Rabu, 11 Februari 2009

Mobokratos

Dalam posting kali ini, saya mau sedikit mengomentari sebuah artikel yang dimuat di Kompas kemarin. Artikel yang saya baca itu menyinggung tentang demokrasi dan mobokrasi. Demokrasi -kata yang sering kita dengar- diartikan sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh barisan, adapun mobokrasi –kata yang baru saya ketahui keberadaannya- diartikan sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh kerumunan.

Sejujurnya, saya sendiri tak mengerti definisi yang disampaikan dalam artikel itu. Pemahaman saya selama ini tentang demokrasi adalah seperti apa yang diajarkan oleh guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) saya dulu. Demokrasi berasal dari bahasa latin demos dan kratos. Demos diartikan sebagai rakyat, sementara kratos adalah pemerintahan. Gampangnya, demokrasi diartikan sebagai pemerintahan rakyat -pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Adapun artikel tentang mobokrasi yang dibuat oleh Pak Eep –suaminya Sandrina Malakiano- itu, dibuat karena terinspirasi oleh kasus penganiayaan yang dilakukan di muka umum terhadap Ketua DPRD Sumut baru-baru ini. Kasus seperti ini diindikasikannya sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh kerumunan. Kerumunan massa yang melakukan demonstrasi secara anarkis dan menyebabkan beralihnya sebuah pucuk kepemimpinan. Kerumunan massa yang mampu mengendalikan dan berkuasa karenanya.

Membaca artikel itu, saya jadi teringat dengan sebuah teori terkait Politik Massa yang pernah disampaikan oleh seseorang baru-baru ini. Katanya, jika ada 1 ayam sakit kita gabungkan dengan 9 ayam sehat, maka yang muncul kemudian adalah 10 ayam sakit. Namun, jika kita menggabungkan 1 orang pengecut dengan 9 orang preman, maka yang akan mucul adalah 10 orang preman. Itulah kekuatan massa.

Manusia memang makhluk penuh sandiwara dan kebohongan. Bisa jadi, di antara kerumunan orang yang melakukan aksi di DPRD Medan itu, banyak orang-orang pengecut di dalamnya. Orang-orang yang hanya ikut-ikutan aksi karena diiming-imingi uang, atau hanya sebagai bentuk solidaritas belaka. Tapi dengan bergabung bersama kerumunan orang-orang lain, si pengecut-pengecut itu menjadi “jagoan” yang beringas. “Jagoan-jagoan” yang berhasil berkuasa untuk sementara sebelum akhirnya jagoan yang sesungguhnya turun tangan mengendalikan situasi. Tapi, entah dia hanya sekedar “jagoan”, atau dia benar-benar jagoan, mereka hanya mampu beraksi ketika berkerumun (baca: bersama-sama –seperti semboyan kita : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh-). Dan ketika itulah mobokratos terwujud.

3 komentar:

Gufy ajah mengatakan...

dan karena sifat manusia yang seperti itulah banyak yg mempelajari dan memanfaatkan cara mengarahkan emosi massa untuk tujuan tertentu dengan sangat rapi dan tak terlacak.. meskipun ada juga cara untuk membuktikannya.

sambaaaaa mengatakan...

yang benar trik psikologi massa
bukan politik massa seperti yang anda sampaikan

salut dengan gaya tulisan anda

Upi... mengatakan...

waduh..terima kasih pak samba utk koreksinya.