Saya dulu pernah dihadapkan pada situasi dimana seorang pria yang saya idam-idamkan, dan saya yakin diidam-idamkan pula oleh kebanyakan cewek lainnya, datang mendekat dan meminta saya untuk jadi pacarnya.
Saya yakin sebagian (baca: teman-teman saya yang sirik) yang membaca kalimat di atas pasti langsung ketawa. Tapi peduli amat, saya lanjutin dulu ya ceritanya…
Cowok ini luar biasa ganteng, badannya tinggi dan tegap, dan suaranya nge-bass. Secara fisik, tidak ada hal yang kurang darinya. Secara psikis, dia orang yang super baik, sabar, dan perhatian. Lagi-lagi tak ada hal yang kurang darinya. Secara agama, dia juga rajin sholat 5 waktu, sholat malam, ngaji tiap hari, dan lagi-lagi… nggak ada yang kurang darinya. Hmm..itu baru sebagian dari yang indah-indah yang ada di cowok itu. Saya belum menyebutkan fakta bahwa dia punya kerjaan dan karir yang bagus, jago menyanyi dan main gitar, plus materi yang…memadai untuk masuk perhitungan cewek-cewek matre.
Well, semua yang indah ada di dirinya, dan dia mendekati saya. Jadi, apa yang perlu saya pikirkan lagi, pasti begitulah yang ada di pikiran kalian kan?
Masalahnya, seperti yang selalu saya bilang, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Cowok itu, segimanapun indahnya untuk saya miliki, ternyata telah memiliki cewek (baca: pacar).
Tapi –sekali lagi saya tegaskan- saya nggak bohong ketika mengatakan bahwa cowok itu mendekati saya, dan bahkan…meminta saya untuk jadi pacarnya.
Hmm…dihadapkan pada situasi dilematis seperti ini, apakah yang saya lakukan? Menerimanya untuk dijadikan selingkuhannya? Menerimanya dengan syarat ia harus putus lebih dulu dengan ceweknya? Atau malah menolaknya?
Walaupun lagi-lagi saya yakin teman saya yang sukanya sirik tadi masih tetep ketawa-tawa pas baca ini, tapi saya tetap akan melanjutkan ceritanya.
Dengan bangga, saya katakan bahwa saya menolaknya!
Hmmm…mungkin harusnya saya nggak menggunakan kata ‘bangga’ dalam konteks ini. Sejujurnya, sungguh berat ketika saya harus mengambil keputusan untuk menolaknya. Pasalnya, ketika itu rasa-rasanya dunia saya dipenuhi dengan bayangan dirinya, mau makan ingat dia, mau tidur mimpi dia, mau ngapa-ngapain selalu ada dia. Bahasa gampangnya, saya juga lagi kasmaran sama dia.
Walaupun cowok ini bilang bahwa hubungannya dengan si cewek berada dalam fase kritis ketika dia menembak saya, dan katanya nggak lama lagi pun mereka pasti akan putus, tetap saja saya menolaknya.
Sebenarnya, apa sih yang membuat saya melakukan “hal bodoh” seperti itu? Jawabannya adalah komitmen. Menurut saya, ketika kita memiliki sebuah komitmen dalam relasi antarmanusia, sudah sepatutnyalah komitmen tersebut kita jaga. Sebuah komitmen -apapun bentuknya- adalah sesuatu yang sakral.
Ketika cowok itu ‘menembak’ saya, sementara ia masih menyandang status punya pacar, bagi saya itu adalah pengingkaran atas komitmen yang telah ia buat. Dan untuk itu, bagi saya ia tak lagi layak untuk dijadikan cowok idaman. Kendati hati saya sakit (dulu rasanya sakit banget, tapi kalau diingat sekarang, rasa-rasanya saya aja yang lebay), saya nggak mau menerima dia.
Penolakan ini saya lakukan bukan hanya karena saya menganggap dia bukan orang yang bisa dipercaya, tapi juga karena saya berusaha menghargai komitmen yang telah dibuat orang lain, kendati saya tidak terlibat di dalamnya. Ketika saya menerima atensi yang ia berikan, atau lebih jauh lagi membalas atensi yang ia berikan, tentunya saya sedikit banyak saya telah memberi harapan padanya. Dan harapan itu, saya takutkan akan mempengaruhinya dalam membuat keputusan yang tak rasional terkait hubungan yang ia jalani saat ini. Ya iyalah, bukankah ia sudah punya jaminan bahwa ia bisa mendapatkan cewek baru seketika ia memutuskan cewek lamanya?
Bagi saya, komitmen yang dengan kesengajaan dan kesepakatan telah dibuat oleh dua pihak, harus diakhiri pula dengan kesengajaan dan kesepakatan dari kedua pihak tersebut. Tidak sepantasnya hubungan diakhiri karena adanya orang ketiga, keempat, dan seterusnya. Bagi saya itu membuat salah satu pihak dirugikan dan –bahasa ekstrimnya- dizholimi.
Jika saya tidak berpikiran seperti itu, saya bisa saja mengarahkan secara halus (baca: memberi perhatian lebih) sehingga si cowok memutuskan ceweknya. Dengan demikian ia tak lagi berkomitmen dengan siapa pun, dan saya pun akhirnya bisa menerima dia. Tokh ia tak memiliki komitmen yang perlu dilanggar ketika ‘menembak’ saya, dan saya pun tokh tidak menyuruhnya untuk putus kan?
Jadi, alih-alih mengatakan kepadanya, “Saya juga sebenarnya suka sama kamu, sayangnya kamu sudah punya pacar”, saya memilih untuk mengatakan “Kamu nggak sepantasnya ‘menembak’ saya sementara kamu masih memiliki komitmen dengan orang lain”. Jauh lebih dalam dan menusuk bukan?
Mengakhiri cerita saya kali ini, harapan saya sebenarnya hanyalah agar para pemegang komitmen, bisa lebih menghargai komitmen yang telah mereka buat. Akhiri dulu komitmen yang telah Anda buat, baru mulailah membuat komitmen yang baru. Dan bagi orang-orang yang secara sadar memberi atensi kepada orang-orang yang telah memiliki komitmen, sadarilah bahwa Anda sama saja (buruknya) dengan orang yang mengingkari komitmen itu sendiri.
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar