Saya cukup terperangah mendengar ceritanya itu. Saya, selama ini selalu memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan rasional yang saya miliki. Saya nggak pernah merasakan dituntun oleh kata hati saya. Entah apakah saya yang memang tak pernah mau mendengarkan dengan seksama ketika kata hati saya berteriak-teriak untuk memberitahu saya, ataukah memang saya yang tak punya kata hati. Senin, 25 Agustus 2008
Kata Hati
Saya cukup terperangah mendengar ceritanya itu. Saya, selama ini selalu memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan rasional yang saya miliki. Saya nggak pernah merasakan dituntun oleh kata hati saya. Entah apakah saya yang memang tak pernah mau mendengarkan dengan seksama ketika kata hati saya berteriak-teriak untuk memberitahu saya, ataukah memang saya yang tak punya kata hati. Two Sides to Every Story

“There’re always two sides to every story, the good and the bad. Guess I’ve found one of the good thing and i appreciate it so deeply”. Demikianlah sebuah sms yang saya terima dari seorang kawan saya beberapa tahun lalu. Intinya, kawan saya itu hendak mengatakan bahwa sayalah one of the good thing yang sudah ia temukan di tengah situasi sulit yang menimpanya. Kendati sudah sangat lama, kata-kata dalam sms itu sangat membekas di benak saya.
Tapi dalam posting saya kali ini, saya tidak hendak membahas tentang kawan saya tersebut. Siang tadi saya baru saja menyimak tentang sebuah penggusuran di salah satu kawasan pinggiran di kota Jakarta. Dan sebagaimana biasanya, penggusuran itu menimbulkan amarah, tangis, dan kekecewaan para penghuni yang dipaksa harus menerima nasib mereka. Ada 1000 kepala keluarga yang harus pergi meninggalkan tanah yang telah mereka diami selama belasan tahun lamanya. Dan dengan cerdiknya, si kamerawan dan reporter merekam kejadian ketika seorang ibu tengah menangis meraung-raung karena rumahnya kini rata dengan tanah, seorang anak yang tertunduk menatap tanah karena ia besok tak bisa bersekolah lantaran buku-bukunya tertimbun terjangan buldoser, dan seorang bapak yang kepalanya terluka lantaran pukulan tongkat petugas yang mengusirnya dari lokasi penggusuran.
Melihat berita itu, hati saya miris. Kendati saya tahu ini kisah basi, tak urung melihat realitas dunia yang begitu menghibakan, saya ikut larut dalam kekecewaan dan tangis yang mereka keluarkan. Saya ikut menyesalkan sikap pemerintah.
Sorenya, lagi-lagi saya melihat berita. Kali ini di stasiun yang berbeda. Topik yang sedang diangkat masih topik penggusuran di lokasi yang sama. Hanya, kali ini berita yang diangkat cenderung melihat kisah ini dari sisi pemerintah. Bang Fauzi-si kumis lebat-pun ikut diwawancara, untuk mendapatkan alasan di balik penggusuran tersebut. Setelah menjelaskan bahwa hal tersebut memang demi kepentingan penataan kota-alasan klasik di balik seluruh aksi penggusuran, ia juga menjelaskan bahwa para pemukim di kawasan tersebut sama sekali tidak mengantongi surat yang membuktikan hak mereka atas tanah tersebut. Pun rupanya, bang Fauzi bersikeras untuk tidak memberikan ganti rugi sepeser pun karena tak adanya surat tersebut. Ia menjelaskan, tak mungkin aksi ilegal menduduki sebidang lahan yang notabene milik pemerintah, disokong dengan pemberian uang ganti rugi.
Saya tahu pemerintah berhak untuk menyita tanah tersebut. Tapi saya juga tahu bahwa fakir miskin dan anak terlantar ‘seharusnya’ dipelihara oleh negara. Walaupun saya tidak tahu siapakah ‘negara’ yang disebutkan dalam pasal 34 UUD 1945 ini? Apakah bang Fauzi yang membawahi pemerintah daerah Jakarta? Ia pasti tak mau bertanggung jawab. Wong para pemukim itu jelas-jelas bukan penduduk Jakarta. Mereka datang dan bermukim seenaknya, dan jelas tidak memiliki KTP Jakarta.
Jadi siapa yang salah jika ribuan hingga jutaan penduduk dari luar Jakarta memutuskan untuk hijrah ke Jakarta? Siapa yang salah jika ribuan orang memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta? Pemerintah Daerah yang kurang mempedulikan mereka, kaum urban yang salah mengambil pilihan untuk hijrah ke Jakarta, Pemerintah Jakarta yang terus-menerus membenahi tampilan kota tanpa membenahi kehidupan masyarakatnya, atau Pemerintah Pusat yang mengambil kebijakan sehingga otonomi daerah terjadi dan berakibat pembangunan timpang?
Sulit untuk dijawab...dan menurut saya takkan ada jawaban benar atau salah dari pertanyaan tersebut. Jika menyalahkan Pemerintah Daerah yang tidak bisa mengurus penduduknya dengan baik, bisa jadi tokh memang si penduduk yang ngeyel pengen pindah ke Jakarta. Jika menyalahkan Pemerintah Jakarta yang terus-menerus melakukan penggusuran, hey...lihat dulu penduduk ibukota yang terus-menerus mengeluh dengan kemacetan dan kurangnya jalur hijau di Jakarta. Jika menyalahkan Pemerintah Pusat yang memutuskan kebijakan otonomi daerah sehingga pembangunan timpang, eits...sadar nggak bahwa ini salah satu upaya agar jumlah provinsi di Indonesia nggak berkurang lagi?
Memandang sebuah persoalan seperti ini memang nggak gampang. Seperti kata kawan saya, there are always two sides to every story. Tergantung kita mau memandang dari sisi yang mana. Saya sendiri enggan untuk memikirkan lebih jauh siapa yang salah dalam hal ini. Boleh dong...tokh saya bukan seorang pengamat sosial atau politisi atau pejabat pemerintah yang kudu mengurusi masalah ini.
Kamis, 21 Agustus 2008
Termasuk Karakter Apa?
Selalu ada pilihan dalam hidup. Dimanapun dan kapanpun, kita selalu dituntut untuk memilih.
Namanya pilihan, kadang kita memilih dengan benar, dan kadang kita salah dalam memilih. Yang jelas, pilihan apapun yang kita ambil selalu membawa kita kepada suatu dampak yang mempengaruhi kehidupan kita. Dan apapun dampaknya, kita tak dapat memutar waktu untuk mengambil pilihan yang berbeda. Sekali memillih, kita harus siap dengan apapun yang menyertai pilihan tersebut.
Memilih memang mengandung risiko. Karenanya, terkadang sulit bagi kita untuk mengambil pilihan. Tapi itulah hidup, penuh dengan risiko. Seperti kalimat bijak yang saya dengar. Orang yang tak pernah mengambil risiko sesungguhnya tidak hidup. Tanpa mengambil risiko, kita akan selalu berada pada titik yang sama seumur hidup kita. Takkan memiliki pengalaman, takkan belajar dari kesalahan, dan takkan bisa kemanapun.
Saya, termasuk orang yang menyukai risiko. Kalau di dunia investasi, profil saya disebut risk taker. Artinya, saya bersedia menanggung risiko yang tinggi demi menikmati return yang tinggi pula. Orang seperti saya ini, amat menggemari investasi di saham ataupun investasi lain yang mampu memberikan return tinggi. Saya tahu risikonya tinggi. Tapi toh, saya tidak terlalu peduli. Demi keuntungan yang saya kejar, saya harus siap dengan risiko itu.
Beda di dunia investasi, beda pula profil saya di dunia perjodohan. Dalam urusan yang satu ini, saya termasuk orang yang sangat amat konservatif. Saya, saking takutnya dengan risiko yang menyangkut asmara ini, nggak pernah berani mengambil risiko walau sekecil apapun. Akhirnya, saya pun sama sekali tidak pernah menjatuhkan pilihan.
Jika kebanyakan orang bisa dengan mudahnya memilih, tidak demikian dengan saya. Kebanyakan orang yang saya kenal, berani menjatuhkan pilihan dengan tempo yang cukup singkat. Well, ketika saya bilang menjatuhkan pilihan, itu bisa berarti dua hal.
Pertama, adalah ketika Anda mengenal seseorang, merasa sreg dengannya, dan kemudian berkomitmen dengan orang itu untuk mejalani proses pendekatan yang disebut pacaran. Banyak orang yang dengan mudah menjatuhkan pilihan dengan situasi seperti ini. Tokh ini bukan komitmen yang akan dibawa mati. Ini tokh hanya komitmen yang dapat dengan enaknya dilanggar karena tak pernah dalam sejarah kita sebuah komitmen pendekatan yang disebut pacaran perlu untuk disahkan secara hukum, apalagi agama. Nah, untuk orang-orang yang berani mengambil risiko menentukan jodoh melalui pacaran ini saya masukkan dalam kategori profil risiko moderat.
Sedangkan saya, dengan profil konservatif, sama sekali nggak pernah berani menjatuhkan pilihan dalam format apapun. Terlalu banyak pertimbangan yang saya ambil, dan terlalu banyak 'tapi' yang ada di benak saya.
Kata orang, saya nggak bisa memilih karena memang pilihan yang tepat belum tersedia bagi saya. Tapi sebagian orang lainnya menuding saya sebagai orang yang terlalu banyak menuntut ini itu sehingga tak berani mengambil risiko. Saya tahu bahwa tanpa keberanian mengambil risiko saya takkan beranjak kemanapun seumur hidup saya. Saya tahu itu, tapi saya memang tidak berani. Saya masih belum berani.
Bagaimanapun, tak pernah ada urutan baik atau buruk dalam karakter atau profil seperti ini. Orang dengan karakter agresif tidak mesti lebih baik daripada orang dengan karakter moderat. Dan orang pada karakter moderat pun tidak selalu lebih baik dibandingkan orang yang konservatif. Ibarat hendak mencapai sejumlah profit tertentu, orang dengan karakter agresif tidak selalu pada akhirnya bisa mencapai profit tersebut lebih dahulu. Ingat, selalu ada potensi untuk jatuh dan rugi. Bisa jadi orang dengan karakter konservatif, yang lebih selektif dalam menjatuhkan pilihan, mampu mencapai profit tersebut lebih dulu.
Jumat, 01 Agustus 2008
Yang Menjadikan Manusia Berbeda
Sebelumnya saya pernah menceritakan seorang teman saya yang dibesarkan di keluarga dimana si ibu adalah seorang wanita karir. Ia dididik bahwa seorang wanita harus mampu hidup mandiri tanpa dukungan finansial suaminya. Ia diajarkan bahwa tak boleh ada dalam kamus hidupnya, seorang wanita menengadahkan tangan kepada suaminya untuk meminta uang. Ia diberitahu bahwa dengan mampu mengasilkan uang sendiri, sang suami takkan berani melecehkan dan bersikap semena-mena kepada sang istri. Hingga akhirnya, ia kini berusia 27 tahun...itulah prinsip yang ia pegang dalam hidupnya. Ia harus menjadi wanita karir, dan itulah yang ia jalani sekarang.
Namun, di sisi lain, saya pun memiliki teman yang dibesarkan dengan pola pikir yang sama. Sang ibu adalah tipikal wanita karir yang cukup sukses. Bahkan, di keluarganya, penghasilan si ibu mampu melampaui penghasilan si ayah. Dalam pengamatan saya, teman saya ini sangat amat berlebih dari sisi finansial (saya melihatnya dari gaya hidup yang ia jalani...kebiasaan jajan dan belanja). Saya pikir, ia pun kelak akan mengikuti jejak sang ibu dengan menjadi wanita karir.
Ternyata saya salah. Beberapa tahun kemudian ketika lulus kuliah, ia memutuskan untuk mencari penghasilan dengan membuat kerajinan tangan dan menjualnya. Namun, ini pun tak bertahan lama. Hanya berselang beberapa bulan, datanglah sebuah undangan ke alamat tempat tinggal saya. Ternyata ia memutuskan untuk menikah. Dan setelah menikah, ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga.
