Minggu, 30 November 2008

Surat Warna Biru

Dalam perjalanan pulang dari Senayan City…

Saya : Wadoh! Ada polisi ijo-ijo banyak di depan. Entah kenapa gw selalu trauma kalo banyak polisi
Teman : Wah, kenapa?
Saya : Tauk…Eh eh, gw mau lurus nih, kok gw malah ambil lajur kanan sih?
Polisi : Priiiiiiiiiiittttttt!!!!!!!
Saya : Mati deh!

Menepikan mobil
Saya : Kenapa sih? Karena gw lurus yah tadi? Harusnya belok yah? Tapi kan garisnya putus-putus, nggak pa-pa dong harusnya gw tetep lurus…
Teman : Udah, damai aja…
Saya : sigh (menghela napas)

Polisi datang
Polisi : Bu, ibu tadi kalau sudah di kanan, tidak boleh lurus ya bu…Boleh saya lihat SIM dan STNK-nya?
Saya : (mengambilkan dan menyerahkan ke polisi)
Polisi : (melihat sebentar, berjalan menuju temannya)
Teman : Udah, damai aja
Saya : Iya, iya

Polisi datang lagi
Polisi : Bu, sempat nggak bu untuk ikut sidang?
Saya : (mampus gw) Enggak pak, saya mau ditilang aja deh *jawaban nggak nyambung*
Polisi : (bingung) Jadi gini bu, ibu saya tilang, nah ibu sempat tidak ikut sidangnya?
Saya : Enggak pak. Saya nggak mau ikut sidang. Saya minta suratnya aja...
Polisi : (makin bingung) Jadi ibu mau ikut sidang
Saya : (jadi ikutan bingung) (Duuuuuhh, gimana sih caranya supaya polisi ini ngerti kalo saya mau damai aja...kalo gw bilang damai ntar taunya gw ditangkep karena nyogok...) Saya nggak mau ikut sidang Pak. Tapi saya minta surat tegurannya, yang itu tuh...yang menyatakan bahwa saya salah. Kan saya nggak perlu ikut sidang kan? Surat apa sih namanya? Surat warna biru ya pak?
Polisi : (bingung) Sebentar ya Bu...(meninggalkan mobil menuju temannya)

Polisi datang lagi
Polisi : Bu, tinggalnya di Kwitang mana?
Saya : Di Kramat Kwitang Pak. Jakarta Pusat.
Polisi : Di asrama mana bu?
Saya : (bingung) Enggak pak, saya nggak di asrama
Polisi : Nggak usah boong Bu, di asrama mana?
Saya : Saya tinggal sama orang tua saya kok pak
Polisi : Ya udah Bu..Ini SIM dan STNK-nya saya kembalikan
Saya : (melongo)

Polisi pergi, mobil mulai melaju
Teman : Hah? Geblek! Nggak nyangka gw, kok langsung dibalikin gitu?
Saya : Iya, kenapa ya? Apa dia muak mau minta duit tapi nggak gw kasih-kasih? Lagian, apa maksudnya dia nanya gw tinggal di asrama mana?
Teman : Dia tuh ngirain lo dari angkatan sesuatu...orang angkatan kan biasanya tinggal di asrama
Saya : Oh itu maksudnya..*baru ngeh*
Teman : Mang di kwitang ada asrama apa?
Saya : Tauk. Ada apa ya...? Ada kantornya brimob, marinir…
Teman : Ooo, makanya dia nggak berani. Pasti lo dikirain dari brimob, hahaha...
Saya : Hahaha…tampang kayak gw gini? Hahahahaaaha



Jeda sejenak
Teman : Eh, tadi tuh lantaran lo ngomong surat warna biru tuh, makanya nggak jadi ditilang..mang tu apaan sih?
Saya : Gw pernah baca di Internet. Katanya, kalo nggak mau ikut sidang, kita bisa ngaku salah. Trus, ntar sama polisinya dikasih surat biru itu. Syaratnya, gw harus bayar melalui ATM gitu deh...jadi duitnya masuk beneran ke negara. Tapi tadi sebenernya gw ga inget pasti namanya apa...jadi ngarang deh...
Teman : Oh gitu...pantes dia kaget. Pasti dia heran, kok anak ini bisa tahu begituan? Hahaha...

Mobil melaju
Teman : Tapi gw jadi kasian sama polisi tadi, dia jadinya nggak dapet apa-apa. Tadi gw udah pengen ngasih duit aja lo ke dia...ya 50 ribu kek, 20 ribu kek...
Saya : Jangan ah! Ntar jadi kebiasaan! Lo nggak nyadar apa, pas dia nanya, ”Bu, sempet ikut sidang nggak?”, itu kan maksudnya nyuruh kita bayar secara halus. Iiiiihhh, amit-amit deh..
Teman : Iya sih...Tapi kan kasian...


Jadi ga sabaran
Saya : Gw udah repot-repot ngeles pake terbata-bata gitu biar ga usah bayar, eh..lo malah mau ngasih cuma-cuma. Gini nih kalo punya temen kebanyakan duit...
Teman : (diem bentar) Iya ya...Mang repot ya jadi orang kaya...
Saya : (gubrak...langsung keselek)


Jumat, 28 November 2008

Ketika Boss Tak Ada

Pagi : dateng absen, basa-basi bentar, makan indomie si babe, main kuis 'toast master' nggak penting


Makan siang : ditraktir sama boss *pesen yang paling mahal so pasti*, ngerumpi-ngerumpi, heboh nggak jelas


Siang : JJS di mall, cuci mata, belanja-belinji mpe jam 15


Sore : nyantai-nyantai browsing, baca blognya orang-orang, mondar-mandir sesuka hati


Jam 5 : teng-go



Hebat kan? Mana ada kerjaan bisa kayak gini? Digaji pula! Hakakkkakaka....



Rabu, 19 November 2008

Uneg-Uneg

Saya muak
Bete Jemu Bosen Jenuh
Ingin lari dari semua

Saya berlari
Cepat Sigap Konstan Terus
Ingin menggapai ke depan

Saya bingung
Buta Bodoh Konyol Menggelikan
Apa sebenarnya yang saya cari?

Malam Renungan (2)

Hingga akhirnya, baru-baru ini saya terpaksa meragukan kebenaran kalimat itu. Lilin di tengah desa tentu saja lebih berarti dibandingkan lampu di tengah kota. Tapi bagaimana jika membandingkan antara lilin di tengah desa dengan lampu di tengah desa? Mana yang lebih memberikan arti?

"Pencerahan" ini saya dapat gara-gara sekitar sebulan yang lalu, saya diminta untuk mengurus proposal sebuah acara sekaligus mencari lokasi untuk acara tersebut. Bukan hal besar apalagi susah sih, namun mengibakan lebih tepatnya. Pasalnya, budget yang ada sangat amat terbatas untuk acara seperti itu. Jadi, saya perlu mengakalinya dengan "merayu" si marketer supaya dia mau ngasih diskon. Setelah terungkap bahwa ternyata diskon ini nggak banyak membantu, saya pun masih harus menyempitkan budget dengan me-request extra bed supaya jumlah kamar dapat dikurangi, plus upaya-upaya printilan lainnya biar budget bisa mencukupi.

Wah, ternyata nggak enak ya jadi orang miskin. Mau apa-apa susah. Soalnya, saya memang nggak pernah merasakan harus memohon atas sesuatu karena saya tidak memiliki cukup dana untuk mendapatkan sesuatu tersebut. Saya jelas bukan orang kaya, tapi lebih jelas lagi saya bukan orang miskin. Saya mungkin lebih tepat untuk dikategorikan sebagai orang yang pandai mengatur pasak agar tak lebih besar dari tiang. Tapi...yang namanya mengatur, tetep aja pasaknya harus tersedia, ya tho?

Nah, dari sinilah saya akhirnya menyadari bahwa menjadi orang yang berguna di tengah orang-orang yang membutuhkan itu memang mulia sekali. Tapi, jelas lebih mulia menjadi orang yang berguna dan mampu memberi di tengah orang-orang yang membutuhkan. Kalau kita bisa menjadi lampu, jangan mau hanya menjadi lilin. Yang jelas, berusahalah menjadi lampu, karena ia mampu memberi sinar yang lebih terang bagi sekitar. Soal mau jadi lampu di desa atau di kota, itu kembali pada hati nurani. Apakah hati nurani mengarahkan kita untuk menjadi orang yang berarti bagi sesama, atau berarti hanya bagi diri sendiri.




