Jumat, 16 Agustus 2013

Mutasi

Banyak cerita dalam hidup saya akhir-akhir ini sebenarnya...
Banyak sekali malah.
Bukan mereka tak penting untuk saya simpan dalam catatan blog ini,
tapi entah mengapa jemari saya enggan untuk memencet tuts keyboard dan memulai bercerita.

Justru untuk sebuah cerita yang tak begitu penting,
sama sekali tak ada relevansinya dengan kehidupan saya,
justru saya sangat ingin menuangkannya.

Hari ini adalah hari dimana pengumuman mutasi dikeluarkan.
Perasaan saya biasa-biasa saja karena saya tidak termasuk kriteria pegawai yang jangka waktu kerjanya cukup lama untuk dimutasi.
Tapi memang ada teman-teman saya yang kabarnya akan kena mutasi sekalipun jangka waktu kerjanya sama dengan saya.
Biasanya alasan ikut suami menjadi alasan ampuh yang bisa membuat seseorang dimutasi ke tempat yang mereka inginkan (atau tidak).

Ada dua orang teman saya yang sejak awal penempatan sangat ingin dimutasi.
Sayangnya lokasi yang mereka inginkan merupakan lokasi strategis...banyak yang meminati.
Sehingga permintaan mereka selalu ditolak.
Pun penolakan itu tak pernah menjadikan mereka gentar dan mundur.
Hingga gosip akan adanya mutasi besar-besaran pun datang.
Dan kabar burung mengatakan mereka bakal ikut dimutasi sesuai permintaan mereka.

Sayang harapan tinggal harapan.
Asa pun tinggal lara.
Nama mereka tak ada, justru nama teman lain yang tak disangka-sangka yang muncul.
Hanya kebetulan kah?
Rezeki orang itukah yang mengaturnya?
Saya tidak yakin

Apa yang saya yakini adalah...
Ada teman saya yang tak pernah gembar-gembor meminta untuk dimutasi
Tapi sebenarnya mengusahakan untuk mutasi itu menghampirnya
Elegankah caranya?
Jika dengan keeleganan yang sama dengan permintaan yang diajukan dua orang teman saya itu...kenapa hasilnya bisa berbeda?
Nampaknya ada taktik lain yang tak pernah di-share
Cukup untuk diketahui sendiri
Tak bolehkah? Jelas boleh...

Hidup ternyata memang benar sebuah persaingan
Siapa cepat dia yang dapat
Siapa yang cerdik ia yang menuai hasilnya
Lebih dari itu...kehendak Allah yang menentukan.

Kamis, 03 Januari 2013

Stop Nyenyen

Lama nggak posting...
Ternyata udah aja tahun 2013... fyuuhh...cepet amat ya!
Habis tahun baru, eng ing eng, nggak lama Fania ultah deh.
3 Januari 2013, pas si kakak ultah ke 2 tahun.
Dari dulu pengen momentum 2 tahunnya kakak buat menyapih dia dari "nyenyen"...*bahasanya si kakak untuk nyebut nenen alias mimik ASI*.
Pikir-pikir..bisa nggak ya? mana menjelang ultahnya kan banyak banget hari libur tuh. Walhasil nyenyennya bukan malah berkurang...tapi meningkat pesat. Nggak pagi, nggak siang, nggak malem...nggak pengen bobo, nggak habis mandi..kok minta nyenyen mulu malah?!
Tapi ya gitu...kayaknya kok kalo 2 tahun masih nyenyen kok udah nggak pantes ya? mana badannya si kakak termasuk bongsor pula! Bisa-bisa ntar dikira anaknya kolokan...udah gede masih maunya nempel terus ma emaknya.
Sementara itu...*ceilah, bahasanya*...saya sendiri sebenarnya rada berat euy mau menyapih si kakak.
Habisnya, momen nyenyen itu kan bener2 momen kemesraan antara saya dan si kakak. Bisa pelukan, bisa njadiin si kakak guling kecil, bisa ngelus2 pipinya....
Kok malah jadi saya sih yang rasanya sedih dan ga rela untuk lepas dari pelukan kakak tiap nyenyen?
Duh..ibu2 labil nih!

Tapi, demi masa depan yang lebih baik...saya membulatkan tekad bahwa setelah 2 tahun nyenyen harus distop.
Setiap saat saya selalu bilang begini "kak, bentar lagi kan kakak ulang tahun tuh...nanti kakak dibawain kue yang ada lilinnya sama bunda. Trus lilinnya kakak tiup, sambil bunda nyanyi lagu selamat ulang tahun. Nah...kalo udah tiup lilin itu, kakak udah umur 2 tahun, artinya kakak udah gede. Kalo udah gede udah nggak nenen lagi kak...nenen itu cuma untuk dedek bayi".
Begituuuu terus, saya ulang-ulang aja.
Ayah dan Embahnya juga bolak-balik ngomong hal yang sama.
Sebenarnya sih pesimis kalo bakal berhasil. Habisnya si kakak emang udah kebiasaan banget...tiap kali diomongin pasti bilangnya "iya", tapi entar pas praktiknya malah jadi "enggak". Yah, namanya juga anak kecil.

Nah, sehari sebelum tanggal 3 Januari, pulang dari kantor si kakak merengek-rengek gitu. Ini emang jatah waktunya dia nenen biasanya. Tapi entah kenapa, si kakak blas nggak nyebut "bu..nyenyen". Kakak cuma merengek "bu...huhuhu....bu...huhuhu".

Akhirnya saya deh yang nawarin "kenapa? mau nenen ya kak?"...
Eh...habis saya ngomong gitu...mukanya si kakak langsung sumringah banget dong "iya...nyenyen".
Hahaha...dia mau minta sebenernya dari tadi tapi malu!

Sambil nenen, nggak lupa saya kasih afirmasi lagi. "kakak, ini nenen hari terakhir lho...besok kan kakak ulang tahun"...

Keesokan harinya, hari yang dinanti pun tiba. Setelah ritual tiup lilin, menyanyi lagu "selamat ulang tahun" dan membuka kado, saya pun berangkat ke kantor.
Pulang dari kantor, yang biasanya si kakak langsung minta jatah nyenyen, hari itu ia sama sekali nggak minta. Malah asyik aja main dengan mainan baru kado ulang tahunnya.
Malamnya menjelang tidur, ia sempat agak merengek-rengek nggak jelas gitu...Saya sebenernya tahu persis apa yang dia mau. Tapi saya tanya aja seolah2 nggak tahu, "kenapa kak?".
Mendengar pertanyaan saya, ia berhenti merengek, mulai menatap saya, dan bilang "cucu" *minta susu maksudnya*.

Wahhh! saya bener-bener kaget! ternyata si kakak bener-bener tau kalo dia udah ulang tahun dan udah nggak boleh nenen lagi. Setelah memberinya sebotol susu, kakak cuma minta supaya bundanya tidur di dekatnya, "bu...sini".
Hari itu saya pun tidur sambil memeluknya. Walaupun sudah nggak nenen lagi, toh kami masih bisa berpelukan dengan mesra :) Anakku-anakku...pinter banget kamu nak!

*Anak Bunda yang pinter, yang baik, yang sholeha....sehat terus ya Nak...Semoga tambah pinter, tambah baik, tambah nurut sama ayah bunda dan tambah rajin sholatnya. Bunda sayaaaaaanggg banget sama kakak!*


Minggu, 28 Oktober 2012

Untuk Sahabat

Air mata menggenang di pelupuk.
Ternyata begini rasanya menjadi orang yang ditinggalkan.
Di tengah suasana kantor yang menjemukan.
Bos yang nggak mempedulikan proses dan serba mau terima beres...
Memiliki seorang sahabat tempat berkeluh kesah ternyata sangat berharga.

Dunia memang hanya tempat persinggahan sementara.
Sadarkah bahwa tak pernah ada yang abadi?

Saat SMP, saya punya teman dekat yang hingga kuliah (walaupun di kota berbeda) kami masih kerap janjian jalan bareng.
Tapi kini, nomor hapenya saja saya nggak punya.
Cukup dengan meng-add-nya sebagai kawan saya di facebook.
Saya sendiri juga sudah tak begitu peduli lagi.
Begitu pun dia.

Saat kuliah, saya pun punya teman dekat.
Hingga ia punya anak kami kadang masih sering janjian, telponan, atau sekedar sms-an.
Sekarang ketika saya punya anak, dan ia punya anak kedua, jarak sekota ternyata tak mampu lagi mendekatkan kami berdua.
Sudah lebih setahun kami tak pernah berjumpa.

Pertemanan kami memang tidak berakhir.
Seenggaknya facebook masih mengikrarkan kami sebagai teman. 
Cepat atau lambat, saya (insyAllah) akan bertemu lagi dengan teman-teman saya.
Mungkin saat ini mengeratkan kembali hubungan pertemanan bukan prioritas...tapi silaturahmi harus tetap tersambung, bukan?

Saya hanya ingin mengatakan...
Bahwa setiap manusia berproses.
Dalam proses kita untuk berkembang itu, terkadang kita harus meninggalkan hal-hal yang kita sayangi.
Teman kita, keluarga kita...
Menyedihkan, tapi itulah yang harus kita lakukan jika ingin berkembang.

Ada kisah tentang teman saya.
Sebagaimana seorang anak perempuan satu-satunya di keluarga.
Ia sangat disayang dan diproteksi.
Sampai-sampai orangtuanya melarangnya untuk bekerja jika tidak di kota yang sama.
Padahal kota yang ia tinggali hanya kota kecil.
Peluang dan kesempatan sangat terbatas.
Walhasil, teman saya yang memiliki mimpi yang luar biasa, dan (menurut saya memiliki) potensi yang luar biasa hanya bekerja di sebuah BPR kecil di kotanya.
Mungkin orangtuanya merasa tentram dan ayem.
Tapi apakah "mengubur" mimpi anaknya adalah pilihan terbaik yang mereka ambil?
Saya rasa tidak!

