Manusia –terutama yang seperti saya ini- memang makhluk yang aneh. Keanehan pertama sudah pernah saya ceritakan pada posting saya terdahulu. Nggak pernah puas. Saat kita nggak punya apa-apa, kita menginginkan sesuatu. Jadi kaya, punya rumah, bisa jalan-jalan ke luar negeri, dan sebagainya. Tapi pas kita sudah dikasih apa yang kita inginkan, mendadak satu-satunya hal yang kita inginkan adalah kembali ke masa lalu, di mana kehidupan kita tak sekompleks saat ini. Nggak perlu memusingkan besarnya pajak yang harus dibayar, suami yang jarang ada di rumah, dan segudang keluhan lainnya. Hmmm...what a human!
Nah, kali ini saya mau mengungkapkan keanehan manusia (baca: saya) yang lain. Dulu, waktu kerja di perusahaan sebelumnya, saya sering mencuri-curi waktu kerja untuk menulis blog, berkirim email, main game, atau membuka situs-situs yang nggak relevan lainnya. Rasanya sudah jadi kebiasaan yang secara otomatis pasti saya lakukan. Setiap pagi, sesaat setelah sampai di kantor, saya menyalakan laptop dan mulai melakukan hal nggak penting itu.
Tapi, kebiasaan yang sudah –hampir- mendarah daging itu mendadak lenyap begitu saja. Ajaib. Sungguh ajaib. Ketika saya berkesempatan untuk chatting sesuka hati, menulis blog sesuka hati, membuka facebook sesuka hati, main games sesuka hati, semua itu tidak lagi saya kerjakan. Padahal, di kantor saya yang sekarang, kerjaan tidak sepadat di kantor saya yang dulu. Televisi menyala di sudut ruangan, mempersilakan siapa saja untuk datang menonton. Dan lebih hebatnya lagi, orang-orang dengan tak tahu malunya, bermain game atau ber-surfing ria tanpa malu dilihat oleh penghuni kantor lainnya. Seolah-olah itu hal lumrah yang kerap dilakukan oleh siapa saja. Bahkan lebih hebatnya lagi, mereka tetap melakukannya sekalipun si bos atau atasannya sedang berada di dekatnya. Ckckck...ajaib. Sungguh ajaib.
Saya pun heran dengan diri saya. Kenapa ketika hal-hal yang dulu senang saya lakukan, walaupun harus dengan sembunyi-sembunyi, kini malah saya hindari padahal saya tak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Apakah karena saya hanya menyukai melakukan hal-hal tertentu yang membutuhkan usaha keras agar bisa melakukannya? Seperti ilustrasi seorang cowok yang mengejar-ngejar seorang cewek tanpa lelah, namun ketika si cewek sudah di sampingnya, si cowok tak lagi mengharapkannya. Mungkinkah saya seperti itu? Atau mungkin, karena saya sendiri masih cukup punya attitude? Saya malu melakukan -secara terang-terangan- hal yang saya ketahui salah. Rasanya saya malu untuk disebut sebagai abdi negara jika apa yang saya lakukan sebenarnya hanya bermanfaat untuk diri saya pribadi.
Saya bingung. Saya tahu saya ini pribadi yang kompleks dengan segala ke-absurd-annya. Tapi yang baru saya ketahui, ternyata di dalam keabsurdan saya itu, masih tersimpan sebentuk idealisme.
Jumat, 23 Januari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar