Minggu, 22 Februari 2009

Inspirasi Ketidaksempurnaan yang Sempurna

“Ketika kita telah berhasil menjadikan diri kita seorang sosok yang sempurna, beranikah kita mengakui bahwa sebenarnya kesempurnaan itu hanya semu belaka?”

Di posting saya sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa tak ada manusia yang sempurna. Namun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa banyak manusia yang silau dengan ‘kesempurnaan’ hingga rela melakukan cara-cara yang tak terpuji demi kesempurnaan semu itu. Pun di sisi lain, lebih banyak lagi manusia yang hidup dalam alam fantasi dan mempercayai bahwa sosok sempurna itu benar-benar ada.

Adalah seorang pelari asal Amerika, sosok ideal yang dicap sempurna oleh banyak orang yang mengidolakannya. Ia pahlawan sekaligus sumber inspirasi bagi banyak orang. Keberhasilannya meraih 5 medali -3 emas dan 2 perunggu- dalam ajang olimpiade pertama yang diikutinya, menjadikannya sejarah yang indah. Dan ia akan tetap tercatat sebagai sejarah yang indah, seandainya ia tidak pernah mengungkapkan kebenaran yang –mungkin- hanya ia ketahui sendiri.

Pada suatu hari, pelari cantik bernama Marion Jones ini menggelar konferensi pers. Dan di situlah ia kemudian mengumumkan bahwa selama ini ia telah menggunakan suntikan steroid (untuk menambah tenaga).

Bagai mimpi, seluruh hidupnya langsung berbalik 180 derajat. Ia yang selama ini dipuja kini dihujat. Ia yang selama ini dianggap pahlawan kini dicap pecundang. Ia yang sebelumnya tercatat sebagai sejarah yang indah, bahkan kini pun enggan diakui oleh sejarah. Seluruh gelar dan prestasi yang ia miliki dicabut, bahkan seluruh arsipnya sebagai pelari nasional juga dihilangkan. Dan lebih dari itu, ia harus menjalani masa kurungan selama 6 bulan atas kecurangan yang ia lakukan.

Benar-benar mimpi buruk. Tapi saya yakin ia sudah siap dengan semua konsekuensi ini pada hari dimana ia memutuskan untuk menggelar konferensi pers dan membeberkan kenyataan tersebut. Saya sendiri, benar-benar tersentuh dengan keberanian yang ia lakukan. Ia benar-benar pahlawan sejati di mata saya. Pun ia menginspirasi saya akan makna ketidaksempurnaan.

Marion Jones memang pernah terperangkap dalam bayang-bayang kesempurnaan pada hari dimana ia memutuskan untuk memakai steroid. Namun ia berhasil keluar dari perangkap itu, berhasil untuk menjadi dirinya yang sesungguhnya, berhasil untuk menjadi dirinya yang tak sempurna, pada hari ketika ia mengakui kesalahan yang ia lakukan.

Apakah kita sendiri berani melakukan hal semulia itu? Mengakui kesalahan dan ketidaksempurnaan yang kita miliki ketika semua orang menganggap kita sempurna? Apakah kita berani jatuh terperosok ke lubang penghinaan ketika kita sebenarnya bisa hidup di awan kepalsuan? Sulit. Sangat sulit. Tapi ketika kita berhasil melakukannya, saya yakin itulah saat dimana kita merasa sempurna seutuhnya.

Pemimpin Tak Sempurna

“Seberapapun kerasnya kita mencoba, manusia takkan pernah bisa sempurna”. Ini sesuatu yang saya yakini sedari dulu, dan saya sampaikan kepada seorang teman saya kemarin.

Teman saya ini adalah seseorang yang perfeksionis. Dalam kapasitasnya sebagai seorang pemimpin, ia amat menuntut kesempurnaan. Ia ingin ketika mengambil keputusan, apapun itu, semua pihak yang terlibat akan selalu merasa puas atas keputusan yang diambil. Untuk saya yang result oriented minded, perilaku teman saya ini saya anggap tidak praktis, dan terlalu menyusahkan diri sendiri. Entah berapa kali saya mencoba menjelaskan kepadanya bahwa ia tak mungkin mampu memuaskan semua pihak yang ada di sekelilingnya. Tapi tetap saja teman saya tak menghiraukan saya. Dan saya pun tak pernah memaksanya. Saya lebih memilih untuk membiarkannya belajar dari pengalaman yang akan ia rasakan sendiri. Tokh ia sudah dewasa.

Perfection is exist only in our illution, terutama jika manusia berada dalam kapasitas sebagai seorang pemimpin. Memuaskan seluruh orang yang dipimpin, rasa-rasanya hal yang mustahil. Ketika kita harus mengambil suatu keputusan, hampir selalu ada pihak-pihak tertentu yang terpaksa kita korbankan. Pihak-pihak inilah yang pasti tak puas atas keputusan kita. Bisa jadi mereka akan menghujat dan mendendam pada kita, tapi itulah risiko yang harus kita hadapi sebagai seorang pengambil keputusan.

Ibarat bermain catur, saya tak mungkin memenangkan permainannya jika saya tak mau mengorbankan pion, bidak, kuda, menteri, ataupun patih saya. Saya hanya akan berputar-putar tak tentu arah hingga akhirnya waktu habis, dan sebagai hasil akhirnya, saya takkan mungkin menang. Masalahnya, maukah kita melakukan itu? Dengan kesadaran atas pertimbangan yang matang memutuskan untuk mengambil keputusan yang tidak populis? Keputusan yang akan membuat orang-orang menyadari bahwa kita tak sempurna?

Seorang pemimpin yang baik, tentunya sadar akan kondisi ini. Mereka sadar bahwa hidup yang mereka jalani penuh dengan keharusan untuk mengambil keputusan-keputusan yang dilematis. Apalagi, keputusan itu selalu berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Tapi di situlah kepemimpinan yang sesungguhnya diuji. Ketika ia berani memutuskan untuk mengambil keputusan yang tak populis, berani untuk dihujat oleh orang banyak, atau berani untuk menanggung risiko yang menyertai keputusan itu. Keputusan yang –berdasarkan pertimbangan dari segi apapun- terbaik.

Rabu, 18 Februari 2009

Mantan Kekasih - Kritik Nggak Penting

Baru saja, iseng-iseng saya mendengarkan lagu-lagu yang ada di hape saya. Di dalamnya saya temukan sebuah lagu yang saya miliki tanpa saya niatkan. Ceritanya, seorang teman saya menginginkan satu lagu yang tersimpan dalam folder di laptop milik teman saya yang lain. Namun, ketika lagu itu hendak dikirimkan ke hape teman saya melalui bluetooth, entah mengapa selalu gagal. Akhirnya, diambillah alternatif cara dengan mengirimkan lagu itu terlebih dulu ke hape saya, dan baru kemudian saya kirimkan lagi ke hape teman saya. Ternyata cara ini berhasil, teman saya berhasil mendapatkan lagu yang ia inginkan. Namun tanpa saya sadari, saya lupa menghapus lagu itu dari memori hape saya. Begitulah ceritanya kenapa saya bisa memiliki lagu yang akan saya bahas berikut ini.

Lagu itu bercerita tentang seorang mantan kekasih. Lagunya memang cukup enak didengar, tapi tak urung dahi saya mengernyit mendengar liriknya. Biar lebih jelas, sebagian liriknya sudah saya salin di bawah...
(1) Seseorang di sana telah memilikimu
(2) Aku kan berdosa bila merindukanmu
(3) Oh Mantan Kekasihku
(4) Jangan kau lupakan aku
(5) Bila suatu saat nanti
(6) Kau merindukanku
(7) Datang-datang padaku

Bisa menyanyikannya? Eh eh...mang situ punya suara merdu?

