Rabu, 15 Oktober 2008

Ngobrolin Titel

Yang namanya titel, memang di jaman sekarang nggak bisa dipungkiri sudah jadi bagian dalam "menghakimi" kepintaran atau kesenioran seseorang. Sering kita temukan banyak orang yang mendapatkan kesempatan lebih karena titel yang disandangnya.

Tapi, saya baru menemukan kenyataan bahwa hal sebaliknya juga bisa berlaku. Maksud saya, kepintaran atau kesenioran seseorang atas suatu bidang membuatnya "dihakimi" telah memiliki titel tertentu.

Hal aneh ini beberapa kali terjadi pada ayah saya. Ayah saya sudah cukup tua (kasihan soalnya kalo saya bilang bener-bener tua), dan sudah berpuluh tahun bekerja di suatu instansi pemerintahan. Karena tuanya dan lamanya bekerja (mungkin juga karena kepintarannya), ayah saya yang sebenarnya hanya bertitel SH (Sarjana Hukum) jadi sering banget memiliki titel baru di belakang namanya.

Paling sering terjadi adalah pas menerima undangan pernikahan. Nama ayah saya biasanya akan jadi bertambah panjang. Atau, pas ikutan suatu assessment, di sertifikat assessment tersebut nama ayah saya akan tertera dengan titel barunya, entah itu MBA, MSc, MM, dan bahkan pernah disebut PhD.

Nah, yang lebih parahnya adalah kalau ayah saya diundang untuk jadi pembicara di suatu seminar. Tiba-tiba saja pas dipanggil untuk memberikan presentasi, titel ayah saya jadi nambah. Kalau udah kayak gini paling-paling ayah saya cuma senyum-senyum sendiri. Mungkin pihak panitia memang terkecoh karena senioritas ayah saya, atau mungkin juga mereka sengaja mencantumkan gelar tambahan supaya para peserta seminar lebih respek dan mau mendengarkan isi presentasi.

Padahal, ayah saya sama sekali nggak pernah berusaha menambah-nambahi titel di belakang namanya. Bahkan, ia sendiri pun nggak pernah merasa "kurang" dibandingkan teman-teman selevelnya yang memang umumnya bertitel ganda. Bagi ayah saya, titel tak berarti banyak jika kualitas kerja yang ditunjukkan oleh orang yang bertitel itu nol besar. Di sisi lain, ia pun lebih mempercayai bahwa kualitas seseorang jauh lebih dipengaruhi oleh kesungguhannya dalam belajar-entah melalui pengalaman hidupnya, pengalaman orang lain, buku-buku, dan media lainnya.

Saya memang nggak bisa membantah. Tokh kendati saya punya titel lebih tinggi dari ayah saya, nggak bisa dipungkiri ayah saya jauh lebih banyak tahu daripada saya. Sampai-sampai, pas kemarin ayah saya menunjukkan sertifikat yang didapatnya setelah mengikuti pelatihan yang mencantumkan nama ayah saya dan diakhiri dengan SH., MBA., saya berucap begini,
"Senioritas kadang membuat orang lain berprasangka bahwa kita memiliki gelar tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki. Dan sebaliknya, yunioritas membuat orang lain meragukan gelar tertentu yang sebenarnya memang kita miliki".

Rabu, 08 Oktober 2008

Iklan Jijay

Akhir-akhir ini, menjelang masa kampanye, sering banget saya melihat iklan-iklan yang durasinya panjaaaaaaang banget! Inti dari iklan itu cuma mau memperkenalkan ataupun mengangkat citra seseorang. Dan orang ini, tentu saja punya maksud dong masang iklan panjang gitu di tipi. Maksudnya, apalagi kalo bukan supaya masyarakat mau milih dia pas pemilu entar.

Saya jadi eneg sendiri. Coba nih ya... pemilu masih 2009, lolos jadi balon (bakal calon) aja belum, tapi dari sekarang udah mau masang iklan yang durasinya naudzubillah lama itu di tipi. Pas prime time pula. Coba aja mikir, berapa tuh duit yang dia habiskan untuk membayar iklan itu. Masang iklan kan kudu bayar bo'!

Ada lagi nih ya, orang yang tadinya beriklan dengan mengangkat citra petani dan pedagang pasar Indonesia. Eh, nggak lama kemudian iklannya bergeser jadi iklan partai. Iiiiiiihhhh...jijay banget!

Mungkin temen-temen ada yang nggak ngerti kenapa saya jijay dengan iklan begituan. Ya iyalah, di iklan itu mereka berkata akan mengangkat nasib rakyat, menuntaskan kemiskinan, memperbaiki tingkat hidup masyarakat, dan lain-lain. Tapi itu semua mereka ucapkan melalui iklan yang pastinya menelan biaya milyaran untuk pembuatan dan pemasangannya.

Poinnya adalah:
1. Mending duit segitu banyaknya mulai dipake buat mewujudkan omongan mereka. Jangan cuma "disetorkan" ke stasiun tipi yang udah kaya raya dong!
2. Kalo kita bilang mau berinfak begitu dapet kesempatan. Trus, supaya kesempatan itu ada di tangan kita, kita kudu ngutang sana-sini, apa mungkin pas kesempatan itu nyampe di tangan kita, infak yang akan kita berikan bakal 100% apa yang kita miliki? Menurut saya sih nonsense. Uangnya pasti saya ambil dulu sebagian buat nutupin uang saya. Kalo utang saya 10% bagiannya, sisa 90% akan saya infakkan. Lha lantas gimana dong kalo utang saya 90% bagian?

Karena inilah saya nggak pernah suka dengan dunia politik yang menurut saya penuh kepalsuan. Kalo bisa sih pengennya jadi golput aja. Tapi karena ada ustadz yang (entah kenapa) ngomong bahwa jadi golput itu dosa (emangnya ada di Quran dan hadits gitu kalo kita kudu nyoblos?), saya sudah punya komitmen terhadap diri saya. Saya nggak bakal milih partai atau calon presiden yang bergembar-gembor dengan masang iklan panjang bin lama bin nggak penting di tipi. I won't trust every single alphabet they've said! Nah, tapi saya nggak tahu nih, gimana kalo ternyata semua partai dan semua calon presiden pas pemilu 2009 ntar rame-rame pasang iklan di tipi???? Hwuaduh!

Badai Pasti Berlalu

Waduh, judulnya kok kayak lagu banget ya...
Jadi gini nih, judul itu sebenarnya terinspirasi oleh perkataan Aidil Akbar, si financial planner ganteng yang sering nongol di tipi lantaran punya acara yang namanya Perfect Num8ers. Di acara ini, Aidil Akbar ngomentarin tentang krisis yang sedang melanda AS dan juga pasar modal Indonesia.

Ceritanya, si Aidil ini kecewa banget sama ketidakdewasaan para investor bursa di Indonesia yang ikut-ikutan ambil aksi jual. Padahal, kalo kata dia nih, di Indonesia mah sebenarnya nggak ada masalah apa-apa. Cuma orang2nya aja yang latah ikutan panik dan ikutan jual saham kayak orang2 di Dow Jones Amrik sono.

Nah, saya sendiri membedakan para pemain di bursa ke dalam tiga spesies. Spesies pertama adalah orang-orang yang memang niat untuk berinvestasi saham secara jangka panjang. Jadi, mereka inilah orang-orang yang akan dipuji sama Warren Buffet. Pasalnya, bapak tua Buffet ini selalu menyarankan orang yang mau membeli saham untuk mengecek fundamental perusahaan yang sahamnya akan dibeli. "Memiliki saham itu ibarat memiliki perusahaan", begitulah nasihat yang selalu dikatakannya. Kalo kita mau memiliki perusahaan, kita kan pasti kudu ngecek orang-orang yang duduk di manajemennya, visi yang dimilikinya, kondisi kesehatannya, aksi-aksi yang akan dilakukannya, dan lain-lain sebelum akhirnya memutuskan layak dibelikah perusahaan ini? Kalo beli perusahaan kan nggak mungkin dong kita cuma beli seminggu terus kita jual lagi? Pasti kita beli, kita pantau, kita kasih saran untuk pengembangan perusahaan itu (melalui RUPS), dan sebagainya. Karena itulah seorang investor selayaknya memiliki saham sebuah perusahaan dalam jangka panjang.

