Dulu, semasa kita masih kanak-kanak, semua orang tua pasti menasihati anak-anaknya agar menjadi anak yang mandiri. Ketika bangun tidur dan si anak bisa membereskan tempat tidurnya sendiri, orang tua akan memberikan pujian dan tepuk tangan beserta senyuman lebar. Atau ketika si anak sudah berani berangkat ke sekolah sendiri dan tak perlu lagi ditemani di kelas, orang tua pasti akan merasa sangat bangga. Atau atas hal-hal kecil lainnya yang mampu dilakukan anak tanpa bantuan orang lain, orang tua akan sangat menghargai kemandirian si anak.
Demikian pula ketika anak sudah beranjak dewasa. Merupakan kebanggaan bagi orang tua jika si anak mampu menghasilkan uang sendiri, dan hidup mandiri tanpa bergantung lagi dari uang saku yang diberikan orang tuanya.
Atau jika melihat ke luar dari hubungan orang tua dan anak (misalnya ketika kita berkawan dengan teman), menyebalkan rasanya jika memiliki teman yang selalu bergantung pada kita. Mau makan minta ditemenin, mau pulang kantor harus dibarengin, bahkan mau ke toilet pun minta dianterin. Jika untuk urusan sepele-apapun itu-ia selalu minta ditemani, lambat laun kita pasti akan merasa terganggu dengan sikap ”bayi” nya.
Jadi, sejauh ini, saya selalu memandang kemandirian sebagai hal positif yang sebaiknya dimiliki oleh siapa pun di dunia. Bahkan, sebuah bank BUMN pun memilih untuk menggunakan kata ’mandiri’ sebagai namanya. Jelaslah, kemandirian berkonotasi positif.
Tapi ternyata, ada kalanya kemandirian dianggap sebagai suatu masalah. Seorang kawan saya, bercerita bahwa ada seorang cowok yang menolak untuk memilih seorang cewek, karena
menurutnya cewek ini terlalu mandiri.”Iyalah, dia gajinya tinggi, apapun bisa dia lakukan sendiri, bahkan...kalau dia dilepas sendirian di tengah gurun, kurasa dia tetap bisa bertahan dan keluar dari situ tanpa bantuan orang lain."
Tuh kan, ternyata ada jenis cowok tertentu yang tak suka cewek mandiri. Hal yang bagi saya justru terasa janggal.
”Wajar dong, soalnya kan aku jadi nggak merasa keberadaanku dibutuhkan di sampingnya”, demikian lanjut cowok itu.
*Hmmmph...pusing nggak sih?*
Kendati saya tak bisa memungkiri bahwa yang namanya selera itu sangat bervariasi, tak urung saya tetap saja bingung dengan cowok yang berpandangan begini. Kalau dia nggak mau dengan cewek mandiri, artinya kan dia lebih memilih cewek yang tidak mandiri, alias cewek yang bergantung, alias cewek yang manja. Dan notabene, kita semua tahu bahwa sifat manja ini berkonotasi negatif.
*Apa sih maunya cowok itu?*
Apa cowok seperti itu menganggap bahwa cewek harus selalu lemah? Harus minta dianterin kalau pergi? Harus minta tolong walaupun sebenarnya dia nggak butuh ditolongin? Apa iya kayak gitu? Apa cewek nggak boleh mampu mengerjakan apapun sendiri?
Soalnya, saya sendiri berpandangan bahwa menjadi cewek mandiri itu merupakan suatu prestasi. Asalkan kemandirian yang kita miliki masih sesuai dengan kodrat kita sebagai seorang wanita, kita harusnya merasa bangga. Masak sih cewek harus berpura-pura lemah padahal sebenarnya dia kuat? Harus pura-pura nggak berani pergi sendirian supaya si cowok bisa nganterin? Harus pura-pura nggak bisa melakukan sesuatu supaya si cowok punya kesempatan untuk nolongin?
*Waduh! Apa iya harus segitunya?*
Bisa dong si cowok nganterin si cewek pergi, walaupun si cewek nggak pernah minta? Bisa dong si cowok menawarkan bantuan ke si cewek walaupun si cewek nggak pernah minta tolong? Intinya, saya sih maunya kaum cowok itu jangan jadi pasif dan mengkeret kalau ketemu cewek yang serba mandiri! Lebih-lebih lagi malah mundur dan berbalik arah. *Nggak keren ah!*
Kendati tokh bukan urusan saya jika si cowok itu memilih tipe cewek yang seperti apa, tapi saya kok tetep aja nggak bisa menerima kalau alasan kemandirian dijadikan kambing hitam untuk menolak seorang cewek.
Dan pada kesempatan ini, dengan lantang saya akan katakan bahwa:
cowok yang menolak cewek karena kemandirian yang dimilikinya, adalah cowok yang nggak mau berkembang, cowok yang takut untuk dianggap tak berarti, dan cowok yang *sori* pengecut!