Pada suatu pagi yang cerah di hari minggu bulan Februari, sebuah bus transjakarta mulai melaju dari shelter Senen. Seorang cewek usia dua puluhan tahun masuk ke dalam bus dan mengambil posisi berdiri di dekat pintu masuk. Berpegangan pada tiang yang ada, ia pun mulai melihat situasi di sekelilingnya. Nampak banyak kursi yang masih kosong di sana-sini, namun si cewek tetap berdiri dengan posisi yang sama.
Tak jauh darinya berdiri, kernet busway yang seorang cowok muda sedang melaksanakan tugas menjaga pintu sembari berdiri mengamati si cewek. Akhirnya, si cowok pun memutuskan untuk mengajak ngobrol cewek itu.
Inilah percakapan yang terjadi di antara mereka berdua...
Kernet : Mba, kok nggak duduk? (sambil mengeluarkan senyuman termanis yang dimilikinya)
Mbak : Enggak mas. Saya cuma bentar kok. Di Boedoet juga saya turun (membalas tersenyum)
Kernet : Oooh...
(Hening sejenak. Si kernet mulai berpikir keras apa yang selanjutnya harus ia ucapkan)
Kernet : Mbak, di Boedoet ngekos atau di rumah sendiri? (lagi-lagi mengeluarkan senyuman termanisnya)
Mbak : Ngekos mas (membalas tersenyum)
Kernet : Di sana berapaan mba kosannya? (masih dengan senyuman “maut”nya)
Mbak : Lima ratus (tanpa senyuman)
Kernet : Lima ratus itu dapet apaan aja mba? (tetap mempertahankan senyuman “maut”)
Mbak : Standar aja kok. Tempat tidur, lemari, sama meja dan kursi (pasang tampang agak bete)
Kernet : Waaah...itu sih mahal mbak. Ada loh temen saya ngekos di harmoni, isi kamarnya sama kayak mbak tapi cuma tiga ratus ribu. Beneran! (kali ini pasang tampang serius)
Mbak : Ooooh...(mengeluarkan tatapan “trus emang napa? Apa urusannya sama gw?”)
(Hening lagi)
Kernet : Mbak, di kosan sendirian aja atau berdua sama temen? (tetap pasang senyuman “maut”)
Mbak : Sendiri (pasang tampang bener-bener bete)
Kernet : Apa mau saya temenin? (kali ini pasang tatapan memelas)
Mbak : (Busyet! Apa sih maksudnya orang ini?) Nggak usah! (dengan nada ketus)
(Hening kembali)
Kernet : Nggg...Mbak, boleh kenalan nggak? Nama saya Budi
Mbak : Wati (menyebutkan nama bohongan dengan muka seketus nada suaranya)
Kernet : Wah, kalo gitu kita cocok dong mbak (tersenyum lebar). Budi kan selalu deketan sama Wati (red: ingat buku SD jaman dulu kan?)
Mbak : (tersenyum eneg kayak hampir muntah)
Kernet : Mbak, saya minta dong nomor hapenya (lagi-lagi dengan senyuman “maut”)
Mbak : Ee...aa...ee (Salah tingkah, dalam hati berpikir “Sialan! Berani bener orang ini!”)
Bus : Pemberhentian berikutnya...BUDI UTOMO...Periksa barang bawaan Anda....dan hati-hati melangkah.
Mbak : (Lega karena terselamatkan oleh situasi) Eh, saya harus turun nih! (Berjalan mendekat ke pintu keluar)
Bus : (melontarkan versi baratnya walaupun di bus nggak ada orang bule) Next destination....BUDI UTOMO...Please check your belongings and step carefully
Kernet : Eh...tapi mbak....saya kan...(mau menghentikan langkah si mbak)
Bus : (Pintu bus terbuka)
Mbak : (langsung loncat keluar dan melarikan diri terbirit-birit)
Kernet : ...belum punya nomornya...(menghela napas panjang...kecewa)
Moral of the story:
1. Kalau ada banyak kursi kosong di bus, mendingan duduk aja deh. Pasalnya, kalo pas kernet busnya nggak tau malu, kita bisa disangka sengaja berdiri buat nyari alasan deketan sama dia. Iiiihhh...males banget kan!
2. Kalau ternyata kita tiba-tiba terlibat dalam situasi seperti di atas, pas ditanya “di kosan sendiri atau berdua sama temennya?”, langsung aja jawab “saya ngekos berdua sama suami saya”. Pasti si kernet bus itu langsung diem.
3. Kalau ternyata orang itu masih aja nguber-nguber dengan pertanyaan lainnya, langsung aja pindah tempat. Kalo bisa duduk di tempat dekat penumpang lain. Kan si kernet bus nggak mungkin dong ikutan duduk di sebelah kita. Bisa-bisa dipecat tuh dia.
Jumat, 13 Februari 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
he..he..lucu juga tuh cerpennya mbak.
salam ya buat cewek di cerita itu..ati2 ama kernet bus nakal.
Poskan Komentar