Senin, 14 Juli 2008

Si Pantech (Bukan Makian Asal Minang lho...)

Bicara tentang pencapaian, saya pernah memenangkan sebuah handphone yang merupakan hadiah sayembara termahal yang pernah saya dapat seumur hidup saya. Sayembara itu digelar oleh sebuah produsen handphone asal Korea yang bernama Pantech sekitar bulan Maret tahun 2006. Awalnya mereka bermaksud untuk merambah pasar Indonesia, dan salah satu cara mempromosikan merk mereka adalah dengan menggelar sayembara yang saya ikuti ini.

Sayembara ini saya ketahui dari iklan yang dimuat di halaman sebuah surat kabar ternama. Intinya, para peserta sayembara diminta untuk memberikan alasan kenapa Pantech harus memilih si peserta tersebut untuk memenangkan sayembara. Seratus orang dengan alasan terbaik berhak mendapatkan handphone berkamera yang memiliki slogan ”Can your camera call?”.

Sayangnya, handphone kebanggaan yang saya menangkan tersebut kini raib digondol jambret. Sungguh pedih rasanya (lebay). Demikian pula perusahaan Korea yang memproduksi handphone tersebut. Hingga kini tak jua terdengar aksi dan promosinya di Indonesia. Tapi setidaknya, saya masih menyimpan hasil karya saya. Dan inilah yang akan saya publikasikan.


Mengapa Memilih Saya?
(Dalam Kacamata Pria yang Melamar)

Pertanyaan yang sederhana, tapi jawabannya susah-susah gampang. Seandainya saya dalam posisi sebagai seorang pria yang akan melamar seorang gadis impian saya, pasti pertanyaan serupa juga akan terlintas di benak calon mertua saya, maupun di benak gadis yang akan saya lamar. Ya, kenapa harus memilih saya? Kenapa tidak si Badu, pria dari kampung sebelah yang sudah punya rumah sendiri, misalnya. Atau kenapa tidak si Amir, orang yang dikenal suka mengaji dan sudah berkali-kali naik haji itu?

Jauh lebih mudah jika saya adalah gadis yang dilamar. Pertanyaan yang ditujukan kepada seorang gadis yang sedang dipinang hanyalah ”Apakah kamu mau memilih saya?”. Jelas jawaban dari pertanyaan ini jauh lebih mudah. Tinggal jawab ”ya” kalau mau, atau ”tidak” kalau ada pria lain yang diinginkan. Kalaupun si gadis tidak menjawab karena bingung atau tidak tahu harus menjawab apa, orang tua atau saudara si gadis pasti akan membantu memberikan jawaban. Bisa jadi, gadis ini malu-malu tapi mau. Gejala yang ditunjukkan biasanya adalah si gadis menunduk sambil tersipu, mungkin dengan sedikit tersenyum-senyum. Isyarat seperti ini pasti langsung dipahami sebagai jawaban ”ya”. Di sisi lain, jika si gadis terdiam sambil sedikit merengut, atau mungkin mengernyitkan dahinya, ini berarti mengisyaratkan jawaban ”tidak”.

Pertanyaan ”Mengapa memilih saya?” pada diri si gadis paling-paling hanya akan mucul jika gadis ini menderita sindrom kurang percaya diri, sehingga ia menjadi bingung dan bertanya-tanya ketika ada yang datang melamarnya. ”Kenapa orang ini memilih saya? Kenapa tidak si Ratih yang suka tampil menari jaipongan di acara kelurahan itu? Atau kenapa tidak si Sumi yang pinter masak dan menjahit itu?”. Toh, bagaimanapun juga, gadis ini tetap saja tinggal menjawab ”ya” atau ”tidak”, dan bisa mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang muncul karena keminderan dirinya itu.

Sama halnya dengan posisi seorang yang datang melamar (beruntunglah saya karena kelak akan berada pada posisi orang yang dilamar). Ketika diajukan pertanyaan ini, saya pun jadi bertanya-tanya pada diri saya sendiri, ”Kompetensi apa sih yang saya miliki? Kredibilitas apa pada diri saya yang diakui orang-orang? Kapabilitas apa yang membuat saya lebih daripada pelamar yang lain?”. Hmmm..ini benar-benar pertanyaan yang susah-susah gampang. Seorang pria yang datang melamar, ketika diajukan pertanyaan ”Kenapa memilih anda?”, mungkin bisa saja menjawab ”Karena saya membawa cinta”, seperti skenario yang muncul di sebuah iklan. Kemudian si gadis jadi luluh dan berbinar-binar menatap si pria, dan skenario iklan berakhir sampai di situ. Tidak diceritakan bagaimana harga cinta yang dibawa si pria ini di mata calon mertuanya, karena pasti biaya penayangannya jadi mahal luar biasa, dan pesan yang ingin disampaikan jadi tidak efektif.

