Apa yang kira-kira akan Anda lakukan jika seorang mantan kekasih Anda mengundang Anda ke pernikahannya? Well, anda bisa saja memutuskan untuk datang, atau bisa juga memutuskan sebaliknya. Apapun itu, saya baru menyadari bahwa perilaku orang yang ditinggal menikah oleh mantan kekasihnya bisa sangat bermacam-macam. Posting kali ini akan menceritakan tentang kelakuan orang-orang itu, yang sebenarnya adalah teman-teman saya...dan jangan salah, di dalamnya juga ada kisah tentang saya. Yang mana? Takkan saya beritahu...cobalah Anda tebak sendiri.
Ketika mendapati undangan pernikahan mantan kekasih, kebanyakan orang yang saya kenal biasanya memilih untuk tidak datang. Kadangkala memang mereka tidak diundang sehingga tak ada alasan untuk datang. Namun ada kalanya juga kendati diundang mereka memutuskan untuk tidak datang. Lantas apa sih yang mereka lakukan? Ada yang memilih untuk menyibukkan diri bersama teman-temannya yang lain agar tak sempat memikirkan bahwa mantan kekasihnya akan hidup bersama orang lain, ada yang memilih untuk mengurung diri di kamar, menangis sambil memegangi kartu undangan yang bertuliskan nama mantan kekasihnya, atau ada juga yang sama sekali tak menangis namun terbakar dendam membara hingga undangan pernikahan sang mantan yang diterimanya langsung dibuang ke tempat sampah. Belum cukup ekstrim, ada juga yang memilih untuk mulai melontarkan telepon kaleng (sama seperti surat kaleng, hanya saja via telepon), menelepon sang mantan kekasih hanya untuk menutupnya langsung ketika ada jawaban ”halo”.
Rasa-rasanya bener-bener konyol dan kekanakan ya apa yang dilakukan oleh ”barisan sakit hati ini”? Kenapa sih mereka nggak bisa bersikap dewasa dengan datang saja ke pernikahan sang mantan kekasih, memberi ucapan selamat, mengikhlaskan sang mantan kekasih dimiliki oleh orang lain, dan berlalu dari pelaminan?
Ada kok orang yang memang cukup jantan untuk bersikap seperti itu. Ia datang ke resepsi mantan kekasihnya dengan didampingi oleh seorang kawan baiknya (yang berjenis kelamin sama dengannya) untuk memberi ucapan selamat. Kendati luar biasa jantan, tak urung badannya gemetar tak karuan ketika ia melangkah mendekati pelaminan. Dan begitu turun dari pelaminan, ia langsung lari keluar dari tempat resepsi tanpa sempat mencicipi hidangan yang disajikan, sampai-sampai sang kawan yang diajak untuk menemaninya memaki-maki, mengucap sumpah serapah, dan marah-marah karena jauh-jauh datang tapi tak kebagian makanan apapun.
Tapi menurut saya kejantanan itu belum sebanding dengan ”kejantanan” yang berikut ini. Ada pula orang yang begitu menerima undangan pernikahan dari sang mantan kekasih langsung menyusun strategi dengan semangat 45. Ia langsung berpikir, cara apa yang paling ampuh untuk membuat sang mantan kekasih yang telah meninggalkannya menyesal. Dan cara yang ia pilih adalah menggaet seorang kawannya yang paling cantik/ganteng untuk ia gandeng sebagai pasangannya sewaktu datang ke resepsi itu. Tak mau kalah, ia sendiri pun mendandani dirinya seganteng/secantik mungkin. Jika sang mantan orangnya pendek, maka kali ini yang ia ajak sebagai pasangan adalah orang yang ganteng/cantik, dan juga tinggi pula. Benar-benar orang yang secara kasat mata, fisiknya akan dinilai mengungguli sang mantan kekasih. Dan bukan cuma itu, mendekati pelaminan, ia pun bersandiwara menunjukkan sikap mesra. Pokoknya tujuannya adalah menunjukkan kepada sang mantan ”Nih low! Nggak masalah kamu ninggalin aku! Aku bisa dapet pengganti yang jauuuuuuuuuhhhh lebih ganteng/cantik dari kamu!”.
Walaupun saya sendiri tak tahu apakah cara yang ditempuh ini berhasil membuat sang mantan kekasih menyesali keputusannya yang memilih orang lain, tokh yang penting si golongan yang ditinggalkan ini merasa puas.
Tapi, nggak semua orang yang ditinggalkan bersikap ”aneh” seperti cerita saya di atas kok. Ada juga sebagian (kecil) yang berlapang dada ketika menerima undangan pernikahan, datang ke pernikahan, memberi ucapan selamat, mendoakan dengan setulus hati, dan pulang tanpa rasa sesal. Ketika ia belum memiliki pasangan sepeninggal sang mantan kekasih, baginya tak perlu untuk berdusta dengan menggaet pasangan bohongan. Ia bisa menunjukkan kepada sang mantan kekasihnya, ”Saya baik-baik saja tanpa kamu”. Saya pikir, inilah karakter luar biasa yang seharusnya dimiliki oleh orang-orang yang ditinggalkan.
Ditinggal menikah oleh seseorang yang pernah sangat berarti bagi kita pasti sangat menyakitkan. Bagaimanapun reaksi kita atas sakit yang kita derita, menangis atau marah, bersikap palsu ataupun jujur, yang terpenting adalah bangkit dari keterpurukan dan melangkah maju. Tokh sebagaimanapun beratnya kita melepaskan dia untuk hidup bersama orang lain, ia tetap saja mantan kita...ia tetap saja eks kita alias bekas kita. Ia hanyalah seseorang di masa lalu kita. Jadi, jangan mau lah terus-menerus hidup di masa lalu...lama-lama Anda bisa jadi bagian dari dinosaurus! Punah dan dipajang di museum!
Senin, 06 Juli 2009
Minggu, 05 Juli 2009
Pilih Satu Sing Eman
Saya punya keyakinan bahwa setiap orang pada dasarnya ingin selalu membahagiakan orang yang dikasihinya.
Saya sendiri, punya banyak sekali orang-orang terkasih di sekeliling saya. Bukan hanya keluarga, tapi juga teman dan sahabat saya. Mereka adalah orang-orang yang akan membuat kekecewaan dan kesedihan mereka menjadi kekecewaan dan kesedihan bagi saya. Kepedihan dan sakit yang mereka derita juga adalah pedih dan sakit yang saya alami. Karenanya, sangat wajar jika saya berusaha agar orang-orang yang saya sayang tak pernah merasakan kekecewaan, kesedihan, kepedihan, dan sakit. Terlebih jika kekecewaan yang mereka rasakan tersebut ternyata bersumber dari kata-kata, sikap, perilaku, maupun sifat saya. Rasa-rasanya saya akan sangat merasa bersalah jika ternyata sayalah yang menjadi penyebab dari kekecewaan mereka.
Adalah Mbah Yayi, salah satu dari orang yang paling saya kasihi di antara orang-orang terkasih di sekeliling saya. Ia adalah satu-satunya embah yang saya miliki saat ini. Keluarga inti yang ia miliki adalah satu orang putra (ayah saya), satu orang menantu (ibu saya), tiga orang cucu (dua kakak laki-laki saya dan saya sendiri), dan satu orang cicit dari kakak saya yang tertua.
Sebagai orang yang sudah tua, embah saya memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri di kampung dibandingkan tinggal bersama anak dan cucu-cucunya di Jakarta. Kadang saya sedih karena merasakan kesepian yang ia rasakan. Kesepian karena hidup jauh dari keluarga. Kendati di kampung banyak saudara-saudara yang tinggal tak jauh dari rumah, saya yakin ruang kosong di hati itu akan selalu ada. Dan karena itulah, setiap kali saya pulang kampung dan bertemu dengan embah, saya selalu berusaha membuatnya tersenyum dan bahagia.
Semenjak saya kuliah di Bogor, setiap kali pulang kampung selalu ada satu pertanyaan yang diajukan oleh embah kepada saya, “Sudah punya calon belum?”. Ini pertanyaan sederhana yang tak pernah absen ia ajukan, sekaligus pertanyaan pertama yang selalu dilontarkannya sesaat setelah saya sampai di rumah dan mencium tangannya. Dan untuk pertanyaan itu, jawaban saya selalu berupa gelengan kepala ataupun kata “belum” sambil tersenyum. Dengan senyuman itu, saya ingin mengatakan padanya “tak perlu kuatir Mbah, cucumu ini baik-baik saja kok”.
Tahun demi tahun berlalu. Namun setiap kali bertemu dengan embah, pertanyaan itu tak pernah berganti. Sama seperti jawaban saya yang juga tak pernah berganti. Hanya saja, ada hal yang berbeda akhir-akhir ini. Jika dulu sehabis saya menggeleng dan tersenyum embah saya selalu menimpali dengan kalimat “yo sekolah ndisik’o sing bener (ya sekolah dulu yang bener)”, atau “yo ra’ popo (ya nggak pa-pa)”, kali ini kalimat-kalimat itu tak pernah lagi terlontar. Kini yang ada adalah sebentuk raut kekecewaan yang membayang di mukanya.
Saya tahu bahwa yang diinginkan oleh embah adalah melihat saya menikah dengan seseorang dan hidup bahagia. “Pilih satu sing eman karo upi (pilih satu yang sayang sama upi)”, itulah petuah yang seringkali ia sampaikan pada saya. Baginya, tak perlu menggunakan terlalu banyak pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan kepada seseorang. Kadang ia bercerita tentang sepupu-sepupu saya yang usianya terpaut jauh di bawah saya namun sudah menggendong bayi. Di kesempatan lain kadang ia bercerita tentang bagaimana ia dulu menikah dengan mbah kakung (kakek) saya. Semuanya serba simple, praktis, tak bertele-tele, dan tak perlu pertimbangan banyak. Toh intinya ia bahagia, sama seperti sepupu-sepupu saya itu yang –sepertinya- juga bahagia.
Raut kekecewaan yang membayang di mukanya setiap kali ia usai bertanya pada saya itulah yang selalu membuat saya merasa bersalah. Serasa bagaikan jantung saya berhenti sepersekian detik setiap kali ia melontarkan pertanyaan itu. Ia memang tak pernah mengatakan secara eksplisit kepada saya “cepatlah menikah”. Namun pertanyaan “sudah punya pacar belum” itu bagi saya sama dahsyat dan mengerikannya.
Saya sedih tiap kali melihat raut kekecewaan di mukanya. Terutama karena saya tahu bahwa hal yang ia inginkan itu adalah permintaan sederhana demi kebahagiaan saya sendiri. Hal yang ia inginkan itu bukanlah suatu hal aneh, hal yang mengada-ada, hal yang tak realistis, atau hal yang merugikan saya. Itu hanya karena ia menyayangi saya dan ingin melihat orang yang disayanginya hidup bahagia.
Saat ini memang saya belum bisa menghapus raut kekecewaan di muka embah saya jika ia kembali mengajukan pertanyaan itu pada saya. Namun satu doa saya, semoga Allah berkenan untuk mengizinkan saya menjawab pertanyaan Embah dengan sebuah anggukan atau jawaban ”ya”. Semoga saya bisa melihat raut bahagia di wajahnya setelah ia mengajukan pertanyaan itu. Dan semoga hal itu terwujud secepatnya.
Saya sendiri, punya banyak sekali orang-orang terkasih di sekeliling saya. Bukan hanya keluarga, tapi juga teman dan sahabat saya. Mereka adalah orang-orang yang akan membuat kekecewaan dan kesedihan mereka menjadi kekecewaan dan kesedihan bagi saya. Kepedihan dan sakit yang mereka derita juga adalah pedih dan sakit yang saya alami. Karenanya, sangat wajar jika saya berusaha agar orang-orang yang saya sayang tak pernah merasakan kekecewaan, kesedihan, kepedihan, dan sakit. Terlebih jika kekecewaan yang mereka rasakan tersebut ternyata bersumber dari kata-kata, sikap, perilaku, maupun sifat saya. Rasa-rasanya saya akan sangat merasa bersalah jika ternyata sayalah yang menjadi penyebab dari kekecewaan mereka.
Adalah Mbah Yayi, salah satu dari orang yang paling saya kasihi di antara orang-orang terkasih di sekeliling saya. Ia adalah satu-satunya embah yang saya miliki saat ini. Keluarga inti yang ia miliki adalah satu orang putra (ayah saya), satu orang menantu (ibu saya), tiga orang cucu (dua kakak laki-laki saya dan saya sendiri), dan satu orang cicit dari kakak saya yang tertua.
Sebagai orang yang sudah tua, embah saya memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sendiri di kampung dibandingkan tinggal bersama anak dan cucu-cucunya di Jakarta. Kadang saya sedih karena merasakan kesepian yang ia rasakan. Kesepian karena hidup jauh dari keluarga. Kendati di kampung banyak saudara-saudara yang tinggal tak jauh dari rumah, saya yakin ruang kosong di hati itu akan selalu ada. Dan karena itulah, setiap kali saya pulang kampung dan bertemu dengan embah, saya selalu berusaha membuatnya tersenyum dan bahagia.
Semenjak saya kuliah di Bogor, setiap kali pulang kampung selalu ada satu pertanyaan yang diajukan oleh embah kepada saya, “Sudah punya calon belum?”. Ini pertanyaan sederhana yang tak pernah absen ia ajukan, sekaligus pertanyaan pertama yang selalu dilontarkannya sesaat setelah saya sampai di rumah dan mencium tangannya. Dan untuk pertanyaan itu, jawaban saya selalu berupa gelengan kepala ataupun kata “belum” sambil tersenyum. Dengan senyuman itu, saya ingin mengatakan padanya “tak perlu kuatir Mbah, cucumu ini baik-baik saja kok”.
Tahun demi tahun berlalu. Namun setiap kali bertemu dengan embah, pertanyaan itu tak pernah berganti. Sama seperti jawaban saya yang juga tak pernah berganti. Hanya saja, ada hal yang berbeda akhir-akhir ini. Jika dulu sehabis saya menggeleng dan tersenyum embah saya selalu menimpali dengan kalimat “yo sekolah ndisik’o sing bener (ya sekolah dulu yang bener)”, atau “yo ra’ popo (ya nggak pa-pa)”, kali ini kalimat-kalimat itu tak pernah lagi terlontar. Kini yang ada adalah sebentuk raut kekecewaan yang membayang di mukanya.
Saya tahu bahwa yang diinginkan oleh embah adalah melihat saya menikah dengan seseorang dan hidup bahagia. “Pilih satu sing eman karo upi (pilih satu yang sayang sama upi)”, itulah petuah yang seringkali ia sampaikan pada saya. Baginya, tak perlu menggunakan terlalu banyak pertimbangan untuk menjatuhkan pilihan kepada seseorang. Kadang ia bercerita tentang sepupu-sepupu saya yang usianya terpaut jauh di bawah saya namun sudah menggendong bayi. Di kesempatan lain kadang ia bercerita tentang bagaimana ia dulu menikah dengan mbah kakung (kakek) saya. Semuanya serba simple, praktis, tak bertele-tele, dan tak perlu pertimbangan banyak. Toh intinya ia bahagia, sama seperti sepupu-sepupu saya itu yang –sepertinya- juga bahagia.
Raut kekecewaan yang membayang di mukanya setiap kali ia usai bertanya pada saya itulah yang selalu membuat saya merasa bersalah. Serasa bagaikan jantung saya berhenti sepersekian detik setiap kali ia melontarkan pertanyaan itu. Ia memang tak pernah mengatakan secara eksplisit kepada saya “cepatlah menikah”. Namun pertanyaan “sudah punya pacar belum” itu bagi saya sama dahsyat dan mengerikannya.
Saya sedih tiap kali melihat raut kekecewaan di mukanya. Terutama karena saya tahu bahwa hal yang ia inginkan itu adalah permintaan sederhana demi kebahagiaan saya sendiri. Hal yang ia inginkan itu bukanlah suatu hal aneh, hal yang mengada-ada, hal yang tak realistis, atau hal yang merugikan saya. Itu hanya karena ia menyayangi saya dan ingin melihat orang yang disayanginya hidup bahagia.
Saat ini memang saya belum bisa menghapus raut kekecewaan di muka embah saya jika ia kembali mengajukan pertanyaan itu pada saya. Namun satu doa saya, semoga Allah berkenan untuk mengizinkan saya menjawab pertanyaan Embah dengan sebuah anggukan atau jawaban ”ya”. Semoga saya bisa melihat raut bahagia di wajahnya setelah ia mengajukan pertanyaan itu. Dan semoga hal itu terwujud secepatnya.