Bisa ataupun enggak, merdu ataupun enggak, saya sarankan untuk nggak usah nyanyi aja. Bukannya kenapa-napa...situ buka blog ini kan mau baca posting saya tho? Bukan mau nyanyi kan?! *galak euy...galak*

Ehm...ehm...baiklah...sekarang saya lanjutin lagi postingnya. Apa yang hendak saya bahas dari tadi, sebenarnya adalah ketidakkonsistenan yang ada pada lagu tersebut. Sudahkah ketidakkonsistenan yang saya maksud Anda temukan?

Daripada mikir ribet, mending baca aja jawabannya di bawah ini.
Begini. Di bait 1 dan 2 kan disampaikan bahwa merindukan si mantan kekasih akan membawa dosa karena saat ini si mantan telah dimiliki oleh seseorang. *menurut saya sih bait ini rada lebay. Bagaimana menurut Anda? Yang namanya rindu mah rindu aja...itu kan ungkapan hati! Sebatas rindu mah sah-sah aja dong, asalkan kerinduannya nggak ampe diterusin jadi ngajakin si cewek ketemuan, nyamperin si cewek, atau –lebih ekstrim lagi- nyantet si cewek. Itu baru jelas dosa.*

Kemudian, di bait selanjutnya (baca: bait 3 dan 4), si cowok malah ngelarang si cewek untuk ngelupain dia. *Heh! Tadi bilangnya merindukan si cewek itu bisa berakibat dosa. Sekarang malah ngajak orang lain buat ikut-ikutan dosa dengan nyuruh si cewek untuk nggak ngelupain dirinya. Kalo mau berbuat dosa mah jangan ngajak-ngajak mas. Gak baik tuh! Aneh deh kamyu!*

Lebih aneh lagi, di bait lebih lanjut (baca: bait 5,6 dan 7), si cowok malah nyuruh si cewek buat mendatanginya jika suatu saat si cewek tiba-tiba merindukannya. Ckckck...gimana sih? Tadi katanya merindukan si cewek aja bisa berakibat dosa. Udah tau gitu, si cewek masih juga dilarang untuk melupakan dirinya. Eh sekarang malah nyuruh si cewek buat nyamperin kalo rindu? Bener-bener kebangetan deh cowok model gini!

Nah, begitulah ketidakkonsistenan yang saya rasakan di lagu itu. Setujukah Anda?

Pesan moral :
-Jangan bawa-bawa masalah dosa deh kalo bikin lagu, apalagi lagunya lagu cinta. Ga cucok bow!
-Kalo mau ngarang lagu, kudu konsisten! Sebenernya mau mengisahkan cowok yang takut dosa atau cowok bejat yang ngajak mantan ceweknya selingkuh sih?

Catatan : Buat para penggemar LYLA, ataupun LYLA sendiri, jangan dimasukin ati ya posting saya ini. Saya kan Cuma ngasal cuap-cuap aja sambil menuangkan isi otak. Intinya mah dengan posting ini saya cuma pengen lagu-lagu karya anak bangsa kita ini makin berbobot. Gitu doang kok. Peace yo!

Jumat, 13 Februari 2009

Pagi yang Cerah di Atas Busway

Pada suatu pagi yang cerah di hari minggu bulan Februari, sebuah bus transjakarta mulai melaju dari shelter Senen. Seorang cewek usia dua puluhan tahun masuk ke dalam bus dan mengambil posisi berdiri di dekat pintu masuk. Berpegangan pada tiang yang ada, ia pun mulai melihat situasi di sekelilingnya. Nampak banyak kursi yang masih kosong di sana-sini, namun si cewek tetap berdiri dengan posisi yang sama.

Tak jauh darinya berdiri, kernet busway yang seorang cowok muda sedang melaksanakan tugas menjaga pintu sembari berdiri mengamati si cewek. Akhirnya, si cowok pun memutuskan untuk mengajak ngobrol cewek itu.

Inilah percakapan yang terjadi di antara mereka berdua...

Kernet : Mba, kok nggak duduk? (sambil mengeluarkan senyuman termanis yang dimilikinya)
Mbak : Enggak mas. Saya cuma bentar kok. Di Boedoet juga saya turun (membalas tersenyum)
Kernet : Oooh...

(Hening sejenak. Si kernet mulai berpikir keras apa yang selanjutnya harus ia ucapkan)

Kernet : Mbak, di Boedoet ngekos atau di rumah sendiri? (lagi-lagi mengeluarkan senyuman termanisnya)
Mbak : Ngekos mas (membalas tersenyum)
Kernet : Di sana berapaan mba kosannya? (masih dengan senyuman “maut”nya)
Mbak : Lima ratus (tanpa senyuman)
Kernet : Lima ratus itu dapet apaan aja mba? (tetap mempertahankan senyuman “maut”)
Mbak : Standar aja kok. Tempat tidur, lemari, sama meja dan kursi (pasang tampang agak bete)
Kernet : Waaah...itu sih mahal mbak. Ada loh temen saya ngekos di harmoni, isi kamarnya sama kayak mbak tapi cuma tiga ratus ribu. Beneran! (kali ini pasang tampang serius)
Mbak : Ooooh...(mengeluarkan tatapan “trus emang napa? Apa urusannya sama gw?”)

(Hening lagi)

Kernet : Mbak, di kosan sendirian aja atau berdua sama temen? (tetap pasang senyuman “maut”)
Mbak : Sendiri (pasang tampang bener-bener bete)
Kernet : Apa mau saya temenin? (kali ini pasang tatapan memelas)
Mbak : (Busyet! Apa sih maksudnya orang ini?) Nggak usah! (dengan nada ketus)

(Hening kembali)

Kernet : Nggg...Mbak, boleh kenalan nggak? Nama saya Budi
Mbak : Wati (menyebutkan nama bohongan dengan muka seketus nada suaranya)
Kernet : Wah, kalo gitu kita cocok dong mbak (tersenyum lebar). Budi kan selalu deketan sama Wati (red: ingat buku SD jaman dulu kan?)
Mbak : (tersenyum eneg kayak hampir muntah)
Kernet : Mbak, saya minta dong nomor hapenya (lagi-lagi dengan senyuman “maut”)
Mbak : Ee...aa...ee (Salah tingkah, dalam hati berpikir “Sialan! Berani bener orang ini!”)
Bus : Pemberhentian berikutnya...BUDI UTOMO...Periksa barang bawaan Anda....dan hati-hati melangkah.
Mbak : (Lega karena terselamatkan oleh situasi) Eh, saya harus turun nih! (Berjalan mendekat ke pintu keluar)
Bus : (melontarkan versi baratnya walaupun di bus nggak ada orang bule) Next destination....BUDI UTOMO...Please check your belongings and step carefully
Kernet : Eh...tapi mbak....saya kan...(mau menghentikan langkah si mbak)
Bus : (Pintu bus terbuka)
Mbak : (langsung loncat keluar dan melarikan diri terbirit-birit)
Kernet : ...belum punya nomornya...(menghela napas panjang...kecewa)

Moral of the story:
1. Kalau ada banyak kursi kosong di bus, mendingan duduk aja deh. Pasalnya, kalo pas kernet busnya nggak tau malu, kita bisa disangka sengaja berdiri buat nyari alasan deketan sama dia. Iiiihhh...males banget kan!
2. Kalau ternyata kita tiba-tiba terlibat dalam situasi seperti di atas, pas ditanya “di kosan sendiri atau berdua sama temennya?”, langsung aja jawab “saya ngekos berdua sama suami saya”. Pasti si kernet bus itu langsung diem.
3. Kalau ternyata orang itu masih aja nguber-nguber dengan pertanyaan lainnya, langsung aja pindah tempat. Kalo bisa duduk di tempat dekat penumpang lain. Kan si kernet bus nggak mungkin dong ikutan duduk di sebelah kita. Bisa-bisa dipecat tuh dia.

Rabu, 11 Februari 2009

Mobokratos

Dalam posting kali ini, saya mau sedikit mengomentari sebuah artikel yang dimuat di Kompas kemarin. Artikel yang saya baca itu menyinggung tentang demokrasi dan mobokrasi. Demokrasi -kata yang sering kita dengar- diartikan sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh barisan, adapun mobokrasi –kata yang baru saya ketahui keberadaannya- diartikan sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh kerumunan.

Sejujurnya, saya sendiri tak mengerti definisi yang disampaikan dalam artikel itu. Pemahaman saya selama ini tentang demokrasi adalah seperti apa yang diajarkan oleh guru PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) saya dulu. Demokrasi berasal dari bahasa latin demos dan kratos. Demos diartikan sebagai rakyat, sementara kratos adalah pemerintahan. Gampangnya, demokrasi diartikan sebagai pemerintahan rakyat -pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Adapun artikel tentang mobokrasi yang dibuat oleh Pak Eep –suaminya Sandrina Malakiano- itu, dibuat karena terinspirasi oleh kasus penganiayaan yang dilakukan di muka umum terhadap Ketua DPRD Sumut baru-baru ini. Kasus seperti ini diindikasikannya sebagai kekuasaan yang dikendalikan oleh kerumunan. Kerumunan massa yang melakukan demonstrasi secara anarkis dan menyebabkan beralihnya sebuah pucuk kepemimpinan. Kerumunan massa yang mampu mengendalikan dan berkuasa karenanya.

Membaca artikel itu, saya jadi teringat dengan sebuah teori terkait Politik Massa yang pernah disampaikan oleh seseorang baru-baru ini. Katanya, jika ada 1 ayam sakit kita gabungkan dengan 9 ayam sehat, maka yang muncul kemudian adalah 10 ayam sakit. Namun, jika kita menggabungkan 1 orang pengecut dengan 9 orang preman, maka yang akan mucul adalah 10 orang preman. Itulah kekuatan massa.

Manusia memang makhluk penuh sandiwara dan kebohongan. Bisa jadi, di antara kerumunan orang yang melakukan aksi di DPRD Medan itu, banyak orang-orang pengecut di dalamnya. Orang-orang yang hanya ikut-ikutan aksi karena diiming-imingi uang, atau hanya sebagai bentuk solidaritas belaka. Tapi dengan bergabung bersama kerumunan orang-orang lain, si pengecut-pengecut itu menjadi “jagoan” yang beringas. “Jagoan-jagoan” yang berhasil berkuasa untuk sementara sebelum akhirnya jagoan yang sesungguhnya turun tangan mengendalikan situasi. Tapi, entah dia hanya sekedar “jagoan”, atau dia benar-benar jagoan, mereka hanya mampu beraksi ketika berkerumun (baca: bersama-sama –seperti semboyan kita : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh-). Dan ketika itulah mobokratos terwujud.

Minggu, 01 Februari 2009

Tanya Terjawab

Tanya Terjawab

Dengan sebentuk tanya lugas
Ditimpali selarik jawaban tuntas
Satu pertanyaan terjawab sudah
Satu kenyataan terkuak pasrah


Kenyataan yang Menyakitkan

Ternyata nyata membuat resah
Ternyata nyata membuat gundah
Ternyata nyata membuat sesak membuncah
Ternyata nyata tak berarti indah


Menolak Menerima Kenyataan

Mendapati nyata ternyata siksa
Keping hati luruh tiada sisa
Muncullah asa nan sia-sia
Berharap nyata adalah sebuah dusta


Memaksa Diri Menerima

Tapi nyata adalah realita
Benci atau suka itulah adanya dunia
Tak jua guna mengharap nyata itu maya
Cukuplah bersyukur dengan apa yang ada