Kenapa jika ada dua pria bergandengan tangan, impresi yang ada di benak kita berbeda dengan melihat dua wanita bergandengan tangan?
Ketika melihat dua wanita seumuran bergandengan tangan atau berpelukan sambil berjalan di mall, yang ada di pikiran kita adalah mereka bersahabat dekat, atau mereka berdua bersaudara. Sementara, ketika melihat dua pria seumuran bergandengan tangan di mall, yang ada di pikiran kita adalah ”mereka pasti gay!”
Pernahkah anda menemukan diri Anda berpikiran seperti itu? Bukankah itu benar-benar opini yang nggak berdasar dan sangat diskriminatif? Kasus yang sama, situasi yang sama, namun –hanya dikarenakan- jenis kelamin pelaku yang berbeda, entah bagaimana impresi yang dihasilkan oleh otak kita berkebalikan 180 derajat.
Diskriminasi seperti ini, secara tidak sadar kerap kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Entah bagaimana, sex (jenis kelamin) membentuk impresi kita terhadap bagaimana seharusnya seseorang bertutur, bersikap, dan bertingkah laku.
Sebagai contoh lainnya adalah ketika melihat seseorang merokok di warteg pinggiran jalan. Ketika melihat seorang pria merokok di warteg, orang tidak akan membentuk impresi negatif apapun di benaknya. Kita biasanya nggak akan ambil pusing dan berlalu begitu saja. Rokok dan pria adalah hal yang sangat wajar ditemui sehari-hari. Tapi bagaimana jika orang yang merokok itu adalah seorang wanita? Di mall atau di kafe kelas atas mungkin ini pemandangan yang biasa ditemui. Kita biasanya akan menganggap wanita yang merokok di kafe sebagai wanita tipe sosialita yang mandiri, modern, hedonis, dan nggak ambil pusing dengan kesehatannya. Tapi di warteg? Impresi kita pasti adalah impresi yang negatif. Bisa jadi kita akan menganggap dia wanita nakal, wanita nggak bener, dan sejuta judgement lain.
Padahal, dipikir-pikir, merokok itu hanya kegiatan menghisap sepuntung tembakau yang dilinting dan dibakar. Kegiatan sepele untuk mengotori paru-paru yang tidak membutuhkan kekuatan fisik dalam melakukannya. Jadi, lumrah saja kalau baik pria maupun wanita sama ahlinya dalam melakukan kegiatan ini.
Lantas, kenapa impresi kita berbeda ketika melihat pria merokok dengan melihat wanita merokok? Sama halnya seperti kenapa impresi kita berbeda ketika melihat pria bergandengan tangan dengan wanita bergandengan tangan?
Saya sendiri tidak tahu pasti apa jawaban dari pertanyaan ini. Tapi, saya rasa diskriminasi berdasarkan sex ini terjadi karena budaya/kebiasaan/lingkungan kita dibesarkan memang menanamkan bahwa pria dan wanita adalah dua individu yang berbeda, yang tidak bisa disetarakan.
Menjawab perbedaan impresi yang ditimbulkan ketika melihat pria bergandengan tangan dengan wanita bergandengan tangan, saya memiliki opini seperti ini. Seorang wanita, cenderung dianggap makhluk yang lebih sensitif. Mereka biasanya mengekspresikan perasaannya dengan lebih jelas dibandingkan pria. Karena itu, wajar bagi seorang wanita untuk memeluk, mencium pipi kanan dan kiri, atau menggandeng tangan wanita atau pria lain. Itu hanyalah bentuk ekspresi mereka atas rasa sayangnya, atau bentuk ekspresi mereka untuk menunjukkan perhatiannya.
Adapun untuk pria, berlaku sebaliknya. Mereka cenderung untuk memendam perasaan yang mereka miliki dan tak mengekspresikannya. Karenanya, seorang pria dianggap lemah jika mengeluarkan air mata (lagi-lagi ini adalah impresi), atau terasa janggal jika mereka terlihat memeluk, mencium pipi kanan dan kiri, atau menggandeng tangan pria lain. Akibatnya, ketika ada pria yang terlihat bergandengan tangan dengan pria lain, kita cenderung untuk berpikir ada hal yang tidak wajar pada dirinya, dan salah satu tuduhan yang paling gampang dipikirkan adalah, bahwa ia gay.
Hal yang sama juga berlaku untuk aktivitas merokok. Di Indonesia zaman penjajahan dulu, sebenarnya merokok adalah kegiatan yang kerap dilakukan oleh pria dan wanita. Pernahkah anda melihat nenek-nenek yang masih mengenakan jarit (kebaya) dalam aktivitas sehari-harinya anda temukan merokok dengan lintingan yang mereka buat sendiri? Jika tidak, cobalah berkeliling lebih jauh ketika anda berada di kampung, biasanya nenek-nenek tipe ini masih kita temukan di pedalaman kampung sedang melinting rokok untuk kemudian mereka isap.
Namun, entah mengapa seiring waktu kebiasaan merokok ini lebih kerap dilakukan oleh pria, sehingga jarang ditemukan seorang wanita merokok di Indonesia. Rokok mulai menjadi konsumsi wanita di perkotaan seiring dengan perkembangan zaman. Ketika level stress para wanita ikut naik ke tahap yang sama dengan pria, rokok pun mulai dikonsumsi. Seiring waktu, budaya asing yang lebih me-nondiskriminasi-kan wanita dan pria juga mulai ”mengkontaminasi” budaya Indonesia yang mendiskriminasikan wanita dan pria. Secara perlahan, masyarakat di perkotaan -yang kerap bersosialisasi dan terbuka akan perubahan- terbiasa dengan pemandangan dimana wanita merokok. Tak ada lagi kata tabu, indak elok, pamali, dan lainnya, untuk wanita yang merokok.
Perlahan pun impresi kita bahwa wanita yang mengonsumsi rokok adalah wanita nakal mulai berubah. Sayangnya, impresi ini tidak sepenuhnya terhapuskan di benak saya ketika wanita itu saya temukan sedang merokok di sebuah warteg dengan baju tank top melekat di badannya.
Impresi kita memang dengan mudah dapat berubah seiring waktu. Entah karena cara pandang kita terhadap sesuatu yang berubah, atau entah karena kita mulai bisa memaklumi hal-hal tersebut karena kita melihat bahwa banyak orang melakukannya. Jadi, yang ingin saya sampaikan di sini adalah, bahwa semua impresi yang tak berdasar itu hanyalah impresi yang sangat mungkin berubah di kemudian hari. Jika saat ini kita masih memandangn dua pria bergandengan tangan dengan tatapan heran, kening berkerut, dan alis terangkat, mungkin beberapa tahun ke depan kita akan menganggapnya hal yang lumrah. Tokh wanita sudah biasa melakukannya, kenapa pria tidak?
Atau jika saat ini saya masih saja menganggap wanita yang merokok di warteg sebagai wanita ”nggak bener”, tunggu saja beberapa puluh tahun lagi ketika populasi wanita yang merokok menyaingi populasi pria yang merokok.
Tokh saat ini pun kita sudah mulai terbiasa melihat presiden kita menempelkan pipi kanan dan kiri ketika bersalaman dengan pejabat, atau petinggi dari negara lain. Hal yang dulu saya rasa menggelikan dan nggak banget, kini mulai dapat saya terima karena saya anggap sebagai common practice dalam pergaulan internasional. Jadi, bukan tak mungkin jika di hari-hari ke depan kita melihat presiden kita menyambut kedatangan presiden negara lain dan kemudian berjalan bergandengan tangan *hmm..mungkin juga tidak...barangkali saya yang terlalu berlebihan*.
Senin, 25 Mei 2009
Jumat, 01 Mei 2009
Jika Sesuatu Terasa Salah, Apakah Pasti Itu Salah?
Saat ini hati saya sedang berbunga-bunga. Ada seseorang yang bayangannya sering menari-nari di pelupuk mata saya, yang suaranya kerap terngiang-ngiang di telinga saya, serta keberadaannya memberikan getaran di hati saya. Tapi, entah mengapa, terbersit sebentuk rasa salah dalam diri saya. Kenapa perasaan bahagia ini tidak menjadikan saya merasa telah melakukan satu langkah ke depan dalam menata masa depan? Saya merasa saya hanya menikmati kesenangan yang ... semu.
Seorang teman mengatakan pada saya, bahwa memiliki perasaan cinta adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Perasaan itu diberikan kepada kita atas kehendak-Nya, agar manusia dapat saling melengkapi. Perasaan cinta bukanlah sesuatu yang dapat kita kontrol, apakah saya mau jatuh cinta terhadap si A, atau saya tak pernah mau jatuh cinta pada si B. Pada kenyataannya, bisa saja kita ternyata justru tak merasakan perasaan apapun pada si A, dan malah jatuh cinta pada si B. “Semua itu adalah skenario Tuhan”, kata teman saya. Dan karena hal itulah, teman saya berkeyakinan bahwa kita tak kan dapat mengelak dari perasaan kita, kendati rasionalitas kita menghendaki kita untuk melawan perasaan itu.
Adapun saya, selama ini selalu berpikir sebaliknya. Bagi saya, perasaan cinta tumbuh karena kita menemukan hal-hal yang baik, yang sesuai dengan ekspektasi kita pada diri orang lain. Menurut saya, cinta tumbuh seiring dengan proses. Awalnya dimulai dengan perasaan simpatik, suka memperhatikan, nyaman ketika berdekatan, sayang, tak mau jauh, dan tanpa kita sadari…kita telah jatuh cinta. Cinta, adalah sebentuk rasa yang tumbuh karena kita membiarkannya tumbuh. Cinta tak kan ada jika kita tak pernah membiarkan diri kita untuk bertemu, tak membiarkan komunikasi berjalan, ataupun tak membiarkan pikiran kita berimajinasi menghabiskan waktu bersamanya. Karena itulah, saya tak pernah mempercayai orang yang mengatakan ia merasakan cinta pada pandangan pertama.
Seandainya saja saya bisa sependapat dengan pemikiran teman saya bahwa cinta muncul karena skenario Tuhan, maka saya pasti akan merasa lebih rileks, dan lebih dapat menikmati perasaan saya. Tokh perasaan ini muncul karena kehendak-Nya. Jadi selama saya meyakini bahwa skenario Tuhan pasti adalah skenario terbaik bagi saya, tak ada yang perlu saya khawatirkan.
Sayangnya saya bukan orang yang berpikiran seperti itu. Jika saya menyukai seseorang karena hal-hal baik yang dimilikinya -dan hal-hal aneh yang ada pada dirinya yang dapat membuat saya tertawa- namun kemudian menyadari bahwa saya tak dapat bersamanya, saya akan memilih untuk tidak membiarkan perasaan saya berkembang lebih jauh. Bagaimana caranya? Biasanya yang akan saya lakukan adalah meminimalisir waktu yang saya habiskan bersamanya, meminimalisir komunikasi antara saya dan dia, serta meminimalisir pikiran saya membayangkan tentang dirinya. Saya hanya mau membiarkan perasaan sayang saya berkembang –dengan potensi dapat tumbuh menjadi cinta- jika saya memiliki keyakinan bahwa suatu saat saya dapat hidup bersamanya.
Karena itulah, saat ini saya merasakan sebentuk rasa salah menyeruak di relung terdalam hati saya. Karena saya membiarkan perasaan sayang saya terhadapnya berkembang lebih jauh; dengan komunikasi yang saya lakukan bersamanya, dengan pertemuan yang (ingin) saya lakukan dengannya, dan dengan imajinasi tentangnya yang saya biarkan melintas di benak saya. Kendati saya tak (kunjung) merasa yakin bahwa ialah orang yang akan menjadi pendamping hidup saya, saya membiarkan perasaan saya berkembang entah kemana. Saya tahu bahwa saya memiliki kuasa untuk mengendalikan perasaan sayang ini, namun saya tak melakukannya.
Jadi, apakah saya salah?
Seorang teman mengatakan pada saya, bahwa memiliki perasaan cinta adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Perasaan itu diberikan kepada kita atas kehendak-Nya, agar manusia dapat saling melengkapi. Perasaan cinta bukanlah sesuatu yang dapat kita kontrol, apakah saya mau jatuh cinta terhadap si A, atau saya tak pernah mau jatuh cinta pada si B. Pada kenyataannya, bisa saja kita ternyata justru tak merasakan perasaan apapun pada si A, dan malah jatuh cinta pada si B. “Semua itu adalah skenario Tuhan”, kata teman saya. Dan karena hal itulah, teman saya berkeyakinan bahwa kita tak kan dapat mengelak dari perasaan kita, kendati rasionalitas kita menghendaki kita untuk melawan perasaan itu.
Adapun saya, selama ini selalu berpikir sebaliknya. Bagi saya, perasaan cinta tumbuh karena kita menemukan hal-hal yang baik, yang sesuai dengan ekspektasi kita pada diri orang lain. Menurut saya, cinta tumbuh seiring dengan proses. Awalnya dimulai dengan perasaan simpatik, suka memperhatikan, nyaman ketika berdekatan, sayang, tak mau jauh, dan tanpa kita sadari…kita telah jatuh cinta. Cinta, adalah sebentuk rasa yang tumbuh karena kita membiarkannya tumbuh. Cinta tak kan ada jika kita tak pernah membiarkan diri kita untuk bertemu, tak membiarkan komunikasi berjalan, ataupun tak membiarkan pikiran kita berimajinasi menghabiskan waktu bersamanya. Karena itulah, saya tak pernah mempercayai orang yang mengatakan ia merasakan cinta pada pandangan pertama.
Seandainya saja saya bisa sependapat dengan pemikiran teman saya bahwa cinta muncul karena skenario Tuhan, maka saya pasti akan merasa lebih rileks, dan lebih dapat menikmati perasaan saya. Tokh perasaan ini muncul karena kehendak-Nya. Jadi selama saya meyakini bahwa skenario Tuhan pasti adalah skenario terbaik bagi saya, tak ada yang perlu saya khawatirkan.
Sayangnya saya bukan orang yang berpikiran seperti itu. Jika saya menyukai seseorang karena hal-hal baik yang dimilikinya -dan hal-hal aneh yang ada pada dirinya yang dapat membuat saya tertawa- namun kemudian menyadari bahwa saya tak dapat bersamanya, saya akan memilih untuk tidak membiarkan perasaan saya berkembang lebih jauh. Bagaimana caranya? Biasanya yang akan saya lakukan adalah meminimalisir waktu yang saya habiskan bersamanya, meminimalisir komunikasi antara saya dan dia, serta meminimalisir pikiran saya membayangkan tentang dirinya. Saya hanya mau membiarkan perasaan sayang saya berkembang –dengan potensi dapat tumbuh menjadi cinta- jika saya memiliki keyakinan bahwa suatu saat saya dapat hidup bersamanya.
Karena itulah, saat ini saya merasakan sebentuk rasa salah menyeruak di relung terdalam hati saya. Karena saya membiarkan perasaan sayang saya terhadapnya berkembang lebih jauh; dengan komunikasi yang saya lakukan bersamanya, dengan pertemuan yang (ingin) saya lakukan dengannya, dan dengan imajinasi tentangnya yang saya biarkan melintas di benak saya. Kendati saya tak (kunjung) merasa yakin bahwa ialah orang yang akan menjadi pendamping hidup saya, saya membiarkan perasaan saya berkembang entah kemana. Saya tahu bahwa saya memiliki kuasa untuk mengendalikan perasaan sayang ini, namun saya tak melakukannya.
Jadi, apakah saya salah?