Spesies kedua adalah orang yang saya sebut bermental spekulan. Mereka masuk pasar, kemudian langsung pergi nggak lama kemudian. Istilah kerennya mah hit and run. Orang-orang ini hanya berorientasi untuk mengejar keuntungan dalam jangka pendek. Jadi, nggak perlu nganalisa kondisi fundamental dalem-dalem. Soalnya kan mereka nggak bakalan megang saham sebuah perusahaan dalam jangka lama. Nah, spesies kedua ini terbagi lagi jadi bermacam-macam sub spesies. Ada yang saking mental spekulannya kenceng banget, melakukan jual beli saham hanya dalam hitungan menit. Ada yang hitungan jam. Ada juga yang hitungan hari, minggu, hingga bulan. Orang-orang ini, jika salah mengambil langkah, misalnya membeli saham yang kemudian harganya turun, akan lebih memilih untuk menjual saham itu dalam kondisi rugi (cut loss) ketimbang menahan sahamnya dalam jangka waktu lama hingga harganya kembali naik dan ia mendapat untung.

Spesies ketiga adalah orang yang nggak masuk dalam dua jenis di atas. Dia sebenernya berorientasi untuk mengejar keuntungan dalam jangka menengah (jangka bulanan hingga 1 tahunan). Tapi, sayangnya dia males melakukan analisa fundamental terhadap perusahaan yang dia beli. Orang-orang ini biasanya akan memilih untuk menahan sahamnya jika saham yang ia miliki harganya merosot. Pasalnya, mereka memang nggak bermental spekulan. Tapi, kemudian pas harga merosot makin tajam, orang-orang ini jadi jiper dan jantungan. Akhirnya, dijuallah saham yang dimilikinya dalam kondisi sudah merosot tajam. Jadi, mereka inilah tumbal-tumbal keganasan bursa. Habis, nggak punya pendirian sih!

Nah, masuk ke dalam tipe pemain bursa seperti apakah saya? Jelas saya bukan investor sejati. Soalnya, saya nggak pernah melakukan analisa secara mendalam atas saham yang saya beli. Tapi, saya juga nggak pernah dan nggak mau melakukan aksi jual beli hanya dalam hitungan jam ataupun hari. Jadi, harusnya saya dimasukkan dalam kategori spesies ketiga. Namun karena hingga detik ini saya tetap bergeming dan tidak melakukan aksi jual atas portofolio saham yang saya miliki kendati sudah menanggung kerugian cukup banyak, dengan bangga saya bisa menyebut diri saya investor yang artinya saya termasuk spesies pertama. Soal Anda setuju atau nggak sama saya, itu urusan belakangan.

Krisis mungkin akan terulang lagi. Tapi, yang namanya badai, walau sekencang apapun, pasti akan berakhir juga (kecuali dunia kiamat). Sama seperti badai, anjloknya bursa juga pasti akan berakhir. Cepat atau lambat bursa akan berbalik arah. Karena saya meyakini hal itu, maka saya masih mempertahankan portofolio saham saya "nyangkut", dan terus membeli saham baru.

Cuma dua hal yang saya pegang. Tutup kuping dan tetap membeli. Nggak perlu ikut-ikutan latah ngejual saham dan ikutan ngerugi. Kalo kita mengkategorikan profil risiko kita sebagai risk taker, ada badai kayak gini mah nyantai aja. Yang namanya risk taker kan-seharusnya nih-jangankan badai, topan pun akan dia lalui!

Atau jangan-jangan kita sebenarnya hanya risk taker gadungan? Orang-orang yang berani bermain di saham dengan catatan market terus naik(kondisi bullish). Jika ya, berarti kita harusnya mengatakan pada diri kita kalimat ini, "I'm not a risk taker, I'm just a profit taker", right?...

