Senin, 26 Januari 2009

Pawang Hujan

Membaca artikel di harian Kompas Minggu lalu, saya jadi berpikir melantur ke mana-mana. Pada artikel cukup panjang yang berjudul “Wes-ewes...Bablas Udane!” ini, si penulis –Budi Suwarna dan Susi Ivvaty- menceritakan tentang sebuah profesi yang cukup akrab didengar di telinga kita. Pawang hujan.

Ternyata praktik pawang hujan di Indonesia ini cukup laris manis. Hal yang tak saya sangka adalah bahwa praktik ini ternyata banyak dipergunakan oleh kalangan-kalangan terdidik dan bahkan kaum modern. Selama ini, saya menyangka pawang hujan hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang yang masih memegang teguh tradisi nenek moyang, segelintir orang yang –maaf- masih menganut adat kejawen, dan segelintir orang yang –sebutlah- kolot.

Tapi ternyata pemikiran saya selama ini meleset jauh. Kalangan terdidik, kaum urban, bahkan perusahaan event organizer yang harus menyelenggarakan acara di luar ruang pun banyak yang menggantungkan kelancaran bisnis dan usaha mereka dari kesaktian pawang hujan ini. Bahkan dalam artikel disebutkan bahwa mempergunakan jasa pawang hujan merupakan salah satu prosedur tetap untuk penyelenggaraan acara luar ruang yang berlaku di perusahaan event organizer tersebut. Artinya, tidak hanya untuk musim hujan, saat musim kemarau pun si perusahaan harus memanfaatkan jasa pawang hujan. Ckckck...

Setelah membaca artikel tersebut, saya jadi lebih peka dalam mengamati cuaca. Misalnya saja, saya ingat bahwa hari Sabtu sebelum saya membaca artikel ini, cuaca sepanjang hari mendung tapi tak setetes pun hujan turun. Sementara itu, kita semua tahu bahwa setiap hari Sabtu biasanya banyak digelar acara pernikahan. Karena itu, saya jadi berpikir bahwa cerahnya hari Sabtu itu adalah karena ulah si pawang hujan yang disewa untuk menghentikan hujan pada hari itu supaya acara pernikahan berlangsung mulus tanpa hambatan.

Demikian pula hari Minggu-nya. Langit diselimuti awan kelabu sedari pagi. Seolah-olah, hujan akan turun dengan derasnya. Tapi, ternyata hujan baru turun menjelang pukul 3 sore. Itupun hanya sebentar. Magribnya, hujan sudah reda, terus hingga malam. Saya pun langsung mengaitkannya dengan jadwal kondangan yang biasanya dilakukan orang-orang. Jika menggelar hajatan, waktu yang umum untuk dipergunakan biasanya adalah antara pukul 11-13 siang, atau pukul 19-21 malam. Jadi, kalau mencocokkannya dengan jadwal hujan yang terjadi, bisa jadi memang itu karena kesengajaan si pawang hujan.

Berlanjut ke hari Senin. Hari ini. Sedari pagi buta, hujan turun tanpa henti. Walaupun, tak pernah dalam kapasitas besar. Bisa dikatakan hanya hujan rintik-rintik yang terus-menerus turun. Barulah pada sore hari, hujan benar-benar berhenti. Saya pun mencoba mengaitkannya dengan si pawang hujan. Bukankah katanya, bagi kaum Tionghoa, hujan itu pertanda rezeki? Jadi, kalau ada hujan turun di hari imlek, tentu merupakan pertanda bagus bagi mereka. Nah, bisa saja ini juga kesengajaan si pawang hujan. Dia mengatur kapan hujan turun, dan kapan hujan tidak turun sedemikian rupa, agar bisa menyenangkan banyak pihak.

Wah, luar biasa sekali bukan? Terlepas dari benar atau tidaknya prediksi saya tentang keterlibatan pawang hujan dalam mempengaruhi cuaca di Jakarta tiga hari ini, saya tetap saja masih sulit untuk mempercayai kehebatan mereka. Mungkin sampai saya benar-benar bisa menyaksikannya sendiri, barulah saya bisa percaya.

Tapi saya jadi berpikir lagi, kayaknya bagus deh kalau pertanyaan terkait pawang hujan ini ditanyakan kepada calon putri Indonesia yang sedang bersaing dengan dua rekannya yang lain untuk memperebutkan tiara putri Indonesia. Dan dalam pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang dewan juri untuk membuktikan kapasitas otak si calon putri, diajukanlah pertanyaan seperti ini, “Bagaimana pendapat anda tentang profesi pawang hujan? Sebuah profesi yang telah lama ada di masyarakat kita, dan hingga sekarang praktiknya masih tetap tumbuh dengan subur?”.

Yakin deh, ini pertanyaan yang pastinya sulit untuk dijawab oleh seorang calon putri. Bisa-bisa si putri gelagapan di tengah panggung. Pasalnya, jika ia bilang profesi ini tidak dapat diterima oleh akal sehat, pasti banyak masyarakat Indonesia yang akan mencemoohnya, menudingnya sebagai bagian dari kaum muda yang sudah tercemari oleh budaya barat. Jika ia bilang profesi ini berada dalam zona abu-abu, ia pasti akan dianggap sebagai calon putri yang hanya mau cari aman saja, dan karenanya pasti cuma diberikan nilai oleh juri dan tepuk tangan oleh penonton ala kadarnya. Tapi jika ia bilang profesi ini profesi luar biasa yang sangat bermanfaat, orang-orang juga akan meragukan intelegensia yang dimilikinya.

Nah, karena itu, supaya calon-calon putri Indonesia yang membaca tulisan saya ini tidak bingung, saya sudah menyiapkan jawaban yang bisa dicontek jika sewaktu-waktu Anda dihadapkan pada pertanyaan tersbut. Dan inilah jawaban terbaik -versi saya- yang saya yakin mampu membawa Anda meraih predikat Putri Indonesia -versi saya-...

“ Terima kasih atas pertanyaan yang diberikan, Mas Tantowi (senyum manis). Selamat malam para dewan juri, selamat malam Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan seluruh hadirin (tetap mempertahankan senyum). Menurut pendapat saya, (muka agak serius tapi tetap dengan senyum) profesi pawang hujan merupakan sebuah profesi yang lahir dari keberanekaragaman tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia (penonton tepuk tangan). Pawang hujan telah ada bahkan semenjak zaman pra-Hindu. Berdasarkan ilmu pengetahuan, memang profesi ini belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun saya percaya bahwa seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, keberhasilan pawang hujan dalam mengendalikan cuaca akan dapat dijelaskan dengan ilmu metafisika. Di beberapa negara, kerap kita temukan tarian-tarian, upacara-upacara, atau nyanyian-nyanyian yang dilakukan oleh penduduknya untuk meminta hujan. Hal itu adalah bagian dari budaya mereka. Dan di Indonesia, sebagian dari budaya yang kita miliki tertransformasikan dalam profesi pawang hujan ini (tepuk tangan bertambah keras). Bagaimanapun, menurut saya profesi pawang hujan merupakan bagian dari budaya leluhur yang harus terus kita lestarikan demi mempertahankan budaya di tanah air kita tercinta, Indonesia (tepuk tangan semakin membahana). Terima kasih (tepuk tangan membahana dengan ditambah suitan dari penonton).”

2 komentar:

- a b o u t J E N - mengatakan...

wakakakak..narsis banget lu pi.. Gw tau impian lu jadi Putri Indonesia ga bertahan lama kan di BATC, mangkanya lu impikan & khayalkan di blog lu kan? hahahaha.. :p

Upi... mengatakan...

Yen, yg namanya putri itu bagi gw bukan diciptakan, tapi dilahirkan...(lantas?). Nah, jd nggak guna deh lo mencerca gw kayak gitu..orang gw dah dari oroknya lahir sebagai putri kok! Haha...