Menurut saya,
Ketika kita menyayangi seseorang...
Kita pun harus memberikan dukungan sepenuhnya untuk ia berkembang.
Walaupun dengan berkembangnya ia, membuat kita harus terpisah darinya.
Mimpi harus dikejar.
Karena tanpa mimpi kita sesunggugnya hanya robot.
Dan karena itulah, meski berat dan perih, melepaskan seseorang yang kita sayang demi masa depan yang lebih baik untuknya adalah keharusan.



Senin, 08 Oktober 2012

October 7th 2012

Yesterday, October 7th 2012 is probably the scariest day i would remember in my life.
I just went home from monthly shopping with Bulek n Fania.
Everything's fine.
I feel fine, and just feel usual like any other days.
The car was stop in front of the house.
Bulek went down from the car to open the gate.
She wants to take Fania who was sleeping, inside the house.
I said "it is not needed, we can take her later after the car was inside".
So Bulek went down, open the gate, and standing beside the gate.
I start to retreat to manage the car position.
The front part of my house is very small, only about 4 metres, so I really have to set the car position correctly.
In other hand, the garage position is uphill, so it's not easy to get the car inside.
After I pull back the car, and feel that the position was okay, I start to push the gas.
Just slow push...I don't remember exactly, but I am confident to say that it was normal.
And then the car was like jumps up and suddenly hits the shoe rack.
Thank God the machine turns off.
Didn't know how, but the car just stop.
I remember that I haven't push the brake at all, but the car was stop.

It makes me tremble for a moment.
And then I check Bulek...Alhamdulillah she's okay.
Her face looks pale.
Fania just woke up, she falls from the car seat, but she's okay.

After that i started to cry.
I feel very shocked, imagined that i almost hit Bulek.
Fania hugged me very tight.
She knows that her mother need a cuddle *anak pinter*.

Now that i remember the moment...
Some questions appear.
How could the car's machine turned off without i shut it off?
What was happened?
Did I push the gas too much?
I can't remember it.
But it's liberating to know that everyone's okay.





Selasa, 02 Oktober 2012

Comfort Zone = Silent Killer

Comfort zone = silent killer.
Sounds extreme hah? But i just realize that's true.

Several years ago, when i joined the civil servant corps, i thought this would be a peaceful job, where i could go to work, turn on my computer, lay back to my chair, and work as i want like in my grandparent's company. And apparently my thought has become true.

Well, not all of it precisely. Especially the 'work as i want like in my grandparent's company' part.
I still have to come to the office at 7.30 a.m.
But hey! From my house to office is only took 15 minutes. So no need to rush! It's not a problem at all.
And then I work like an employee should work.
Finishing all the tasks on my desk.
But hey! My boss is so kind. Never demanding, and never got angry. At all.
Sometimes there's task where i should finished it immediately because the big boss wants it.
But it rarely happen.
So, it's almost like 'work as i want like in my grandparent's company'.
And then I went home at 5 p.m.
Pretty bit long work hours, but when you work as you like, nine and a half hours won't hard to passed by.

So it's a dream job for me, right? It's everything I dreamt for my job several years ago.
But unfortunately it's not.
I realize that life is not and shouldn't be a playground.
My life, where 9,5 hours i spent in the office, shouldn't be a plaything.
A job should be a fun thing to do.
But inside of it, there should be some obstacles, some challenge, and some 'adrenaline pumping' activity.
Because a human (which is me) tend to doze away and stop improving.

Yes! 4 years i've spent as a civil servant, and i just realize that the time flew by without doing something meningful, and becoming someone useful.
I realize that i've become a different person.
I'm not an analytical-curious-eager to learn person anymore.
I couldn't achieve the same score in TPA again.
My english language skill (TOEFL score) is improving, but who knows how much it can improved if I work in another job that need english in it's daily conversation.
And that's all because i never push myself to the limit.
Why should i?
Every tasks were solved without i need to think hard, without i need to give my best, and without an extra effort.

But again, every person is different.
Another people might not face the same problem even they work in my place.
Maybe they could find the obstacles, the challenge, and the 'adrenaline pumping' activity in different way.

But again, for the last 4 years, I should grateful.
Met my husband, became a mother, and breastfed my baby for 2 years.
It might not happen if i work in another place.

It's just i should stop playing and start do something.
1. Start the business...lots of obstacles n challenge there.
2. Continue my study. In the meanwhile, more practising english. Well, i've start one.
3. Cut my sleeping time for reading, not watching.
And lots of list to do.

3/10/2012
*lagi insyaf*