“Ketika kita telah berhasil menjadikan diri kita seorang sosok yang sempurna, beranikah kita mengakui bahwa sebenarnya kesempurnaan itu hanya semu belaka?”
Di posting saya sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa banyak manusia yang silau dengan ‘kesempurnaan’ hingga rela melakukan cara-cara yang tak terpuji demi kesempurnaan semu itu. Pun di sisi lain, lebih banyak lagi manusia yang hidup dalam alam fantasi dan mempercayai bahwa sosok sempurna itu benar-benar ada.
Adalah seorang pelari asal Amerika, sosok ideal yang dicap sempurna oleh banyak orang yang mengidolakannya. Ia pahlawan sekaligus sumber inspirasi bagi banyak orang. Keberhasilannya meraih 5 medali -3 emas dan 2 perunggu- dalam ajang olimpiade pertama yang diikutinya, menjadikannya sejarah yang indah. Dan ia akan tetap tercatat sebagai sejarah yang indah, seandainya ia tidak pernah mengungkapkan kebenaran yang –mungkin- hanya ia ketahui sendiri.
Pada suatu hari, pelari cantik bernama Marion Jones ini menggelar konferensi pers. Dan di situlah ia kemudian mengumumkan bahwa selama ini ia telah menggunakan suntikan steroid (untuk menambah tenaga).
Bagai mimpi, seluruh hidupnya langsung berbalik 180 derajat. Ia yang selama ini dipuja kini dihujat. Ia yang selama ini dianggap pahlawan kini dicap pecundang. Ia yang sebelumnya tercatat sebagai sejarah yang indah, bahkan kini pun enggan diakui oleh sejarah. Seluruh gelar dan prestasi yang ia miliki dicabut, bahkan seluruh arsipnya sebagai pelari nasional juga dihilangkan. Dan lebih dari itu, ia harus menjalani masa kurungan selama 6 bulan atas kecurangan yang ia lakukan.
Benar-benar mimpi buruk. Tapi saya yakin ia sudah siap dengan semua konsekuensi ini pada hari dimana ia memutuskan untuk menggelar konferensi pers dan membeberkan kenyataan tersebut. Saya sendiri, benar-benar tersentuh dengan keberanian yang ia lakukan. Ia benar-benar pahlawan sejati di mata saya. Pun ia menginspirasi saya akan makna ketidaksempurnaan.
Marion Jones memang pernah terperangkap dalam bayang-bayang kesempurnaan pada hari dimana ia memutuskan untuk memakai steroid. Namun ia berhasil keluar dari perangkap itu, berhasil untuk menjadi dirinya yang sesungguhnya, berhasil untuk menjadi dirinya yang tak sempurna, pada hari ketika ia mengakui kesalahan yang ia lakukan.
Apakah kita sendiri berani melakukan hal semulia itu? Mengakui kesalahan dan ketidaksempurnaan yang kita miliki ketika semua orang menganggap kita sempurna? Apakah kita berani jatuh terperosok ke lubang penghinaan ketika kita sebenarnya bisa hidup di awan kepalsuan? Sulit. Sangat sulit. Tapi ketika kita berhasil melakukannya, saya yakin itulah saat dimana kita merasa sempurna seutuhnya.
Minggu, 22 Februari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 komentar:
Kalo menurut gw itu bukanlah suatu ketidaksempurnaan, tapi suatu klarifikasi akan kebohongan, atau malah menurut Ibnu Athoillah As Sakandari... (cie..cie.. gw pake referensi), itu merupakan suatu bentuk klarifikasi dari sikap takabur yang telah dilakukannya, sebab sejatinya dia tidak mampu untuk menjadi pelari tercepat, tetapi dia merasa mampu dan membelinya dengan doping. dan dia mengakui kesalahannya itu dengan konferensi pers.
Jadi kalau memang dia orang yang sempurna tetapi dia selalu merasa tidak sesempurna apa yang orang lain bayangkan, bahkan dia merasa lebih rendah daripada orang lain yang mengatakan dia sempurna itu baru yang dinamakan tawadhu'. Itu kata Ibnu Athoillah lho ya, gak tau bener gak tau salah.. cek aja sendiri.. hehehe
upiko yang tidak sempurna... eh salah, gw juga tentunya :p mana duongs postinganmu yang baru ???
Poskan Komentar