Senin, 10 November 2008

Malam Renungan (1)

Zaman penjajahan alias masa ospek pas SMA dulu, saya mendapatkan satu kalimat yang membekas cukup dalam. Jadi, dalam masa ospek itu ada saat perenungan. Inti dari acara itu adalah membuat anak-anak ingusan yang berencana akan mengenyam masa-masa indah SMA bisa mengintrospeksi dirinya masing-masing. Momennya malam buta, jam 23 mpe pagi. Paginya juga masih buta, bukan pagi pas ayam udah mulai berkokok.

Nah, di acara itu, kakak-kakak kelas saya tuh bikin puisi-puisi perenungan, lagu yang mendayu-dayu, dan suara-suara lain yang bikin suasana malam makin mencekat. Tentu saja di dalamnya nggak termasuk berpantun atau bersiul ya, soalnya efeknya pasti jauh berbeda.
Mata saya dan teman-teman semuanya ditutup rapat-rapat. Walaupun, dengan lihainya saya selalu mengintip dari celah di bawah kain penutup mata itu. Dan hasilnya sebenarnya juga nggak banyak sih, lha wong hari masih gelap gulita, paling-paling cuma diterangi beberapa lampu senter atau petromaks paling banter. Jadi, walaupun berhasil ngintip tetep aja nggak ada yang keliatan. Tapi, setidaknya saya tahu bahwa kami dibariskan di tengah lapangan, sebelum akhirnya disuruh duduk lesehan di atas rumput yang mulai lembap karena basahnya embun.

Seperti biasa, selang beberapa saat setelah acara perenungan dimulai, ketika puisi mulai dibacakan dengan penuh penghayatan, terdengarlah perlahan sayup-sayup suara isak yang ditahan. Namun, tak lama, isak itu tak tertahankan lagi. Teman-teman pun mulai menangis terang-terangan. Kakak-kakak kelas pun makin semangat aja ngomporin adik-adiknya supaya menangis lebih keras. "Hayo! Keluarkan saja! Keluarkan semuanya!", gitu deh cara mereka memacu kami supaya nangis lebih kenceng. Akhirnya tangisan pun berganti jeritan. Lomba jerit-menjerit pun dimulai, hingga akhirnya ada yang pingsan. Busyet! Ada yang pingsan, padahal saya sendiri sedikitpun nggak mengeluarkan air mata. Walhasil saya jadi nggak enak ati, soalnya di antara anak-anak yang duduk ngelesot di lapangan, sebelah kiri kanan saya udah nangis, depan juga nangis, belakang apalagi. Masak saya doang yang diem aja. Bingunglah saya, apa yang salah ya? Perasaan saya udah berusaha meresapi suasana dalam-dalam, mendengarkan puisi yang dibacakan dengan sepenuh hati, eh tetep aja nggak terharu. Berhubung nggak enak karena nggak solider, saya cari siasat biar bisa pura-pura sesenggukan, tapi ternyata nggak berhasil juga.

Mungkin karena heran ada anak yang diem aja nggak mengeluarkan isak tangis ataupun air mata, akhirnya ada seorang kakak kelas yang mendekati saya. Setelah mengeluarkan kalimat-kalimat panjang yang sudah saya lupakan, akhirnya dikeluarkanlah olehnya sebuah kalimat bijak untuk saya, "Lebih baik menjadi sebuah lilin di tengah kegelapan desa, daripada menjadi sebuah lampu di tengah terangnya kota".

Waduh, kalimatnya bagus banget! Saya sampai langsung berasa jatuh cinta sama kakak kelas itu, walaupun-setelah dia berlalu dan saya berhasil mengintip-terpaksa saya batalkan karena ternyata si kakak kelas bukan tipe saya (hehe). Tapi tetep aja, kalimat itu membekas cukup dalam dan selalu saya ingat. Bagi saya, sungguh mulia dan luar biasa orang-orang yang dengan sengaja memilih untuk membuat dirinya lebih berarti bagi orang lain. Memilih untuk menjadi "kecil" seperti lilin agar lebih berarti, daripada "besar" seperti lampu tanpa arti.

Hingga akhirnya, baru-baru ini saya terpaksa meragukan kebenaran kalimat itu....
(bersambung)