Seorang teman saya pernah mengistilahkan hati sebagai sebuah organ imajiner. Hati itu tak benar-benar ada. Ia hanya ada sebagai perwujudan dari perasaan kita.
Orang bulai (baca : bule) di negeri Paman Sam, melakukan pembedaan yang cukup jelas atas definisi hati. Mereka mengistilahkan hati yang merupakan organ imajiner sebagai heart, sementara hati dalam definisi yang sebenarnya atau sebagai organ riil, diistilahkan sebagai liver. Sayangnya, di dalam bahasa Indonesia tak ada pembedaan seperti ini, Maka wajar saja jika banyak muncul salah kaprah. Orang-orang menyamakan saja hati dalam maknanya sebagai organ imajiner, dengan hati dalam maknanya sebagai organ riil.
Karena itu, ketika kita menemukan kata “sakit hati”, kita harus mencari tahu, apakah hati yang sedang dibicarakan ini adalah hati sebagai organ imajiner atau hati sebagai organ riil. Jika hati di sini dibahas sebagai organ imajiner, maka itu berarti orang tersebut baru saja mengalami hal buruk yang mengakibatkan perasaannya sakit. Sementara jika hati yang dibahas adalah organ riil, maka artinya orang tersebut sedang menderita penyakit dengan livernya.
Namun, lagi-lagi kesimpangsiuran penggunaan bahasa ini belum selesai begitu saja. Orang bulai yang tadinya sudah memiliki pembedaan yang jelas terhadap definisi hati, ternyata memiliki makna ganda juga terhadap heart (hati). Ketika mereka menyebut kata heart, penerjemahannya pun harus kita pertanyakan karena ada dua makna di dalamnya. Heart dalam maknanya sebagai organ riil oleh orang bulai, diartikan oleh orang Indonesia sebagai jantung, sementara heart dalam maknanya sebagai organ imajiner, diartikan oleh orang Indonesia sebagai hati dalam kaitannya dengan perasaan.
Ketika kita mendengar kalimat “my heart’s beat so fast”., apa arti yang ada di pikiran Anda? Jika diterjemahkan, biasanya kalimatnya akan menjadi “hatiku berdetak sangat cepat”. Padahal tentu saja terjemahan seperti ini kurang tepat. Apakah anda berpikir bahwa hati yang merupakan organ riil yang ada pada tubuh kita berdetak? Tentu saja tidak kan? Hati tak memiliki detak. Jantunglah yang dapat kita rasakan detakannya. Jadi, tentu saja penerjemahan dari kalimat inggris itu lebih tepat jika diganti menjadi “jantungku berdetak sangat cepat”.
Jadi, kesimpulannya, terdapat dualisme makna pada kata “hati”, dan terdapat pula dualisme makna pada kata “heart”. Dualisme di sini terletak pada makna konotasi dan denotasinya. Makna konotasi dari “hati” dan “heart” sama-sama sebagai organ imajiner yang terkait dengan ekspresi perasaan, sementara makna denotasi dari “hati” dan “heart” ternyata sangat berbeda. Kendati sama-sama merupakan organ riil dalam tubuh manusia, “hati” disamakan sebagai liver, sementara “heart” disamakan sebagai jantung.
Pertanyaan yang muncul di benak saya? Kenapa bisa ada perbedaan seperti ini? Mungkinkah karena kesalahkaprahan sewaktu menurunkan bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia? Entahlah...tokh saya cuma ingin melontarkan pertanyaan saja, saya tak benar-benar menghendaki jawabannya kok!
Selasa, 28 April 2009
Senin, 20 April 2009
Memilih di Antara Dua Pilihan, atau Tidak Sama Sekali
Ketika Anda dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dua insan yang mengejar Anda, manakah yang akan Anda pilih?
Di satu sisi ada seseorang yang sangat menarik yang menyukai Anda. Anda pun juga menyukainya. Ia menyenangkan, pintar, mudah membuat Anda tertawa, dan -yang terpenting- ia bisa membuat Anda merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda setiap kali Anda mendengar suaranya di telepon, atau sekedar menerima sms “kamu lagi apa?” darinya. Singkatnya, Anda tahu dengan sepenuh hati bahwa Anda jatuh cinta padanya.
Sayangnya, Anda tahu bahwa sekalipun Anda mencintainya, dengan rasionalitas yang sempurna Anda menyadari bahwa ia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi suami Anda. Ia keras kepala seperti Anda, senang berdebat sama halnya Anda, perokok sejati sementara Anda sangat anti rokok, dan yang paling utama, Anda tak yakin ia adalah orang yang mampu menjadi imam bagi Anda dan anak-anak Anda kelak.
Di sisi lain ada seseorang yang ramah, baik, sangat sopan, sangat sabar, bertanggung jawab, dan sangat layak menjadi imam bagi sebuah keluarga. Dengan rasionalitas yang sempurna Anda tahu bahwa ia adalah orang yang layak untuk menjadi suami Anda. Namun -saya rasa Anda tahu apa yang akan saya katakan- Anda tak pernah merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda.
Anda menghormatinya, mengaguminya, tapi Anda hanya merasakan kehampaan setiap kali ia berada di dekat Anda. Anda tidak mencintainya.
Dihadapkan pada dua pilihan seperti itu, yang manakah yang akan Anda pilih?
Seandainya Anda bisa menggabungkan satu bagian yang membuat Anda jatuh cinta pada orang yang pertama dan satu bagian lagi dari orang kedua yang menjadikannya layak untuk menjadi suami Anda, saya yakin pertanyaan seperti ini tak perlu terlontar.
Setiap insan selalu memiliki kekurangan dan kelebihan. Itu adalah paket yang tak terpisahkan dalam diri setiap manusia. Pertanyaannya adalah, bisakah Anda menerima tak hanya kelebihan itu, namun juga kekurangan yang menyertainya?
Terkadang kita harus berkompromi, menerima sebagian dari kekurangan yang ada pada diri orang lain, dan memperbaiki sebagian lain dari kekurangan itu. Ia mentolerir kemauan Anda, dan Anda pun mentolerir apa adanya ia. Itulah kondisi yang ideal.
Tapi masalahnya, belum tentu Anda bersedia melakukan itu. Entah karena Anda memang hanya ingin memilih seseorang yang memenuhi ekspektasi Anda -seseorang yang tak hanya bisa membuat Anda jatuh cinta namun juga layak menjadi suami Anda- dan tak mau menurunkan standar yang Anda tetapkan, atau karena Anda merasa memang pilihan tak harus Anda jatuhkan sekarang...
Apapun itu, ketika pilihan belum dijatuhkan, maka jodoh pun akan tetap masih menjadi suatu tanya...
"Allah Sang Maha yang mampu membolak-balik hati hambanya"
Di satu sisi ada seseorang yang sangat menarik yang menyukai Anda. Anda pun juga menyukainya. Ia menyenangkan, pintar, mudah membuat Anda tertawa, dan -yang terpenting- ia bisa membuat Anda merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda setiap kali Anda mendengar suaranya di telepon, atau sekedar menerima sms “kamu lagi apa?” darinya. Singkatnya, Anda tahu dengan sepenuh hati bahwa Anda jatuh cinta padanya.
Sayangnya, Anda tahu bahwa sekalipun Anda mencintainya, dengan rasionalitas yang sempurna Anda menyadari bahwa ia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi suami Anda. Ia keras kepala seperti Anda, senang berdebat sama halnya Anda, perokok sejati sementara Anda sangat anti rokok, dan yang paling utama, Anda tak yakin ia adalah orang yang mampu menjadi imam bagi Anda dan anak-anak Anda kelak.
Di sisi lain ada seseorang yang ramah, baik, sangat sopan, sangat sabar, bertanggung jawab, dan sangat layak menjadi imam bagi sebuah keluarga. Dengan rasionalitas yang sempurna Anda tahu bahwa ia adalah orang yang layak untuk menjadi suami Anda. Namun -saya rasa Anda tahu apa yang akan saya katakan- Anda tak pernah merasakan getaran-getaran menggelitik di dada Anda.
Anda menghormatinya, mengaguminya, tapi Anda hanya merasakan kehampaan setiap kali ia berada di dekat Anda. Anda tidak mencintainya.
Dihadapkan pada dua pilihan seperti itu, yang manakah yang akan Anda pilih?
Seandainya Anda bisa menggabungkan satu bagian yang membuat Anda jatuh cinta pada orang yang pertama dan satu bagian lagi dari orang kedua yang menjadikannya layak untuk menjadi suami Anda, saya yakin pertanyaan seperti ini tak perlu terlontar.
Setiap insan selalu memiliki kekurangan dan kelebihan. Itu adalah paket yang tak terpisahkan dalam diri setiap manusia. Pertanyaannya adalah, bisakah Anda menerima tak hanya kelebihan itu, namun juga kekurangan yang menyertainya?
Terkadang kita harus berkompromi, menerima sebagian dari kekurangan yang ada pada diri orang lain, dan memperbaiki sebagian lain dari kekurangan itu. Ia mentolerir kemauan Anda, dan Anda pun mentolerir apa adanya ia. Itulah kondisi yang ideal.
Tapi masalahnya, belum tentu Anda bersedia melakukan itu. Entah karena Anda memang hanya ingin memilih seseorang yang memenuhi ekspektasi Anda -seseorang yang tak hanya bisa membuat Anda jatuh cinta namun juga layak menjadi suami Anda- dan tak mau menurunkan standar yang Anda tetapkan, atau karena Anda merasa memang pilihan tak harus Anda jatuhkan sekarang...
Apapun itu, ketika pilihan belum dijatuhkan, maka jodoh pun akan tetap masih menjadi suatu tanya...
"Allah Sang Maha yang mampu membolak-balik hati hambanya"
Minggu, 12 April 2009
Global Crisis & Global Warming
Sadarkah Anda bahwa global crisis membawa dampak positif pada pengurangan global warming?
Hmm…salah satu poin yang paling nyata terlihat adalah, krisis global menuntut para pelaku di dunia industri yang hendak terus mempertahankan usahanya untuk melakukan efisiensi di segala bidang.
Apa sajakah bentuk efisiensi yang umum dilakukan?
1.Efisiensi atas penggunaan input
Industri adalah sebuah proses pemanfaatan input untuk selanjutnya dijadikan output demi menghasilkan nilai tambah. Jika industri yang kita bicarakan di sini adalah industri tekstil, maka inputnyabisa jadi berupa kapas, benang, dan lainnya. Jika industri yang kita bicarakan adalah industri makanan berupa kue, maka tepung, gula, dan input lainnya . Intinya, semua input harus dipergunakan sedemikian mungkin pada poin teroptimum yang dapat memberikan hasil maksimum.
2.Efisiensi atas proses pengolahan input
Dalam pengolahan input menjadi output, dibutuhkan sebuah proses yang di dalamnya membutuhkan keterlibatan manusia, dan non-manusia yang merupakan sarana pendukung lainnya.
• Efisiensi pemanfaatan sumber daya manusia.
Para SDM yang dinilai kurang memberikan kontribusi, atas nama kondisi terpaksa dirumahkan sementara atau bahkan di-PHK. Tokh, kadangkala, bukan hanya para SDM yang kurang produktif saja yang harus merasakan hal ini. SDM yang sangat efisien juga kerap terkena dampak karena perusahaan tak sanggup lagi membayar upah ataupun gaji para kayawan atau buruhnya. Jalan satu-satunya adalah pengurangan karyawan, dan untuk ini, krisis global adalah momok yang menyeramkan.
• Efisiensi atas sarana pendukung lainnya
Mendadak dengan terjadinya krisis global, hal-hal yang tadinya nggak pernah terpikirkan penting untuk dilakukan menjadi hal yang urgen dan harus dilakukan.
Kertas, yang tadinya cukup dipergunakan di satu sisi, kini harus dimanfaatkan kedua sisinya baru boleh dibuang. Komputer, yang selama jam makan siang dibiarkan menyala begitu saja, kini harus dimatikan. Lampu, yang selama jam makan siang dan selepas jam kantor kerap menyala tanpa dipakai, kini harus dimatikan. Lewat jam kerja, semua karyawan harus pulang agar tak ada pemborosan sedikitpun atas listrik. Belum termasuk efisiensi atas penggunaan AC, lampu toilet, lampu pantry, dan lainnya. Untuk hal ini, krisis global adalah blessing in disguise bagi para aktivis lingkungan.
Agak-agak egois memang! Tapi saya sendiri cukup bersyukur krisis global ini terjadi. Tanpanya, saya belum pernah menemukan kondisi dimana efisiensi atas listrik, kertas, dan input-input lain dilakukan dengan penuh semangat seperti sekarang.
Walaupun tokh efisiensi ini dilakukan secara terpaksa karena tuntutan kondisi, saya sih masih menyimpan harapan bahwa kendati badai krisis telah berlalu, efisiensi yang positif –atas sarana pendukung- terus dipertahankan. Harapan saya juga, bahwa selepas krisis, efisiensi atas pemanfaatan sumber daya manusia tak dilakukan dengan pengurangan atau perumahan karyawan, tapi lebih kepada pengarahan dan motivasi kepada karyawan secara berkesinambungan demi menciptakan loyalitas, semangat, dan keefektifan bekerja.
Oh ya, satu hal lagi yang jauh lebih penting, kendati saya dari tadi bercerita bahwa efisiensi secara terpaksa dilakukan karena tuntutan krisis global, namun sejauh pengamatan saya, hal tersebut masih sebatas dilakukan oleh kalangan industri swasta. Di lingkungan saya sebagai seorang PNS yang –bisa dikatakan- tidak terpengaruh oleh adanya krisis global, belum saya temukan rupa-rupa efisiensi.
Atas nama rahasia Negara, kertas harus segera dihancurkan sehingga tak dapat dipergunakan di kedua sisinya. Tak peduli apakah tulisan di dalamnya penting, tidak begitu penting, atau sama sekali tidak penting, kertas tak pernah dipergunakan pada kedua sisinya. Atas nama kemudahan bekerja, komputer menyala sepanjang jam istirahat, bahkan hingga jam kerja berakhir, hingga keesokan harinya jam kerja dimulai kembali. Benar-benar inefisiensi yang bukan hanya sekedar menafikkan global warming, namun juga global crisis.
Karena itu, kalau boleh saya berharap, saya juga mengangankan efisiensi yang dilakukan oleh industri swasta terhadap sarana pendukung mereka, dilakukan pula oleh kaum birokrat di Negara kita. Yang jelas, saya akan mulai melakukannya, entah dengan yang lainnya…
Hmm…salah satu poin yang paling nyata terlihat adalah, krisis global menuntut para pelaku di dunia industri yang hendak terus mempertahankan usahanya untuk melakukan efisiensi di segala bidang.
Apa sajakah bentuk efisiensi yang umum dilakukan?
1.Efisiensi atas penggunaan input
Industri adalah sebuah proses pemanfaatan input untuk selanjutnya dijadikan output demi menghasilkan nilai tambah. Jika industri yang kita bicarakan di sini adalah industri tekstil, maka inputnyabisa jadi berupa kapas, benang, dan lainnya. Jika industri yang kita bicarakan adalah industri makanan berupa kue, maka tepung, gula, dan input lainnya . Intinya, semua input harus dipergunakan sedemikian mungkin pada poin teroptimum yang dapat memberikan hasil maksimum.
2.Efisiensi atas proses pengolahan input
Dalam pengolahan input menjadi output, dibutuhkan sebuah proses yang di dalamnya membutuhkan keterlibatan manusia, dan non-manusia yang merupakan sarana pendukung lainnya.
• Efisiensi pemanfaatan sumber daya manusia.
Para SDM yang dinilai kurang memberikan kontribusi, atas nama kondisi terpaksa dirumahkan sementara atau bahkan di-PHK. Tokh, kadangkala, bukan hanya para SDM yang kurang produktif saja yang harus merasakan hal ini. SDM yang sangat efisien juga kerap terkena dampak karena perusahaan tak sanggup lagi membayar upah ataupun gaji para kayawan atau buruhnya. Jalan satu-satunya adalah pengurangan karyawan, dan untuk ini, krisis global adalah momok yang menyeramkan.
• Efisiensi atas sarana pendukung lainnya
Mendadak dengan terjadinya krisis global, hal-hal yang tadinya nggak pernah terpikirkan penting untuk dilakukan menjadi hal yang urgen dan harus dilakukan.
Kertas, yang tadinya cukup dipergunakan di satu sisi, kini harus dimanfaatkan kedua sisinya baru boleh dibuang. Komputer, yang selama jam makan siang dibiarkan menyala begitu saja, kini harus dimatikan. Lampu, yang selama jam makan siang dan selepas jam kantor kerap menyala tanpa dipakai, kini harus dimatikan. Lewat jam kerja, semua karyawan harus pulang agar tak ada pemborosan sedikitpun atas listrik. Belum termasuk efisiensi atas penggunaan AC, lampu toilet, lampu pantry, dan lainnya. Untuk hal ini, krisis global adalah blessing in disguise bagi para aktivis lingkungan.
Agak-agak egois memang! Tapi saya sendiri cukup bersyukur krisis global ini terjadi. Tanpanya, saya belum pernah menemukan kondisi dimana efisiensi atas listrik, kertas, dan input-input lain dilakukan dengan penuh semangat seperti sekarang.
Walaupun tokh efisiensi ini dilakukan secara terpaksa karena tuntutan kondisi, saya sih masih menyimpan harapan bahwa kendati badai krisis telah berlalu, efisiensi yang positif –atas sarana pendukung- terus dipertahankan. Harapan saya juga, bahwa selepas krisis, efisiensi atas pemanfaatan sumber daya manusia tak dilakukan dengan pengurangan atau perumahan karyawan, tapi lebih kepada pengarahan dan motivasi kepada karyawan secara berkesinambungan demi menciptakan loyalitas, semangat, dan keefektifan bekerja.
Oh ya, satu hal lagi yang jauh lebih penting, kendati saya dari tadi bercerita bahwa efisiensi secara terpaksa dilakukan karena tuntutan krisis global, namun sejauh pengamatan saya, hal tersebut masih sebatas dilakukan oleh kalangan industri swasta. Di lingkungan saya sebagai seorang PNS yang –bisa dikatakan- tidak terpengaruh oleh adanya krisis global, belum saya temukan rupa-rupa efisiensi.
Atas nama rahasia Negara, kertas harus segera dihancurkan sehingga tak dapat dipergunakan di kedua sisinya. Tak peduli apakah tulisan di dalamnya penting, tidak begitu penting, atau sama sekali tidak penting, kertas tak pernah dipergunakan pada kedua sisinya. Atas nama kemudahan bekerja, komputer menyala sepanjang jam istirahat, bahkan hingga jam kerja berakhir, hingga keesokan harinya jam kerja dimulai kembali. Benar-benar inefisiensi yang bukan hanya sekedar menafikkan global warming, namun juga global crisis.
Karena itu, kalau boleh saya berharap, saya juga mengangankan efisiensi yang dilakukan oleh industri swasta terhadap sarana pendukung mereka, dilakukan pula oleh kaum birokrat di Negara kita. Yang jelas, saya akan mulai melakukannya, entah dengan yang lainnya…
KOMITMEN
Saya dulu pernah dihadapkan pada situasi dimana seorang pria yang saya idam-idamkan, dan saya yakin diidam-idamkan pula oleh kebanyakan cewek lainnya, datang mendekat dan meminta saya untuk jadi pacarnya.
Saya yakin sebagian (baca: teman-teman saya yang sirik) yang membaca kalimat di atas pasti langsung ketawa. Tapi peduli amat, saya lanjutin dulu ya ceritanya…
Cowok ini luar biasa ganteng, badannya tinggi dan tegap, dan suaranya nge-bass. Secara fisik, tidak ada hal yang kurang darinya. Secara psikis, dia orang yang super baik, sabar, dan perhatian. Lagi-lagi tak ada hal yang kurang darinya. Secara agama, dia juga rajin sholat 5 waktu, sholat malam, ngaji tiap hari, dan lagi-lagi… nggak ada yang kurang darinya. Hmm..itu baru sebagian dari yang indah-indah yang ada di cowok itu. Saya belum menyebutkan fakta bahwa dia punya kerjaan dan karir yang bagus, jago menyanyi dan main gitar, plus materi yang…memadai untuk masuk perhitungan cewek-cewek matre.
Well, semua yang indah ada di dirinya, dan dia mendekati saya. Jadi, apa yang perlu saya pikirkan lagi, pasti begitulah yang ada di pikiran kalian kan?
Masalahnya, seperti yang selalu saya bilang, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Cowok itu, segimanapun indahnya untuk saya miliki, ternyata telah memiliki cewek (baca: pacar).
Tapi –sekali lagi saya tegaskan- saya nggak bohong ketika mengatakan bahwa cowok itu mendekati saya, dan bahkan…meminta saya untuk jadi pacarnya.
Hmm…dihadapkan pada situasi dilematis seperti ini, apakah yang saya lakukan? Menerimanya untuk dijadikan selingkuhannya? Menerimanya dengan syarat ia harus putus lebih dulu dengan ceweknya? Atau malah menolaknya?
Walaupun lagi-lagi saya yakin teman saya yang sukanya sirik tadi masih tetep ketawa-tawa pas baca ini, tapi saya tetap akan melanjutkan ceritanya.
Dengan bangga, saya katakan bahwa saya menolaknya!
Hmmm…mungkin harusnya saya nggak menggunakan kata ‘bangga’ dalam konteks ini. Sejujurnya, sungguh berat ketika saya harus mengambil keputusan untuk menolaknya. Pasalnya, ketika itu rasa-rasanya dunia saya dipenuhi dengan bayangan dirinya, mau makan ingat dia, mau tidur mimpi dia, mau ngapa-ngapain selalu ada dia. Bahasa gampangnya, saya juga lagi kasmaran sama dia.
Walaupun cowok ini bilang bahwa hubungannya dengan si cewek berada dalam fase kritis ketika dia menembak saya, dan katanya nggak lama lagi pun mereka pasti akan putus, tetap saja saya menolaknya.
Sebenarnya, apa sih yang membuat saya melakukan “hal bodoh” seperti itu? Jawabannya adalah komitmen. Menurut saya, ketika kita memiliki sebuah komitmen dalam relasi antarmanusia, sudah sepatutnyalah komitmen tersebut kita jaga. Sebuah komitmen -apapun bentuknya- adalah sesuatu yang sakral.
Ketika cowok itu ‘menembak’ saya, sementara ia masih menyandang status punya pacar, bagi saya itu adalah pengingkaran atas komitmen yang telah ia buat. Dan untuk itu, bagi saya ia tak lagi layak untuk dijadikan cowok idaman. Kendati hati saya sakit (dulu rasanya sakit banget, tapi kalau diingat sekarang, rasa-rasanya saya aja yang lebay), saya nggak mau menerima dia.
Penolakan ini saya lakukan bukan hanya karena saya menganggap dia bukan orang yang bisa dipercaya, tapi juga karena saya berusaha menghargai komitmen yang telah dibuat orang lain, kendati saya tidak terlibat di dalamnya. Ketika saya menerima atensi yang ia berikan, atau lebih jauh lagi membalas atensi yang ia berikan, tentunya saya sedikit banyak saya telah memberi harapan padanya. Dan harapan itu, saya takutkan akan mempengaruhinya dalam membuat keputusan yang tak rasional terkait hubungan yang ia jalani saat ini. Ya iyalah, bukankah ia sudah punya jaminan bahwa ia bisa mendapatkan cewek baru seketika ia memutuskan cewek lamanya?
Bagi saya, komitmen yang dengan kesengajaan dan kesepakatan telah dibuat oleh dua pihak, harus diakhiri pula dengan kesengajaan dan kesepakatan dari kedua pihak tersebut. Tidak sepantasnya hubungan diakhiri karena adanya orang ketiga, keempat, dan seterusnya. Bagi saya itu membuat salah satu pihak dirugikan dan –bahasa ekstrimnya- dizholimi.
Jika saya tidak berpikiran seperti itu, saya bisa saja mengarahkan secara halus (baca: memberi perhatian lebih) sehingga si cowok memutuskan ceweknya. Dengan demikian ia tak lagi berkomitmen dengan siapa pun, dan saya pun akhirnya bisa menerima dia. Tokh ia tak memiliki komitmen yang perlu dilanggar ketika ‘menembak’ saya, dan saya pun tokh tidak menyuruhnya untuk putus kan?
Jadi, alih-alih mengatakan kepadanya, “Saya juga sebenarnya suka sama kamu, sayangnya kamu sudah punya pacar”, saya memilih untuk mengatakan “Kamu nggak sepantasnya ‘menembak’ saya sementara kamu masih memiliki komitmen dengan orang lain”. Jauh lebih dalam dan menusuk bukan?
Mengakhiri cerita saya kali ini, harapan saya sebenarnya hanyalah agar para pemegang komitmen, bisa lebih menghargai komitmen yang telah mereka buat. Akhiri dulu komitmen yang telah Anda buat, baru mulailah membuat komitmen yang baru. Dan bagi orang-orang yang secara sadar memberi atensi kepada orang-orang yang telah memiliki komitmen, sadarilah bahwa Anda sama saja (buruknya) dengan orang yang mengingkari komitmen itu sendiri.
Saya yakin sebagian (baca: teman-teman saya yang sirik) yang membaca kalimat di atas pasti langsung ketawa. Tapi peduli amat, saya lanjutin dulu ya ceritanya…
Cowok ini luar biasa ganteng, badannya tinggi dan tegap, dan suaranya nge-bass. Secara fisik, tidak ada hal yang kurang darinya. Secara psikis, dia orang yang super baik, sabar, dan perhatian. Lagi-lagi tak ada hal yang kurang darinya. Secara agama, dia juga rajin sholat 5 waktu, sholat malam, ngaji tiap hari, dan lagi-lagi… nggak ada yang kurang darinya. Hmm..itu baru sebagian dari yang indah-indah yang ada di cowok itu. Saya belum menyebutkan fakta bahwa dia punya kerjaan dan karir yang bagus, jago menyanyi dan main gitar, plus materi yang…memadai untuk masuk perhitungan cewek-cewek matre.
Well, semua yang indah ada di dirinya, dan dia mendekati saya. Jadi, apa yang perlu saya pikirkan lagi, pasti begitulah yang ada di pikiran kalian kan?
Masalahnya, seperti yang selalu saya bilang, nggak ada yang sempurna di dunia ini. Cowok itu, segimanapun indahnya untuk saya miliki, ternyata telah memiliki cewek (baca: pacar).
Tapi –sekali lagi saya tegaskan- saya nggak bohong ketika mengatakan bahwa cowok itu mendekati saya, dan bahkan…meminta saya untuk jadi pacarnya.
Hmm…dihadapkan pada situasi dilematis seperti ini, apakah yang saya lakukan? Menerimanya untuk dijadikan selingkuhannya? Menerimanya dengan syarat ia harus putus lebih dulu dengan ceweknya? Atau malah menolaknya?
Walaupun lagi-lagi saya yakin teman saya yang sukanya sirik tadi masih tetep ketawa-tawa pas baca ini, tapi saya tetap akan melanjutkan ceritanya.
Dengan bangga, saya katakan bahwa saya menolaknya!
Hmmm…mungkin harusnya saya nggak menggunakan kata ‘bangga’ dalam konteks ini. Sejujurnya, sungguh berat ketika saya harus mengambil keputusan untuk menolaknya. Pasalnya, ketika itu rasa-rasanya dunia saya dipenuhi dengan bayangan dirinya, mau makan ingat dia, mau tidur mimpi dia, mau ngapa-ngapain selalu ada dia. Bahasa gampangnya, saya juga lagi kasmaran sama dia.
Walaupun cowok ini bilang bahwa hubungannya dengan si cewek berada dalam fase kritis ketika dia menembak saya, dan katanya nggak lama lagi pun mereka pasti akan putus, tetap saja saya menolaknya.
Sebenarnya, apa sih yang membuat saya melakukan “hal bodoh” seperti itu? Jawabannya adalah komitmen. Menurut saya, ketika kita memiliki sebuah komitmen dalam relasi antarmanusia, sudah sepatutnyalah komitmen tersebut kita jaga. Sebuah komitmen -apapun bentuknya- adalah sesuatu yang sakral.
Ketika cowok itu ‘menembak’ saya, sementara ia masih menyandang status punya pacar, bagi saya itu adalah pengingkaran atas komitmen yang telah ia buat. Dan untuk itu, bagi saya ia tak lagi layak untuk dijadikan cowok idaman. Kendati hati saya sakit (dulu rasanya sakit banget, tapi kalau diingat sekarang, rasa-rasanya saya aja yang lebay), saya nggak mau menerima dia.
Penolakan ini saya lakukan bukan hanya karena saya menganggap dia bukan orang yang bisa dipercaya, tapi juga karena saya berusaha menghargai komitmen yang telah dibuat orang lain, kendati saya tidak terlibat di dalamnya. Ketika saya menerima atensi yang ia berikan, atau lebih jauh lagi membalas atensi yang ia berikan, tentunya saya sedikit banyak saya telah memberi harapan padanya. Dan harapan itu, saya takutkan akan mempengaruhinya dalam membuat keputusan yang tak rasional terkait hubungan yang ia jalani saat ini. Ya iyalah, bukankah ia sudah punya jaminan bahwa ia bisa mendapatkan cewek baru seketika ia memutuskan cewek lamanya?
Bagi saya, komitmen yang dengan kesengajaan dan kesepakatan telah dibuat oleh dua pihak, harus diakhiri pula dengan kesengajaan dan kesepakatan dari kedua pihak tersebut. Tidak sepantasnya hubungan diakhiri karena adanya orang ketiga, keempat, dan seterusnya. Bagi saya itu membuat salah satu pihak dirugikan dan –bahasa ekstrimnya- dizholimi.
Jika saya tidak berpikiran seperti itu, saya bisa saja mengarahkan secara halus (baca: memberi perhatian lebih) sehingga si cowok memutuskan ceweknya. Dengan demikian ia tak lagi berkomitmen dengan siapa pun, dan saya pun akhirnya bisa menerima dia. Tokh ia tak memiliki komitmen yang perlu dilanggar ketika ‘menembak’ saya, dan saya pun tokh tidak menyuruhnya untuk putus kan?
Jadi, alih-alih mengatakan kepadanya, “Saya juga sebenarnya suka sama kamu, sayangnya kamu sudah punya pacar”, saya memilih untuk mengatakan “Kamu nggak sepantasnya ‘menembak’ saya sementara kamu masih memiliki komitmen dengan orang lain”. Jauh lebih dalam dan menusuk bukan?
Mengakhiri cerita saya kali ini, harapan saya sebenarnya hanyalah agar para pemegang komitmen, bisa lebih menghargai komitmen yang telah mereka buat. Akhiri dulu komitmen yang telah Anda buat, baru mulailah membuat komitmen yang baru. Dan bagi orang-orang yang secara sadar memberi atensi kepada orang-orang yang telah memiliki komitmen, sadarilah bahwa Anda sama saja (buruknya) dengan orang yang mengingkari komitmen itu sendiri.