Pernah mendengar tentang istilah kutu loncat dan dinosaurus? Hampir semua pasti pernah mendengar tentang dua binatang yang satu sama lain nggak ada mirip-miripnya ini. Hanya saja, entahlah, apakah persepsi anda tentang dua binatang ini sama dengan persepsi yang ada di benak saya saat ini.
Teman-teman pasti tahu kalau kutu loncat sering diistilahkan untuk orang yang gemar berpindah-pindah pekerjaan. Dari pekerjaan yang satu pindah ke pekerjaan yang lain, si kutu loncat ini biasanya nggak menemui kesulitan apapun, baik kesulitan untuk menemukan pekerjaan baru, ataupun untuk beradaptasi. Biasanya, si kutu loncat ini orangnya cekatan, pintar, dan cukup punya koneksi. Jadi, tak heran kalau dengan mudah ia bisa mendapatkan pekerjaan baru.
Beda kutu loncat, beda pula dinosaurus. *Mungkin istilah dinosaurus belum banyak kita dengar ya? Saya sendiri baru menemukan adanya istilah ini dari membaca tabloid KONTAN beberapa minggu lalu. Di situ, penulisnya mengungkapkan bahwa sifat dinosaurus berkebalikan dengan si kutu*. Jika si kutu loncat tak pernah betah bertahan lama di suatu tempat, dinosaurus justru takut untuk berpindah tempat. Orangnya biasanya lebih lamban, sulit untuk mengambil keputusan, dan tidak menunjukkan kreativitas dalam pekerjaannya. Walaupun dihadapkan pada situasi dimana ada pekerjaan baru yang menantinya, ia cenderung enggan untuk berpindah dan lebih memilih bertahan di pekerjaannya yang sekarang.
Termasuk yang manakah saya? Jika anda bertanya ke teman-teman saya, semuanya pasti dengan kompak akan menyebut saya adalah seorang kutu loncat. Saya memang orang yang tidak takut untuk mengambil kesempatan. Jika saya melihat ada peluang di depan saya, tanpa pikir panjang saya pasti akan mengambilnya. Padahal, mungkin jika berpikir masak-masak, pekerjaan baru itu sebenarnya tidak seprospektif yang saya bayangkan. Yang artinya, bertahan di pekerjaan yang lama justru akan lebih menguntungkan, karena artinya masa kerja saya akan lebih panjang di perusahaan lama dan nilai jual saya ketika pindah kerja lagi tentu lebih mahal.
Setiap kali pindah kerja, saya memang tak pernah melakukan sholat malam untuk memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar Ia memberi petunjuk atas keputusan yang akan saya ambil. Bagi saya, situasi yang saya hadapi tidak terlalu rumit hingga perlu melibatkan-Nya. Jadi, hanya berdasarkan rasionalitaslah saya mengambil keputusan-keputusan untuk pindah kerja tersebut. Saya bisa jadi banyak memanjatkan doa, atau melakukan sholat malam. Tapi doa dan sholat saya, bukan untuk memohon petunjuk atas keputusan pindah kerja itu. *Benar-benar takabur ya saya ini?*
Nah, sekarang saya baru saja pindah kerja untuk yang kesekian kalinya. *Sengaja jumlahnya tidak saya sebutkan supaya Anda tidak kaget*. Tapi berbeda dengan sebelum-sebelumnya, kali ini saya pindah bukan berdasarkan rasionalitas saya. Emosionalitas sayalah yang lebih banyak berperan kali ini. Saya, pindah kerja, demi membahagiakan dan menentramkan orang tua saya. Sejak lama mereka menginginkan saya untuk masuk ke dunia kerja ini, dan tanpa disangka saya mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalamnya.
Kali ini, saya bertekad untuk tidak pindah-pindah lagi. Walaupun hingga saat ini saya tidak bisa membayangkan bekerja berpuluh-puluh tahun di satu tempat yang sama, tapi saya tetap menguatkan tekad saya. Jika selama ini rasionalitas saya-yang menjadikan saya oportunis-mengizinkan saya untuk berpindah-pindah dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, maka kali ini saya akan menggeser rasionalitas saya itu dan menggantinya dengan emosionalitas saya. Berhasil atau tidak, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Yang pasti, sebagai kutu loncat, supaya saya tak bisa meloncat lagi, saya harus mematahkan kaki saya, dan itulah yang berusaha saya lakukan.
Rabu, 14 Januari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar