Selasa, 28 April 2009

"Hati" vs "Heart"

Seorang teman saya pernah mengistilahkan hati sebagai sebuah organ imajiner. Hati itu tak benar-benar ada. Ia hanya ada sebagai perwujudan dari perasaan kita.

Orang bulai (baca : bule) di negeri Paman Sam, melakukan pembedaan yang cukup jelas atas definisi hati. Mereka mengistilahkan hati yang merupakan organ imajiner sebagai heart, sementara hati dalam definisi yang sebenarnya atau sebagai organ riil, diistilahkan sebagai liver. Sayangnya, di dalam bahasa Indonesia tak ada pembedaan seperti ini, Maka wajar saja jika banyak muncul salah kaprah. Orang-orang menyamakan saja hati dalam maknanya sebagai organ imajiner, dengan hati dalam maknanya sebagai organ riil.

Karena itu, ketika kita menemukan kata “sakit hati”, kita harus mencari tahu, apakah hati yang sedang dibicarakan ini adalah hati sebagai organ imajiner atau hati sebagai organ riil. Jika hati di sini dibahas sebagai organ imajiner, maka itu berarti orang tersebut baru saja mengalami hal buruk yang mengakibatkan perasaannya sakit. Sementara jika hati yang dibahas adalah organ riil, maka artinya orang tersebut sedang menderita penyakit dengan livernya.

Namun, lagi-lagi kesimpangsiuran penggunaan bahasa ini belum selesai begitu saja. Orang bulai yang tadinya sudah memiliki pembedaan yang jelas terhadap definisi hati, ternyata memiliki makna ganda juga terhadap heart (hati). Ketika mereka menyebut kata heart, penerjemahannya pun harus kita pertanyakan karena ada dua makna di dalamnya. Heart dalam maknanya sebagai organ riil oleh orang bulai, diartikan oleh orang Indonesia sebagai jantung, sementara heart dalam maknanya sebagai organ imajiner, diartikan oleh orang Indonesia sebagai hati dalam kaitannya dengan perasaan.

Ketika kita mendengar kalimat “my heart’s beat so fast”., apa arti yang ada di pikiran Anda? Jika diterjemahkan, biasanya kalimatnya akan menjadi “hatiku berdetak sangat cepat”. Padahal tentu saja terjemahan seperti ini kurang tepat. Apakah anda berpikir bahwa hati yang merupakan organ riil yang ada pada tubuh kita berdetak? Tentu saja tidak kan? Hati tak memiliki detak. Jantunglah yang dapat kita rasakan detakannya. Jadi, tentu saja penerjemahan dari kalimat inggris itu lebih tepat jika diganti menjadi “jantungku berdetak sangat cepat”.

Jadi, kesimpulannya, terdapat dualisme makna pada kata “hati”, dan terdapat pula dualisme makna pada kata “heart”. Dualisme di sini terletak pada makna konotasi dan denotasinya. Makna konotasi dari “hati” dan “heart” sama-sama sebagai organ imajiner yang terkait dengan ekspresi perasaan, sementara makna denotasi dari “hati” dan “heart” ternyata sangat berbeda. Kendati sama-sama merupakan organ riil dalam tubuh manusia, “hati” disamakan sebagai liver, sementara “heart” disamakan sebagai jantung.

Pertanyaan yang muncul di benak saya? Kenapa bisa ada perbedaan seperti ini? Mungkinkah karena kesalahkaprahan sewaktu menurunkan bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia? Entahlah...tokh saya cuma ingin melontarkan pertanyaan saja, saya tak benar-benar menghendaki jawabannya kok!

1 komentar:

Gufy ajah mengatakan...

Hati itu qolb yang berarti mudah dibolak-balik, bukan kalb yg berarti anjing.
Dan apa bila qolb itu baik, maka baik seluruh perilakunya, tetapi kalau qolb itu buruk maka akan buruk juga tingkah lakunya.
Penyakit qolb ada banyak, salah satunya dendam dan sombong, dan jika qolb itu berpenyakit dendam dan sombong, maka perilaku pemiliknya pasti akan memancarkan dendam dan kesombongan. Jadi, jelas sekali kalau qolb itu bukan lever, juga bukan jantung...