Heran dengan pilihan yang ia jalani, karena tak pernah menduga bahwa anak ini akan menjadi ibu rumah tangga, iseng-iseng saya bertanya, "Kok kamu nggak mau kerja?". Sebab, di satu sisi saya cukup tahu gambaran penghasilan yang dimiliki oleh si suami, dan jelas bahwa nilai yang dihasilkannya belum akan mencukupi jika kebutuhan hidup keluarga terus meningkat dengan adanya anak dan pengeluaran lainnya. Dan saya cukup terenyuh dengan apa yang ia ucapkan. "Gue nggak kerja karena gue nggak mau anak-anak gue nanti, tumbuh tanpa perhatian yang cukup dari orang tuanya. Gue dulu sering ngerasa sepi ketika nyokap gue kerja dari pagi mpe malam. Dan pas itu, gue suka berpikir bahwa dia nggak sayang sama gue. Sejak itu gue udah bertekad bahwa gue nggak akan mau menjadi wanita karir. Gue pengen anak-anak gue tumbuh dengan perasaan bahwa orang tua mereka selalu menemani mereka."
Ternyata, proses yang sama bisa membawa hasil yang berbeda. Entah bagaimana caranya, saya tak tahu. Barangkali bibit yang dimiliki ternyata berbeda, sehingga kendati proses penanamannya sama, buah yang dihasilkan juga berbeda. Atau mungkin bibitnya sama dan proses penanamannya pun sama, hanya saja bibit yang satu tumbuh dengan penyinaran cukup dari lingkungannya, sementara bibit yang lain tumbuh dengan penyinaran kurang. Atau, bisa jadi tak ada yang berbeda pada bibitnya, pada proses penanaman, atau pada lingkungan yang menyokong pertumbuhannya. Hanya Tuhan memang sengaja menjadikan mereka berbeda. Entahlah.
Tipe Ibu Rumah Tangga atau Wanita Karir?
Tapi, menurut saya, seorang wanita dapat dikategorikan bertipe wanita karir atau bertipe wanita keibuan, ketika ia dihadapkan pada situasi seperti ini ...
Alkisah hiduplah seorang wanita bekerja yang hidup dengan anaknya yang masih berusia setahun dan seorang nenek (ibu dari si wanita). Suami wanita ini bekerja di luar kota dan hanya pulang pada libur-libur panjang. Sehari-harinya, si anak akan dirawat oleh neneknya yang juga tinggal di rumah yang sama dengan wanita ini, sementara si wanita pergi bekerja. Sebenarnya, penghasilan dari si suami jauh dari mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dan menabung untuk pendidikan anak di masa mendatang. Namun, si wanita merasa dengan bekerja ia memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dan mengembangkan kemampuan diri. Tokh sang suami tak pernah melarangnya untuk bekerja, dan si anak pun terurus dengan baik di tangan neneknya.
Masalah mulai muncul ketika kemudian si nenek memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan tak lagi tinggal bersama dengan anaknya ini. Pasalnya, selama ini si wanita ini telah terbiasa bergantung pada pertolongan si nenek untuk merawat anaknya. Hingga berakibat si wanita tak jua bisa mengurus anaknya sendiri. Memberi makan, memandikan, hingga menidurkannya merupakan masalah tersendiri bagi wanita ini.
Wanita ini pun bertanya kepada seorang kenalannya, apa yang harus ia lakukan? Untuk berhenti bekerja, sungguh ia merasa tak sanggup. Ia tak bisa membayangkan bahwa dirinya akan menjadi ibu rumah tangga yang selama 24 jam mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah. Solusi satu-satunya hanyalah mencari pengasuh yang akan merawat anaknya.