Minggu, 05 Oktober 2008

Hati-Hati di Jalan

Libur lebaran kemarin saya habiskan dengan menikmati sepinya Jakarta, keliling-keliling sesuka hati saya. Delapan kali saya harus melintasi tol dalam kota menuju bandara, dan dua kali melintasi tol menuju Bogor. Dalam perjalanan selama delapan kali dan dua kali itu, tentu saja tak terhitung banyaknya gardu tol yang saya lewati.

Setiap kali saya berhenti di gardu tol untuk mengambil tiket atau membayar uang tol, tak lupa saya selalu mengucapkan terima kasih. Dan seperti biasa, tak ada balasan jawaban dari petugas di gardu tersebut.


Saya sendiri nggak pernah merasakan keberatan atas keadaan ini.

Pertama, memang pelayanan yang ramah terhadap pelanggan saya yakin tidak begitu ditekankan untuk sebuah perusahaan jasa publik bernama Jasa Marga. Toh jasa yang mereka tawarkan merupakan jasa yang mau nggak mau, suka nggak suka, pasti dimanfaatkan oleh masyarakat. Tanpa si petugas menebarkan senyum manis atau mengumbar kata terima kasih, jasa yang mereka jual pasti akan dibeli oleh pelanggan.

Kedua, saya selalu memaklumi kondisi ini karena saya membayangkan bahwa saya juga akan bersikap sama jika saya ada di posisi mereka. Bayangkan, harus duduk di dalam ‘kotak’ kecil di tengah jalan tol, pas siang bolong, untuk memberikan selembar tiket ataupun uang kembalian kepada setiap mobil yang lewat.


Padahal, jika satu mobil membutuhkan waktu untuk ‘dilayani’ selama 6 detik (untuk mengambil uang, menyerahkan tiket, dan menyerahkan uang kembalian), maka dalam 1 menit dia harus ‘melayani’ 10 mobil, yang berarti 600 mobil dalam satu jam! Nggak mungkin banget saya bisa terus menerus menebarkan senyum atau mengucapkan terima kasih pada 600 mobil yang lewat tanpa henti seperti itu. Bisa dower bibir saya!

Nah, karena itulah saya memaklumi ketika petugas tol itu biasanya bertampang masam, suntuk, dan tanpa gairah hidup tercermin di mukanya. Ya iyalah, soalnya kan mereka harus melakukan pekerjaan rutin dan membosankan seperti itu.

Tapi, pada liburan kemarin saya mendapatkan pengalaman baru ketika saya melintasi tol dalam kota menuju Bandara Soekarno Hatta. Hari itu matahari panas menyengat. Saya pergi bersama bapak, ibu, kakak ipar, serta keponakan saya. Tol sudah mulai ramai karena para pemudik sudah kembali memadati Jakarta. Sebelum memasuki tol, saya menepi di sebuah gardu untuk menyerahkan uang sepuluh ribuan. Tarif tol tertera seharga Rp. 5500,-. Tak sampai dua detik, si petugas pun segera menyerahkan tiket yang diselipkan uang kembalian sebesar Rp. 4500,-. Saya pun mulai menginjak pedal gas sambil berucap “Terima kasih”.

Tanpa saya sangka, si petugas mulai melebarkan mulutnya, tersenyum, dan berkata “Hati-hati di jalan”. Saya kaget. Seumur-umur saya melintasi gardu tol, seingat saya, tak pernah sekalipun saya lupa mengucapkan terima kasih. Tapi baru kali itulah saya mendapatkan jawaban atas apa yang saya ucapkan. Kendati lirih dan perlahan, tapi kalimat yang diucapkan oleh petugas itu sangat berkesan bagi saya.

Sayang ketika itu mobil sudah bergerak melaju. Jika tidak, saya pasti akan berkata balik kepada si petugas, ”Terima kasih Pak. Semoga sukses menyertai Anda selalu”.