Jika kalimat yang sering kita dengar adalah “don’t judge a book by it’s cover”, seorang teman saya pernah mengatakan pada saya untuk “don’t judge people by something’s given”.
Saya pikir-pikir, kalimat ini sangat benar adanya. Pemberian yang diberikan oleh Tuhan kepada kita adalah suatu karunia yang tak dapat kita tolak atau kita ubah. Ia ada karena memang ia ditakdirkan ada. Tak ada yang dapat kita lakukan kecuali menerima fakta bahwa kita terlahir seperti itu.
Sebagai contoh, ketika saya terlahir pada bulan Mei dan berzodiak taurus, kebanyakan orang langsung men-judge saya sebagai orang yang keras kepala. Terlepas dari benar atau tidaknya judgement itu dengan karakter saya, bagi saya agak-agak menggelikan jika kita beranggapan bahwa semua orang yang dilahirkan berzodiak taurus akan keras kepala. Pastilah karakter orang akan bermacam-macam, meskipun ia berzodiak taurus. Pasti ada di antara orang-orang taurus yang berkarakter penyabar, welas asih, tak suka memaksakan kehendak, dan sama sekali tak keras kepala *Pengennya sih nyebut: contohnya saya, hehe...*.
Atau ketika saya dilahirkan dengan tahi lalat di dekat mulut saya, kebanyakan orang langsung men-judge saya sebagai orang yang cerewet. Terlepas dari apakah saya orang yang banyak omong atau tidak, bagi saya juga sangat menggelikan jika semua orang yang terlahir dengan tahi lalat di dekat mulutnya akan selalu dianggap sebagai orang yang cerewet. Lantas bagaimana jika ternyata orang yang memiliki tahi lalat di dekat mulutnya tersebut ternyata terlahir bisu? Bisakah kita menganggapnya sebagai orang yang juga cerewet?
Sama menggelikannya jika kita di-judge oleh orang lain dengan penilaian tertentu hanya karena kita terlahir sebagai anak dari si anu, adik dari si itu, atau mungkin sepupu dari anak dari tante dari keponakannya tetangga si ono. Bagi saya itu sangat-sangat tak masuk akal. Sayangnya banyak orang yang terjebak menilai orang lain berdasarkan hal-hal given seperti itu. Seorang teman saya yang ternyata (ketahuan) bapaknya seorang menteri, langsung dianggap pasti pintar, pasti masa depannya mulus, dan lain-lain. Akibatnya, semua orang berebutan ingin dekat dengannya. Atau teman saya yang ternyata bapaknya adalah seorang tukang sol sepatu, langsung dianggap anak yang otaknya pas-pasan, dan judgement yang muncul adalah hidupnya takkan mulus, paling banter ia hanya akan melanjutkan jejak sang ayah.
Konyol dan menggelikan, tapi memang itulah yang kerap terjadi. Kita seringkali hanya mementingkan faktor nature dan mengabaikan faktor nurture. Padahal, alam selalu punya kearifannya sendiri. Lingkungan tempat kita dibesarkan pun mempunyai andil untuk membentuk watak kita menjadi orang yang seperti apa. Sebagai contoh, kendati seseorang dilahirkan di bawah rasi taurus, jika semasa hidupnya ia dididik untuk selalu bertenggang rasa dan berempati, juga berguru pada orang yang sabar dan rendah hati, bukan hal yang mustahil jika ia sama sekali tak berkarakter keras kepala. Atau ketika seseorang dilahirkan dengan tahi lalat di dekat mulutnya, tapi karena semasa hidupnya ia dididik dengan budaya keraton yang sangat mementingkan unggah-ungguh dalam bersikap dan berbicara, saya yakin ia takkan menjadi orang yang cerewet.
Tapi bagi saya, hal di atas masih tak seberapa konyol bila dibandingkan dengan hal yang akan saya bahas berikut ini. Hal terkonyol menurut saya adalah, ketka kita merubah persepsi kita tentang seseorang, hanya karena kita menemukan ada given tertentu yang ia miliki. Misalnya, jika awalnya kita tidak pernah menggubris seseorang karena kita anggap ia hanya anak bengal yang suka bertindak semaunya, tukang bohong, bodoh, dan menyebalkan, namun kemudian mendadak kita jadi merubah persepsi kita 180 derajat karena menemukan fakta bahwa bapaknya adalah seorang kepala desa. Ketika anak bengal itu terlahir sebagai anak seorang kepala desa, itu adalah given yang ia miliki. Tapi apakah lantas jika ia suka bertindak semaunya kita akan menuruti maunya? Jika ia seorang tukang bohong, apakah kita akan jadi mempercayai semua ucapannya? Apakah jika ia memang bodoh kita akan jadi menyebutnya pintar? Apakah kita akan jadi merubah kenyataan yang ada pada diri seseorang hanya karena ia terlahir dengan given tertentu? Tentu saja tidak kan?
Tapi lagi-lagi, sangat disayangkan banyak orang yang terjebak dengan sikap seperti itu. Sikap yang bagi saya sangat amat plin-plan, penuh kepalsuan, dan memalukan. Banyak orang yang tadinya tak pernah menganggap kita siapa-siapa, mendadak jadi menganggap kita ”seseorang” karena given yang kita miliki. Lebih memalukan lagi, adalah orang yang hidup dengan memanfaatkan given yang ia miliki untuk dianggap sebagai ”seseorang” oleh orang-orang lain. Kemana-mana, yang ia gembar-gemborkan adalah bapaknya yang seorang presiden, kakaknya yang seorang konglomerat, atau sepupu dari anak dari tante dari keponakan tetangganya yang rupanya seorang selebritis. Konyol sekali karena orang seperti itu menurut saya adalah orang yang tak yakin dengan kemampuan yang ia miliki.
Intinya, saya mau bilang kalau hal-hal given sebaiknya tidak kita perhitungkan dalam menilai kapabilitas ataupun karakter seseorang. Jika memang ia anak seorang presiden, jangan langsung men-judge-nya sebagai orang yang cocok sebagai presiden selanjutnya, ia harus membuktikan dulu kemampuannya. Jika ia seorang taurus girl, jangan langsung men-judge-nya sebagai orang yang keras kepala, kenalilah dulu karakternya. Dan jika ia bertahi lalat di dekat mulutnya, jangan langsung menganggapnya orang yang cerewet, buktikanlah dulu dengan mengajaknya berbicara.
Sebaliknya, jika ada orang yang gembar-gembor bahwa ia anak seorang presiden, jangan pula lantas merubah sikap, penilaian, ataupun judgement kita tentang dirinya. Jangan pula menganggapnya penting hanya karena ia terlahir sebagai orang yang (mungkin) penting. Kenalilah dirinya, karena hal given yang ia miliki, hanyalah keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan pada dirinya. Justifikasi atas pertanyaan yang ada di benak kita, ”apakah ia layak untuk dianggap penting atau tidak”, hanya dapat terjawab dengan mengenalinya, dan dengan usahanya sendiri untuk menjadikan dirinya ”seseorang”.
Rabu, 10 Juni 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 komentar:
klo bintang gw libra... pantesan orang langsung pd bilang klo gw itu ganteng... hahahaha....
*kabur*
*timpuuuukkkk*
Poskan Komentar