pertanyaan kedua ini digabung aja sama pertanyaan pertama supaya menghemat pulsa, tapi tetap menjawab) Iya.
Teman : Orangnya yang kayak gimana sih?
Saya : (bete, karena pertanyaan ketiga mulai menunjukkan kalau teman saya nggak mengikuti aturan ber-sms pada umumnya. Harusnya, sms hanya untuk pertanyaan yang menuntut jawaban singkat, bukan pertanyaan yang menuntut jawaban panjang lebar seperti ini, tapi masih tetap menjawab) Pake kacamata dan rambutnya keriting.
Teman : Bukannya itu Mba Ivon?
Saya : (berteriak AAARRGGHH! Dan mikir “Ngapain ni orang ngerecokin gw aja sih! Kalo nggak percaya ya mendingan ga usah nanya!”, tapi masih tetap menjawab) Bukan.
Teman : Ooh, gw pikir selama ini yang kriting itu namanya Mba Ivon. Btw, gimana kabar bos kita? Udah seminggu gw ga masuk.
Saya : (berteriak HIIIIIIIHHHHH! Nggak ada habisnya deh ni sms, dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan terakhir)

Tau kan kenapa sms seperti itu menyebalkan?
Pertama : karena tidak efisien.

Sms pertanyaan sebaiknya langsung mencantumkan semua hal yang hendak ditanyakan dalam satu sms saja. Contoh : “Tolong smsin nomornya Mba Dwi dong! Dia orang HRD kan? Yg kayak gmn ya orangnya?”
Kedua : sms sebaiknya tidak menuntut jawaban yang berlarut-larut.

Contohnya, kalau sms di atas sudah dijawab oleh saya “Nomor mba Dwi xxxx, iya HRD, orangnya yang pake kacamata dan rambutnya keriting”, dan teman saya ternyata menyangsikan jawaban itu, dia sebaiknya langsung angkat telpon dan mengklarifikasi ketimbang balas bertanya lagi lewat sms. Pasalnya, kita sebaiknya tidak menyangsikan jawaban yang sudah dengan baik hati diberikan oleh kawan kita. Ketika mengirimkan sms pertanyaan, sebenarnya kita telah menuntut teman kita untuk membalas sms dengan mengurangi pulsanya. Dan untuk kebaikannya itu, kita seharusnya merasa berterima kasih. Jika kemudian ternyata masih ada lanjutan pertanyaan yang harus kita tanyakan, sebaiknya kita tidak kembali merepotkannya dan menghabiskan pulsa yang ia miliki. Tindakan yang paling tepat adalah menelepon sehingga teman kita itu tidak perlu mengurangi kembali pulsanya. Cukuplah kebaikan yang ia berikan kepada kita dengan menjawab pertanyaan kita melalui telepon. Tak perlulah ia sampai harus menjawab pertanyaan sambil menghabiskan pulsa melalui sms kembali.
Ketiga : sms sebaiknya hanya fokus ke satu hal saja dan tidak melebar ke hal-hal lain.

Sehingga, ketika pertanyaan terakhir telah dijawab, jangan melebarkannya ke pertanyaan lain seperti “Gimana kabar bos kita?”. Jika Anda hendak mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan beberapa hal, hindari sms dan manfaatkan telepon.

Sms yang berlarut-larut menandakan Anda adalah orang yang tidak peka dengan pulsa teman Anda. Terlebih, jika berlarut-larutnya sms disebabkan oleh Anda yang terus-menerus mengajukan pertanyaan kepada teman Anda. Sms berlarut-larut masih diperkenankan jika pembicaraan di dalamnya adalah untuk kepentingan kedua belah pihak.

Sms yang berlarut-larut lebih membetekan lagi jika ternyata alasan di balik kenapa teman kita itu terus-menerus mengirimkan sms adalah karena dia bisa mengirimkan sms gratis. Sementara, kita yang menjawab sms tersebut demi kepentingan dia kudu membayar. Disamping menunjukkan ketidakpekaan, sms seperti ini juga menunjukkan keegoisan dan sikap mau untung sendiri. Kalau saya dapet kasus temen yang kayak gini, bisa saya maki habis-habisan. Ngirit kok pake ngerepotin temen!