Sejujurnya, wanita ini tak tega untuk menitipkan anaknya di tangan seorang pengasuh. Seseorang yang baru beberapa minggu atau bahkan baru beberapa hari ia kenal. Seseorang yang ia tak tahu bagaimana akan bersikap kepada anaknya. Wanita ini banyak mendengar cerita-cerita tentang pengasuh yang kerap mencubiti anak majikannya, bahkan memukul ketika si anak bersikap nakal. Atau pengasuh yang ketika si anak nggak mau diberi makan tidak pernah berusaha untuk membujuknya makan, hingga kemudian si anak jatuh sakit atau dalam tempo panjang kecerdasannya tidak maksimal. Atau pengasuh yang nggak pernah mengajak bicara anak yang diasuhnya, hingga kemudian si anak pun sedikit mendapat rangsangan dan akhirnya terlambat belajar berbicara. Atau pengasuh yang selama majikannya pergi menyewakan bayi yang diasuhnya untuk diajak mengemis demi mendapat belas kasihan lebih dari orang-orang. Atau pengasuh yang lari membawa kabur si anak untuk dijual ke negeri seberang. Intinya, banyak cerita yang ia dengar yang membuatnya kuatir untuk menyerahkan anak ke tangan seorang pengasuh.
Nah, jika teman-teman ada di posisi wanita ini, keputusan apakah yang akan teman-teman ambil?
Tetap bekerja, dengan berusaha sedapat mungkin mendapatkan pengasuh yang kredibilitasnya telah teruji. Ia setidaknya berasal dari yayasan yang cukup ternama, dan telah memiliki pengalaman bekerja sebagai baby sitter selama setidaknya 3 tahun. Nggak masalah harus membayar si pengasuh dengan bayaran jutaan, yang penting ia bisa bekerja tanpa perlu merasa was-was.
Berhenti bekerja. Bagaimanapun profesionalnya si pengasuh, sebelum menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa ia memang bisa diandalkan, wanita ini tak kan pernah rela membiarkan anaknya diasuh oleh orang lain. Membuktikan keprofesionalan si pengasuh tentunya tak hanya dapat dilakukan dalam tempo mingguan atau bulanan. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Tokh masih akan ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan kembali.
Well, jika teman-teman memilih jawaban (a), atau mungkin jawaban (b), saya yakin teman-teman pasti sudah mengetahui kesimpulan apa yang akan saya berikan.
Saya memang sengaja membuat kasus yang benar-benar ekstrim. Dan dalam kasus ekstrim seperti di atas, saya tentu akan memilih jawaban (b). Saya pasti mementingkan anak saya.
Saya memang nggak pernah menyalahkan wanita yang memilih jawaban (a). Semua itu bergantung pada pola pikir, kebiasaan, hingga lingkungan tempat ia dibesarkan. Saya banyak mendapati teman saya yang sangat amat anti untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Baginya, tak boleh ada istilah seorang wanita menengadahkan tangan untuk meminta uang dari si suami. Ia dibesarkan dengan pola pikir bahwa seorang wanita harus mampu mandiri, agar sang suami tak memiliki kesempatan untuk mengatur atau bersifat otoriter atas uang yang ia hasilkan. Kepada teman-teman ini, saya berusaha memahami mereka.
Tapi yang tidak saya pahami adalah ketika seorang ibu, rela membiarkan anaknya untuk diasuh oleh seorang pembantu yang usianya masih belasan tahun dan baru ia kenal. Parahnya, pengasuh ini ia dapat hanya berdasarkan referensi dari seorang satpam di kantor tempat ia bekerja. Pengasuh ini adalah tetangga satu kampung dari si satpam yang sebelumnya tak pernah punya pengalaman mengasuh anak. Saya tak bisa memahami bagaimana mungkin ibu itu bersedia mengambil risiko menitipkan anak satu-satunya ke tangan pengasuh. Tanpa pernah mengamati bagaimana cara si pengasuh bersikap kepada anaknya, si ibu langsung saja menitipkan anaknya.
Tetapi, lagi-lagi saya berpikir. Dan karenanya saya berusaha melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda. Barangkali, ia memang tidak punya pilihan lain. Mungkin himpitan kondisi ekonomi menyebabkan ia tak mungkin mencari solusi lainnya. Jika ia tidak bekerja, mungkin penghasilan sang suami takkan mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. Dan jika ia berhenti bekerja untuk sementara, belum tentu ia akan bisa memperoleh pekerjaan lagi nantinya. Perusahaan biasanya lebih memilih untuk menerima pegawai yang belum berkeluarga.
Hmmmhh..memang benar hidup itu bisa jadi sangat berat. Well, tapi itulah esensi hidup. Berjuang dan terus berjuang.