Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dua insan yang mengejar Anda, manakah yang akan Anda pilih?
Di satu sisi ada seseorang yang sangat menarik yang menyukai Anda. Anda pun juga menyukainya. Ia menyenangkan, pintar, mudah membuat Anda tertawa, dan -yang terpenting- ia bisa membuat Anda merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda setiap kali Anda mendengar suaranya di telepon, atau sekedar menerima sms “kamu lagi apa?” darinya. Singkatnya, Anda tahu dengan sepenuh hati bahwa Anda jatuh cinta padanya.
Sayangnya, Anda tahu bahwa sekalipun Anda mencintainya, dengan rasionalitas yang sempurna Anda menyadari bahwa ia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi suami Anda. Ia keras kepala seperti Anda, senang berdebat sama halnya Anda, perokok sejati sementara Anda sangat anti rokok, dan yang paling utama, Anda tak yakin ia adalah orang yang mampu menjadi imam bagi Anda dan anak-anak Anda kelak.
Di sisi lain ada seseorang yang ramah, baik, sangat sopan, sangat sabar, bertanggung jawab, dan sangat layak menjadi imam bagi sebuah keluarga. Dengan rasionalitas yang sempurna Anda tahu bahwa ia adalah orang yang layak untuk menjadi suami Anda. Namun -saya rasa Anda tahu apa yang akan saya katakan- Anda tak pernah merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda.
Anda menghormatinya, mengaguminya, tapi Anda hanya merasakan kehampaan setiap kali ia berada di dekat Anda. Anda tidak mencintainya.
Dihadapkan pada dua pilihan seperti itu, yang manakah yang akan Anda pilih?
Seandainya Anda bisa menggabungkan satu bagian yang membuat Anda jatuh cinta pada orang yang pertama dan satu bagian lagi dari orang kedua yang menjadikannya layak untuk menjadi suami Anda, saya yakin pertanyaan seperti ini tak perlu terlontar.
Setiap insan selalu memiliki kekurangan dan kelebihan. Itu adalah paket yang tak terpisahkan dalam diri setiap manusia. Pertanyaannya adalah, bisakah Anda menerima tak hanya kelebihan itu, namun juga kekurangan yang menyertainya?
Terkadang kita harus berkompromi, menerima sebagian dari kekurangan yang ada pada diri orang lain, dan memperbaiki sebagian lain dari kekurangan itu. Ia mentolerir kemauan Anda, dan Anda pun mentolerir apa adanya ia. Itulah kondisi yang ideal.
Tapi masalahnya, belum tentu Anda bersedia melakukan itu. Entah karena Anda memang hanya ingin memilih seseorang yang memenuhi ekspektasi Anda -seseorang yang tak hanya bisa membuat Anda jatuh cinta namun juga layak menjadi suami Anda- dan tak mau menurunkan standar yang Anda tetapkan, atau karena Anda merasa memang pilihan tak harus Anda jatuhkan sekarang...
Apapun itu, ketika pilihan belum dijatuhkan, maka jodoh pun akan tetap masih menjadi suatu tanya...
"Allah Sang Maha yang mampu membolak-balik hati hambanya"
Senin, 20 April 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar