Minggu, 05 Juli 2009

Pilih Satu Sing Eman

Saya punya keyakinan bahwa setiap orang pada dasarnya ingin selalu membahagiakan orang yang dikasihinya.

Saya sendiri, punya banyak sekali orang-orang terkasih di sekeliling saya. Bukan hanya keluarga, tapi juga teman dan sahabat saya. Mereka adalah orang-orang yang akan membuat kekecewaan dan kesedihan mereka menjadi kekecewaan dan kesedihan bagi saya. Kepedihan dan sakit yang mereka derita juga adalah pedih dan sakit yang saya alami. Karenanya, sangat wajar jika saya berusaha agar orang-orang yang saya sayang tak pernah merasakan kekecewaan, kesedihan, kepedihan, dan sakit. Terlebih jika kekecewaan yang mereka rasakan tersebut ternyata bersumber dari kata-kata, sikap, perilaku, maupun sifat saya. Rasa-rasanya saya akan sangat merasa bersalah jika ternyata sayalah yang menjadi penyebab dari kekecewaan mereka.

Adalah Mbah Yayi, salah satu dari orang yang paling saya kasihi di antara orang-orang terkasih di sekeliling saya. Ia adalah satu-satunya embah yang saya miliki saat ini. Keluarga inti yang ia miliki adalah satu orang putra (ayah saya), satu orang menantu (ibu saya), tiga orang cucu (dua kakak laki-laki saya dan saya sendiri), dan satu orang cicit dari kakak saya yang tertua.

Sebagai orang yang sudah tua, embah saya memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri di kampung dibandingkan tinggal bersama anak dan cucu-cucunya di Jakarta. Kadang saya sedih karena merasakan kesepian yang ia rasakan. Kesepian karena hidup jauh dari keluarga. Kendati di kampung banyak saudara-saudara yang tinggal tak jauh dari rumah, saya yakin ruang kosong di hati itu akan selalu ada. Dan karena itulah, setiap kali saya pulang kampung dan bertemu dengan embah, saya selalu berusaha membuatnya tersenyum dan bahagia.

Semenjak saya kuliah di Bogor, setiap kali pulang kampung selalu ada satu pertanyaan yang diajukan oleh embah kepada saya, “Sudah punya calon belum?”. Ini pertanyaan sederhana yang tak pernah absen ia ajukan, sekaligus pertanyaan pertama yang selalu dilontarkannya sesaat setelah saya sampai di rumah dan mencium tangannya. Dan untuk pertanyaan itu, jawaban saya selalu berupa gelengan kepala ataupun kata “belum” sambil tersenyum. Dengan senyuman itu, saya ingin mengatakan padanya “tak perlu kuatir Mbah, cucumu ini baik-baik saja kok”.

Tahun demi tahun berlalu. Namun setiap kali bertemu dengan embah, pertanyaan itu tak pernah berganti. Sama seperti jawaban saya yang juga tak pernah berganti. Hanya saja, ada hal yang berbeda akhir-akhir ini. Jika dulu sehabis saya menggeleng dan tersenyum embah saya selalu menimpali dengan kalimat “yo sekolah ndisik’o sing bener (ya sekolah dulu yang bener)”, atau “yo ra’ popo (ya nggak pa-pa)”, kali ini kalimat-kalimat itu tak pernah lagi terlontar. Kini yang ada adalah sebentuk raut kekecewaan yang membayang di mukanya.

Saya tahu bahwa yang diinginkan oleh embah adalah melihat saya menikah dengan seseorang dan hidup bahagia. “Pilih satu sing eman karo upi (pilih satu yang sayang sama upi)”, itulah petuah yang seringkali ia sampaikan pada saya. Baginya, tak perlu menggunakan terlalu banyak pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan kepada seseorang. Kadang ia bercerita tentang sepupu-sepupu saya yang usianya terpaut jauh di bawah saya namun sudah menggendong bayi. Di kesempatan lain kadang ia bercerita tentang bagaimana ia dulu menikah dengan mbah kakung (kakek) saya. Semuanya serba simple, praktis, tak bertele-tele, dan tak perlu pertimbangan banyak. Toh intinya ia bahagia, sama seperti sepupu-sepupu saya itu yang –sepertinya- juga bahagia.

Raut kekecewaan yang membayang di mukanya setiap kali ia usai bertanya pada saya itulah yang selalu membuat saya merasa bersalah. Serasa bagaikan jantung saya berhenti sepersekian detik setiap kali ia melontarkan pertanyaan itu. Ia memang tak pernah mengatakan secara eksplisit kepada saya “cepatlah menikah”. Namun pertanyaan “sudah punya pacar belum” itu bagi saya sama dahsyat dan mengerikannya.

Saya sedih tiap kali melihat raut kekecewaan di mukanya. Terutama karena saya tahu bahwa hal yang ia inginkan itu adalah permintaan sederhana demi kebahagiaan saya sendiri. Hal yang ia inginkan itu bukanlah suatu hal aneh, hal yang mengada-ada, hal yang tak realistis, atau hal yang merugikan saya. Itu hanya karena ia menyayangi saya dan ingin melihat orang yang disayanginya hidup bahagia.

Saat ini memang saya belum bisa menghapus raut kekecewaan di muka embah saya jika ia kembali mengajukan pertanyaan itu pada saya. Namun satu doa saya, semoga Allah berkenan untuk mengizinkan saya menjawab pertanyaan Embah dengan sebuah anggukan atau jawaban ”ya”. Semoga saya bisa melihat raut bahagia di wajahnya setelah ia mengajukan pertanyaan itu. Dan semoga hal itu terwujud secepatnya.

5 komentar:

myhotcoffee mengatakan...

eman itu apa sh?....

Gufy ajah mengatakan...

Pilih satu berarti mega pro donk pi.. kekeke... katanya lebih cepat lebih baik? kan biar nyenengin mbah.. hehehe...
ada temenku namanya eman sulaeman, mau sama dia?

Upi... mengatakan...

Eman itu sayang, peduli...kan ada terjemahnya di atas.

Iyalah...untuk urusan yang satu ini, lebih cepat memang lebih baik.

Karunia mengatakan...

Bilang sm mbah, "udah ada calon mbah, cuman blm ketemu" (^-^)V
Cinta bukan dicari tapi diberi. Berilah cinta maka kau akan merasakan cinta. *mode bijak on*
Btw tukeran link yuk pi..

Upi... mengatakan...

Thanks udah ngomen ya..
Boleh..aku udh baca blog-mu juga..