Senin, 09 Juni 2008

Coincidents Around Me

Entah bagaimana, akhir-akhir ini keajaiban ‘The Secret’ berulang kali terjadi pada saya. Pas dua hari yang lalu saya sedang memikirkan tentang seorang mantan teman kerja saya dan bertanya dalam hati “Bagaimana kabar dia sekarang?”, tiba-tiba teman saya itu menelepon saya hanya untuk sekedar mengobrol dan menanyakan kabar.

Kemarin sore, saya juga sedang berpikir-pikir akan menelepon mantan gebetan saya. Saya sebenarnya saat itu sedang berperang batin antara mengabaikan gengsi dengan menelepon dia, atau mengedepankan gengsi dengan sekedar mengirimkan sms. Beberapa menit kemudian, telepon saya berdering dan ternyata dialah yang menelepon saya.

Minggu lalu, saya jalan-jalan ke mall dan berpikir “Senangnya kalau saya bisa dapet parkir persis di depan pintu masuk”. Dan ajaibnya, ketika melintas dekat pintu masuk mall, sebuah mobil keluar sehingga saya bisa parkir persis di depan pintu masuk seperti yang saya inginkan.

Lebih hebat lagi, tadi pagi saya sedang memikirkan kabar seorang teman lama saya ketika kuliah dulu, dan dalam hati saya berkata “Kayaknya kalau gw nelpon dia, dia pasti sudah mulai mempersiapkan pernikahannya”. Padahal, kami sudah berbulan-bulan nggak bertemu, dan kabar terakhir tentangnya yang saya tahu hanyalah dia baru saja jadian dengan seorang cowok. Tak lama setelah saya memikirkan hal itu, sebuah sms masuk dari teman saya untuk mengabarkan bahwa dia akan menikah minggu depan.

What a coincident! Saya sih cukup senang dengan kebetulan-kebetulan yang terjadi di sekitar saya ini. Barangkali saya malah bisa memanfaatkannya – untuk mengatur pola tindak yang diambil oleh bos saya mungkin. Tapi, saya jadi bertanya-tanya sendiri, “Does everythings around me trying to prove The Secret’s theory?”

Minggu, 08 Juni 2008

Pentingkah Untuk Selalu Sempurna?

Posting saya kali ini masih ada kaitannya dengan posting sebelumnya. Setelah mengalami kejadian yang nggak mengenakkan di kantor (baca: Saya Bukan Tukang Ngadu), saya malah jadi dapat pencerahan yang sangat berharga bagi hidup saya.

Setiap manusia, pada umumnya ingin selalu terlihat baik. Kalau perlu, kita ingin untuk dilihat sebagai sosok yang sempurna. Karena itulah, manusia cenderung menggunakan topeng untuk menutupi realita dirinya. Frase “Be yourself” memang sering kita dengar di mana-mana. Kata orang, nggak perlu takut untuk menjadi diri sendiri. Tapi ternyata, setelah mengalami kejadian kemarin, saya jadi menyadari bahwa frase itu ternyata tidak mudah untuk diterapkan.

Saya akan mencontohkan kejadian yang sering kita alami, atau biasa ada di sekeliling kita. Begini nih…
Bayangkan jika kita dihadapkan pada posisi terpojok karena dipanggil oleh bos yang saat itu tampangnya bener-bener sepet. Karena terjadi suatu masalah, Bos berusaha mencari pangkal penyebab dari masalah yang muncul tersebut. Karena itulah ia memanggil kita ke ruangannya dan mengajukan pertanyaan ”Apa benar kamu melakukan hal itu?”. Sebenarnya toh itu pertanyaan biasa. Tapi karena diajukan dengan sorot mata tajam, muka yang menuduh, dan parahnya lagi, diajukan oleh seorang bos, maka pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang terkesan menghakimi. Dan dampaknya, alih-alih mengakui kenyataan yang ada dan berkata jujur bahwa kita memang benar melakukan hal itu, kita cenderung mencari penyelesaian yang kita kira paling mudah, padahal sebenarnya sama sekali tidak. Kita (sebagian orang) akan cenderung berbohong dengan harapan masalah ini akan segera menguap dan terlupakan, ketimbang berkata jujur dan mendapat semprotan bos saat itu.

Mungkin saja, keputusan yang diambil oleh orang yang berbohong itu adalah keputusan yang tepat. Misalnya saja setelah kita berbohong-karena akhirnya tidak berhasil menemukan pangkal masalah-bos akhirnya menilai bahwa ketimbang tambah pusing dengan masalah yang sebenarnya tidak terlalu krusial ini, lebih baik melupakannya saja. Walaupun, dalam hati sebenarnya si bos masih merasa masalah ini belum selesai, tapi ia memilih untuk mengesampingkannya saja.

Tapi, dalam banyak kasus, menghindari tanggung jawab dengan berbohong itu sebenarnya lebih sering jadi menimbulkan masalah baru. Misalnya, ketika kebohongan itu terungkap, kita jadi terkena dua kali masalah. Selain harus mengakui kesalahan yang memang telah kita perbuat, kita pun jadi dipandang sebagai manusia yang tak dapat dipercaya. Dan dampak lanjutan dari dicap sebagai orang yang tak dapat dipercaya pun masih akan terus ada, bahkan melekat terus di pundak kita.

Nah, ketika saya merenungkan tentang masalah ini, saya sampai pada kesimpulan bahwa kebohongan-kebohongan itu pada umumnya dilakukan karena kita tidak mau terlihat tidak sempurna. Konyol kan? Padahal, semua orang yang waras sudah pasti tahu bahwa tak ada satupun manusia yang sempurna, jadi kenapa harus takut untuk terlihat tak sempurna?

Saya sendiri pun bukan orang yang luput dari kekonyolan ini. Dulu, ketika awal saya mulai bekerja sebagai trainer di kantor saya yang sekarang, dan ada peserta training yang menanyakan ”Sudah berapa lama bekerja?”, saya akan menjawab ”Kurang lebih setahun”. Saya nggak bohong, karena ketika itu saya baru bekerja sekitar 3 bulan, dan saya menganggap 3 bulan itu bisa disamakan dengan kurang lebih setahun. Tapi, poinnya bukan itu. Saya, memilih untuk menjawab ”kurang lebih setahun”, daripada ”tiga bulan” karena saya ingin terlihat sempurna di mata para peserta. Ketika saya menjawab ”tiga bulan”, saya berasumsi bahwa peserta akan melihat saya sebagai trainer yang masih hijau dan belum mampu untuk mengajar di depan kelas. Buntutnya, saya nggak mau mereka jadi meng-underestimate diri saya.

Pangkal dari kebohongan ini, sebenarnya adalah karena saya tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup ketika itu. Saya memang merasa sebagai trainer baru yang belum memiliki self esteem yang cukup ketika itu. Saya butuh dukungan dari pihak luar-dalam hal ini peserta-untuk membantu mengangkat self esteem saya.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menemukan self esteem saya. Ketika saya merasa mampu mengajar sebaik rekan-rekan saya yang telah menjadi trainer lebih lama dari saya, saya menjadi tidak ragu lagi untuk berkata jujur. Ketika ada peserta training di kelas yang berbeda menanyakan pertanyaan yang sama, saya menjawab ”5 bulan”. Karena, memang ketika itu saya baru bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja selama 5 bulan. Ketika itu, saya sudah menemukan kepercayaan diri saya, sehingga saya merasa tak perlu untuk menyembunyikan siapa diri saya. Saya tak perlu merasa enggan untuk menyebutkan bahwa saya adalah seorang trainer baru ketika itu. Karena, ketika itu saya menganggap diri saya telah memiliki pengetahuan yang memadai selayaknya trainer-trainer lain yang telah berkerja belasan tahun.

Nah, untuk menjadi seseorang yang tak ragu untuk mengakui kekurangan, mengakui kesalahan, atau intinya tak ragu untuk terlihat tidak sempurna, jelas membutuhkan proses. Ada yang hingga berpuluh-puluh tahun hidup di dunia, tetap saja merasa tak percaya diri dengan dirinya dan memilih untuk berkata bohong setiap saat agar selalu terlihat sempurna. Padahal, menjadi seseorang yang mampu berkata ”Saya adalah orang yang tidak sempurna”, justru menunjukkan kedewasaan diri dan kemauan untuk memperbaiki diri. Dengan menyadari bahwa diri kita tidak sempurna, kita akan berupaya untuk memperbaiki ketidaksempurnaan itu.

Di lain pihak, ketika kita selalu memilih untuk menyembunyikan kesalahan dan kekurangan kita, sebenarnya kita sudah menjebak diri kita untuk hidup dalam bayang-bayang semu kesempurnaan. Ketika kita tak pernah mengakui kesalahan dan kekurangan kita, maka kita akan selalu menganggap diri kita benar, dan akhirnya kita tidak akan pernah belajar dari kesalahan yang telah kita perbuat atau kekurangan yang kita miliki.

Seorang anak, biasanya memiliki emosi yang masih labil. Mereka belum banyak ditempa oleh pengalaman hidup, dan masih dalam proses pencarian jati diri. Karenanya, seringkali terjadi seorang anak berbohong dalam upaya agar tidak diejek oleh temannya. Misalnya, ketika ada anak yang diejek oleh temannya, ”Ih, ih..kamu orang miskin ya...kasihan deh kamu, nggak punya sepeda baru kayak kita-kita”. Si anak akan cenderung berbohong dengan mengatakan ”Enggak kok. Papaku udah ngebeliin kok, cuma masih di rumah aja, belum pernah aku pakai”.

Padahal, ayah dari anak ini mungkin sama sekali nggak pernah berniat atau pernah membelikan sepeda untuk anaknya. Si anak memilih untuk berbohong karena ia belum memiliki kepercayaan diri untuk mengatakan, ”Iya, aku memang miskin, Papaku nggak bisa mbeliin aku sepeda. Tapi nggak papa kok. Aku udah senang bisa melihat kalian main sepeda, yang penting aku masih bisa sekolah dan dapat ranking, nggak kayak kamu”. Hanya anak-anak yang sudah punya kepercayaan diri luar biasa yang bisa mengatakan kalimat seperti itu. Dan jika ada anak yang sanggup berkata seperti itu, kita harus belajar banyak darinya.

Tapi yang jelas, saya menganggap bahwa seseorang yang sudah cukup berumur seperti saya (saya sudah seperempat abad hidup di dunia), dan bahkan orang-orang lain yang sudah lebih berumur dari saya, tak selayaknya lagi berbohong/ menutupi kekurangan/ tak mengakui kesalahan hanya karena ingin terlihat sempurna. Sadarilah bahwa kesempurnaan itu tak pernah ada pada seorang manusia. Sekeras apapun kita mencoba untuk jadi sempurna, kita tak kan pernah bisa sempurna. Jadi, kenapa harus takut untuk terlihat tak sempurna?


Senin, 02 Juni 2008

Saya Bukan Tukang Ngadu

Betenya kalau udah ada masalah yang ujung-ujungnya menyangkut orang lain tu gini. Pas diklarifikasi nggak ngaku. Semua merasa sudah berbuat benar.

Saya sih tidak. Saya merasa memang melakukan kesalahan. Tapi satu yang pasti. Saya tidak berbohong. Saya memang mengatakan apa adanya. Buruknya, ketika saya mengatakan kenyataan yanga ada, nama orang lain ikut terbawa dalam cerita saya. Saya sendiri sih nggak bermaksud ngadu. Atau menyeret-nyeret orang lain dalam masalah yang saya buat sendiri. Tapi, jujur, saya kecewa kenapa orang ini nggak mau berterus terang dan berkata apa adanya bahwa dia juga melakukan sebagian dari kesalahan itu.

Saya sendiri sih nggak pengen mengaitkan masalah ini dengan orang lain. Bikin tambah ruwet jadinya. Tapi apa daya, dia memang tidak bisa tidak harus ikut terbawa. Dan akhirnya, saya malas karena akhirnya dia jadi menganggap saya tukang ngadu.

Well, nasi udah jadi bubur. Ternyata masalah ini tidak bisa selesai dengan mudah. Perlu berputar-putar panjang sebelum selesai. Saya sebenarnya bisa saja mengalihkan masalah ini dengan menudingkannya kepada orang lain. Dan untuk hal ini, orang lain itu takkan mungkin bisa mengelak. Tapi saya nggak mau. Saya bukan tukang adu, dan saya nggak mau masalah ini jadi semakin melebar.

Memang benar, jadi bawahan itu harus sabar...