Sabtu, 31 Oktober 2009

Skenario yang Indah Dari-Nya



Sebuah kalimat bijak yang pernah saya dengar mengatakan bahwa jalan hidup kita telah ditentukan oleh Sang Kuasa. Kalimat yang singkat, tapi bermakna sangat dalam. Sayangnya, saya baru menyadari dalamnya makna kalimat itu jauh setelah saya mendengar kalimat itu. Dulu, dengan optimisme dan gejolak seorang muda, saya selalu yakin bahwa semua hal yang kita dapatkan adalah karena usaha yang kita lakukan, sebagaimana saya juga yakin bahwa apa yang kita lakukan pada hari ini pastilah akan mempengaruhi jalan hidup kita kelak, dan membentuk siapa diri kita di masa mendatang. Baru saya sadari bahwa kalimat bijak itu sangat amat benar, sebenar keyakinan saya bahwa saya pada saat ini adalah karena usaha yang telah saya lakukan di hari sebelumnya.

Beberapa minggu yang lalu, dalam sebuah percakapan di telepon, saya menceritakan suatu hal kepada seseorang. Cerita yang sesungguhnya tak memiliki makna penting, karena semata-mata saya lontarkan hanya untuk menambah materi pembicaraan dan membuat seru percakapan. Ketika saya menceritakan hal tersebut, tak sedikitpun ada suatu tendensi yang melintas di benak saya...kata-kata mengalir keluar begitu saja tanpa saya berkeinginan untuk mengaturnya.

Tanpa saya sangka, cerita itu akhirnya mendominasi seluruh percakapan telepon yang saya lakukan dengan teman saya di hari itu, mengubah orientasi pembicaraan dari santai menjadi serius, dan mengubah arah percakapan yang kami lakukan. Secara tak terduga pula, percakapan yang saya lakukan tersebut mendominasi isi otak saya kemudian, mewarnai hari-hari saya setelahnya, dan mampu membelokkan jalan hidup saya dengan begitu mudahnya.

Saat ini, ketika saya merenungi malam saat terjadinya percakapan itu, saya berpikir...apakah jalan hidup saya akan berbelok seperti ini jika cerita itu tak pernah saya lontarkan? Apa iya hasil akhirnya akan sama jika proses yang saya lakukan berbeda? Keyakinan saya mengatakan bahwa semuanya tak akan sama. Rasionalitas saya mengatakan bahwa tanpa cerita itu, pada hari ini hidup saya tak akan sama dengan hidup saya pada hari ini setelah cerita itu terlontar. Tanpa cerita itu, saya yakin isi otak saya akan lain, warna hari-hari saya tak akan menjadi beda, dan jalan hidup saya belum akan berbelok arah.

Jadi, apakah itu berarti saya menyangsikan kalimat bijak yang mengatakan bahwa jalan hidup setiap orang telah ditentukan oleh Sang Kuasa? Tidak juga. Saya yakin bahwa jalan hidup kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan, namun kini saya tahu bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya adalah skenario Sang Kuasa yang sedang kita mainkan.

Ketika saya melontarkan sebuah cerita melalui percakapan telepon pada suatu malam, memang benar bahwa saya telah melakukan suatu usaha yang tentunya dapat mempengaruhi jalan hidup saya kelak. Namun, itu semua saya yakini adalah karena kehendak Sang Kuasa. Bagaimana otak saya dapat memerintah mulut saya untuk mengucapkan serangkaian kata, bagaimana mulut saya dapat menyusun kata-kata itu menjadi sebuah cerita, bagaimana lawan bicara saya bereaksi karena cerita itu, dan bagaimana hati saya menjadi terbuka karena reaksinya, saya yakini adalah campur tangan Sang Kuasa. Karena jalan hidup dimana saya berpijak pada hari ini...Alhamdulillah...adalah atas skenario yang indah dari-Nya.

Rabu, 07 Oktober 2009

Menjadi Pe-En-Es

Terhitung sembilan bulan saya masuk ke dunia kerja yang baru...dunia kerja yang berbeda dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang dulu pernah saya geluti. Dulu, kendati tlah berkali-kali saya berganti pekerjaan, tapi budaya kerja di tempat kerja yang satu dan tempat kerja berikutnya tak banyak berbeda. Namun sekarang...ckckck...

Setelah 9 bulan saya menjadi bagian dari rantai birokrasi, bagian dari apa yang disebut "abdi negara", berikut sebagian dari hal-hal yang saya rasakan...

1. Hidup jadi tenang dan damai
Hehe...agak-agak lebay memang, tapi saya merasa setelah menjadi PNS tidur saya di malam hari jadi lebih nyenyak, otak pun rasanya ga ruwet! Memang benar kalau dibilang pekerjaan sebagai PNS itu monoton, tapi tokh di pekerjaan-pekerjaan saya sebelumnya juga sama! Sevagai PNS, tiap hari saya melakukan pekerjaan yang sama; menjawab surat, ikut rapat, bikin notulen, bikin nota dinas, sesekali pergi dinas ke luar, sesekali konsinyering, dan lain-lain sejenisnya. Tapi bagi saya, karena saya kebetulan sedang "ditaroh" di bagian yang -bagi saya- dinamis, saya merasa otak saya banyak terisi dengan hal-hal baru dan ilmu-ilmu baru yang bikin saya jadi -merasa- tambah pinter. Sekarang, saya sedikit banyak jadi -dipaksa- mengerti ilmu hukum, padahal sebelumnya..boro2! Ilmu manajemen keuangan yang dulu saya dapat di bangku kuliah pun kini bisa saya pahami aplikasinya dalam realitas perusahaan. Plus segudang pengalaman, wawasan, dan pelajaran yang saya dapat dari mendengarkan diskusi bos-bos besar ketika rapat.
Kesimpulannya, bagi saya jadi PNS bikin hidup saya tenang, tanpa membuat otak saya jadi karatan.

2. Dituntut untuk bisa jadi orang super
Sudah bukan rahasia kalau seorang PNS itu job desk-nya serba nggak jelas. Kami memang punya target, dituntut untuk memberikan penerimaan bagi negara dengan angka-angka yang cuma bakal saya liat di atas kertas aja (ga mungkin tertera di buku tabungan soalnya), tapi secara lebih spesifik, saya bisa bilang kalau tugas saya itu mencakup segala macam, mulai dari yang mengandalkan otak, mpe mengandalkan otot.
Nih ya, tugas saya itu mulai nyiapin presentasi untuk rapat dengan bu Menteri (keren kan?), njawabin surat mulai dari hal penerusan surat (karena suratnya nyasar), mpe bikin laporan untuk hal-hal yang menyangkut top secret-nya negara. Tapi di sisi lain saya juga kudu ngurusin tetek bengek dan hal nggak keren lainnya; mulai mesen konsumsi rapat, masang infokus, jadi asrot (asisten sorot) pas rapat, mbagiin konsumsi ke peserta rapat, dan lain-lain yang serba nggak perlu otak untuk ngerjainnya.
Selain itu, kalau mau dinas ke luar kota, seorang PNS juga sedapat mungkin harus mengurus segala sesuatunya sendiri. Mesen tiket sendiri, ambil tiket sendiri (atau nelpon spy tiketnya dianter kurir), bikin surat tugas sendiri, dan lain-lain serba sendiri. Di PNS, nggak ada orang yang secara khusus berfungsi sebagai administrator atau sekretaris. Sekretaris hanya diperuntukkan bagi bos-bos atawa kepala kantor. Kalo dulu di swasta, walopun saya juga masih berada di piramida bagian bawah dari strata sebuah perusahaan, seenggaknya ada orang yang bertugas secara khusus untuk mensupport saya kalau saya kudu dinas ke luar. Kalo sekarang, yang namanya kacung kayak saya, kudu bisa kerja sendiri!

3. Disediakan anggaran yang nggak dikit
Di swasta, target kita bukan hanya dihitung dari maximization earning, tapi juga minimization cost. Makanya, dulu tuh yang namanya bujet kudu dirit-irit. Padahal, bujetnya sendiri udah dikit, masih harus diirit-irit pula! Mpe dulu, di perusahaan swasta tempat saya kerja sebelumnya, saya pernah kudu ngganti proposal untuk rencana workshop hanya demi penghematan bujet sebesar seratus delapan puluh ribu RUPIAH! Kudu booking ulang, ngerombak proposal dari awal, dan lainnya. Konyolnya lagi, yang nyuruh saya ganti tu adalah seorang division head di bagian keuangan! Cuma demi pengiritan duit Rp180.000!
Nah, di PNS, nggak perlu kuatir lagi soal bujet...proposal kita nggak mungkin ditolak dengan alasan bujet nggak cukup! Anggaran sudah disediakan dalam jumlah yang cukup (kalau nggak bisa disebut berlimpah). Penyerapan anggaran pun belum tentu bisa 100%, artinya dana yang sudah dianggarkan, belum tentu bisa terpakai semuanya. Apakah karena dananya terlalu besar? Apakah karena planning aktivitas di awal tahun terlalu muluk2? Apakah karena pencairannya yang susah? Atau karena tidak semua aktivitas bisa diselenggarakan pada tahun anggaran yang sedang berjalan? Hmmm...untuk yang satu itu, saya nggak mau ngasih opini.

4. Lebih sulit untuk Go Green!
Dulu di swasta, karena penghematan biaya yang dikeluarkan merupakan bagian dari prestasi sebuah divisi, semua kudu dihemat, termasuk pula pemanfaatan kertas. Untuk saya yang pencinta lingkungan, tindakan ini sangat amat saya dukung.
Dulu semua kertas harus dipakai kedua sisinya. Bahkan untuk urusan compliance pun kertas bekas masih layak dipergunakan. Amplop belum bisa disebut amplop bekas jika masih ada ruang yang bisa diisi dengan tulisan nama dan alamat.
Kalau di sini, hmmmm...kertas terbuang percuma! Saya sendiri sudah sempat mengusulkan untuk memanfaatkan kertas bekas untuk mencetak surat-surat yang masih berupa konsep, tapi saran saya ditolak mentah-mentah. Bos saya nggak mau terima! Kata dia "Jangan dibiasain menyimpan kertas bekas! Semua harus langsung dihancurkan! Di situ kan ada rahasia-rahasia penting!".
Padahal, saya sendiri rasa-rasanya masih cukup punya otak untuk bisa ngebedain mana kertas yang isinya rahasia dan mana kertas yang isinya cuma kalimat-kalimat nggak penting. Dan saya tahu pasti nggak semua dari kertas bekas itu isinya rahasia negara.
Lebih lagi, untuk menjawab 1 surat itu saya kadang harus membuat 2 hingga 4 surat (tergantung penting tidaknya surat yang dibuat tersebut). Pertama, surat untuk kasubdit (kepala sub direktorat) saya. Kedua, surat untuk direktur saya. Ketiga, surat untuk dirjen saya, dan terakhir, surat untuk bu menteri. Nah, kalau suratnya 2 halaman, berarti kan kudu ada 8 kertas. Belum lagi kalau suratnya diperbaiki sama bos-bos itu. Karena ada 4 bos yang kudu tanda tangan, berarti ada kemungkinan dirubah sebanyak 4 kali. Itu pun dengan asumsi bahwa mereka cukup konsisten, dan saya cukup pintar. Artinya, ketika bos meminta saya merevisi isi surat, saya cukup pintar untuk memahami perubahan yang diinginkan si bos, dan setelah saya perbaiki si bos sudah puas dan nggak kemudian pengen ngerubah lagi. Lha kalau ternyata perubahan dibikin sampai dua kali, atau tiga kali? Bayangkan berapa banyak kertas yang terbuang sia-sia?

Terlepas dari semua hal itu, bagi saya menjadi PNS dan meninggalkan perusahaan swasta adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Barangkali Anda tertarik juga untuk merasakan menjadi PNS? Lagi banyak lowongan di Departemen-departemen pemerintah low... :)