Saya sendiri sih inginnya cukup menjawab seperti skenario iklan di atas, namun sayangnya saya sendiri tidak memiliki cinta seperti itu. Saya tidak mengenal produk dari Pantech ini. Karena saya tak kenal, maka saya tak sayang. Karena saya tak sayang, maka saya tak cinta. Karena saya tak cinta maka saya tak bisa melamar seperti si pria itu. Karena itulah saya ingin mengenal Magnificent 100 dari Pantech ini. Cara mengenalnya adalah dengan memilikinya. Cara memilikinya adalah dengan membelinya. Tapi membeli membutuhkan uang, sementara saya tidak memiliki uang. Untung ada sayembara ini. Muncullah cara lain untuk memiliki produk ini, yaitu memenangkan sayembara. Untuk memenangkan sayembara, saya harus mengikutinya. Tapi mengikuti sayembara ini tidak akan menjamin saya bisa memiliki produk ini. Kalau saya tidak menang, saya tidak memiliki Magnificent 100. Kalau saya tidak memiliki Magnificent 100, saya tidak sayang. Kalau saya tidak sayang, maka saya tidak cinta. Kalau saya tidak cinta, saya tidak akan bisa berkata dengan lugas kepada Pantech ”Saya mencintaimuuuuuu!!!!!!”.

Sebaris catatan:
Penulis adalah seorang wanita berusia 23 tahun. Belum pernah dilamar oleh seorang pria, dan belum pernah melamar seorang pria. Saat ini bekerja sambil menyelesaikan studi pasca sarjana. Sangat berharap bisa mengganti hape yang dimilikinya.

Kedodoran

Akhir-akhir ini saya merasa semakin tidak nyaman dengan diri saya. Saya merasa saya semakin sedikit menyediakan waktu untuk mengurus diri sendiri. Semakin nggak punya waktu untuk menonton DVD seperti yang biasanya sering saya lakukan, semakin nggak punya waktu untuk kongkow bareng temen-temen, semakin nggak punya waktu untuk sekedar baca koran, dan semakin nggak punya waktu untuk nulis blog.

Kata orang, “Mempertahankan lebih sulit daripada mencapai sesuatu”. Dan itu memang benar adanya. Lihat saja ‘pencapaian’ posting di blog saya. Telah 5 bulan saya mulai “mengudarakan” blog saya ini, dan teman-teman bisa melihat hasilnya. Pada bulan pertama, pencapaian luar biasa telah saya lakukan. Dua puluh satu posting dalam sebulan. Sungguh prestasi bagi saya. Bulan kedua, pencapaian sedikit menurun, walaupun hal ini sebenarnya sudah saya perkirakan. Sangat sulit untuk mempertahankan produktivitas menulis blog sebanyak 1 posting setiap harinya (dengan mempertimbangkan bahwa saya hanya menulis blog di hari-hari kerja saja). Akhirnya saya harus puas dengan 14 posting di bulan kedua. Di bulan ketiga, pencapaian mulai tidak menggembirakan, hanya 10 posting atau berarti produktivitas saya turun menjadi 0,5 posting setiap harinya. Hingga kemudian kendor dan semakin kedodoran pada bulan keempat dan kelima, berturut-turut sebanyak 9 dan 5 posting. Bahkan, lebih parah lagi, hingga pertengahan masa di bulan keenam ini, saya baru menerbitkan satu posting. Kalau diibaratkan celana, yang tadinya baru sebatas kedodoran, mungkin sekarang celana itu sudah melorot.

Well, karena itulah saya bertekad untuk kembali membangkitkan semangat menulis saya. Saya bertekad untuk kembali membelokkan kurva yang saat ini menukik ke bawah hingga menembus batas atas. Saya bertekad untuk kembali memiliki waktu untuk diri saya. Berhasilkah? Kita lihat saja.

Kamis, 10 Juli 2008

Suasana Pagi

Saya selalu suka suasana pagi
Ketika embun masih menggelayut manja pada rumput yang bergoyang jenaka
Ketika mentari masih tersipu malu-malu membuka jaket cahayanya
Dan udara masih menyisakan oksigen murni hasil fotosintesa


Saya selalu suka suasana pagi
Ketika sapu lidi beradu dengan jalanan beraspal menghadirkan simfoni pagi
Ketika lampu penerangan jalan masih bersinar kendati tanpa arti
Dan televisi masih menayangkan sajian ulang malam tadi

Saya selalu suka suasana pagi
Ketika kereta senja utama bergerak mulai memasuki stasiun
Ketika pengemudi truk sampah mulai berkeliling walau tak punya uang pensiun
Dan sopir taksi shift pagi bergerak ke pool dari rusun


Saya selalu suka suasana pagi
Ketika azan subuh berkumandang dengan hikmat
Ketika bunyi jam weker berbunyi kian memekat
Dan para pekerja berkata “Keparat”

Saya selalu suka suasana pagi
Sayang sulit bagi saya untuk bangun pagi