Saat ini hati saya sedang berbunga-bunga. Ada seseorang yang bayangannya sering menari-nari di pelupuk mata saya, yang suaranya kerap terngiang-ngiang di telinga saya, serta keberadaannya memberikan getaran di hati saya. Tapi, entah mengapa, terbersit sebentuk rasa salah dalam diri saya. Kenapa perasaan bahagia ini tidak menjadikan saya merasa telah melakukan satu langkah ke depan dalam menata masa depan? Saya merasa saya hanya menikmati kesenangan yang ... semu.
Seorang teman mengatakan pada saya, bahwa memiliki perasaan cinta adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Perasaan itu diberikan kepada kita atas kehendak-Nya, agar manusia dapat saling melengkapi. Perasaan cinta bukanlah sesuatu yang dapat kita kontrol, apakah saya mau jatuh cinta terhadap si A, atau saya tak pernah mau jatuh cinta pada si B. Pada kenyataannya, bisa saja kita ternyata justru tak merasakan perasaan apapun pada si A, dan malah jatuh cinta pada si B. “Semua itu adalah skenario Tuhan”, kata teman saya. Dan karena hal itulah, teman saya berkeyakinan bahwa kita tak kan dapat mengelak dari perasaan kita, kendati rasionalitas kita menghendaki kita untuk melawan perasaan itu.
Adapun saya, selama ini selalu berpikir sebaliknya. Bagi saya, perasaan cinta tumbuh karena kita menemukan hal-hal yang baik, yang sesuai dengan ekspektasi kita pada diri orang lain. Menurut saya, cinta tumbuh seiring dengan proses. Awalnya dimulai dengan perasaan simpatik, suka memperhatikan, nyaman ketika berdekatan, sayang, tak mau jauh, dan tanpa kita sadari…kita telah jatuh cinta. Cinta, adalah sebentuk rasa yang tumbuh karena kita membiarkannya tumbuh. Cinta tak kan ada jika kita tak pernah membiarkan diri kita untuk bertemu, tak membiarkan komunikasi berjalan, ataupun tak membiarkan pikiran kita berimajinasi menghabiskan waktu bersamanya. Karena itulah, saya tak pernah mempercayai orang yang mengatakan ia merasakan cinta pada pandangan pertama.
Seandainya saja saya bisa sependapat dengan pemikiran teman saya bahwa cinta muncul karena skenario Tuhan, maka saya pasti akan merasa lebih rileks, dan lebih dapat menikmati perasaan saya. Tokh perasaan ini muncul karena kehendak-Nya. Jadi selama saya meyakini bahwa skenario Tuhan pasti adalah skenario terbaik bagi saya, tak ada yang perlu saya khawatirkan.
Sayangnya saya bukan orang yang berpikiran seperti itu. Jika saya menyukai seseorang karena hal-hal baik yang dimilikinya -dan hal-hal aneh yang ada pada dirinya yang dapat membuat saya tertawa- namun kemudian menyadari bahwa saya tak dapat bersamanya, saya akan memilih untuk tidak membiarkan perasaan saya berkembang lebih jauh. Bagaimana caranya? Biasanya yang akan saya lakukan adalah meminimalisir waktu yang saya habiskan bersamanya, meminimalisir komunikasi antara saya dan dia, serta meminimalisir pikiran saya membayangkan tentang dirinya. Saya hanya mau membiarkan perasaan sayang saya berkembang –dengan potensi dapat tumbuh menjadi cinta- jika saya memiliki keyakinan bahwa suatu saat saya dapat hidup bersamanya.
Karena itulah, saat ini saya merasakan sebentuk rasa salah menyeruak di relung terdalam hati saya. Karena saya membiarkan perasaan sayang saya terhadapnya berkembang lebih jauh; dengan komunikasi yang saya lakukan bersamanya, dengan pertemuan yang (ingin) saya lakukan dengannya, dan dengan imajinasi tentangnya yang saya biarkan melintas di benak saya. Kendati saya tak (kunjung) merasa yakin bahwa ialah orang yang akan menjadi pendamping hidup saya, saya membiarkan perasaan saya berkembang entah kemana. Saya tahu bahwa saya memiliki kuasa untuk mengendalikan perasaan sayang ini, namun saya tak melakukannya.
Jadi, apakah saya salah?
Jumat, 01 Mei 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
3 komentar:
sayang sekali kalo jatuh cinta kepada si A, lalu karena suatu sebab tidak bisa dilanjutkan maka pindah ke si B. bagaiman nanti bila sudah sampai kepada si Z, kepada siapa lagi kita akan jatuh cinta. janganlah jatuh cinta kepada abjad, jatuh cintalah kepada seseorang!
sabar aja...
nikmatin aja...
jangan terlalu terburu2..
kadang kalo pasaran lagi naik :p, suka sulit dengerin suara hati akibat ke-ge er-an, hihi...
Saat ini aku pun mengalami hal yg serupa dgn yang saudari upi alami, n sayangnya aku jelas2 tw itu salah tp aku tetap menikmati rasa itu karena rasa itu buat hidupku terasa lbh indah drpd hidupku pada masa lampau....tapi aku sedih krn akan ada hati yang tersakiti (termasuk aku dan dia)....apakah aku terlalu egois???
Poskan Komentar